How do you know God isn’t real?

Salah satu episode dari ‘Atheist Experience’. Tayangan interaktif live Mingguan di Austin serupa dengan ‘Anda bertanya Ateis Menjawab’. Tonton tanya jawab mereka lainnya di Youtube channel ‘Atheist Experience’.

Iklan

Apakah kaum religius lebih bahagia dari orang ateis? Jawabnya: ya!

20130825-234515.jpg

Dua tahun lalu, seorang kawan saya yang masih religius (sekarang ateis, tapi bukan itu fokus kita dalam artikel ini) memperlihatkan artikel penelitian yang menunjukkan bahwa secara statistik, orang-orang religius lebih bahagia ketimbang mereka yang non-religius. Penelitian ini didukung oleh banyak peer review dan replikasi serupa sehingga bukan merupakan anecdotal evidence. Non-religius dan ateis lebih mudah terserang stres dan depresi sementara orang-orang religius lebih resisten terhadap depresi dan menunjukkan indeks kebahagiaan yang lebih tinggi dalam cakupan populasi yang sama. Ketika menunjukkan artikel-artikel ini, rekan saya dengan wajah penuh kemenangan mengatakan “in your face, atheist!! Muahahaha…

Saya bisa memahami bahwa ketika orang beragama menghadapi masalah, dia memiliki sosok untuk mengadu, terlepas dari apakah doa bisa mempengaruhi hasil (berdasarkan hasil penelitian-penelitian berikut ternyata tidak), ada rasa ketenangan yang didapat seseorang ketika berdoa. Berbeda dengan ateis yang cenderung taktis dalam menghadapi masalah dan fokus pada solusi. Tentu ketika solusi secara jelas tidak bisa didapat, ateis rentan terhadap stress dan depresi.

Namun ternyata ketika kita melihat lebih dalam dan melakukan cross analysis dengan faktor faktor yang terlibat di dalamnya, agama menang dalam indeks kebahagiaan bukan karena alasan sesederhana itu. Pertama, penelitian-penelitian tersebut dilakukan di Amerika Serikat dan negara-negara maju di mana perilaku manusia cenderung lebih individualistik dan agama adalah salah satu sarana aktivitas sosial yang paling dominan dalam mempersatukan masyarakat. Dan aktivitas sosiallah yang secara signifikan berpengaruh terhadap kebahagiaan. Diener and Seligman (2002) menunjukkan bahwa orang-orang religius secara signifikan lebih terikat pada lingkungan sosial lewat agamanya, yang mana jika populasi ini dikeluarkan dalam penelitian maka agama dalam lingkup individu sama sekali tidak memprediksi kebahagiaan lebih tinggi dibanding non-religius.

Didukung juga penelitian Salsman, Brown, Brechting, & Carlson (2005), orang-orang religius lebih memiliki keinginan untuk mendukung lingkungannya secara sosial dan hal ini juga berkorelasi terhadap kemapanan psikologis.

Paling penting, Okulicz-Kozaryn (2010) menunjukkan bahwa kepuasan hidup mereka yang religius hanya ada secara signifikan jika mereka tinggal di lingkungan di mana mayoritas orang adalah religius. Di lingkungan di mana mayoritas orang adalah non religius, perbedaan tingkat kebahagiaan tidak terlihat secara signifikan dari dua kelompok tersebut.

Cukup jelas bagaimana faktor pembeda adalah aktivitas sosial, dan bukan merupakan faedah suci yang dikaruniakan Tuhan. Saya pribadi mengenal banyak orang yang mengaku lebih bahagia setelah terbebas dari dogma dan bertemu dengan rekan-rekan yang sepemahaman. Terlebih lagi, terlepas dari itu semua, masa di mana anak masih percaya Sinterklas tentu lebih menyenangkan dibanding ketika dia menyadari bahwa Sinterklas hanyalah dongeng.

Further reading:

http://springerlink.metapress.com/content/650q541579041625/fulltext.html

http://psr.sagepub.com/content/14/1/84.abstract,A

http://www.psychologytoday.com/blog/death-love-sex-magic/201212/are-religious-people-happier-non-religious-people

Cohen-Zada, D. & Sander, W. (2011) Religious Participation versus Shopping: What Makes People Happier? Journal of Law and Economics.

Diener, E., & Seligman, M.E.P. (2002). Very happy people. Psychological Science, 13, 81-84.

Okulicz-Kozaryn, A. (2010). Religiosity and life satisfaction across nations. Mental Health, Religion & Culture, 13, 155-169.

