Apa penjelasan ateis mengenai Anak Indigo?

Semua orang ingin anaknya dianggap spesial. Semua anak ingin dirinya dianggap spesial. Anak anak pada umumnya sangat gemar berimajinasi bahkan dalam beberapa kasus tidak mampu membedakan imajinasi dengan realita. Ini juga terjadi pada orang dewasa dan disebut sebagai gejala schizophrenia. Kelainan ini menyebabkan mereka seolah mendengar sesuatu, melihat sesuatu, dll. Perkembangan media informasi yang luar biasa dewasa ini membuat banyak anak kecil menjadi lebih tau dibanding anak kecil satu dasawarsa yang lalu.

Anak yang terlanjur dianggap indigo akan berbuat apapun untuk mempertahankan perhatian yang sudah didapatnya termasuk dengan melakukan trik trik murahan, akting, dan kebohongan. Ini dapat dimaklumi karena merupakan mekanisme pertahanan secara alami untuk mempertahankan posisinya dalam lingkungan sosialnya. Orang tua yang terlanjur bangga dan percaya akan anaknya yang spesial memperparah keadaan dengan melakukan selective thingking. Apapun fenomena yang terjadi akan dikaitkan dengan ‘kemampuan’ si anak dan cenderung melebih lebihkan didepan orang tua lainnya.

Jika kita mempelajari sejarah istilah anak indigo, istilah itu muncul pertama kali dalam buku yang ditulis seorang paranormal bernama Lee caroll berjudul “The Indigo Children” yang mengklaim anak anak indigo adalah anak yang kerasukan roh dari planet Kryon.

Fenomena anak indigo adalah fenomena yang sangat memprihatinkan dalam dunia pendidikan indonesia. Lihat bagaimana istilah anak indigo dan aura sudah ditinggalkan di negara maju karena sudah diketahui sebagai sebuah kepalsuan.

Pineal gland adalah bagian otak yang sering di selewengkan fungsinya oleh mereka yang menjual pseudoscience. Sama seperti mesenchepalon (otak tengah) yang juga digunakan untuk penipuan mengintip secara massal. Tak ada satupun anak indigo yang memiliki kemampuan luar biasa yang bisa diuji.

Iklan

Apa isi kolom agama di KTP ateis?

Pertanyaan terkait:
Bisakah kolom agama pada KTP tidak diisi?

Jawaban:
Sejauh ini kolom agama diisi dengan agama orang tua, agama lama kami, atau dikosongkan. Sebenarnya perundangan di Indonesia sudah memungkinkan untuk mengosongkan kolom agama.

Pasal 64 ayat 2 UU no 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan menyebutkan, “…bagi Penduduk yang agamanya belm diakui sebagai agama berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan atau bagi penghayat kepercayaan tidak diisi….” Pasal ini memberikan peluang bagi siapa pun untuk mengosongkan kolom agama pada KTP-nya.

Namun demikian sepertinya tidak banyak ateis yang sudah mengosongkan kolom agama pada KTP-nya. Ada yang mengisinya dengan Buddha, dengan alasan karena Buddha adalah agama non-teis sehingga paling dekat dengan ateisme. Mengganti kolom agama tidaklaah semudah yang dibayangkan. Tidak adanya arus informasi yang baik dalam sistem pemerintahan kita membuat banyak sekali petugas petugas di level kelurahan yang tidak mengetahui bahwa undang undangnya sudah ada. Jangankan mengosongkan kolom agama, pindah agama pun pengurusannya cukup ribet di kelurahan. Jadi cukup banyak di luar sana yang sudah pindah kepercayaan namun belum mengganti keterangan di kolom agama.

Sebagai tambahan, Indonesia hanya satu dari 3-5 negara yang memiliki kolom agama di KTP. Kolom agama tidak dicantumkan di negara-negara maju karena agama merupakan ranah pribadi dan adanya agama di KTP dianggap membuka peluang untuk diskriminasi, dan bahkan kadang dapat berakibat fatal, misalnya saat konflik di Poso dan Lebanon, ketika dua kubu yang terlibat konflik mengadakan razia KTP.

Kalau saya mengosongkan kolom agama di KTP saya, itu bukan karena saya ateis, tetapi karena saya mengerti betul bahwa agama adalah urusan pribadi saya, dan tidak sepantasnya tercantum di dokumen resmi yang saya sertakan misalnya saat saya melamar kerja, dan lain sebagainya.

Apakah ateisme dilarang di Indonesia? Kaitannya dengan sila Pertama Pancasila?

