Liputan tentang ateis di Indonesia dan page ABAM (The New York Times)

Berikut cuplikan artikel The New York Times berjudul: “For Indonesian Atheists, a Community of Support Amid Constant Fear”. Page ABAM juga ada disebutkan di artikel tersebut (“You Ask Atheist Answer”). Artikel penuhnya ada di:

JAKARTA — Karina is an atheist, but her friends jokingly call her “the prophet.” That is because she is helping nurture a community for unbelievers in predominantly Muslim Indonesia, where trumpeting one’s disbelief in God can lead to abuse, ostracism and even prison.

“It’s very normal for atheists to be paranoid because the environment does not support them,” said Ms. Karina, 26, who uses only one name. But, she said, “in this group people don’t need to be afraid.”

Indonesian Atheists was founded with a Facebook page in 2008 and now holds regular gatherings. The Internet has offered its members a safe space to air their opinions, and the feeling of community has made them braver about gathering in public. But recent prosecutions of people who made online comments deemed blasphemous by the country’s courts have stoked fears that they too could come under attack.

“Members’ growing outspokenness and courage does not indicate that other people increasingly accept us,” said Karl Karnadi, 29, the group’s founder. He lives in Germany and is candid about being a nonbeliever on Facebook and Twitter. Inside Indonesia, atheists are circumspect about their views, he said, and refrain from public criticism of Islam or any statements that could run afoul of the country’s blasphemy law. Still, he said, that is an advance from a time when people were fiercely secretive.

“At first people think they’re alone,” Mr. Karl said in a Skype interview. “But after we meet each other, we feel like we’re accepted. We’re together if anything happens to us, and that feeling of community is very valuable.”

…full article:

Atheisme di harian online


Berikut ini kutipan dari wawancara bersama membahas tentang kehidupan ateis di Indonesia dan komunitas-komunitas yang kami dirikan. Kutipan artikel di bawah bisa dibaca lebih lanjut di

Artikel-artikel lainnya dari dalam seri yang sama tentang ateisme bisa dibaca di:

Selamat membaca 🙂

Gagasan siapa mendirikan Komunitas Ateis Indonesia?

Pada Oktober 2008, saya mendirikan komunitas Facebook bernama Indonesian Atheists, disingkat IA (catatan: namanya persis seperti itu dgn istilah Inggris, berbeda dgn ateis indonesia atau komunitas atheis indonesia). Sebelum itu, sebenarnya sudah ada beberapa komunitas ateis di forum-forum atau milis meski belum ada yang dikembangkan serius. Ide dari saya awalnya sederhana saja.

Saya ingin tempat berdiskusi dengan teman-teman saya dari Indonesia yang juga ketemu bertemu di Internet dan sama-sama ateis atau agnostik. Awalnya jumlahnya kecil sekali, kurang dari sepuluh orang. Sekarang tentu ini berkembang jauh dari sekadar online di mana kami bisa berkumpul juga di dunia nyata, saling dukung satu sama lain pada saat ada yang terkena diskriminasi.

Pada 2011, teman saya (salah satunya akan anda wawancara), mendirikan laman Facebook bernama Anda Bertanya Ateis Menjawab, disingkat ABAM beralamatkan di dan ini sedang kami kembangkan. Gagasan ini berasal dari teman saya tadi, tapi saya dan beberapa teman lain sangat mendukung dan ikut mengembangkan. Grup IA di atas diperuntukkan untuk sesama ateis dan agnostik, sementara ABAM untuk semua orang, baik beragama atau tidak. Kami mengharuskan format interaksi di ABAM dalam bentuk tanya jawab sehingga menghindarkan debat kusir atau interaksi tidak sehat.

Apa tujuan pendirian komunitas ini?

Bisa dibaca lanjut di: