Apa sih bedanya bangku sama kursi? (Dijawab oleh Dewi Rainny)

Jawaban menarik untuk pertanyaan menarik di grup ABAM:

Kita mengenal kata bangku dari bahasa Portugis, dan bentuknya panjang untuk dua, tiga, empat orang duduk bersama. Di mana kata/benda itu datang? Kemungkinan kata bangku datang bersama kata Portugis lainnya: banco de igreja, atau bangku gereja.

Dari mana kita mengenal kursi? Pernah mendengar ayat kursi? Ya, dari bahasa Arab. Kursi berarti singgasana, tahta, juga tempat duduk. Seperti halnya singgasana, tentu yang duduk hanya satu orang.

Tapi film “bangku kosong” sebenarnya bercerita tentang “kursi” yang kosong. Ini bicara tentang tempat duduk sekolah bukan?

Di sekolah, istilah tempat duduk yang digunakan adalah bangku. Ada ‘uang bangku’ ada istilah ‘masih duduk di bangku sekolah’ untuk menggambarkan usia seseorang, walaupun yang dipakai duduk adalah kursi–individual, satu orang satu tempat duduk, tidak berbagi.

Tapi kenapa tempat duduk di sekolah untuk murid (bukan kursi guru) disebut bangku? Karena dulunya, sekolah di Indonesia diisi dengan bangku, bukan kursi.

Lihat ilustrasi berikut:
3374133_20140612115008

Sampai saat ini, tempat duduk bagi murid masih disebut bangku, walaupun dilihat dari bentuknya sebetulnya lebih tepat disebut kursi.

Tidak berarti saat ini tak ada lagi sekolah yang menggunakan bangku. Masih ada. Lihat gambar ini:
dsc01576

http://jeperis.files.wordpress.com/2009/03/dsc01576.jpg?w=300&h=225

Bandingkan ilustrasi dari zaman dulu dan foto hari ini tentang bangku, terlihat betapa merosotnya mutu (fasilitas) pendidikan kita.

Terima kasih untuk pertanyaannya.

-Dijawab oleh Dewi Rainny.

 

Jangan lupa bergabung dengan grup ABAM di Tanya ABAM.

Iklan

Masa Sih Manusia Bisa Baik atau Hidup Damai Tanpa Agama?

dogoodheart

 

Baru-baru ini saya menemukan komentar berikut terhadap salah satu tulisan saya di web ABAM: “Manusia tidak bisa damai tanpa agama dan hanya dengan mengandalkan logika.” False dilemma yang tersirat dalam komentar si X, bahwa “tanpa agama” berarti “hanya mengandalkan logika” akan saya bahas lain kali. Jujur, saya sudah lelah membaca dan mendengar komentar serupa. Banyak penganut agama yang berasumsi bahwa manusia hanya bisa “baik” kalau beragama. Yah, wajar saja kalau X (yang sepertinya orang baik-baik) percaya bahwa (seperti kebanyakan umat beragama yang baik-baik juga) semua konflik agama disebabkan oleh “oknum” dan bukan oleh ajaran-ajaran agama, juga bahwa manusia betul-betul butuh agama agar bisa hidup dengan damai atau agar bisa menjadi manusia yang baik. Memang benar, kebanyakan konflik agama  tidak murni disebabkan perang ideologi, namun juga disebabkan banyak faktor lain seperti ekonomi, wilayah, rebutan sumber daya, tribalisme, dsb. Sure, sure. Saya juga jujur kurang yakin kalau dogma tok bisa membuat sekelompok orang kalap tanpa dibantu kemisikinan, ketimpangan sosial, dan faktor lainnya. Masa iya FPI mau repot-repot mengancam tempat-tempat hiburan kalau bukan ujung-ujungnya minta amplop? Tidak mungkin kan lapisan bawahnya yang seringkali rela berpanas-panas ria membawa spanduk itu menikmati gaji jauh di atas UMR? Cukup sering juga agama menjadi lem identitas yang menyatukan kelompok yang tertindas, rebutan sumber daya, wilayah dan lain sebagainya yang saya sebut tadi. Bahwa doktrin agama seringkali berpotensi memperburuk keadaan atau memperpanjang konflik mungkin bisa dibahas di kesempatan lain.

Di kesempatan ini, saya tertarik membahas beberapa hal: apa betul manusia (sebagai kelompok) tidak bisa hidup damai tanpa agama? Lalu apa kriteria “manusia baik” yang layak dijadikan pegangan? Dan dengan mempertimbangkan kriteria “baik” ini, mengapa kita sangat perlu akal sehat (atau yang kayaknya disebut “logika” oleh si X) dalam mengambil keputusan?

