Tidak percaya Tuhan ada atau percaya bahwa Tuhan tidak ada?

Tidak Percaya vs. Percaya Bahwa Bukan – Perbedaan Antara Ketidakpercayaan dan Penyangkalan

Banyak yang sulit memahami bahwa “tidak percaya X” (tidak percaya adanya tuhan atau dewa-dewi) tidak sama dengan “percaya bukan X” (percaya bahwa tuhan tidak ada). Penempatan dari kata negatif adalah kuncinya: yang pertama berarti tidak memiliki sikap bahwa proposisi X (tuhan atau dewa-dewi ada) adalah benar, yang kedua berarti memiliki sikap bahwa proposisi X (tuhan atau dewa-dewi ada) adalah salah. Perbedaan di sini adalah antara ketidakpercayaan dan penyangkalan: yang pertama adalah ketidakpercayaan dalam arti luas atau sempitnya, sedangkan yang kedua adalah penyangkalan.

Membedakan antara keduanya seharusnya sederhana dan mudah saja, tetapi cukup sulit untuk menerangkan hal ini ketika seseorang tidak langsung mengerti. Yang membuat banyak orang tersandung sepertinya asumsi bahwa kalau dihadapkan dengan proposisi apa saja, pilihan yang ada hanyalah untuk percaya bahwa sesuatu itu benar atau percaya bahwa sesuatu itu salah—sehingga saat dihadapkan dengan pertanyaan apakah tuhan ada, seseorang mesti percaya bahwa: 1. setidaknya satu tuhan ada; 2. percaya bahwa tidak satu pun tuhan ada.

Ini adalah kesalahan. Mungkin benar bahwa kebanyakan proposisi yang terpikirkan adalah proposisi yang kita percayai sebagai benar atau salah, tetapi ada banyak sekali proposisi lain yang tidak masuk ke kategori yang saya sebutkan barusan. Pemikiran berhati-hati tentang beberapa skenario “hypothetical” akan membantu menjelaskan kerumitan ini.

Kaos Kuning Seorang Ateis

Kamu percaya bahwa saya sedang memakai kaos kuning? Untuk membuat pertanyaan ini lebih teknis, apakah kamu percaya proposisi “Joko sedang memakai kaos kuning” adalah benar? Ini adalah pertanyaan sederhana di mana arti setiap terminologi yang saya pakai cukup lugas, sehingga seharusnya tidak ada masalah untuk dapat mengerti pertanyaan ini. Setiap hari cukup banyak orang memakai kaos berwarna kuning, sehingga tidak ada keterbatasan logis atau fisik.

Yang menjadi masalah paling besar adalah ketidaktahuan (ignorance): kamu tidak mungkin tahu apa yang sedang saya pakai saat ini. Saya mungkin tidak sedang memakai kaos, apalagi yang berwarna kuning. Tidak ada landasan yang masuk akal agar kamu percaya bahwa saya sedang memakai kaos kuning. Kamu seharusnya percaya bahwa mungkin saya sedang memakai kaos kuning, dan kamu mungkin percaya bahwa saya terkadang memakai kaos kuning, tetapi kamu seharusnya tidak langsung percaya bahwa saya sedang memakai kaos kuning saat ini.

Dengan alasan yang sama, kamu juga seharusnya tidak kemudian percaya bahwa proposisi “Joko sedang memakai kaos kuning” adalah salah atau bohong. Ketidaktahuan kamu tentang apa yang saya pakai seharusnya mencegah kamu menolak proposisi ini, sama seperti ketidaktahuan tersebut membuat kamu tidak langsung menyetujuinya. Seperti yang kamu lihat, tidak memercayai bahwa proposisi ini benar tidak sama dengan memercayai bahwa proposisi ini salah: tidak menyetujui bahwa saya sedang memakai kaos kuning tidak berarti kamu menolak kemungkinan bahwa saya memakai kaos kuning.

Ini menggambarkan level ketidakpercayaan yang paling mendasar: kamu tidak secara aktif percaya klaim saya, tetapi kamu tidak juga menyangkalnya. Banyak ateis mengambil posisi ini terhadap klaim teistik, ketika klaim-klaim tersebut terlalu buram untuk dievaluasi. Tentunya klaim-klaim tersebut tidak menggambarkan kepercayaan yang rasional, tetapi tidak ada alasan cukup untuk mengambil kesimpulan lebih jauh.

Mengunjungi Kanada

Respons yang lebih luas terhadap suatu proposisi dapat diamati dengan mempertimbangkan suatu skenario yang lebih kompleks. Kalau saya mengaku bahwa saya mengunjungi Kanada minggu lalu, apakah kamu akan percaya? Mengunjungi Kanada (bagi orang Amerika) cukup biasa, jadi tidak ada alasan untuk berpikir bahwa pernyataan saya bohong. Meskipun begitu, kamu juga tidak memiliki alasan untuk percaya begitu saja bahwa pernyataan saya benar. Kamu dapat percaya saya begitu saja, tetapi kamu juga dapat menerima klaim saya sebagai masuk akal tanpa memikirkannya lebih jauh, atau percaya bahwa pernyataan saya pasti benar.

