Mengapa Ateis? (Jawaban alika)

Saya lahir di keluarga yang beragam. Ayah saya Muslim dan ibu saya Kristen Protestan. Ketika sudah dewasa saya dan kakak-kakak saya dibebaskan untuk memilih agama masing-masing, termasuk untuk tidak menganut agama mana pun, meski selagi kecil kami semua dididik secara agama. Awalnya saya dididik secara Kristen oleh ibu saya dan diwajibkan membaca Alkitab dari awal sampai habis. Sedangkan ayah saya yang menjunjung nilai sekuler mengajarkan saya untuk berempati dan menggunakan akal sehat. “Ah, nggak perlu pusing memikirkan akhirat. Kita kan nggak tahu surga sama neraka itu ada apa nggak. Yang penting kita berbuat baik dan berguna bagi manusia,” kata ayah saya dulu. Ini sangat berbekas di diri saya, karena saya melihat bahwa ayah saya yang tidak pernah membicarakan agama, tidak pernah salat, atau pun puasa saat bulan Ramadan, adalah orang yang sangat peduli. Sudah banyak sekali orang yang ia bantu sampai lulus kuliah tanpa peduli pamrih. Semuanya dilakukan dengan diam-diam. Saya pun tahu karena banyak orang yang datang bertamu untuk menyampaikan rasa terima kasih. Sampai-sampai, suatu saat nenek saya yang Kristen sempat bilang bahwa ayah saya adalah orang yang “paling Kristen” di keluarga saya.

Cukup ironis bahwa membaca Alkitablah yang membuat saya skeptis terhadap agama. Saya pikir tidak adil kalau orang yang baik tidak dapat masuk surga kalau memegang agama yang salah atau percaya tuhan yang salah. Saat ini ada 2 milyar umat Kristen di dunia. Apa itu berarti bahwa 5 milyar manusia akan masuk neraka, termasuk ayah dan kakak saya? Atau taruhlah Islam agama yang “benar.” Apakah ini berarti lebih dari 5 milyar manusia akan masuk neraka, berhubung penganut Islam hanya 21% dari total penduduk dunia? (Sumber: Adherents.com)

Belum lagi banyak ayat yang kontradiktif dalam Alkitab sendiri. Di satu sisi Tuhan mengijinkan—bahkan kadang memerintahkan—pembunuhan (1 Samuel 12-13): “12 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. 13 Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” Hal ini sungguh janggal di pikiran saya dan tidak sesuai hati nurani saya. Namun di sisi lain Alkitab juga mengajarkan kasih sayang. Banyak ajaran Yesus yang saya kagumi, yang mungkin memang merupakan gebrakan di masanya.

Saya mulai belajar untuk cherry-picking. Apa yang baik saya ambil dan terapkan, dan yang menurut saya buruk tidak saya gubris. Namun kemudian saya berpikir. Kalau kitab suci merupakan semacam “kebenaran sejati” yang seharusnya bersifat absolut dan timeless, mengapa mesti dipilah-pilah? Saya lalu sampai kepada kesimpulan bahwa, well, mungkin agama hanya produk budaya manusia. Nilai-nilai moralitas sifatnya tidak stagnan. Apa yang beribu-ribu tahun lalu dianggap baik tidak lagi dianggap baik sekarang. Misalnya, terbukti bahwa hukuman mati tidak menciptakan masyarakat yang aman dan tenteram (kita lihat bahwa negara-negara Skandinavia yang tidak menerapkan hukuman mati merupakan negara-negara yang paling tenteram menurut Global Peace Index, misalnya). Pernikahan dengan anak di bawah umur sekarang tentu saja tidak lagi wajar. Memiliki lebih dari 1 istri juga bisa dibilang sudah tidak jaman. Apalagi kita tahu sekarang bahwa “wanita lebih banyak dari pria” cuma mitos. Pokoknya, banyak nilai agama yang harus dimodifikasi sesuai dengan perkembangan jaman agar sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Karena hal-hal di atas saya berkesimpulan bahwa saya tidak perlu agama untuk menjadi manusia yang baik. Saya cukup mengandalkan empati dan akal sehat sebagai modal dasar saya menjadi manusia yang bermoral.

Saya menyelesaikan SMA di Amerika Serikat. Karena melihat bahwa banyak guru dan teman-teman saya yang tidak beragama, saya baru sadar bahwa memang manusia tidak perlu beragama. Sebelumnya saya pikir manusia mesti beragama. Maklum, saya besar di Indonesia, di mana kolom agama masih diwajibkan di KTP (ya ampun, sudah abad 21 loh ini!). Saat itulah saya mulai menyadari dan menerima bahwa saya tidak lagi beragama.

Mengapa ateis? Tidak ada bukti bahwa ada sosok pencipta atau sosok Tuhan personal yang ikut campur dalam kehidupan manusia. Kalau ada Tuhan yang Maha Kuasa, mengapa Ia mengijinkan begitu banyak manusia sengsara, belum lagi yang melakukan berbagai macam tindakan kejahatan atas namaNya. Sedangkan kalau Tuhan tidak Maha Kuasa, maka Tuhan seperti apa yang ada? Dan perlukah kita sembah?