~

Sebelum membahas apa manusia bisa hidup damai tanpa agama, pertama-tama kita harus terlebih dahulu sepakat dengan kriteria “damai.” Sebagai kelompok, manusia dapat dikatakan damai kalau bebas dari konflik. Mungkin kriteria netral yang dapat saya gunakan di sini adalah yang dipakai oleh Global Peace Index. GPI adalah produk The Institute for Economics and Peace yang berbasis di Australia. Setiap tahun GPI mengeluarkan daftar peringkat negara-negara menurut indeks “kedamaiannya,” sesuai dengan data yang dikumpulkan oleh The Economist Intelligence Unit. Kriteria “damai” GPI antara lain sebagai berikut: jumlah konflik internal maupun eksternal, jumlah kematian yang disebabkan konflik internal maupun eksternal, tingkat kriminalitas, stabilitas politik, aktivitas teroris, jumlah tindakan kejahatan yang violent, jumlah kasus pembunuhan per 100.000 orang, dan lain-lain. You get the picture.

~

Berikut adalah negara-negara paling damai menurut GPI, dengan memperhitungkan faktor-faktor yang saya sebut di atas (urutan sesuai peringkat, dimulai dari peringkat paling tinggi): Islandia, Denmark, Selandia Baru, Austria, Swiss, Jepang, Finlandia, Kanada, Swedia, Belgia, Norwegia, dst. Daftar lengkapnya bisa ditemukan di: http://en.wikipedia.org/wiki/Global_Peace_Index#Global_Peace_Index_rankings

Kalau kita sepakat bahwa kriteria damai yang digunakan GPI cukup baik dan bahwa asumsi si X bahwa “manusia tidak bisa damai tanpa agama” memang betul, seharusnya negara-negara yang menduduki peringkat teratas dalam GPI adalah negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama. Betul kan? Bagaimana mungkin negara-negara tersebut bisa damai (i.e., memiliki tingkat konflik, tingkat kriminalitas, tingkat pembunuhan, tingkat kematian akibat konflik, dst. yang rendah) kalau mayoritas penduduknya tidak beragama?

Yuk kita lihat, seperti apa sih kepercayaan mayoritas penduduk di negara-negara yang saya sebut di atas?

NOTE: sisa persentase menjawab tidak tahu atau tidak bersedia menjawab.

Islandia: 31% percaya Tuhan, 49% tidak percaya Tuhan namun percaya semacam “spirit” atau “life force”, dan 18% tidak percaya Tuhan, spirit, dan life force*

Denmark: 28%, 47%, 24%

Austria: 44%, 38%, 12%

Swiss: 44%, 39%, 11%

Jepang: Kurang dari 15% mengaku memiliki afiliasi agama (2010)**

Finlandia: 33%, 42%, 22%

Kanada: 30% tidak percaya Tuhan***

Swedia: 18%, 45%, 34%

Belgia: 37%, 31%, 27%

Norwegia: 22%, 44%, 29%

(Sumber: Eurobarometer Poll 2010, Canadian Ipsos Reid Poll, dan Craig Lockard)

Bandingkan angka-angka di atas dengan Indonesia yang populasi irrelijiusnya mungkin tidak sampai 1% (maklum kalau susah mendapatkan angka yang akurat berhubung WNI “diharuskan” beragama).

*Pada tahun 2013, 76,18% penduduk Islandia berafiliasi dengan the Church of Iceland. Angka ini sekilas membingungkan, mengingat hasil survey yang saya berikan di atas. Yang perlu dimengerti, “afiliasi” dengan agama tidak berarti seseorang menganut agama tersebut atau beribadah menurut agama tersebut, seperti yang akan saya jelaskan di bawah.

**Menurut Craig A Lockard. Societies, Networks, and Transitions Since 1450 (2nd ed., 2010). Secara budaya, Jepang mengkombinasikan beberapa kepercayaan, termasuk Shinto. Sedangkan menurut makalah yang diterbitkan Harvard University Press tahun 1988, 70%-80% penduduk Jepang menjawab tidak percaya agama saat diikutsertakan dalam survey.