Tidak ada satu sila pun dalam Pancasila yang melarang seorang warga negara Indonesia untuk menjadi ateis, bahkan sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Butir 7 sila pertama Pancasila sebagai salah satu tafsir berbunyi “Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.” Butir ini justru melarang memaksakan agama dan kepercayaannya kepada siapa saja, artinya, juga kepada ateis. Ini berarti bahwa ateis tidak boleh dipaksa, diharuskan, atau diwajibkan bertuhan atau beragama.

Ateisme memang tidak diakui secara formal di negara ini, seperti juga halnya banyak agama dan kepercayaan lain. Tidak diakui secara formal tidak berarti ateisme bertentangan dengan hukum.

Sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia (UU no. 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan pasal 2), tafsir hukum Pancasila juga diturunkan dan ditafsir menjadi konstitusi dan udang-undang yang berlaku. Sampai hari ini tidak undang-undang atau peraturan yang melarang seorang warga negara Indonesia untuk mejadi ateis.

Memang ada masalah bahwa konstitusi kita tidak menjamin sekularisme, dalam arti negara bisa turut campur masalah keagamaan rakyatnya. Tapi kita memiliki satu ayat bagus di UUD45. Pasal 29 ayat 2, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”

Pancasila adalah dasar filosofis yang ditetapkan pada awal kemerdekaan Indonesia, disusun sebagai hasil kompromi dari berbagai kelompok pada waktu itu. Pancasila terbuka untuk berbagai interpretasi.

Apakah komunis itu ateis?

Pertanyaan terkait:
Kenapa ateis sering dicap komunis?

Jawaban:
Ateisme tidak sama dengan komunisme. Ateisme adalah ketidakpercayaan terhadap keberadaan Tuhan dalam hal ini Tuhan personal, Sang Maha Pencipta, dan Maha Berkehendak. Sementara komunisme adalah ideologi ekonomi politik.

Oleh karena itu, tidak semua ateis adalah komunis dan tidak semua komunis adalah ateis. Seorang ateis bisa saja memiliki pandangan liberal, sekuler, kapitalis, atau juga komunis. Sementara itu, walaupun mungkin sebagian besar komunis adalah ateis, ada banyak orang beragama atau teis yang menganut komunisme sebagai ideologi ekonomi politiknya, di Indonesia contoh yang terkenal adalah Haji Misbach, sementara di India komunisme bukan hanya dirangkul, tetapi juga dipimpin oleh muslim, sementara di Amerika Latin, komunisme/marxisme mempengaruhi ajaran Katolik sehingga terbentuklah Teologi Pembebasan.

Komunisme adalah paham yang menolak kepemilikan barang pribadi dan beranggapan bahwa semua barang produksi harus menjadi milik bersama. Ini bertujuan agar tidak ada hirarki buruh-pemilik modal karena sistem kapitalis cenderung mengeksploitasi manusia. Komunisme memiliki keberpihakan yang sangat tinggi terhadap rakyat miskin, yang disebut sebagai proletar, dan menolak kapitalisme yang dianggapnya adalah penghisapan manusia atas manusia. Itulah kenapa PKI pada masanya mampu menjadi partai terbesar ketiga di Indonesia. Rakyat Indonesia yang mayoritas adalah rakyat miskin di negara yang baru lepas dari penjajahan mendukungnya, dan itu sama sekali tidak berhubungan dengan ateisme.

Salah satu penyebab dihubung-hubungkannya ateisme dengan komunisme, mungkin adalah kata-kata Karl Marx, “Agama adalah candu bagi massa rakyat.” Hal lain yang sering diingat adalah syair lagu Internationale–lagu mars komunis internasional–yang berbunyi, “Tiada maha-juru-s’lamat/Tidak Tuhan atau raja.” Kesan bahwa komunisme itu bukan hanya ateis tapi juga anti-teis bisa jadi disebabkan tindakan represif terhadap kehidupan beragama yang banyak terjadi di negara-negara komunis. Namun demikian, perlu diingat, pemberangusan di negara komunis bukan hanya ditujukan pada kelompok agama, melainkan juga pada kelompok liberal, pendukung demokrasi multipartai, serta kaum oposisi dan pembangkang.

Anti-teis dan ateis tidak tepat disandangkan pada komunisme/marxisme. Yang lebih tepat sebetulnya adalah bahwa komunisme/marxisme anti agama. Lebih tepat lagi, anti struktur kekuasaan agama yang sengaja dipelihara disamping kekuasaan raja untuk melemahkan daya kritis dan daya juang rakyat melawan tirani. Persisnya yang dilawan oleh komunisme adalah struktur kekuasaan agama dalam pemerintahan dan kehidupan politik sebagai alat kontrol (melalui mekanisme obat bius/candu pengurang rasa sakit bagi penderitaan dan kemiskinan) rakyat.

