Mengapa Anda Ateis? (Jawaban -AP-)

Sebelum menjadi ateis, saya adalah seorang nasrani, namun saya tidak pernah menjadi seseorang yang relijius dan betul-betul taat pada agama, bahkan sejak SMP saya sangat menyukai lelucon-lelucon yang dianggap ofensif untuk agama-agama tertentu. Bertentangan dengan hal tersebut, saya tetap pergi ke gereja, membaca alkitab setiap malam, mendengarkan renungan bahkan merasa bersalah bila lupa berdoa atau malas ke gereja. Dalam alam bawah sadar saya tertanam dogma bahwa bila saya tidak melakukan semua itu, saya akan masuk neraka. Hal ini mungkin akibat latar belakang pendidikan saya yang sejak SD bersekolah di sekolah kristen.

Sejak kecil dogma ini selalu bertentangan dengan pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya seperti: “Kenapa Tuhan menghukum kita kalau kita bertanya mengenai ajaranNya? Bukannya Tuhan menciptakan otak supaya kita bisa mikir?” “Kalau manusia asalnya dari Adam dan Hawa, kenapa bisa ada fosil dinosaurus dan manusia purba?” “Kenapa Tuhan benci dengan kaum homoseksual? Mereka kan gak salah apa-apa,” dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan ini saat itu hanya bisa saya simpan saja dalam hati, saya mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal tersebut dan tetap beriman pada agama saya. Saya ingin sekali mengkritisi ajaran-ajaran yang ada, namun rasa takut dalam pikiran saya lebih kuat dibanding rasa ingin tahu saya. Jujur, saya bahkan tidak terpikir ada manusia yang tidak percaya akan keberadaan sosok Tuhan.
Baca lebih lanjut

Apa yang dimaksud istilah ‘god of the gaps’?

Jawaban:

maksudnya tuhan berada di celah-celah ilmu pengetahuan.

4000 tahun lalu, sains tidak bisa menjawab apa itu petir. maka celah itu diisi dengan tuhan.
setelah sains bisa mengisi celah petir, maka tuhan yang tadinya mengisi celah tersebut dibuang.

300 tahun lalu, sains tidak bisa menjawab, mengapa benda jatuh. maka jawabannya tuhan.
setelah sains bisa menjelaskan fenomena Gravitasi, maka tuhan yang tadinya mengisi celah tersebut dibuang.

200 tahun lalu, sains tidak bisa menjawab, darimana asal Manusia. maka diisi dengan tuhan.
setelah sains bisa menjelaskan fenomena Evolusi, maka tuhan yang tadinya mengisi celah tersebut dibuang.

100 tahun lalu, sains tidak bisa menjawab, darimana asal alam semesta. maka diisi dengan genesis.
setelah sains bisa menjelaskan fenomena big_bang, maka tuhan yang tadinya mengisi celah tersebut dibuang.

itulah yang dimaksud dengan “God of the Gaps”
tuhan yang hanya berfungsi menambal lubang di ilmu pengetahuan.
seiring dengan meningkatnya sains dalam menjawab lubang tersebut, maka tuhan yang tadinya menambal lubang tersebut dibuang, dan diingat sebagai mitos.

–LadyLusifer–

Mengapa Ateis? (Jawaban alika)

Saya lahir di keluarga yang beragam. Ayah saya Muslim dan ibu saya Kristen Protestan. Ketika sudah dewasa saya dan kakak-kakak saya dibebaskan untuk memilih agama masing-masing, termasuk untuk tidak menganut agama mana pun, meski selagi kecil kami semua dididik secara agama. Awalnya saya dididik secara Kristen oleh ibu saya dan diwajibkan membaca Alkitab dari awal sampai habis. Sedangkan ayah saya yang menjunjung nilai sekuler mengajarkan saya untuk berempati dan menggunakan akal sehat. “Ah, nggak perlu pusing memikirkan akhirat. Kita kan nggak tahu surga sama neraka itu ada apa nggak. Yang penting kita berbuat baik dan berguna bagi manusia,” kata ayah saya dulu. Ini sangat berbekas di diri saya, karena saya melihat bahwa ayah saya yang tidak pernah membicarakan agama, tidak pernah salat, atau pun puasa saat bulan Ramadan, adalah orang yang sangat peduli. Sudah banyak sekali orang yang ia bantu sampai lulus kuliah tanpa peduli pamrih. Semuanya dilakukan dengan diam-diam. Saya pun tahu karena banyak orang yang datang bertamu untuk menyampaikan rasa terima kasih. Sampai-sampai, suatu saat nenek saya yang Kristen sempat bilang bahwa ayah saya adalah orang yang “paling Kristen” di keluarga saya.