***Survey yang diselenggarakan di Kanada berbeda dengan survey yang dilaksanakan di negara-negara Eropa yang disebut di atas. Survey yang saya sebut diselenggarakan oleh The Canadian Ipsos Reid Poll (2012). Yang menarik, menurut survey yang sama, dari 31% yang mengaku tidak percaya Tuhan (BUKAN dari total penduduk), 33% mengidentifikasi diri sebagai Katolik, dan 28% mengaku Protestan. Bisa dilihat bahwa mereka yang mengaku tidak percaya Tuhan, secara kultural adalah Katolik atau Protestan. Sebagai tambahan, menurut sensus pemerintah Kanada, populasi yang nonrelijius meningkat dari 12,6% pada tahun 1991 hingga 23,9% di tahun 2011.

~

Survey agama memang sedikit problematis, seperti yang dapat kita lihat di atas. Kok bisa orang yang mengaku tidak percaya Tuhan juga mengaku Katolik? Ambil contoh kakak ipar saya (Italia-Amerika) yang “Katolik” secara kultural. Ia tidak pernah ke gereja maupun berdoa, namun merayakan Natal, tidak jauh beda dengan saya yang ateis namun dibesarkan secara protestan dan masih suka menyanyikan lagu-lagu Natal atau bertukar kado saat Natal. Juga teman saya yang orang Turki yang mengaku Muslim, namun tidak percaya Tuhan personal, organized religion, dan bahkan tidak tahu kalau wanita tidak boleh salat di masjid saat menstruasi. Bingung? In short, “agama” bagi mereka yang nonrelijius (bahkan ateis) dapat berperan sebatas sebagai identitas kultural, jadi kita harus ingat bahwa “afiliasi agama” sama sekali berbeda dengan religiositas.

Biar mudah, berikut daftar bangsa yang paling tidak religius* menurut GALLUP WorldView Poll 2006-2011 (diakses 14 September 2011):

  1. Swedia
  2. Denmark
  3. RRC
  4. Norwegia
  5. Estonia
  6. UK
  7. Hong Kong
  8. Perancis
  9. Czech Republic
  10. Jepang
  11. Finlandia
  12. Belgia
  13. Selandia Baru

*Daftar sesuai peringkat, dari paling tidak religius.

Di Eropa, jumlah penduduk yang tidak beragama semakin meningkat. Menurut studi berdasarkan sembilan survey berbeda yang hasilnya dilaporkan di pertemuan American Physical Society di Dallas, AS, pada tahun 2011, agama akan mulai “punah” di negara-negara berikut: Australia, Austria, Kanada, Czech Republic, Finlandia, Irlandia, Belanda, Selandia Baru, dan Swiss. Model matematika yang digunakan sama dengan yang digunakan oleh Dr. Daniel Abrams di tahun 2003 untuk untuk mengukur “kematian” (kepunahan) bahasa-bahasa dunia (http://www.bbc.co.uk/news/science-environment-12811197). Cukup lucu bahwa banyak negara yang digunakan dalam survey juga dinilai GPI sebagai negara-negara yang paling “damai” di dunia. Kebetulan?

~

Jadi, menganggapi komentar pengunjung web ABAM tadi: tidak, manusia sebagai kelompok tidak butuh agama untuk damai, untuk tidak berbuat jahat, dst. (by the way, baru-baru ini empat penjara di Swedia yang penduduknya hanya 18% teis ditutup karena jumlah pelaku tindakan kriminal menurun). Mungkin saja si X tadi secara pribadi merasa agama memberikan dia jangkar moral, belum lagi ketenangan, harapan, dsb. Mungkin saja ada manusia-manusia yang akan saling bacok kalau tidak dilarang agama, atau akan mencuri, atau akan korupsi, seperti yang sering terjadi di Indonesia ini. Eh…ah sudahlah.

Kita yang dibesarkan di Indonesia sudah dikondisikan dari kecil untuk percaya bahwa tanpa agama manusia tidak akan berfungsi secara sosial dan akan bertindak anarkis, bahwa agamalah yang berperan sebagai rem moral. Maka mungkin wajar kalau ada ketakutan bahwa tanpa rem moral tersebut, manusia akan bertindak semaunya. Kalau Anda sering main ke FP ABAM, tentu sering kan ketemu pertanyaan kocak seperti, “Kalau tidak percaya Tuhan, berarti kalian bebas dong ngapain aja (dari nyolong, membunuh, sampai ke yang absurd seperti ‘ngeseks dengan adik/ibu sendiri’—true story)?” Namun, dengan logika serupa, seharusnya Indonesia yang mayoritas beragama lebih bersih dari tindakan kejahatan, korupsi, human trafficking, konflik internal, dan sebagainya dibandingkan bangsa-bangsa “kafir” yang saya sebutkan di atas. Kenyataannya? Justru tingkat pendidikan dan kesejahteraanlah yang berkorelasi lebih erat dengan  kedamaian, dengan rendahnya tingkat kriminalitas.

