Seberapa Haram Alkohol Sebetulnya?

Karena akhir – akhir ini isu halal/haramnya makanan/minuman lagi rame, terutama isu “Solaria gak halal” dan “Ahok bilang bir bukan miras karena alkoholnya sedikit”, gw mau ngoceh dikit yak soal sebuah hal yang udah ada di kepala gw bertahun – tahun tapi belom pernah gw keluarin dari kepala gw

boleh kan? boleh kan?

Kalo gak boleh yaudah sih gak usah diterusin bacanya kok repot :p

Waktu gw jaman kuliah, pas materi pelajaran agama Islam, ada perdebatan antara temen sekelas gw dan dosen gw soal seharam apa Alkohol, temen gw bilang:

“Alkohol itu haram no matter what, jangankan minuman beralkohol, bikin kue pake rum ataupun pake parfum yang mengandung alkohol aja sebetulnya haram”

Sementara dosen gw bilang:

“Yang haram itu mabuknya, kalau kamu gak mabuk ya gak haram”

Secara pas itu status gw adalah teis gak pedulian gw gak ambil pusing buat ikutan mereka debat, tapi belakangan pas gw baca2 sejarah soal Islamic Golden Age, gw rasa gw nemuin jawabannya:

Alkohol itu gak haram, kecuali lo pake buat memabukkan diri.

Seperti biasa gw akan mulai dari definisi dulu, sesuai pelajaran kimia kita jaman SMA, kita sepakat ya bahwa definisi Alkohol adalah senyawa rantai karbon yang di ujungnya ada -OH.

Sepakat kan? Sepakat kan? Lanjut.

Sekarang kita lihat lagi, kapankah Alkohol mulai dikenal manusia?

Di Eropa, Timur Tengah sampai Asia Timur, sejak abad sebelum masehi sudah dikenal beberapa jenis minuman yang mengandung Alkohol dan memabukkan, mulai dari anggur, khamr sampai arak udah dikenal sama berbagai peradaban.

Tapi mereka belum kenal tuh yang namanya Alkohol, mereka cuma tau itu bikin mabuk, titik. Gak tau ada komposisi apa di dalemnya, karena ilmu kimia (ataupun alkemi, pendahulunya) belum sampai situ.

Nah, pas Islamic Golden Age, para ilmuwan – ilmuwan jaman itu kan kurang kerjaannya bukan main tuh, segala hal mereka riset hingga menghasilkan berbagai temuan penting dan luar biasa bagi dunia, di situlah mereka baru menemukan adanya zat bernama Alkohol, termasuk cara membuatnya.

note: notice gak bahwa semua hal berbau ilmiah yang depannya “Al” itu bikinan Islamic Golden Age? Contoh: Al-jabar, Al-goritma, Al-kaline dan termasuk juga Al-kohol (Al-kuhl)

Nah, ketika mereka menemukan Alkohol apa mereka langsung bilang itu haram? Ya nggak. Prinsip mereka yang diharamkan dalam Quran itu kan khamr, dan prinsip mereka khamr mengacu pada sifat “memabukkan”-nya, bukan sama komposisi di dalamnya.

Alkohol adalah salah satu produk paling penting dalam kemajuan Islam di era itu, berkat Alkohol dan teknik ekstraksi wangi dari tumbuh – tumbuhan, mereka berhasil bikin minyak wangi terbaik sepanjang sejarah sampai saat itu, dan itu jadi komoditi ekspor gede – gedean ke cina, eropa dan afrika, salah satu penyokong ekonomi yang bikin maju mereka.

Di luar itu, tentara Muslim di jaman itu yang begitu perkasa ketika bertempur melawan musuh – musuhnya, salah satu rahasianya adalah minum ramuan khusus yang digunakan untuk meningkatkan stamina dan konsentrasi, dimana salah satu bahannya adalah Alkohol.

Jadi, kalau menurut gw sih, berkaca kepada sejarah, yang diharamkan adalah apa yang memabukkan, bukan spesifik bahan Alkohol itu sendiri, jadi kalo ditanya komentar Ahok bener apa salah pas dia bilang bir itu bukan minuman keras, ya pikir aja sendiri, kadar Alkohol di bir itu cuma 5%, kaliin deh sama total massa yang cuma 300 gram-an cairan dalam sebotol/sekaleng bir, cuma ada 15 gram alkohol di situ, bikin mabok gak?