Kita dapat memodifikasi klaim saya menjadi “Saya merangkak dari rumah saya ke Kanada.” Lagi-lagi, hal ini bisa saja dilakukan, tetapi di saat yang sama, hal ini tidak begitu mungkin (unlikely). Untuk apa saya merangkak sampai Kanada? Kamu dapat saja langsung berkesimpulan bahwa klaim saya bohong, tetapi posisi yang lebih berhati-hati adalah untuk “tidak percaya” klaim saya sampai ada bukti lebih lanjut. Kamu tidak memercayainya secara aktif (karena sepertinya hampir tidak mungkin), tetapi kamu juga tidak menyangkalnya (karena bukannya sama sekali tidak mungkin).

Sekali lagi, tidak memercayai suatu proposisi sebagai benar tidak berarti percaya bahwa proposisi tersebut salah atau bohong. Bentuk ketidakpercayaan yang lebih sempit ini adalah reaksi umum ateis terhadap klaim-klaim teistik. Dalam hal ini, klaim-klaim tersebut cukup koheren dan mudah dimengerti, tetapi tidak ada cukup bukti yang mendukung. Saat tidak ada bukti cukup untuk menerima suatu kepercayaan yang rasional, seorang ateis tidak langsung menerima kepercayaan tersebut, tetapi ateis juga tidak mesti menyangkal klaim tersebut karena kurangnya bukti bahwa kepercayaan tersebut salah. Reaksi ateis, karena itu, adalah untuk “menolak untuk percaya terhadap” klaim tersebut karena pihak teis tidak menawarkan alasan yang cukup baik untuk percaya.

Kepercayaan vs. Ketidakpercayaan vs. Penyangkalan

Seharusnya sekarang cukup jelas bahwa meskipun tidak ada posisi tengah antara ketidakpercayaan dan kepercayaan bahwa beberapa proposisi adalah benar, seseorang tidak harus secara positif menerima atau secara aktif menyangkal bahwa proposisi apa pun adalah benar. Ketidakpercayaan terhadap suatu proposisi bisa saja tidak lebih dari tidak adanya rasa percaya bahwa proposisi tersebut benar, dan hal ini bisa jadi disebabkan oleh ketidaktahuan mengenai proposisi tersebut, meski bisa juga disebabkan oleh hal-hal lain, misalnya keinginan untuk mempertimbangkannya lebih jauh atau untuk mengumpulkan lebih banyak bukti.

Ketidakpercayaan terhadap suatu proposisi mungkin dapat menjadi penolakan aktif bahwa kepercayaan tersebut benar, meski tanpa menjadi sebuah penyangkalan bahwa proposisi tersebut benar. Penyangkalan bahwa suatu proposisi benar sama saja menerima bahwa proposisi sebaliknya benar, sedangkan tidak ada bukti tidak mendukung ini, sama seperti tidak ada bukti yang mendukung kebenaran klaim awal. Sekali lagi, ada banyak alasan mengapa seseorang menolak untuk menerima suatu proposisi sebagai benar tanpa juga secara aktif menyatakan bahwa proposisi sebaliknya benar—mereka bahkan tidak mesti memiliki alasan-alasan yang baik. Yang penting adalah fakta bahwa ketidakpercayaan atau penolakan akan suatu kepercayaan, termasuk proposisi bahwa beberapa tuhan benar-benar ada, tidak berarti menyatakan bahwa proposisi tersebut salah.

-Austin Cline, dimuat di About.com

5 thoughts on “Tidak percaya Tuhan ada atau percaya bahwa Tuhan tidak ada?

  1. Ping-balik: Selamat atang di ABAM! | Anda Bertanya Ateis Menjawab

  2. rasanya 2 hal tersebut seperti permainan bahasa semantic, bagian dari fase:
    percaya tuhan ada – tidak percaya tuhan ada – percaya bahwa tuhan tidak ada
    masa2 kecil diajarkan konsep tuhan — muncul keraguan akan tuhan — yakin tuhan itu memang tidak ada

  3. Bagaimana atheis menyikapi tentang kesurupan.? Bahkan di bali setelah kesurupan teman sy dibali kebal senjata tajam? Padahal klo ga kesurupan dicakar aja berdarah? Mohon jawabanannya trimakasih

  4. Knp gw semakin rajin ibadah tp justru semakin tdk percaya kpd tuhan? krn gw tdk pernah menemukan jawaban dari mslh yg gw hadapi. tuhan memberi penyakit tp tdk memberi obat. tuhan memberi mslh tp tdk memberi solusi. kpd gw.. shg mslh dan penyakit berlarut larut. gw percaya adanya tuhan tp tdk percaya dg tuhan. gw anggap dia sama dg penguasa yg lain. yaitu tdk peduli dg org kecil spt gw. tdk mau mendengarkan jeritan hati gw.

  5. Ping-balik: Mengapa Ateis? (Jawaban alika) | Anda Bertanya Ateis Menjawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s