Apa sih bedanya bangku sama kursi? (Dijawab oleh Dewi Rainny)

Jawaban menarik untuk pertanyaan menarik di grup ABAM:

Kita mengenal kata bangku dari bahasa Portugis, dan bentuknya panjang untuk dua, tiga, empat orang duduk bersama. Di mana kata/benda itu datang? Kemungkinan kata bangku datang bersama kata Portugis lainnya: banco de igreja, atau bangku gereja.

Dari mana kita mengenal kursi? Pernah mendengar ayat kursi? Ya, dari bahasa Arab. Kursi berarti singgasana, tahta, juga tempat duduk. Seperti halnya singgasana, tentu yang duduk hanya satu orang.

Tapi film “bangku kosong” sebenarnya bercerita tentang “kursi” yang kosong. Ini bicara tentang tempat duduk sekolah bukan?

Di sekolah, istilah tempat duduk yang digunakan adalah bangku. Ada ‘uang bangku’ ada istilah ‘masih duduk di bangku sekolah’ untuk menggambarkan usia seseorang, walaupun yang dipakai duduk adalah kursi–individual, satu orang satu tempat duduk, tidak berbagi.

Tapi kenapa tempat duduk di sekolah untuk murid (bukan kursi guru) disebut bangku? Karena dulunya, sekolah di Indonesia diisi dengan bangku, bukan kursi.

Lihat ilustrasi berikut:
3374133_20140612115008

Sampai saat ini, tempat duduk bagi murid masih disebut bangku, walaupun dilihat dari bentuknya sebetulnya lebih tepat disebut kursi.

Tidak berarti saat ini tak ada lagi sekolah yang menggunakan bangku. Masih ada. Lihat gambar ini:
dsc01576

http://jeperis.files.wordpress.com/2009/03/dsc01576.jpg?w=300&h=225

Bandingkan ilustrasi dari zaman dulu dan foto hari ini tentang bangku, terlihat betapa merosotnya mutu (fasilitas) pendidikan kita.

Terima kasih untuk pertanyaannya.

-Dijawab oleh Dewi Rainny.

 

Jangan lupa bergabung dengan grup ABAM di Tanya ABAM.

Iklan

Siapakah yang paling mencemarkan nama baik agama Anda?

Bayangkan Anda berada di sebuah negara yang sebentar lagi akan mengadakan pemilihan wakil rakyat.
Ada beberapa partai yang berdiri di sana: Partai A, B, C, dan D.
Partai terbesar adalah partai A, dan saingan terberatnya adalah partai B.
Sedangkan partai C, dan D, nyaris tidak memiliki pemilih.

Sekarang Anda adalah ketua partai A dan Anda tahu bahwa saingan terbesar Anda adalah partai B.
Suatu hari, teman Anda yang bekerja di surat kabar nasional mencari Anda.
Dia bilang dia memiliki 2 berita yang bisa menghancurkan nama baik partai A.
Berita pertama, ada seorang petinggi partai B yang memasang iklan menjelek-jelekkan partai Anda.
Petinggi partai B tersebut menulis kalau partai Anda jahat, menipu rakyat, koruptor semua, dsb.
Sedangkan berita kedua isinya adalah, Polisi menangkap basah salah satu petinggi partai A sedang menerima uang korupsi.

Sebagai teman yang baik, teman Anda yang bekerja di koran menawarkan bantuannya. “Saya bisa membujuk editor agar tidak menulis salah satu dari 2 berita tersebut, tetapi hanya satu, dan yang satu itu bakal muncul di halaman depan.”

Sekarang Anda sebagai ketua partai A, apa yang Anda lakukan?
Apakah anda akan membiarkan berita kalau petinggi partai A korupsi di halaman depan, sedangkan berita kalau petinggi partai B menghina partai Anda tidak muncul?
Atau sebaliknya?

Saya yakin hampir semua orang akan memilih sebaliknya.
Lebih baik membiarkan berita kalau petinggi partai B menghina partai Anda, daripada semua orang tahu kalau petinggi partai Anda ketangkap basah menerima suap.

Kalau begitu siapa yang lebih mencemarkan nama baik partai Anda?
Apakah petinggi partai saingan yang menghina partai Anda?
Atau justru petinggi partai Anda yang ketahuan korupsi?
——————————–

Sekarang bayangkan kalau Anda adalah kader partai A, bukan ketuanya.
Suatu hari Anda melihat kalau ada orang tak dikenal mengenakan atribut partai B sedang berorasi menjelek-jelekkan partai Anda.
Sedangkan di seberang lapangan anda melihat orang tak dikenal mengenakan atribut partai Anda, dan sedang memukuli pejalan kaki, sambil berteriak-teriak, “Partai A adalah partai yang benar, Anda harus pilih partai A, kalau tidak saya bunuh”.