Kalo argumennya “kalo minum sekaleng mungkin nggak, tapi kalo banyak kan mabok”, ya minum air putih kalo seliter juga mabok, cobain aja deh minum aqua seliter terus beraktivitas, apa gak mabok karena kembung tuh?

Ini pemikiran gw dulu aja sih, sekarang ya udah gak ngaruh juga buat gw, toh gw mau minum ya minum aja, tapi in case ada yang tertarik buat mempertimbangkan halal/haramnya Alkohol dari sudut pandang ini ya silahkan, kan banyak tuh pengen makan kue pake rum tapi takut haram karena ada Alkoholnya.

Sekian ocehan singkat gw, kalo ada salah fakta atau logical fallacy mohon dikoreksi 😉

Updated:

Berdasarkan diskusi di sesi komentar saat post ini gw bikin di notes Facebook, ada beberapa masukan soal bagaimana memandang kehalal/haraman Alkohol:

  • Ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa Rasul pernah mengkonsumsi cuka, dimana cuka sendiri adalah hasil fermentasi yang mengandung Alkohol, disini ditunjukkan bahwa haram/halal memang bukan semata – mata karena Alkohol
  • Salah satu cara mudah menentukan sebuah zat (baik beralkohol maupun tidak) haram atau tidak adalah dengan melihat trend dari zat tersebut, jika zat tersebut cenderung membuat mabuk (mis: vodka, whiskey, etc) ya sebaiknya dianggap haram, tapi kalau tidak (mis: durian, tape) ya berarti bisa dianggap halal
Iklan

Kisah Awal Kehidupan Bumi Menurut Sains

Bumi yang penuh kehidupan sekarang ini awalnya hanya berisi batuan cair yang membara panas, seperti lava gunung berapi yang menyembur dan mengalir deras membakar semua yang dilewatinya.  Kondisi ini terus berlangsung dalam waktu yang sangat lama, sampai akhirnya cukup banyak kalor yang terlepas ke udara dan suhu permukaan bumi mendingin.  Terbentuklah daratan dan lautan yang berasal dari terpisahnya unsur padat dan cair, dan angkasa yang masih diisi oleh atmosfir primitif.  Atmosfir primitif bumi saat itu dipenuhi gas beracun akibat ketidak-mampuannya untuk menyaring sinar UV matahari.  Ini terus berlangsung sampai sekitar 3 milyar tahun yang lalu.

permukaan bumi

“Lalu di mana kehidupannya?” tanya seseorang.  Kehidupan muncul sekitar 2,5-3 milyar tahun yang lalu, dan bukan dari tanah yang tiba-tiba tertiup udara dan bernafas, namun dari laut.  Karena kondisi atmosfir yang tidak mendukung, semua kehidupan di permukaan darat akan habis tersiksa oleh sengatan matahari yang dahsyat dan udara yang tipis akan kandungan oksigen.  Jarak permukaan sampai ke dasar laut sangatlah dalam, dan laut berfungsi sebagai tabir surya di masa awal mula kehidupan.  Panas bumi dan cahaya matahari, keduanya merupakan faktor penting tercampur-aduknya sop purba dalam reaksi kimia yang menghasilkan organisme hidup perdana.  Asam amino adalah bahan dasarnya, dan reaksi yang mengaktifkan terbentuknya organisme purba ini akhirnya membuatnya mengembangkan kemampuan menyerap energi dan berkembang biak.

Bakteri yang menjadi nenek moyang seluruh kehidupan di bumi memanfaatkan energi cahaya matahari.  Mereka berwarna ungu, dan berkembang biak, menyebar dan memenuhi seluruh lautan.  Bayangkan bumi terlihat ungu dari luar angkasa, tidak seperti sekarang bercahaya biru. Hanya sebagian cahaya matahari yang dipakai oleh bakteri primitif ini, sisanya masuk ke laut yang lebih dalam.  Bakteri yang berkembang berikutnya memanfaatkan spektrum cahaya tersisa, yang menjadikan mereka berwarna hijau.  Mereka dikenal sebagai Cynobacteria, mikroba hijau inilah yang kemudian menjadi nenek moyang seluruh spesies tumbuhan di dalam Kingdom Plantae.