Cukup ironis bahwa membaca Alkitablah yang membuat saya skeptis terhadap agama. Saya pikir tidak adil kalau orang yang baik tidak dapat masuk surga kalau memegang agama yang salah atau percaya tuhan yang salah. Saat ini ada 2 milyar umat Kristen di dunia. Apa itu berarti bahwa 5 milyar manusia akan masuk neraka, termasuk ayah dan kakak saya? Atau taruhlah Islam agama yang “benar.” Apakah ini berarti lebih dari 5 milyar manusia akan masuk neraka, berhubung penganut Islam hanya 21% dari total penduduk dunia? (Sumber: Adherents.com)

Belum lagi banyak ayat yang kontradiktif dalam Alkitab sendiri. Di satu sisi Tuhan mengijinkan—bahkan kadang memerintahkan—pembunuhan (1 Samuel 12-13): “12 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. 13 Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” Hal ini sungguh janggal di pikiran saya dan tidak sesuai hati nurani saya. Namun di sisi lain Alkitab juga mengajarkan kasih sayang. Banyak ajaran Yesus yang saya kagumi, yang mungkin memang merupakan gebrakan di masanya.

Saya mulai belajar untuk cherry-picking. Apa yang baik saya ambil dan terapkan, dan yang menurut saya buruk tidak saya gubris. Namun kemudian saya berpikir. Kalau kitab suci merupakan semacam “kebenaran sejati” yang seharusnya bersifat absolut dan timeless, mengapa mesti dipilah-pilah? Saya lalu sampai kepada kesimpulan bahwa, well, mungkin agama hanya produk budaya manusia. Nilai-nilai moralitas sifatnya tidak stagnan. Apa yang beribu-ribu tahun lalu dianggap baik tidak lagi dianggap baik sekarang. Misalnya, terbukti bahwa hukuman mati tidak menciptakan masyarakat yang aman dan tenteram (kita lihat bahwa negara-negara Skandinavia yang tidak menerapkan hukuman mati merupakan negara-negara yang paling tenteram menurut Global Peace Index, misalnya). Pernikahan dengan anak di bawah umur sekarang tentu saja tidak lagi wajar. Memiliki lebih dari 1 istri juga bisa dibilang sudah tidak jaman. Apalagi kita tahu sekarang bahwa “wanita lebih banyak dari pria” cuma mitos. Pokoknya, banyak nilai agama yang harus dimodifikasi sesuai dengan perkembangan jaman agar sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Karena hal-hal di atas saya berkesimpulan bahwa saya tidak perlu agama untuk menjadi manusia yang baik. Saya cukup mengandalkan empati dan akal sehat sebagai modal dasar saya menjadi manusia yang bermoral.

Saya menyelesaikan SMA di Amerika Serikat. Karena melihat bahwa banyak guru dan teman-teman saya yang tidak beragama, saya baru sadar bahwa memang manusia tidak perlu beragama. Sebelumnya saya pikir manusia mesti beragama. Maklum, saya besar di Indonesia, di mana kolom agama masih diwajibkan di KTP (ya ampun, sudah abad 21 loh ini!). Saat itulah saya mulai menyadari dan menerima bahwa saya tidak lagi beragama.

Mengapa ateis? Tidak ada bukti bahwa ada sosok pencipta atau sosok Tuhan personal yang ikut campur dalam kehidupan manusia. Kalau ada Tuhan yang Maha Kuasa, mengapa Ia mengijinkan begitu banyak manusia sengsara, belum lagi yang melakukan berbagai macam tindakan kejahatan atas namaNya. Sedangkan kalau Tuhan tidak Maha Kuasa, maka Tuhan seperti apa yang ada? Dan perlukah kita sembah?