Di sebelah Anda ada seorang polisi yang sanggup menghentikan salah satu dari kedua orang tersebut.

Sekali lagi saya tanya, Anda sebagai kader partai A akan meminta tolong polisi untuk menghentikan siapa?
Apakah orang yang mengenakan atribut partai B dan menghina partai Anda?
Atau menghentikan orang yang mengenakan atribut lengkap partai Anda dan memukuli para pejalan kaki sambil mengancam mereka untuk memilih partai Anda?

Saya yakin hampir semua orang akan memilih menghentikan orang yang kedua.
Tetapi kenapa?
Bukankah justru orang kedua memuji partai Anda?
Aedangkan orang pertama justru menjelek-jelekkan partai Anda?
Lalu siapakah yang sebenarnya merusak nama partai Anda?
Si kader partai B, atau kader partai A?

Bayangkan jika Anda memutuskan untuk meminta tolong polisi menangkap orang yang mengenakan atribut partai B dan menjelek-jelekkan partai Anda, bahkan orang tersebut dikenakan tuduhan penistaan partai.

Lalu Anda mendengar orang bergosip “Ternyata partai A jahat, suka mengancam orang buat memilih mereka”.
Apakah Anda punya muka untuk mengatakan kalau orang kedua cuman “Oknum”?
Kalau memang orang kedua cuman “Oknum” kenapa Anda justru menuduh orang pertama menistakan partai Anda dan bukannya menuduh orang kedua?
——————————–

Dari kedua analogi di atas, saya rasa tidak perlu dijelaskan panjang lebar siapa sebenarnya yang lebih menistakan agama Anda.
Silakan Anda menilai sendiri, apakah betul pemuka agama saingan yang menjelek-jelekkan agama Anda.
Atau justru orang yang mengenakan atribut lengkap agama Anda, memuji agama Anda, tapi kelakuannya justru memalukan.

Sains Perlu Bukti, Iman Tidak

Penulis:

‘ateis menuhankan otak, ateis menuhankan logika, ateis menuhankan
sains’. Itu adalah sebagian dari kata-kata yang sering di lontarkan
para teis kepada ateis.

Sains menjelaskan bahwa bumi itu bulat, atau lebih tepatnya elips.
Walaupun anda tidak percaya terhadap pernyataan ini tidak akan membuat
fakta bahwa bumi itu
berbentuk elips berubah menjadi berbentuk datar. Sains tak butuh orang
percaya atau tidak percaya. Sains membutuhkan bukti atau
fakta empiris. Fakta empirislah satu-satunya
yang dibutuhkan sains. Dan sains tidak pernah memberikan claim,
pernyataan yang diberikan pun didasari bukti-bukti valid.

Virus, kuman, elektron, proton, atau banyak hal lainnya secara fakta
tidak dapat ditangkap oleh pancaindra manusia. Tapi, sains bisa
membuktikannya bahwa semua itu memang real/ nyata. Pancaindra tidak
mampu menjangkaunya, tapi alat bantu kehidupan manusia bisa
menjangkaunya. Kini kita tahu bahwa objek-objek tersebut memang
terbukti ada. Bukti-lah kuncinya, bukan klaim. Bisa saja seseorang
mengklaim ini dan itu, karena ini dan itu tersebut tercantum dalam
sebuah buku suci, tapi jika tidak ada bukti yang menyertainya,
bagaimana bisa hal tersebut disebut real/ nyata. Patokannya adalah
bukti. Alangkah bodohnya jika kita meyakini sesuatu tapi tidak
memiliki bukti.

Mengklaim itu mudah, tapi membuktikannya itu yang susah. Klaim luar
biasa membutuhkan bukti luar biasa itu kata Carl Sagan (eh benar kan?.
Mengklaim bahwa perahu nuh itu ada, musa menyeberang laut merah dengan
membelahnya itu terjadi, dan bulan pernah terbelah 2 dan menyatu
kembali, itu adalah mudah. Tapi, jika tidak ada bukti kuat yang
mendukung klaim ini, bagaimana kita bisa membedakannya dari dongeng
atau bukan dongeng? Dongeng tidak butuh bukti dan tidak ada yang
menuntut bukti. Adakah yang menuntut sapu terbang dalam novel Harry
Potter itu nyata atau tidak? Tidak ada. Adakah yang menuntut manusia
hobita dalam The Lord of The Ring itu nyata atau tidak? Tidak ada.
Adakah yang menuntut kantung ajaib dalam film doraemon itu nyata atau
tidak? Tak ada kewajiban untuk membuktikan. Ya namanya juga dongeng.
Dongeng tak butuh orang repot-repot membuktikannya. Dongeng memang tak
ada bukti. Semua mengetahuinya. Sesuatu dianggap nyata membutuhkan
bukti. Dongeng tak butuh bukti. Karena tidak ada bukti, dongeng
bukanlah sesuatu yang nyata.