Salsman, J. M., Brown, T. L., Brechting, E. H., & Carlson, C. R. (2005). The link between religion and spirituality and psychological adjustment: The mediating role of optimism and social support. Personality and Social Psychology Bulletin, 31, 522–535.

Most Religious Countries and Most Atheist Countries

Artikel berikut menyorot mengenai beberapa statistik merosotnya kepercayaan terhadap agama, seiring majunya pendidikan dan ilmu pengetahuan dari 57 Negara. Artikel sumber dapat ditemukan di huffingtonpost.com.

Which countries are the most and least religious? The WIN-Gallup International “Religion and Atheism Index” collected data from 57 countries in order to find out.

The Religiosity Index represents the percentage of the population who self-describe themselves as ‘a religious person’ in the question worded as: Irrespective of whether you attend a place of worship or not, would you say you are a religious person, not a religious person or a convinced atheist?
Some interesting takeaways:

1. The poor are more religious than the rich. People in the bottom income groups are 17 percent more religious than those in the top income groups.

2. Globally, the number of those claiming to be religious has dropped by 9 percent from 2005 to 2011, while the number of people identifying themselves as atheists has risen by 3 percent.

3. Four countries have experienced a drop in religiosity in their populations that is greater than 20 percent between 2005 and 2012. France and Switzerland saw decreases of 21 percent, while Ireland’s number of faithful declined by 22 percent and Vietnam’s by 23 percent.

Apa itu “Flying Spaghetti Monster”?

20130812-075327.jpg

Flying Spaghetti Monster adalah Tuhan parodi/agama parodi yang sering digunakan para nonbeliever (ateis) ketika ditanya apa agama/tuhan mereka dalam konteks yang tidak serius. Sama seperti ‘invisible pink unicorn’ atau versi lokal: Cherrybelle Tuhan Semesta Alam. Banyak agama besar di dunia memiliki kisah yang kurang lebih sama anehnya, namun karena mereka terbiasa dengan kisah agama masing masing, mereka hanya mampu melihat kekonyolan agama lainnya. Kemunculan istilah istilah FSM sendirimemiliki cerita yang menarik.

Awal mulanya: negara bagian Kansas di Amerika Serikat dengan cerobohnya mengeluarkan keputusan untuk mengganti kurikulum mengenai teori evolusi dan menawarkan intelligent design sebagai alternatif dalam meta pelajaran sains. Seperti kita tau, intelligent design memiliki prinsip bahwa tubuh manusia dan alam semesta yang kompleks pasti memiliki pencipta di baliknya. Bahwa awalnya ini terlihat seperti argumen teisme umum, di dalamnya sarat dengan jumping argumen yang berakhir dengan pengajaran teologi Kristen.
Baca lebih lanjut

Bagaimana cara menjadi ateis?

20130825-164259.jpg

Pertanyaan ini sebenarnya cukup konyol untuk dijawab (namun benar-benar pernah ditanyakan di FP ABAM). Sama seperti pertanyaan “bagaimana cara menjadi golput”? Jawabannya: jangan ikut pemilu! Sesederhana itu. Menjadi ateis, sesimpel tidak percaya Tuhan. Itu saja. Tak ada syahadat atau ritual tertentu yang mengukuhkan Anda jadi ateis karena memang ateisme bukan agama.

Tapi ini menjadi pembahasan yang valid ketika kita bertanya lebih lanjut. “Sejak lahir saya dididik beragama dan percaya pada Tuhan, bagaimana mungkin saya membuktikan kepercayaan saya itu salah selama ini?” Ada beberapa langkah menarik yang Anda bisa coba, setidaknya baca.

Baca lebih lanjut

Apa yang dimaksud “religion is just a matter of geography”?

20130825-164557.jpg

Artinya, apa agama seseorang seringnya hanya akibat di keluarga mana dan kapan seseorang lahir dan dibesarkan.