Ateisme bagi saya adalah posisi terbuka. Saya tentu tidak bisa bilang secara pasti bahwa tidak ada sosok Tuhan (ada banyak sekali konsep Tuhan, termasuk Tuhan non-personal yang hanya sebagai pencipta; juga lihat: apa sih bedanya tidak percaya Tuhan ada dan percaya bahwa Tuhan tidak ada?). Saya hanya menyadari bahwa alam semesta dan segala isinya ini tidak memerlukan adanya pencipta, dan selama belum ada bukti bahwa Tuhan memang ada (entah Tuhan yang bagaimana), ya saya tidak perlu percaya. Tanpa saya sadari, saya sudah masuk kategori ateis.

Sekarang karena kakak-kakak saya sudah menikah, ada banyak tambahan baru di keluarga saya, termasuk yang Katolik, Hindu, panteis, dan irelijius. Meskipun keyakinan kami berbeda, toh kami tetap akur dan saling mengasihi. Apa serunya sih dunia yang seragam?

What’s your story? ;)

-Alika

12 thoughts on “Mengapa Ateis? (Jawaban alika)

  1. pemikiran kita sama tapi saya msh percaya adanya sang pencipta karena jika saat saya sendiri / memiliki keadaan yg tidak baik saya bicara kepada tuhan walau saya gatau itu ada apa ga setidaknnya untung menenangkan hahaha , btw ceritanya bagus gan😀

  2. Cerita yang hebat dengan pergumulan hidup akan pemahaman sebuah konsep agama , hingga akhirnya memutuskan suatu keputusan yg tepat menurut personal maupun orang banyak.
    Jadilah Ateis sejati .🙂
    saya sangat mengagumi sosok Ateis yg paham akan cinta kasih maupun kedermawanan,
    sperti Angelina Jolie dan Brad pit.. !! Meskipun saya seorang teis ..
    salam.. !!

  3. Anda beruntung mempunyai ayah yg sekuler dan moral yang bertanggung jawab, sedangkan banyak di antara kita yang berjuang untuk menolak Tuhan dan agama di tengah kolam pekat keluarga yg religius. Saya sendiri mencapai penolakan deity di umur 27, kalau saya sudah kritis dari dulu mungkin saya bisa mencapai 20 tahun, itupun berkat Internet dan pengalaman2 yg tidak enak, Padahal kalau dipikir2, skeptisme hanya butuh otak dan pertanyaan, dan menolak smua dikte agama yg menyesatkan. Semoga anda bisa menginspirasi banyak kawanan sesat lainnya untuk mencari kebenaran yg sesungguhnya, bukan kebenaran ilusi.

  4. Mantapp ceritanya gan… walau saya seorang teis (muslim) tapi saya kagum dengan ceritanya.
    Yappp…setiap orang punya kisah…
    sama dengan saya. Saya percaya adanya satu pencipta, The One and Only…lewat ilmu-ilmu sains yang saya pelajari.
    Saya menemukan keberadaan dan kasih Tuhan, Sang Pencipta dalam ilmu kimia, astronomi, fisika yang saya pelajari selama belasan tahun sampai sekarang.
    Saya tidak perlu menjelaskannya panjang lebar tentang berbagai teori, kejadian alam, fenomena-fenomena dan sebagainya dalam sains yang membuktikan adanya Tuhan, zat kebenaran hakiki. Tunggal. dan Kecerdasan Tertinggi
    Karena saya percaya kebenaran adalah mutlak. Hanya ada satu kebenaran. Tapi akal manusia yang berbeda tingkatannya membuat seseorang membuat parameter kebenaran pribadi bagi dirinya sendiri.
    Tapi saya salut dengan anda dan teman abam yang lain.

    Salam Damai

  5. maaf saya muslim:
    saya rasa kita tidak rugi bila mempelajari semua kitab-kitab yang ada dimuka bumi ini. Dan pasti dari semua kitab, akan ada satu kitab yang mungkin akan jadi panutan bagi manusia.

    salam kenal ya ?

  6. Saya nasrani dan sebagaimana ajaran yg saya percayai, Tuhan itu maha kasih, mengasihi setiap umat manusia, walau ada saja manusia yang merasa paling dikasihi atau yang sangat merana menderita sepanjang hidupnya karena merasa tidak dikasihi Tuhan. Saya bukan sarjana teologi atau pendeta tp yg saya percayai, Yesus tidak mengajarkan kekerasan, dan karena Dia adalah Tuhan bagi semua orang. Saya percaya ada neraka dan saya tidak berminat pergi ke sana. Hal itulah yang saya rasa membuat dunia tenteram, karena manusia sadar ada hidup setelah mati. Bukan berrti saya katakan berbuat baik adalah karena melulu menghindari neraka, tetapi kalau memang benar seseorang masuk neraka, bukankah penyesalan yang akan ia trima? Kasih menyelamatkan dunia, maka tebarlah kasih. Dan agama itu adalah tempat untuk belajar mengenai kasih. Walau ada saja orang yang sudah tau kalau oknum-oknum yang berbuat jahat, tapi masih mengatakan agama sumber kejahatan. Yang jahat itu oknumnya bukan agama. Tuhan juga tidak menciptakan kesengsaraan, tetapi memang manusia yang memilih untuk sengsara, sama seperti manusia memilih untuk hidup merana karena merasa tidak dikasihi Tuhan. Mengenai Amalek. Saya memang tidak tahun setahu saya amalek itu suku yang gemar menyembelih anak-anak untuk korban dewanya. Andaikan suku itu masih hidup, paling Amerika yang anda tahu sebagai negeri degan banyak orang atheis yang akan melenyapkan amalek. Ini ceritaku, saya salut kok sama kakak, karena mendambakan kedamaian, saya juga. Tapi apa benar kedamaian bisa tercipta ketika kebebasan berdasarkan logika manusia alias logika yang tidak percaya Tuhan dibangga-banggakan?