Anyway, sekedar menawarkan perspektif. Berikut adalah lima negara yang menduduki peringkat terendah GPI: Sudan, Irak, Syria, Somalia, Afghanistan. Apa ini berarti agama membuat orang saling bunuh? Tidak juga. Kenyataannya memang jauh lebih kompleks dari itu, karena seperti yang saya kemukakan di awal, banyak variabel lain yang memiliki andil. Hanya, kalau agama menjamin  manusia akan damai atau kalau manusia butuh agama agar damai, melihat bukti yang ada, ya sudah jelas salah. Saya yakin, tanpa percaya Tuhan atau agama pun  Anda tidak akan lantas jadi maling, pemerkosa, dan pembunuh. Atau taruhlah Anda termasuk sebagian kecil manusia yang memang ada bakat psikopat, tidak punya empati, dan cuma takut sama neraka (semoga tidak ya), mbok ya jangan pukul rata dan menganggap bahwa semua orang seperti Anda.

~

Lalu mengapa manusia perlu akal sehat (mungkin ini yang disebut si X tadi sebagai “logika”—terus terang saya juga kurang paham) agar bisa benar-benar “baik”? Ambil contoh teman saya di Amerika Serikat. Katherine ini murid S2, salah satu murid yang paling berprestasi di bidang kami. Suatu saat saya, Katherine, dan teman saya satu lagi sedang bersiap-siap menonton film horor. Entah kenapa, link Amazon Prime yang ingin kami gunakan untuk menonton film online sedang kumat. Karena frustrasi, teman saya yang satu lagi mengusulkan agar kami menonton film tersebut di link lain yang gratis (dan seperti kebanyakan situs film gratis, juga ilegal). Katherine terdiam sebentar. Kata dia pelan-pelan (mungkin karena tidak mau menyinggung perasaan teman saya atau terkesan menggurui), “Hm, sebisa mungkin I want to do it the right way.” The right way artinya, tidak melanggar hukum dengan menonton film bajakan di link online gratis.

Memang perlu sedikit saja akal sehat untuk mengerti bahwa menonton film bajakan, menyogok polisi demi menghindari surat tilang, tidak membayar pajak seperti semestinya, sama saja dengan mencuri, karena merugikan pihak-pihak lain dengan mengambil atau tidak memberikan uang kepada pihak-pihak yang berhak secara hukum. Katherine ini juga tidak membeli pakaian dari beberapa merk Amerika Serikat karena tidak setuju dengan bagaimana mereka memperlakukan pekerja-pekerja pabrik di berbagai negara ketiga (baik dari kondisi kerja sampai tunjangan hidup). Katherine juga tidak membeli berlian karena khawatir berlian tersebut datang dari daerah-daerah konflik.

Dan guess what? Katherine seorang ateis yang datang dari keluarga sekuler. Ia, tidak seperti saya, tidak dibesarkan secara agama. Dan seperti saya, ia menganggap semua agama dan kitab suci hanya dongeng belaka.

Kalau Anda taat beragama dan yakin bahwa agamalah yang membuat Anda tetap baik, tanyakan ke diri Anda sendiri, apakah Anda sudah se”baik” Katherine (yang, btw, juga seorang vegetarian)? Atau sekedar “baik” secukupnya menurut agama Anda saja (tidak nyolong dompet orang, tidak  membunuh, menghormati orang tua, rajin ibadah, sedekah, yaddayadda)? Menjadi baik secukupnya itu mudah kalau Anda bukan seorang sociopath. Menjadi benar-benar baiklah yang susah. Saya juga masih berusaha agar bisa sebaik teman saya Katherine.

