Apakah roh itu benar benar ada? Jika tidak, bagaimana manusia bisa hidup?

Konsep roh merupakan sesuatu yang sangat akrab di telinga kita, apalagi konsep ini lekat dengan konsep penciptaan dan kehidupan setelah kematian. Pertanyaannya adalah, bila penciptaan dan kehidupan setelah kematian itu tidak ada (atau setidaknya belum terbukti keberadaannya), apakah roh juga tidak ada? Jika tidak, bagaimana manusia bisa hidup?

Singkatnya, konsep roh itu sendiri dibuat oleh orang-orang untuk menjelaskan konsep kesadaran sebelum ilmu kedokteran semaju sekarang. Pada saat itu, masih belum ada penjelasan tentang bagaimana manusia bisa hidup (atau mati), sehingga dibuatlah konsep roh, manusia hidup karena ada roh yang ada dalam tubuhnya dan meninggal saat roh tersebut keluar dari tubuh. Ilmu kedokteran sejauh ini belum menemukan adanya tanda-tanda keberadaan roh / jiwa dalam tubuh manusia.
Baca lebih lanjut

Iklan

Mengapa Anda Ateis? (Jawaban -AP-)

Sebelum menjadi ateis, saya adalah seorang nasrani, namun saya tidak pernah menjadi seseorang yang relijius dan betul-betul taat pada agama, bahkan sejak SMP saya sangat menyukai lelucon-lelucon yang dianggap ofensif untuk agama-agama tertentu. Bertentangan dengan hal tersebut, saya tetap pergi ke gereja, membaca alkitab setiap malam, mendengarkan renungan bahkan merasa bersalah bila lupa berdoa atau malas ke gereja. Dalam alam bawah sadar saya tertanam dogma bahwa bila saya tidak melakukan semua itu, saya akan masuk neraka. Hal ini mungkin akibat latar belakang pendidikan saya yang sejak SD bersekolah di sekolah kristen.

Sejak kecil dogma ini selalu bertentangan dengan pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya seperti: “Kenapa Tuhan menghukum kita kalau kita bertanya mengenai ajaranNya? Bukannya Tuhan menciptakan otak supaya kita bisa mikir?” “Kalau manusia asalnya dari Adam dan Hawa, kenapa bisa ada fosil dinosaurus dan manusia purba?” “Kenapa Tuhan benci dengan kaum homoseksual? Mereka kan gak salah apa-apa,” dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan ini saat itu hanya bisa saya simpan saja dalam hati, saya mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal tersebut dan tetap beriman pada agama saya. Saya ingin sekali mengkritisi ajaran-ajaran yang ada, namun rasa takut dalam pikiran saya lebih kuat dibanding rasa ingin tahu saya. Jujur, saya bahkan tidak terpikir ada manusia yang tidak percaya akan keberadaan sosok Tuhan.
Baca lebih lanjut