Cynobacteria memiliki kemampuan yang tidak dimiliki makhluk lain, fotosintesis.  Dengan memanfaatkan energi dari cahaya matahari, mereka memisahkan air menjadi hidrogen dan oksigen.  Hidrogen dipakai untuk bereaksi dengan karbondioksida menjadi gula, dan oksigen dilepaskan ke udara, mengisi atmosfir, dan akhirnya bereaksi membentuk Ozon.  Ozon inilah yang menjadikan atmosfir bumi mampu menyaring sinar UV matahari.  Sisa oksigen yang berlimpah bermanfaat untuk respirasi tumbuhan, dan dengan kondisi yang ramah kehidupan ini, makhluk lain yang memanfaatkan oksigen untuk mencerna makanan ikut mengalami ledakan populasi dan berevolusi.

Ilmuwan menyebut kejadian ini sebagai Oksidasi Besar, yaitu kejadian di mana reaksi pembentukan oksigen yang memenuhi atmosfir primitif, menjadikannya kaya akan oksigen (O2) dan akhirnya membentuk ozon (O3) yang menahan terjangan sinar matahari dan menstabilkan atmosfir sehingga mendukung kehidupan.

Sumber: How To Grow A Planet – BBC

Agama, Maksiat dan Bencana Nasional

Tulisan ini berawal dari sebuah post saya di Facebook beberapa minggu lalu ketika saya mengomentari sebuah isu di mana seorang politisi mengatakan bahwa situs–situs “Islami” (baca: arrahmah, voa-islam, dkk) lebih berbahaya dari situs porno.

Saya berargumen bahwa situs porno sebetulnya memang tidak berbahaya, malah beberapa studi mengatakan bahwa konsumsi pornografi di suatu masyarakat sebetulnya berbanding terbalik dengan social harm yang berhubungan dengan seks seperti pemerkosaan, kehamilan remaja, dsb. Berikut potongan pembahasan saya waktu itu:

Emang apa sih bahayanya situs porno?

Kalau kata Tifatul Sembiring atau Habib Selon sih banyak, berimbas ke mulai dari pemerkosaan sampai kepada bumi gonjang-ganjing langit bergelinjang gunung meletus pesawat jatuh—semuanya disebabkan oleh situs porno dan Lady Gaga.
Tapi apa bener begitu?

Dalam banyak studi yang sudah saya baca, pornografi justru berdampak positif terhadap masyarakat, sebagaimana terlihat di negara-negara dengan konsumsi pornografi yang meningkat—justru beragam masalah sosial yang berhubungan dengan seks seperti perkosaan, kehamilan remaja, penyakit menular seksual sampai pada aborsi justru menurun

Pada bagian awal dari kutipan saya tersebut, saya sedikit menyinggung mengenai sebuah stigma yang muncul akhir–akhir ini bahwa hal buruk yang terjadi di antara kita adalah akibat berbagai tindakan “amoral” masyarakat dan cara menyelamatkannya ya dengan memperbaiki moral masyarakat.

tiffie

Tentu saja pola pikir yang seperti itu spontan menjadi semacam lelucon di kalangan mereka yang tidak mempercayainya, baik itu dari kalangan ateis, teis berlainan agama maupun teis seagama yang tidak setuju dan menganggap pola pikir demikian itu primitif dan tidak ilmiah.

Tapi yang menjadi menarik adalah ketika kita mempertanyakan:

“Apa iya agama ‘segitunya’ dalam memandang isu korelasi antara bencana dan maksiat itu? Apa sejak jaman dulu sudah begitu, terus dipertahankan sampai sekarang gitu?”