(Alika)

~~~

P.S.

Omong-omong soal korupsi tadi, sebagai penutup, ini daftar 10 negara paling tidak korup menurut studi yang diselenggarakan Transparency International (dimuat di Reuters):

Paling tidak korup (sesuai peringkat):

  1. Denmark
  2. Selandia Baru (skor sama dengan Denmark)
  3. Finlandia
  4. Swedia (skor sama dengan Finlandia)
  5. Norwegia
  6. Singapura (skor yang sama dengan Norwegia)
  7. Swiss
  8. Belanda
  9. Australia
  10. Kanada (skor yang sama dengan Australia)

Bosan yah. Negara-negara yang sama terus yang muncul. 

Pasti konspirasi jiionis!

Pasti konspirasi jiionis!

Sumber:

http://economicsandpeace.org/

http://www.eiu.com/

http://www.visionofhumanity.org/pdf/gpi/2013_Global_Peace_Index_Report.pdf

http://economicsandpeace.org/wp-content/uploads/2011/09/2012-Global-Peace-Index-Report.pdf

http://www.bbc.co.uk/news/science-environment-12811197

http://www12.statcan.gc.ca/nhs-enm/2011/as-sa/99-010-x/99-010-x2011001-eng.pdf

http://www.theguardian.com/world/2013/nov/11/sweden-closes-prisons-number-inmates-plummets

http://redcresearch.ie/wp-content/uploads/2012/08/RED-C-press-release-Religion-and-Atheism-25-7-12.pdf

Eurobarometer Poll Report 2010

Lockard, Craig A. Societies, Networks, and Transitions: A Global History. Volume II: Since 1450. 2nd ed. Cengage Learning, 2010.

http://www.reuters.com/article/2013/12/03/idUS95815491020131203

GALLUP WorldView Poll 2006-2011 via http://en.wikipedia.org/wiki/Irreligion_by_country#Countries

Apakah kaum religius lebih bahagia dari orang ateis? Jawabnya: ya!

20130825-234515.jpg

Dua tahun lalu, seorang kawan saya yang masih religius (sekarang ateis, tapi bukan itu fokus kita dalam artikel ini) memperlihatkan artikel penelitian yang menunjukkan bahwa secara statistik, orang-orang religius lebih bahagia ketimbang mereka yang non-religius. Penelitian ini didukung oleh banyak peer review dan replikasi serupa sehingga bukan merupakan anecdotal evidence. Non-religius dan ateis lebih mudah terserang stres dan depresi sementara orang-orang religius lebih resisten terhadap depresi dan menunjukkan indeks kebahagiaan yang lebih tinggi dalam cakupan populasi yang sama. Ketika menunjukkan artikel-artikel ini, rekan saya dengan wajah penuh kemenangan mengatakan “in your face, atheist!! Muahahaha…

Saya bisa memahami bahwa ketika orang beragama menghadapi masalah, dia memiliki sosok untuk mengadu, terlepas dari apakah doa bisa mempengaruhi hasil (berdasarkan hasil penelitian-penelitian berikut ternyata tidak), ada rasa ketenangan yang didapat seseorang ketika berdoa. Berbeda dengan ateis yang cenderung taktis dalam menghadapi masalah dan fokus pada solusi. Tentu ketika solusi secara jelas tidak bisa didapat, ateis rentan terhadap stress dan depresi.

Namun ternyata ketika kita melihat lebih dalam dan melakukan cross analysis dengan faktor faktor yang terlibat di dalamnya, agama menang dalam indeks kebahagiaan bukan karena alasan sesederhana itu. Pertama, penelitian-penelitian tersebut dilakukan di Amerika Serikat dan negara-negara maju di mana perilaku manusia cenderung lebih individualistik dan agama adalah salah satu sarana aktivitas sosial yang paling dominan dalam mempersatukan masyarakat. Dan aktivitas sosiallah yang secara signifikan berpengaruh terhadap kebahagiaan. Diener and Seligman (2002) menunjukkan bahwa orang-orang religius secara signifikan lebih terikat pada lingkungan sosial lewat agamanya, yang mana jika populasi ini dikeluarkan dalam penelitian maka agama dalam lingkup individu sama sekali tidak memprediksi kebahagiaan lebih tinggi dibanding non-religius.

Didukung juga penelitian Salsman, Brown, Brechting, & Carlson (2005), orang-orang religius lebih memiliki keinginan untuk mendukung lingkungannya secara sosial dan hal ini juga berkorelasi terhadap kemapanan psikologis.