Ateisme bagi saya adalah posisi terbuka. Saya tentu tidak bisa bilang secara pasti bahwa tidak ada sosok Tuhan (ada banyak sekali konsep Tuhan, termasuk Tuhan non-personal yang hanya sebagai pencipta; juga lihat: apa sih bedanya tidak percaya Tuhan ada dan percaya bahwa Tuhan tidak ada?). Saya hanya menyadari bahwa alam semesta dan segala isinya ini tidak memerlukan adanya pencipta, dan selama belum ada bukti bahwa Tuhan memang ada (entah Tuhan yang bagaimana), ya saya tidak perlu percaya. Tanpa saya sadari, saya sudah masuk kategori ateis.

Sekarang karena kakak-kakak saya sudah menikah, ada banyak tambahan baru di keluarga saya, termasuk yang Katolik, Hindu, panteis, dan irelijius. Meskipun keyakinan kami berbeda, toh kami tetap akur dan saling mengasihi. Apa serunya sih dunia yang seragam?

What’s your story? ;)

-Alika

Kenapa manusia bermimpi?

Pertanyaan terkait:
– Apakah mimpi ada artinya?
– Bagaimana terjadinya mimpi?

Jawab:
Pada saat tidur otak manusia menyortir informasi, mana yang perlu dimasukkan dalam memori jangka panjang, mana yang dilupakan. Rangkaian informasi yang tidak terhitung banyaknya ini kadang terangkai secara visual yang kemudian kita sebut sebagai mimpi. Ketika tidur, kondisi normalnya bagian otak yang memproses logika dan common sense tidak berfungsi/istirahat sehingga campuran imajinasi dan memori mengambang menjadi satu rangkaian cerita yang tidak logis ketika dijabarkan dalam timeframe yang panjang. Satu bagian dan bagian lainnya akan menjadi tidak masuk akal ketika digabungkan.

Mimpi juga kadang menceritakan harapan bawah sadar, kompensasi/imajinasi atas realita yang tidak sesuai keinginan, atau coping mechanism. Karena banyaknya hal yang bisa mempengaruhi mimpi seseorang maka hampir tidak mungkin diketahui arti mimpi secara pasti dalam koridor psikologis karena banyaknya kemungkinan.

Bacaan lebih lanjut:
http://psychology.about.com/od/statesofconsciousness/p/dream-theories.htm

Mengapa anda ateis? (Jawaban -val-)

prayerSaya lahir dari keluarga muslim yang taat. Ayah saya berprofesi sebagai guru agama dan aktif di lembaga Muhammadiyah. Ibu saya relawan di Taman Pendidikan Al quran masjid setempat. Sejak kecil saya dibacakan kisah kisah nabi sebelum tidur beserta mukjizat dari para nabi, dan tak lupa mengaji setiap selesai sholat magrib berjamaah, dan ikut taman pendidikan al quran hingga kelas 3 smp, khatam al quran, menjuarai beberapa perlombaan berbasis pengetahuan agama. Sejak Sekolah Dasar hingga SMA saya dimasukkan di sekolah yayasan Muhammadiyah.

Perkenalan pertama saya dengan ateisme tidak secara baik baik. Pertama kali saya mengenal kata atheis adalah ketika menonton film pemberontakan G30S PKI, yang diputar orde baru setiap hari kesaktian pancasila. Yang mendoktrin bahwa komunisme itu keji, tanpa menjelaskan apa itu komunisme. Semua dalam paradigma hitam-putih, benar-salah. Saya dijelaskan bahwa orang orang yang membunuh jendral-jendral secara keji dalam film itu adalah ateis komunis. Orang orang jahat yang tidak bertuhan. (Tentu dewasa ini kemudian saya tau bagaimana kejadian G30S PKI yang sebenarnya, apa itu komunisme, perbedaannya dengan ateisme, dan alasan kenapa PKI kala itu mampu meraih dukungan rakyat Indonesia sehingga mampu menjadi partai terbesar kedua di Indonesia).

Baca lebih lanjut