Di Indonesia, cap ateis pada komunis dan sebaliknya adalah hasil dari propaganda rejim Orde Baru yang ingin melenyapkan partai besar dan jutaan pendukungnya tersebut secara instan dan dalam jangka panjang. Guna mendapatkan dukungan kelompok agama, maka rejim Orde Baru mempropagandakan bahwa komunis adalah ateis, musuh agama, sehingga mereka harus diberantas dari bumi Indonesia. Lebih dari satu juta orang dibunuh, jutaan lainnya dirampas harta benda dan hak-hak sipilnya, dipenjara tanpa pengadilan, dibuang ke Pulau Buru akibat kampanye antikomunis di tahun 60-an ini.

Tan Malaka atau Haji Misbach beragama.

Tan Malaka adalah muslim yang saleh. Tan malaka adalah anggota Partai Sarekat Islam, dan sebagian anggota partai ini berpaham komunis, termasuk juga Semaun dan Tan Malaka, karena itu kelompok ini biasa disebut Sarekat Islam Merah. Sebagaimana Semaun, Tan Malaka pun juga muslim yang taat melakukan solat lima waktu, membaca alqur’an hampir tiap hari (dia kecilnya dipesantren, bukankah dia asli Padang yang secara tradisi adalah penganut islam yang taat?). Juga jangan lupakan Haji Misbach, seorang kyai komunis dari Surakarta, juragan batik sukses yang menguasai ilmu tafsir alqur’an dan kitab kitab kuning. Jadi islam dan komunis bisa dianut sekaligus oleh satu orang, karena sejatinya memang tidak bertentangan.

Apa ideologi politik para ateis?

Para ateis bisa memiliki ideologi politik yang berbeda beda dan semuanya sah-sah saja. Namun mayoritas ateis mendambakan diterapkannya sistem sekuler yang baik dan demokratis. Sekularisme memungkinkan bahwa aturan negara tidak dicampuradukkan dengan aturan agama. Segala bentuk peraturan dan perundangan harus memiliki landasan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan demi kepentingan bersama dan bukan landasan yang bersumber dari kitab suci.

 

Sekularisme memberikan ruang kepada siapapun untuk menjalankan ritual keagamaan yang dia percaya dalam batasan tidak mengganggu kepentingan kehidupan orang lain. Bahwa hukum negara diberlakukan sebagai hukum negara di mana semua orang harus tunduk padanya. Anda tidak bisa lolos mengendarai motor menggunakan sorban dengan dalil agama ketika aturan negara menyuruh anda mengenakan helm, dan masih banyak lagi. Sayangnya banyak sekali persepsi salah mengenai sekularisme berkembang di masyarakat, dan jika Anda teliti, sebagian besar dari opini buruk tentang sekularisme mengandung informasi yang salah, atau bahkan seringnya tidak memiliki alasan sama sekali. Anda akan sering menemukan kalimat seperti “ sekularisme adalah ideologi kafir, sekularisme adalah propaganda barat, sekularisme adalah penghancur agama, dan seterusnya tanpa disertai alur alasan logis yang jelas.

 

Alasan mayoritas ateis mendukung sekularisme adalah demi kehidupan bersama yang lebih baik tanpa ada aksi merugikan yang dilakukan sebagian orang dengan agama sebagai pembenarannya. Kami mendambakan berkembangnya ilmu pengetahuan secara lebih baik.

Jika tidak ada surga dan Neraka, bagaimana dengan orang orang jahat yang lolos dari peradilan dunia?

Pertanyaan terkait:
-Apa yang terjadi pada orang jahat setelah mati?
-Bagaimana keadilan terwujud jika Tuhan ternyata Tidak ada?

Jawaban:
Memang, idealnya semua akan mendapat keadilan mutlak. Orang jahat akan dibalas di akhirat, orang baik akan mendapat balasan. Namun kenyataannya sejauh ini, tidak ada indikasi bahwa tuhan ada, bahwa surga dan neraka ada.

Hukum yang diterapkan manusia sendiri bertindak seolah surga dan neraka tidak ada. Jika tidak, maka segala sesuatu akan diserahkan pada hukuman akhirat. Tentu kami akui bahwa idealnya segala perbuatan akan mendapatkan balasannya, yang baik ataupun yang buruk. Namun hal hal yang ideal tidak selalu terjadi. Idealnya surga dan neraka perlu ada dimana orang orang jahat akan mendapat ganjaran, namun kami sadar bahwa sangat mungkin surga dan neraka tidak ada. Inilah yang memotivasi kita untuk menegakkan keadilan di buka bumi. Agar tercipta kenyamanan bersama. Agar tidak ada orang orang yang merasa segala perbuatannya benar karena berlindung dibalik perintah agama. Bayangkan jika ada sekumpulan umat penyembah doraemon (yang nyata nyata fiksi) melakukan bom bunuh diri kepada orang tak bersalah yang mereka anggap musuh, melarang anda beribadah, dan memaksa anda menyembah tuhannya. Dan hal ini tidak tersentuh hukum karena doraemonisme menjadi agama mayoritas? Bagaimanapun juga hukum perlu dibuat untuk mengakomodasi kepentingan bersama. Inilah salah satu tujuan sekulerisme. Yakni sebuah sistem pemerintahan yang mengakomodir semua agama selama mereka tidak mengganggu agama lainnya.

Tanpa agama, apa landasan moral ateis?

Landasan moral dapat berasal dari mana saja. Tidak perlu agama untuk sekedar mengetahui bahwa membunuh dan merampok itu tidak baik. Segala yang kruisal tertuang dalam hukum. Hukum dibuat oleh manusia dengan konsekuensi nyata. Bukan ancaman neraka. Agama dapat berfungsi cukup baik ketika hukum manusia tidak dapat dilaksanakan. Kita perlu sesuatu untuk ‘menakut nakuti’ manusia agar berbuat baik. Kita perlu hukuman imajiner bahwa sesuatu selalu mengawasi kita dan akan menghukum kita setelah mati kelak. Itulah ketika agama berperan sebagai white lie. Kebohongan untuk membuat orang berbuat baik. Namun apakah surga, neraka, pahala, dosa, malaikat pencatat amal perbuatan itu benar benar ada?

Dalam konteks atheisme dan humanisme ada istilah golden rule, dengan variasinya seperti silver rule atau platinum rule yang kurang lebih berbunyi sebagai berikut: “Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan.” Jika ini diberlakukan saja, maka tidak akan ada pembunuhan, perampokan, bahkan bom bunuh diri yang melukai banyak orang.

Ada banyak konsep Tuhan, apakah Ateis tidak percaya semuanya?

Pada dasarnya deskripsi Tuhan menurut agama agama yang ada di seluruh dunia dibagi menjadi dua yakni tuhan personal dan impersonal. Tuhan personal adalah tuhan yang memiliki kehendak dan dideskripsikan memiliki karakteristik personal seperti: memiliki kehendak, marah, memerintah. Seperti figur dewa dewa, odin, yupiter, zeus, hingga Tuhan agama abrahamik seperti Allah, Roh kudus dan YHWH. Disisi lain ada Tuhan impersonal yakni Tuhan abstrak seperti pantheisme atau budha yang menganggap Tuhan adalah alam semesta, energi, kesadaran, dan hal hal lain yang tidak memiliki kehendaknya sendiri.
Dalam konteks atheisme umum, kami tidak mempercayai keberadaan Tuhan personal. Kami tidak percaya bahwa odin, zeus, Allah, Xenu ataupun YHWH ada. Alasannya sama seperti kami tidak mempercayai adanya Unicorn, peri gigi atau Nyai roro kidul. Kami mendengar banyak cerita mengenai keberadaannya namun tidak pernah ada bukti yang kuat bahwa mereka benar benar ada. Ada banyak sekali klaim mukjizat seperti munculnya nama Allah di daun telinga, kambing, awan. Atau munculnya wajah yesus dan bunda maria di roti, gereja, awan, dst. Hal itu dapat dijelaskan dengan mudah sebagai bentuk paraedolia dimana alam semesta sering menghasilkan bentuk bentuk acak dan pada akhirnya selalu mirip dengan sesuatu.

Apa itu agnostik? Apa perbedaannya dengan ateis?

Secara terminologi agnostik adalah orang yang memiliki pandangan bahwa ada atau tidaknya Tuhan tidak dapat diketahui. Agnostik lawan kata dari gnostik yang artinya berpendapat bahwa Tuhan dapat diketahui sebagai ada atau tidak. Ateis dan teis lebih berimplikasi pada sikap dan tindakan. Anda seorang teis jika Anda percaya Tuhan ada dan segala tindakan Anda dilakukan dengan berpedoman atas perintahnya, ateis jika Anda tidak menganggap Tuhan ada dan tidak mendasarkan tingkah laku atas perintahnya. Maka dari itu dapat muncul empat jenis kombinasi: teis agnostik, mereka yang menyembah Tuhan namun mengakui Tuhan tidak dapat diketahui; teis gnostik, mereka yang menyembah Tuhan yang percaya keberadaan Tuhan bisa diketahui; ateis agnostik, mereka yang tidak percaya Tuhan dan berpendapat ada/tidaknya Tuhan tidak diketahui; yang terakhir, ateis gnostik, yakni mereka yang tidak menyembah Tuhan dan berpendapat bahwa Tuhan memang jelas-jelas tidak ada.

