Bukankah Alam Semesta Punya Sebab Yaitu Tuhan? (Argumen Prima Causa)

Argumen yang paling sering diutarakan oleh teis untuk membuktikan keberadaan tuhan adalah argumen prima causa atau sebab utama, yang biasanya dituangkan dalam bentuk sebagai berikut:

(1) Segala sesuatu yang berawal (seperti materi) punya sebab

(2) Alam semesta itu berawal

Simpulan: maka alam semesta punya sebab dan sebab itu Tuhan.

Argumen ini jelas bermasalah. Masalah pertama yang menerpa adalah non sequitur atau “it does not follow.” Premis di atas sebenarnya jika diurai secara logis berusaha membuktikan bahwa alam semesta ini punya sebab. Simpulan “sebab itu Tuhan” tidak terkandung dalam premis-premisnya, dan maka argumen prima causa ini melakukan lompatan logika dengan mengasumsikan secara a priori bahwa sebab itu Tuhan. Kalaupun Tuhan mau dimasukkan ke dalam premisnya dengan cara menyatakan bahwa sebab sama dengan Tuhan, maka akan terjadi kesesatan petition principii atau “assuming the initial point”, karena argumennya akan menjadi seperti ini:
Baca lebih lanjut

Iklan

Jakarta Globe: Apakah Ateisme Diperbolehkan di Indonesia?

Berikut adalah artikel opini di Jakarta Globe yang menekankan bahwa ateisme tidak melanggar Pancasila. Artikel lengkapnya dapat dilihat di http://www.thejakartaglobe.com/archive/the-thinker-is-atheism-allowed/

Alexander Aan, a civil servant in Dharmasraya, West Sumatra, was beaten and charged with blasphemy after writing “God does not exist” on his Facebook page.

The response has ranged from condemnation by several international organizations to support by local citizens and the Indonesian Council of Ulema. Many people have invoked the first principle of Pancasila, the state ideology, to make the argument that atheism — and Alexander — have no place in Indonesia.

But is this really the case? Has atheism been banned by Pancasila since the dawn of the Indonesian state? Since the argument is based on the text of a legal document, let’s examine this question from a legal perspective.
Baca lebih lanjut

Apakah benar Einstein pernah membantah seorang profesor tentang keberadaan Tuhan?

Dialog seorang profesor dengan muridnya mengenai teodisi atau upaya untuk merekonsiliasi keberadaan Tuhan dengan kejahatan telah menyebar luas di dunia maya. Seorang murid dikisahkan berhasil membantah pernyataan profesor yang digambarkan “sombong.” Biasanya di akhir kata ditambahkan embel-embel “murid itu adalah Albert Einstein,” yang jelas salah karena Einstein tidak percaya Tuhan personal, namun kepada Tuhannya Baruch Spinoza, yaitu keserasian hukum alam. Selain mencatut nama Einstein, dialog ini juga memiliki kesalahan logika yang fatal.

Berikut adalah perbaikan untuk dialog tersebut yang diterjemahkan dari http://www.rationalresponders.com/debunking_an_urban_legend_evil_is_a_lack_of_something dengan sedikit adaptasi.
Baca lebih lanjut