Paling penting, Okulicz-Kozaryn (2010) menunjukkan bahwa kepuasan hidup mereka yang religius hanya ada secara signifikan jika mereka tinggal di lingkungan di mana mayoritas orang adalah religius. Di lingkungan di mana mayoritas orang adalah non religius, perbedaan tingkat kebahagiaan tidak terlihat secara signifikan dari dua kelompok tersebut.

Cukup jelas bagaimana faktor pembeda adalah aktivitas sosial, dan bukan merupakan faedah suci yang dikaruniakan Tuhan. Saya pribadi mengenal banyak orang yang mengaku lebih bahagia setelah terbebas dari dogma dan bertemu dengan rekan-rekan yang sepemahaman. Terlebih lagi, terlepas dari itu semua, masa di mana anak masih percaya Sinterklas tentu lebih menyenangkan dibanding ketika dia menyadari bahwa Sinterklas hanyalah dongeng.

Further reading:

http://springerlink.metapress.com/content/650q541579041625/fulltext.html

http://psr.sagepub.com/content/14/1/84.abstract,A

http://www.psychologytoday.com/blog/death-love-sex-magic/201212/are-religious-people-happier-non-religious-people

Cohen-Zada, D. & Sander, W. (2011) Religious Participation versus Shopping: What Makes People Happier? Journal of Law and Economics.

Diener, E., & Seligman, M.E.P. (2002). Very happy people. Psychological Science, 13, 81-84.

Okulicz-Kozaryn, A. (2010). Religiosity and life satisfaction across nations. Mental Health, Religion & Culture, 13, 155-169.

Salsman, J. M., Brown, T. L., Brechting, E. H., & Carlson, C. R. (2005). The link between religion and spirituality and psychological adjustment: The mediating role of optimism and social support. Personality and Social Psychology Bulletin, 31, 522–535.

Apa itu mesin waktu?

20130825-163931.jpg

Mesin waktu, dari sudut pandang film-film fiksi sains, adalah sebuah kendaraan di mana pengendara (dan penumpangnya) mempunyai kemampuan untuk memanipulasi arus jalannya waktu sehingga dapat memutarbalikkan waktu menuju masa lalu atau mempercepat waktu menuju masa depan. Apakah kemampuan untuk memanipulasi arus jalannya waktu ini benar-benar bisa dilakukan? Mari kita bahas bersama. Tapi sebelumnya mari kita bedakan antara perjalanan ke masa lalu dan ke masa depan.

Apakah perjalanan menuju masa lampau itu mungkin? Apakah kita bisa memutarbalikkan waktu?

Jawaban singkatnya, tidak. Dalam bidang fisika termodinamika, kita mengenal apa yang disebut dengan entropi. Entropi, dalam skala keseharian, adalah nilai perubahan energi untuk mencapai keseimbangan temperatur dalam sebuah sistem tertutup. Contoh sederhana disebutkan dalam hukum kedua termodinamika itu sendiri: energi panas akan selalu mengisi ruangan yang bersuhu lebih rendah sehingga suhu akhir ruangan tersebut mencapai keseimbangan. Sedangkan di skala sub-atomik, entropi adalah dinamika pergerakan partikel untuk mencapai suatu keseimbangan (thermal equilibrium) yang berprinsip pada hukum kedua termodinamika. Jadi, memutarbalikkan waktu berarti juga memutarbalikkan momentum pergerakan seluruh partikel di alam semesta ini agar menempati posisi sebelumnya. Hal ini tentu bertentangan dengan hukum kedua termodinamika.

Baca lebih lanjut

Bila Menikah adalah Anjuran Agama, Mengapa Ateis Menikah?

Bertahun-tahun menjadi ateis, ada satu pertanyaan yang tidak pernah bosan ditanyakan oleh para teis, yaitu pernikahan. Modus yang saya tangkap adalah sebetulnya mereka hanya ingin mengatakan kalau menikah itu adalah anjuran agama. Dan karena pernikahan adalah hal agamis, bila ateis menikah maka ateis tersebut sebetulnya juga menjalankan sebuah ajaran agama. Tapi apakah benar demikian?

Begitu banyak teis fanatik yang terobsesi dengan pertanyaan tentang pernikahan. Dan dari banyak diskusi, saya menyimpulkan bahwa para fanatik ini berpikir bahwa pernikahan adalah satu hal yang membuat manusia lebih mulia daripada makhluk lain. Sekilas mungkin ini benar, tapi bila kita lihat lebih jauh, kita sama-sama tahu bahwa pernikahan itu tidak terbatas pada ritualnya.