Dan ada lagi kalimat yang sering saya dengar dari teis:
A: Kitab suci agama saya saya benar
B: apa buktinya?
A: sebab tertulis dalamnya bahwa kitab suci ini benar.

Gimana sih, mengklaim sendiri, lalu menyatakan benar sendiri.
Bagaimana mungkin sumber pembenarnya dari kitab sucinya sendiri. Jeruk
makan jeruk lah yah. Bisakah kitab suci membuktikan klaim kebenaran
dengan bukti di luar dirinya? Tentu saja bisa. Saya sangat yakin bahwa
hal tersebut bisa dilakukan. Jika sudah ada bukti, ya selanjutnya
adalah tinggal mengumumkan bukti tersebut agar bisa dinilai
keabsahannya secara lebih seksama. Mengclaim sana-sini seperti yang
sering dilakukan para teis

Tapi, kembali ke judul tulisan ini bahwa sains memang membutuhkan
bukti, tapi iman tidak. Jelas sudah bahwa keduanya memiliki paradigma
yang berbeda.
Ateis = tidak percaya tuhan, lalu bagaimana bisa menuhankan sains?
Kalau menuhankan sains bukan ateis dong namanya 🙂

Kisah Awal Kehidupan Bumi Menurut Sains

Bumi yang penuh kehidupan sekarang ini awalnya hanya berisi batuan cair yang membara panas, seperti lava gunung berapi yang menyembur dan mengalir deras membakar semua yang dilewatinya.  Kondisi ini terus berlangsung dalam waktu yang sangat lama, sampai akhirnya cukup banyak kalor yang terlepas ke udara dan suhu permukaan bumi mendingin.  Terbentuklah daratan dan lautan yang berasal dari terpisahnya unsur padat dan cair, dan angkasa yang masih diisi oleh atmosfir primitif.  Atmosfir primitif bumi saat itu dipenuhi gas beracun akibat ketidak-mampuannya untuk menyaring sinar UV matahari.  Ini terus berlangsung sampai sekitar 3 milyar tahun yang lalu.

permukaan bumi

“Lalu di mana kehidupannya?” tanya seseorang.  Kehidupan muncul sekitar 2,5-3 milyar tahun yang lalu, dan bukan dari tanah yang tiba-tiba tertiup udara dan bernafas, namun dari laut.  Karena kondisi atmosfir yang tidak mendukung, semua kehidupan di permukaan darat akan habis tersiksa oleh sengatan matahari yang dahsyat dan udara yang tipis akan kandungan oksigen.  Jarak permukaan sampai ke dasar laut sangatlah dalam, dan laut berfungsi sebagai tabir surya di masa awal mula kehidupan.  Panas bumi dan cahaya matahari, keduanya merupakan faktor penting tercampur-aduknya sop purba dalam reaksi kimia yang menghasilkan organisme hidup perdana.  Asam amino adalah bahan dasarnya, dan reaksi yang mengaktifkan terbentuknya organisme purba ini akhirnya membuatnya mengembangkan kemampuan menyerap energi dan berkembang biak.

Bakteri yang menjadi nenek moyang seluruh kehidupan di bumi memanfaatkan energi cahaya matahari.  Mereka berwarna ungu, dan berkembang biak, menyebar dan memenuhi seluruh lautan.  Bayangkan bumi terlihat ungu dari luar angkasa, tidak seperti sekarang bercahaya biru. Hanya sebagian cahaya matahari yang dipakai oleh bakteri primitif ini, sisanya masuk ke laut yang lebih dalam.  Bakteri yang berkembang berikutnya memanfaatkan spektrum cahaya tersisa, yang menjadikan mereka berwarna hijau.  Mereka dikenal sebagai Cynobacteria, mikroba hijau inilah yang kemudian menjadi nenek moyang seluruh spesies tumbuhan di dalam Kingdom Plantae.