Sebagai salah satu mekanisme pelindung agar agama tidak ditinggalkan pemeluknya, ada doktrin pada hampir setiap agama, aliran, bahkan sekte, terutama yang merupakan turunan tradisi Abrahamik, bahwa hanya kelompok merekalah yang akan masuk surga. Ini praktek yang umum. Mormon mengajarkan hanya mereka yang taat pada gereja dan Joseph Smithlah yang akan masuk surga. Kristen mengajarkan jika orang mengakui Yesus sebagai juruselamat, mereka akan masuk surga. Islam mengatakan, hanya Muslimlah yang akan masuk surga. Pun masing-masing lebih eksklusif lagi memiliki aliran-aliran tertentu dan masing-masing mengatakan merekalah yang benar, dan aliran lain akan masuk Neraka. Sunni menghujat Syiah, Ahmadiyah dianggap sesat, dan seterusnya. Dalam Islam sendiri ada belasan hadist termasuk dari Tarmidzi dan Abu Hurairah yang mengatakan akan ada 73 golongan dalam islam dan hanya ada satu yang benar. Kenyataannya sendiri ada lebih dari 100 sekte dan aliran dalam Islam hingga kini. Semua merujuk pada terjemahan masing-masing atas Quran dan literatur Islam lainnya. Tanpa menghitung pecahan-pecahan aliran ini, teridentifikasi ada tak kurang dari 1500 tuhan yang berbeda yang dikenal sejak peradaban manusia. Masing-masing dengan nama, sifat dan karakteristik yang berbeda sehingga tidak mungkin merujuk pada satu entitas yang dijabarkan dalam berbagai cara. Lalu, di antara ribuan agama tersebut, manakah yang benar?

Baca lebih lanjut

Kenapa ateis banyak yang mengacu pada sains?

20130825-164900.jpg

Bayangkan ada seseorang yang datang pada Anda dan menyombongkan bahwa dia memiliki ilmu yang tidak diketahui orang lain, yakni unicornology. Sebuah ilmu yang mengetahui secara detail bagaimana unicorn berkembang biak, bagaimana laju pertumbuhan tanduk per tahun dan bagaimana air kencingnya bisa menyembuhkan anemia. Bagaimana Anda menanggapi orang tersebut?

Tentu ini menarik. Selagi belum bisa dibuktikan bahwa unicorn itu ada, seseorang mengaku mengetahui secara persis segala hal tentang unicorn. Lebih mengherankan lagi, dia membanggakan hal itu.

Baca lebih lanjut

Bagaimana penjelasan mengenai orang yang tiba-tiba mampu berbahasa asing?

By -Val-

Mulai dari klaim anak indigo, kursus bahasa asing melalui metode jin, hingga orang yang tiba-tiba berbicara bahasa asing setelah kecelakaan, ada banyak kasus di mana seseorang diceritakan secara tiba-tiba menguasai bahasa asing tertentu, atau berbicara dengan aksen tertentu. Tentu ada banyak variasi kasus dan variasi penjelasan. Namun secara garis besar dalam hampir sebagian besar kasus, bahasa yang diucapkan tidak benar-benar lancar. Dalam artian hanya sepatah dua kata, atau satu kalimat penuh. Atau benar-benar tidak memiliki arti dan hanya terdengar seperti bahasa tertentu dari karakter kata dan logatnya. Menariknya, ketidaktahuan masyarakat akan kenapa fenomena ini bisa muncul, menyebabkan cerita seperti ini berkembang dengan bumbu bumbu supranatural dan metafisika.

Sebagian besar dari cerita tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Baca lebih lanjut

Siapa sajakah tokoh terkenal yang ateis?

Jawaban:

Antara lain:
Bill Gates (Pendiri Microsoft)
Mark Zuckeberg (Pencipta Facebook)
Steve Jobs (Pendiri Apple)
Carl Sagan (Astronomer)
Richard Dawkins (Evolutionary Biologist)
Michio Kaku (Physicist)
Stephen Hawking (Physicist)
Christopher Hitchens (Jurnalis)
George Carlin (Comedian)

–LadyLusifer–

Apa yang dimaksud Einstein dengan “God didn’t play dice”?

Pertanyaan terkait:
– bukankah Einstein percaya Tuhan?
– apa agama einstein?

Jawaban:

Harus dilihat konteksnya.
1. Einstein adalah seorang Panteis, berarti god yang dimaksud dia mengacu kepada God seorang Panteis yaitu Alam Semesta.
jadi artinya “Alam Semesta tidak bermain dadu”

2. Quantum
bermain dadu disini, merujuk kepada Heisenberg’s “Uncertainty Principle” dimana salah satunya mengatakan bahwa keberadaan sebuah partikel itu tidak bisa ditentukan secara pasti.
yang bisa dikatakan adalah probabilitas keberadaan partikel tersebut.
jadi 2 partikel dalam keadaan yang sama persis, belum tentu menempati posisi yang sama persis.
yang bisa ditentukan adalah seberapa besar kemungkinannya partikel tersebut berada di posisi tertentu. permainan peluang ini yang dimaksud “bermain dadu” oleh Einstein.

http://www.ias.ac.in/resonance/July2008/p655-661.pdf

–LadyLusifer–