Baca lebih lanjut

Apa itu “Flying Spaghetti Monster”?

20130812-075327.jpg

Flying Spaghetti Monster adalah Tuhan parodi/agama parodi yang sering digunakan para nonbeliever (ateis) ketika ditanya apa agama/tuhan mereka dalam konteks yang tidak serius. Sama seperti ‘invisible pink unicorn’ atau versi lokal: Cherrybelle Tuhan Semesta Alam. Banyak agama besar di dunia memiliki kisah yang kurang lebih sama anehnya, namun karena mereka terbiasa dengan kisah agama masing masing, mereka hanya mampu melihat kekonyolan agama lainnya. Kemunculan istilah istilah FSM sendirimemiliki cerita yang menarik.

Awal mulanya: negara bagian Kansas di Amerika Serikat dengan cerobohnya mengeluarkan keputusan untuk mengganti kurikulum mengenai teori evolusi dan menawarkan intelligent design sebagai alternatif dalam meta pelajaran sains. Seperti kita tau, intelligent design memiliki prinsip bahwa tubuh manusia dan alam semesta yang kompleks pasti memiliki pencipta di baliknya. Bahwa awalnya ini terlihat seperti argumen teisme umum, di dalamnya sarat dengan jumping argumen yang berakhir dengan pengajaran teologi Kristen.
Baca lebih lanjut

Bagaimana cara menjadi ateis?

20130825-164259.jpg

Pertanyaan ini sebenarnya cukup konyol untuk dijawab (namun benar-benar pernah ditanyakan di FP ABAM). Sama seperti pertanyaan “bagaimana cara menjadi golput”? Jawabannya: jangan ikut pemilu! Sesederhana itu. Menjadi ateis, sesimpel tidak percaya Tuhan. Itu saja. Tak ada syahadat atau ritual tertentu yang mengukuhkan Anda jadi ateis karena memang ateisme bukan agama.

Tapi ini menjadi pembahasan yang valid ketika kita bertanya lebih lanjut. “Sejak lahir saya dididik beragama dan percaya pada Tuhan, bagaimana mungkin saya membuktikan kepercayaan saya itu salah selama ini?” Ada beberapa langkah menarik yang Anda bisa coba, setidaknya baca.

Baca lebih lanjut

Apa Bukti Bahwa Tuhan Tidak Ada?

20130825-164421.jpg

Pertanyaan ini hanya bisa dijawab apabila kata “Tuhan” didefinisikan secara jelas. Tanpa definisi yang jelas, tidak mungkin apa pun dibuktikan ada atau tidak ada. Bayangkan Anda diminta membuktikan keberadaan X tanpa disebutkan secara sangat jelas, apa itu X. Permasalahan sama tentang Tuhan mengingat hampir semua agama memiliki deskripsi sendiri tentang Tuhan. Ada yang menganggapnya sosok yang bisa marah dan berkehendak, ada yang berkata Tuhan adalah kesadaran manusia itu sendiri. Ini membuat pembuktian Tuhan menjadi mustahil ketika semua memiliki definisi berbeda.

Persoalan kedua adalah dalam skala sebesar alam semesta, membuktikan ketiadaan sesuatu adalah mustahil. Contoh, tidak ada yang bisa membuktikan bahwa Sinterklas tidak ada. Tidak ada yang pernah merekam dan menjelajahi setiap jengkal bumi untuk menunjukkan bahwa tidak ada Sinterklas. Bagaimana jika Sinterklas bersembunyi di Bulan? Bagaimana jika Sinterklas bersembunyi di dimensi lain? Ini jugalah yang terjadi pada jin. Tidak ada yang bisa membuktikan jin tidak ada, tidak ada yang bisa membuktikan Doraemon tidak ada.

Baca lebih lanjut

Dari Mana Datangnya Semua Ini Jika Tuhan Tidak Menciptakannya?

Menyambung tulisan saya sebelumnya mengenai “Untuk Apa Kita Hidup Jika Tuhan Tidak Menciptakan Kita?” (https://andabertanyaateismenjawab.wordpress.com/2013/08/05/untuk-apa-kita-hidup-jika-tuhan-tidak-menciptakan-kita), maka dalam tulisan ini saya akan kembali menulis sebuah isu yang berkaitan dengan keberadaan kita manusia dari sudut pandang yang tidak melibatkan tuhan di dalamnya.

Sebagai pengantar jika anda belum membaca tulisan saya sebelumnya dan ingin meneruskan membaca tulisan ini sampai habis tanpa berpindah halaman, rangkaian tulisan “Jika Tuhan Tidak Menciptakan Kita” ini saya tulis sebagai jawaban atas pertanyaan yang disampaikan kepada saya di sebuah gereja beberapa saat lalu yang kurang lebih berbunyi seperti ini:

“Memang benar bahwa saat ini ateisme dengan berbekal segala sains sekulernya telah mampu menjelaskan fenomena – fenomena yang terjadi di dunia ini. Namun ada satu hal dasar yang para ateis tidak bisa menjawabnya, yaitu mengenai kehidupan kita sendiri.
Baca lebih lanjut

Apa itu Panteisme? Apa itu Deisme?

Panteisme adalah suatu posisi yang menganggap Universe/Alam Semesta identik dengan keTuhanan. Dengan kata lain, Tuhan adalah alam semesta itu sendiri. Panteisme merupakan konsep ketuhanan yang nonpersonal/tidak anthropomorphic. Untuk memahami ini kita mulai dengan perbedaan dua konsep penggunaan kata Tuhan, yakni personal dan non personal. Tuhan personal adalah Tuhan yang memiliki kehendak, memiliki keinginan, bisa marah, dan lain sebagainya seperti yang diatributkan pada Tuhan Abrahamik seperti Allah, YHWH, hingga dewa dewi di berbagai agama. Sementara Tuhan nonpersonal umumnya merujuk pada hal-hal seperti kesadaran, energi, dan alam semesta itu sendiri. Bisa dikatakan, panteisme adalah sexed-up atheism, karena ateis dan panteis pada prinsipnya tidak memercayai keberadaan Tuhan Personal; ateis tentu saja percaya bahwa Alam Semesta ada dan memang menakjubkan, tetapi kami juga tidak menganggap bahwa Alam Semesta lantas merupakan semacam ekuivalen atau substitusi Tuhan. Singkatnya, panteisme adalah ateisme, dengan sedikit perbedaan semantik mengenai apa definisi Tuhan.
Baca lebih lanjut

Apa yang dimaksud “religion is just a matter of geography”?

20130825-164557.jpg

Artinya, apa agama seseorang seringnya hanya akibat di keluarga mana dan kapan seseorang lahir dan dibesarkan.

Sebagai salah satu mekanisme pelindung agar agama tidak ditinggalkan pemeluknya, ada doktrin pada hampir setiap agama, aliran, bahkan sekte, terutama yang merupakan turunan tradisi Abrahamik, bahwa hanya kelompok merekalah yang akan masuk surga. Ini praktek yang umum. Mormon mengajarkan hanya mereka yang taat pada gereja dan Joseph Smithlah yang akan masuk surga. Kristen mengajarkan jika orang mengakui Yesus sebagai juruselamat, mereka akan masuk surga. Islam mengatakan, hanya Muslimlah yang akan masuk surga. Pun masing-masing lebih eksklusif lagi memiliki aliran-aliran tertentu dan masing-masing mengatakan merekalah yang benar, dan aliran lain akan masuk Neraka. Sunni menghujat Syiah, Ahmadiyah dianggap sesat, dan seterusnya. Dalam Islam sendiri ada belasan hadist termasuk dari Tarmidzi dan Abu Hurairah yang mengatakan akan ada 73 golongan dalam islam dan hanya ada satu yang benar. Kenyataannya sendiri ada lebih dari 100 sekte dan aliran dalam Islam hingga kini. Semua merujuk pada terjemahan masing-masing atas Quran dan literatur Islam lainnya. Tanpa menghitung pecahan-pecahan aliran ini, teridentifikasi ada tak kurang dari 1500 tuhan yang berbeda yang dikenal sejak peradaban manusia. Masing-masing dengan nama, sifat dan karakteristik yang berbeda sehingga tidak mungkin merujuk pada satu entitas yang dijabarkan dalam berbagai cara. Lalu, di antara ribuan agama tersebut, manakah yang benar?

Baca lebih lanjut

Kenapa ateis banyak yang mengacu pada sains?

20130825-164900.jpg

Bayangkan ada seseorang yang datang pada Anda dan menyombongkan bahwa dia memiliki ilmu yang tidak diketahui orang lain, yakni unicornology. Sebuah ilmu yang mengetahui secara detail bagaimana unicorn berkembang biak, bagaimana laju pertumbuhan tanduk per tahun dan bagaimana air kencingnya bisa menyembuhkan anemia. Bagaimana Anda menanggapi orang tersebut?

Tentu ini menarik. Selagi belum bisa dibuktikan bahwa unicorn itu ada, seseorang mengaku mengetahui secara persis segala hal tentang unicorn. Lebih mengherankan lagi, dia membanggakan hal itu.

Baca lebih lanjut