Speciation as a Clear Evidence of How Biological Evolution is at Work

We used to hear about Darwin’s theory of evolution as the explanation of the present bio-diversity and leftover fossils found by the archaeologist. Sure, it’s easy to agree that natural selection plays a major role at making the rest of us walk the earth while the unfit succumbed and later on known as part of our prehistoric ancestors. But then again, why were they so different than the survivors at all? One of the explanations I found on a course about biological evolution was the one about Allopatric Speciation.

As we know, it’s the name for” speciation by geographic isolation” which is what happens when a population of a species got divided by barriers which made them separated by locations, which in turns making both (or more) populations developed their genetic differently later on as seen in their descendants.

How in real life would this be happening? Now surely we can use our human populations on earth as logical reasoning. We can clearly see how people who live on East Asian continent part of the world phenotypically different from the people who live on African continent. Though studies said that we all came from Africa, by the time we discovered the fact, we already looked very different in terms of appearance. Of course scientists stated that individual humans’ genetic differences are so miniscule (around 0.1%) that even when we can see how different our appearances are, we’re still the same species.

Just by the fact that geographical separation can create such difference within a species, it’s no doubt genetic diversity between 2 species populations from the same origin can become distinct cousins in the phylogeny tree. One example of such, is the majestic African Elephant. “The African Elephant has always been regarded as a single species but, because of morphological and DNA differences, some scientists classify them into three subspecies “.

And just how an argument based on Allopatric Speciation would prove that Evolution is right? Well, as it’s just one method of how one species can become different species, just think how it gives such impact on earth’s huge scale within such long period of time? Species populations got separated from one another, and little by little they went different ways, and repeat the process from billions of years ago until today. With addition of fossil findings and lab researches, evolution is a mindset that doesn’t just make sense, but proven to be happening even now.

 

Sources:

http://evolution.berkeley.edu/evosite/evo101/VC1bAllopatric.shtml

http://en.wikipedia.org/wiki/Allopatric_speciation

http://humanorigins.si.edu/evidence/genetics

http://www.darwinwasright.org/speciation.html

http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/2282801.stm

http://myxo.css.msu.edu/ecoli/

Iklan

Kisah Awal Kehidupan Bumi Menurut Sains

Bumi yang penuh kehidupan sekarang ini awalnya hanya berisi batuan cair yang membara panas, seperti lava gunung berapi yang menyembur dan mengalir deras membakar semua yang dilewatinya.  Kondisi ini terus berlangsung dalam waktu yang sangat lama, sampai akhirnya cukup banyak kalor yang terlepas ke udara dan suhu permukaan bumi mendingin.  Terbentuklah daratan dan lautan yang berasal dari terpisahnya unsur padat dan cair, dan angkasa yang masih diisi oleh atmosfir primitif.  Atmosfir primitif bumi saat itu dipenuhi gas beracun akibat ketidak-mampuannya untuk menyaring sinar UV matahari.  Ini terus berlangsung sampai sekitar 3 milyar tahun yang lalu.

permukaan bumi

“Lalu di mana kehidupannya?” tanya seseorang.  Kehidupan muncul sekitar 2,5-3 milyar tahun yang lalu, dan bukan dari tanah yang tiba-tiba tertiup udara dan bernafas, namun dari laut.  Karena kondisi atmosfir yang tidak mendukung, semua kehidupan di permukaan darat akan habis tersiksa oleh sengatan matahari yang dahsyat dan udara yang tipis akan kandungan oksigen.  Jarak permukaan sampai ke dasar laut sangatlah dalam, dan laut berfungsi sebagai tabir surya di masa awal mula kehidupan.  Panas bumi dan cahaya matahari, keduanya merupakan faktor penting tercampur-aduknya sop purba dalam reaksi kimia yang menghasilkan organisme hidup perdana.  Asam amino adalah bahan dasarnya, dan reaksi yang mengaktifkan terbentuknya organisme purba ini akhirnya membuatnya mengembangkan kemampuan menyerap energi dan berkembang biak.

Bakteri yang menjadi nenek moyang seluruh kehidupan di bumi memanfaatkan energi cahaya matahari.  Mereka berwarna ungu, dan berkembang biak, menyebar dan memenuhi seluruh lautan.  Bayangkan bumi terlihat ungu dari luar angkasa, tidak seperti sekarang bercahaya biru. Hanya sebagian cahaya matahari yang dipakai oleh bakteri primitif ini, sisanya masuk ke laut yang lebih dalam.  Bakteri yang berkembang berikutnya memanfaatkan spektrum cahaya tersisa, yang menjadikan mereka berwarna hijau.  Mereka dikenal sebagai Cynobacteria, mikroba hijau inilah yang kemudian menjadi nenek moyang seluruh spesies tumbuhan di dalam Kingdom Plantae.

Cynobacteria memiliki kemampuan yang tidak dimiliki makhluk lain, fotosintesis.  Dengan memanfaatkan energi dari cahaya matahari, mereka memisahkan air menjadi hidrogen dan oksigen.  Hidrogen dipakai untuk bereaksi dengan karbondioksida menjadi gula, dan oksigen dilepaskan ke udara, mengisi atmosfir, dan akhirnya bereaksi membentuk Ozon.  Ozon inilah yang menjadikan atmosfir bumi mampu menyaring sinar UV matahari.  Sisa oksigen yang berlimpah bermanfaat untuk respirasi tumbuhan, dan dengan kondisi yang ramah kehidupan ini, makhluk lain yang memanfaatkan oksigen untuk mencerna makanan ikut mengalami ledakan populasi dan berevolusi.

Ilmuwan menyebut kejadian ini sebagai Oksidasi Besar, yaitu kejadian di mana reaksi pembentukan oksigen yang memenuhi atmosfir primitif, menjadikannya kaya akan oksigen (O2) dan akhirnya membentuk ozon (O3) yang menahan terjangan sinar matahari dan menstabilkan atmosfir sehingga mendukung kehidupan.

Sumber: How To Grow A Planet – BBC