Beranjak dari definisi-definisi tersebut kita bisa melihat bahwa di luar sana sebenarnya banyak didominasi oleh teis agnostik, yakni mereka yang tidak yakin bahwa Tuhan ada atau tidak namun melakukan peribadatan untuk sekedar jaga-jaga (ini bisa juga merupakan residu ketakutan yang tertanam sejak kecil akan neraka dan dosa akibat tidak menyembah Tuhan yang benar) atau alasan lainnya.

Jika Tuhan tidak ada darimana adanya Alam semesta?

Sama seperti pertanyaan, jika zeus tidak ada, maka darimana datangnya petir? Ketidaktahuan kita mengenai darimana asal alam semesta tidak menjustifikasi kita untuk lantas percaya bahwa ada mahkluk super yang tidak terlihat, membuat alam semesta untuk suatu tujuan. Sangat mudah untuk mengatakan alam semsta ada karena gajah kosmik yang bersin, atau ulah doraemon. Sudah selayaknya kita jujur jika kita memang belum mengetahuinya.

Kita hanya selayaknya mempercayai penjelasan yang didukung oleh hasil pengamatan dan bukti bukti. Dari apa yang dapat kita kumpulkan lewat pengamatan, data data dan kalkulasi, terciptanya alam semesta lewat proses bigbang adalah teori yang paling didukung banyak bukti. Bayangkan, dalam peradabaan sains modern yang baru beberapa abad, manusia mampu mengetahui apa yang terjadi 14 milyar tahun yang lalu. Apa yang terjadi sebelum bigbang, memang belum diketahui dan disepakati oleh para ilmuwan.

Mempercayai suatu alternatif penjelasan karena sesuai dengan bukti bukti yang dapat diukur tentu lebih masuk akal daripada mempercayai suatu hal hanya karena terdapat di kitab suci dan kita akan masuk neraka jika menyangkalnya. Terakhir jika segala sesuatu harus memiliki pencipta, maka teori keberadaan Tuhan (yang belum dapat dibuktikan) tidak menjawab masalah karena timbul pertanyaan lain: siapa yang menciptakan Tuhan? Menjawab “Tuhan tidak perlu pencipta” jelas bertentangan sendiri dengan silogisme “segala sesuatu harus ada pencipta”.

Bukankah ateis adalah kepercayaan juga? Bahwa Tuhan tidak ada?

Tidak. Sama seperti Yeti, Unicorn, Pegasus, atau Bigfoot. Saya sendiri bukan mempercayai bahwa mereka tidak ada. Namun ketiadaan dan minimnya bukti membuat saya belum percaya. Ibarat ada sekumpulan orang yang percaya vampir benar benar ada, maka ada sekumpulan orang orang lain yang tidak mempercayai keberadaan vampir karena belum adanya bukti. Ateis memiliki posisi yang sama, kami tidak mempercayai bahwa Tuhan ada karena belum adanya bukti yang kuat bahwa dia ada, sesuai deskripsi agama-agama Abrahamik.

Anda tentu sadar bahwa ada terlalu banyak konsep Tuhan. Ada sedikitnya 5000 Tuhan yang pernah disembah peradaban manusia. Seiring berjalannya waktu orang tidak lagi percaya dan menyembah Zeus dan Jupiter. Anda hanya percaya satu di antaranya dan kami: tidak satu pun.

Kemanakah ateis setelah mati?

Secara umum ateis tidak percaya akan kehidupan setelah mati. Kebanyakan mempercayai bahwa setelah mati, sama seperti sebelum lahir. Tidak ada bukti apapun, kecuali orang-orang yang mengalami gangguan psikologis pernah menceritakan kehidupan setelah kematian. Tentu semua orang menginginkan adanya kehidupan setelah mati. Sangat indah membayangkan kita bisa tetap menjaga ingatan dan keberadan kita. Tapi bukti bukti sejauh ini tidak mengindikasikan adanya hal tersebut. Mereka yang mengaku sempat mengalami kematian menggambarkan alam kematian secara jauh berbeda dan berakar apda kepercayan agamanya massing masing.