    • //Yang jahat itu oknumnya bukan agama.//

      Mungkin ada baiknya kamu membaca Alkitab dari awal sampai habis dengan pikiran terbuka. Jangan lupa belajar sejarah agama. Kalau sudah baca sampai kelar silakan komentar kembali.

      //Tapi apa benar kedamaian bisa tercipta ketika kebebasan berdasarkan logika manusia alias logika yang tidak percaya Tuhan dibangga-banggakan?//

      Hanya logika? Tentu tidak. Maka dari itu empati sangat penting. Coba cek Global Peace Index. Berikut negara-negara yang menempati peringkat tertinggi:
      Iceland, Denmark, New Zealand, Austria, Switzerland, Japan, Finland, Canada, Sweden, dst.
      Kriteria penilaian: konflik dalam negeri maupun dengan negara lain, tingkat kriminalitas, jumlah kematian akibat konflik internal maupun eksternal, stabilitas politik, aktivitas terorisme, skala teror politik, jumlah kasus pembunuhan, jumlah warga yang dalam penjara, dst.

      Lucunya, negara-negara yang dinilai paling “tenteram” oleh Global Peace Index bukanlah negara agama, malah negara-negara tersebut memiliki populasi penduduk beragama yang cenderung rendah (Anda bisa cari sendiri demografi ateisme di masing-masing negara yang saya sebut). Jumlah orang yang percaya tuhan di: Findland 30%, Iceland 31%, Denmark 28%, Switzerland dan Austria 44%, Sweden 18% (sumber: Eurobarometer Poll).

      Klaim Anda adalah manusia tidak bisa damai tanpa agama dan dengan hanya mengandalkan logika. Saya setuju bahwa manusia tidak bisa damai hanya mengandalkan logika (ingat bahwa “tanpa agama” tidak berarti “hanya mengandalkan logika”; ini false dilemma). Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa melihat bukti yang ada (bahwa negara-negara yang dinilai paling tenteram bukanlah negara-negara agama atau negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama), manusia tidak butuh agama supaya tenteram.

      Korelasi antara tingkat kesejahteraan dan tingkat pendidikan dengan kententeraman sebuah negara sesuai dengan kriteria GPI JAUH lebih tinggi ketimbang dengan seberagama apa penduduknya.

  7. Wah min, saya malah pernah debat begini: Jadi awalnya lawan bicara saya ngomong kalau tuhan mendesain alam semesta dengan perhitungan rinci nan kompleks (hehe, jadi inget watchmaker analogy yang sudah dipatahkan Dawkins :)), kemudian saya tanya, “Kenapa tuhan harus menghitung? Kan dia maha berkehendak, bahkan hukum alam saja diciptakan olehnya!” dan… beliau langsung bilang, “Wah itu pertanyaan komunis itu! Ateis itu! Kamu nggak boleh bertanya seperti itu! Kalau kamu berani coba kamu tantang tuhan di tempat sepi tengah malam!” Lalu saya berikan analogi berupa dialog Thomas Aquinas dengan muridnya, eh malah jadi debat kusir😦. Sayang beliau malah jadi denial padahal saya berusaha untuk menjadi pribadi yang skeptis.

  8. Dari yang saya tangkap, anda sangat skeptis terhadap agama karena me rasa tuhan ga adil bukan?
    kalo yang anda pelajari doktrin” agama abrahamik( Katanya samawi) mungkin pendapat anda ada benarnya,
    tapi Lain dalam Hindu karena kami percaya hukum karma, dimana APA yang kita rasakan sekarang (susah, senang, cacat, normal, cantik, jelek) adalah Buah Dari perbuatan kita terdahulu. INI sangat Herat hubunganya dengan reinkarnasi.
    jadi tuhan tidak menciptakan kita cacat, jelek, miskin DLL, tapi kita sendiri yang menentukan dimana kita mau dilahirkan kelak .

  9. gini, saya ada pertanyaan

    1. Pernahkah ateis memikirkan darimana manusia lahir dan kemana dia saat sudah meninggal?
    2. Alam semesta yang luas ini bisa tersusun dengan rapi, siapakah yang mengaturnya? Benda-benda langit berputar sesuai porosnya tanpa saling tabrak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s