Cynobacteria memiliki kemampuan yang tidak dimiliki makhluk lain, fotosintesis.  Dengan memanfaatkan energi dari cahaya matahari, mereka memisahkan air menjadi hidrogen dan oksigen.  Hidrogen dipakai untuk bereaksi dengan karbondioksida menjadi gula, dan oksigen dilepaskan ke udara, mengisi atmosfir, dan akhirnya bereaksi membentuk Ozon.  Ozon inilah yang menjadikan atmosfir bumi mampu menyaring sinar UV matahari.  Sisa oksigen yang berlimpah bermanfaat untuk respirasi tumbuhan, dan dengan kondisi yang ramah kehidupan ini, makhluk lain yang memanfaatkan oksigen untuk mencerna makanan ikut mengalami ledakan populasi dan berevolusi.

Ilmuwan menyebut kejadian ini sebagai Oksidasi Besar, yaitu kejadian di mana reaksi pembentukan oksigen yang memenuhi atmosfir primitif, menjadikannya kaya akan oksigen (O2) dan akhirnya membentuk ozon (O3) yang menahan terjangan sinar matahari dan menstabilkan atmosfir sehingga mendukung kehidupan.

Sumber: How To Grow A Planet – BBC

Bagaimana cara menjadi ateis?

20130825-164259.jpg

Pertanyaan ini sebenarnya cukup konyol untuk dijawab (namun benar-benar pernah ditanyakan di FP ABAM). Sama seperti pertanyaan “bagaimana cara menjadi golput”? Jawabannya: jangan ikut pemilu! Sesederhana itu. Menjadi ateis, sesimpel tidak percaya Tuhan. Itu saja. Tak ada syahadat atau ritual tertentu yang mengukuhkan Anda jadi ateis karena memang ateisme bukan agama.

Tapi ini menjadi pembahasan yang valid ketika kita bertanya lebih lanjut. “Sejak lahir saya dididik beragama dan percaya pada Tuhan, bagaimana mungkin saya membuktikan kepercayaan saya itu salah selama ini?” Ada beberapa langkah menarik yang Anda bisa coba, setidaknya baca.

Baca lebih lanjut

Apa yang dimaksud “religion is just a matter of geography”?

20130825-164557.jpg

Artinya, apa agama seseorang seringnya hanya akibat di keluarga mana dan kapan seseorang lahir dan dibesarkan.

Sebagai salah satu mekanisme pelindung agar agama tidak ditinggalkan pemeluknya, ada doktrin pada hampir setiap agama, aliran, bahkan sekte, terutama yang merupakan turunan tradisi Abrahamik, bahwa hanya kelompok merekalah yang akan masuk surga. Ini praktek yang umum. Mormon mengajarkan hanya mereka yang taat pada gereja dan Joseph Smithlah yang akan masuk surga. Kristen mengajarkan jika orang mengakui Yesus sebagai juruselamat, mereka akan masuk surga. Islam mengatakan, hanya Muslimlah yang akan masuk surga. Pun masing-masing lebih eksklusif lagi memiliki aliran-aliran tertentu dan masing-masing mengatakan merekalah yang benar, dan aliran lain akan masuk Neraka. Sunni menghujat Syiah, Ahmadiyah dianggap sesat, dan seterusnya. Dalam Islam sendiri ada belasan hadist termasuk dari Tarmidzi dan Abu Hurairah yang mengatakan akan ada 73 golongan dalam islam dan hanya ada satu yang benar. Kenyataannya sendiri ada lebih dari 100 sekte dan aliran dalam Islam hingga kini. Semua merujuk pada terjemahan masing-masing atas Quran dan literatur Islam lainnya. Tanpa menghitung pecahan-pecahan aliran ini, teridentifikasi ada tak kurang dari 1500 tuhan yang berbeda yang dikenal sejak peradaban manusia. Masing-masing dengan nama, sifat dan karakteristik yang berbeda sehingga tidak mungkin merujuk pada satu entitas yang dijabarkan dalam berbagai cara. Lalu, di antara ribuan agama tersebut, manakah yang benar?

Baca lebih lanjut

Mengenal ateisme tidak membuat saya menjadi seorang ateis.

Original post by: Findha
Sumber : Vynda blog

Saya adalah seorang muslim. Terlahir di dalam keluarga yang seluruhnya beragama Islam.

Islam dalam keluarga kami tergolong biasa saja, Ayah dan Ibu saya bukan seorang yang memiliki fanatisme tinggi terhadap agamanya. Mereka pun membebaskan anak-anaknya melakukan hal apa saja, asal tidak keluar dari norma-norma masyarakat dan melanggar nilai moral yang dijunjung tinggi dalam keluarga kami.
Baca lebih lanjut

Mengapa saya memutuskan menjadi ateis? Cerita Dewi Rainny ( sumber kompasiana)

Original writer : Rainny
Sumber: kompasiana

Jangan takut, ini bukan upaya atheisasi. Orang Indonesia boleh jadi takut dengan ‘kristenisasi’ dan di Eropa, orang takut dengan ‘islamisasi.’ Tapi ini bukan upaya atheisasi. Upaya mengkonversi orang-orang beragama menjadi atheis bertentangan dengan prinsip atheisme itu sendiri. Atheisme bukan kepercayaan yang harus diimani begitu saja. Atheisme adalah keyakinan seperti keyakinan ilmiah yang harus ditemukan sendiri.

Atheisme nyaman bagi diri saya, melegakan batin saya, tetapi sulit berhadapan dengan tekanan sosial di Indonesia.

Orang masih memicingkan mata pada atheisme, menganggap atheis sebagai orang paling hina di muka bumi. Atheis dianggap sebagai sumber kekejian dan kebejatan moral.

Atheis bukanlah orang tanpa etika dan moral, hanya saja atheisme tidak mendasarkan moralitas dan etikanya pada ajaran Tuhan, melainkan pada akal budi manusia. Saya kira bukan tempatnya di sini untuk memberi penjelasan apa itu atheisme.
Baca lebih lanjut

Tidak percaya Tuhan ada atau percaya bahwa Tuhan tidak ada?

Tidak Percaya vs. Percaya Bahwa Bukan – Perbedaan Antara Ketidakpercayaan dan Penyangkalan

Banyak yang sulit memahami bahwa “tidak percaya X” (tidak percaya adanya tuhan atau dewa-dewi) tidak sama dengan “percaya bukan X” (percaya bahwa tuhan tidak ada). Penempatan dari kata negatif adalah kuncinya: yang pertama berarti tidak memiliki sikap bahwa proposisi X (tuhan atau dewa-dewi ada) adalah benar, yang kedua berarti memiliki sikap bahwa proposisi X (tuhan atau dewa-dewi ada) adalah salah. Perbedaan di sini adalah antara ketidakpercayaan dan penyangkalan: yang pertama adalah ketidakpercayaan dalam arti luas atau sempitnya, sedangkan yang kedua adalah penyangkalan.

Membedakan antara keduanya seharusnya sederhana dan mudah saja, tetapi cukup sulit untuk menerangkan hal ini ketika seseorang tidak langsung mengerti. Yang membuat banyak orang tersandung sepertinya asumsi bahwa kalau dihadapkan dengan proposisi apa saja, pilihan yang ada hanyalah untuk percaya bahwa sesuatu itu benar atau percaya bahwa sesuatu itu salah—sehingga saat dihadapkan dengan pertanyaan apakah tuhan ada, seseorang mesti percaya bahwa: 1. setidaknya satu tuhan ada; 2. percaya bahwa tidak satu pun tuhan ada.

Ini adalah kesalahan. Mungkin benar bahwa kebanyakan proposisi yang terpikirkan adalah proposisi yang kita percayai sebagai benar atau salah, tetapi ada banyak sekali proposisi lain yang tidak masuk ke kategori yang saya sebutkan barusan. Pemikiran berhati-hati tentang beberapa skenario “hypothetical” akan membantu menjelaskan kerumitan ini.

Baca lebih lanjut

How to Be an Atheist Without Being a Dick About It

Artikel berikut ditulis oleh lindy west dari sumber berikut di bawah ini.

http://jezebel.com/how-to-be-an-atheist-without-being-a-dick-about-it-823225375

I’m an atheist and I’m embarrassed. Not because I’m self-conscious about my convictions (lol, no), but because so many people insist on being such condescending dicks in the name of atheism. I didn’t settle on my belief system because it’s a great opportunity for me to dunk on church ladies—it’s my belief system because I believe in it. Or, don’t believe in it. Whatever. And I don’t appreciate people turning my worldview into some weird, weaponized intellectual superiority complex. Religion is awful in a lot of ways, yes. But that doesn’t mean you have to be awful too.

So, okay, in my heart, I am certain: that shit’s not real. Even “certain” isn’t quite accurate, because it implies the possibility of choice, of something outside this conviction. I’m not “certain” of this conviction—I am this conviction. At this point, the idea that god would enter my world in any sort of non-academic capacity is as laughable as the notion that I might hire Jenny McCarthy to be my child’s pediatrician. Or, I don’t know, that I might spend a weekend driving a microscopic school bus around inside the sinuses of a know-it-all child. Only it’s even less plausible than that, because at least doing donuts in Arnold’s colon is conceivable to the human mind.

Baca lebih lanjut