Nah, untuk menjawabnya, dalam artikel ini saya akan mengangkat 2 buah peristiwa penting dalam sejarah peradaban yang dibangun di atas filosofi agama samawi terkait dengan cara memandang hubungan antara bencana dan maksiat ini. Semoga bermanfaat 😉

Raja Louis IX dan Perang Salib ke-7 (Abad 13)

Pasca direbutnya kembali Yerusalem oleh Sultan Salahudin Ayyubi di abad ke-12, semua usaha Pasukan Salib untuk kembali menguasai Yerusalem yang paling mendekati keberhasilan hanyalah di bawah komando raja legendaris Inggris Richard the Lionheart, di mana ia sempat beradu strategi langsung melawan Salahudin sebelum akhirnya memutuskan pulang ke Inggris karena adik kandungnya berusaha merebut takhta darinya.

Tujuh puluh tahun sejak era Richard the Lionheart, Pasukan Salib hanya bisa gigit jari dalam setiap usahanya merebut Yerusalem hingga akhirnya muncullah Raja Louis IX dari Perancis.

Louis IX, Pemimpin Pasukan Salib di Perang Salib ke-7

Louis IX mendeklarasikan visinya bahwa alasan gagalnya perjuangan Pasukan Salib untuk menunaikan misi suci mereka merebut kembali Yerusalem adalah selain kurangnya persiapan juga karena mereka tidak diberkati oleh Tuhan.

Ia beranggapan bahwa selain kegagalan Eropa merebut Yerusalem, krisis dan wabah di negaranya adalah hukuman Tuhan karena buruknya moralitas di negara mereka, termasuk di antaranya korupsi para pejabat publik. Sehingga menurutnya, cara terbaik untuk memperbaiki negerinya adalah dengan menunaikan misi suci sekaligus tanggung jawab mereka kepada Tuhan yaitu dengan merebut kembali Yerusalem dari penguasa Muslim.

Namun untuk melaksanakan itu pun beliau masih memiliki satu masalah: Raja Louis IX beranggapan selama ini kegagalan Pasukan Salib juga merupakan hukuman Tuhan. Karenanya ia memiliki visi bahwa sebelum berangkat berjuang, Pasukan Salib ini perlu terlebih dahulu menyucikan diri dan negara mereka.

Louis IX memungut pajak besar dari rakyatnya yang digunakan membiayai operasi pemberantasan korupsi, inspeksi maksiat, biaya logistik selama perang dan juga pelatihan sekaligus pertapaan dan penyucian diri pasukan elite yang akan dibawanya mengembara.

Visi Louis IX sungguh inspiratif. Sekalipun negara mereka tidak sedang dalam kondisi baik, rakyat mempercayakan nasib mereka pada sang raja dan membayar pajak tersebut.

Akhirnya berangkatlah mereka, puluhan ribu tentara elite yang selain telah terlatih bertempur juga telah menyucikan diri mereka dengan berbagai ritual keagamaan selama berbulan–bulan. Mereka berlayar ke Mesir untuk menyerang pusat pemerintahan Islam demi menaklukkan musuh bebuyutan mereka tersebut dan merebut kembali Yerusalem.

Hasilnya?

Setelah sukses membantai satu camp penjagaan Muslim di Gideila, mereka kemudian melanjutkan serangan mereka ke Al Mansurah.

Di mana di sana mereka…

Kalah strategi … dan dihabisi … sampai rata.

Pasukan Salib yang terlatih dan tersucikan itu pun kembali ke negaranya dengan kekalahan dan kenangan dari ribuan tentara yang tewas dalam perang. Sang Raja dengan berbekal pembersihan diri dan negara gagal menyelesaikan misi sucinya. Dan keadaan rakyatnya pun tidak membaik.

Nilometer dan Banjir Sungai Nil (Abad 9)

Beberapa ratus tahun sebelum era Perang Salib, Islam tengah melebarkan sayap kekuasaan selebar–lebarnya, termasuk salah satunya ke Mesir.

Salah satu isu yang dihadapi oleh pemerintah Mesir kala itu adalah banjir dari sungai Nil yang bisa datang tiba–tiba dan merusak properti rakyat maupun pemerintah. Mengingat pentingnya sungai Nil dan banjirnya tersebut bagi kehidupan rakyat, pemerintah Muslim pun tidak tinggal diam dan mengambil tindakan untuk mengurangi efek dari bencana tersebut.


Kala itu, Islam telah terbekali dengan sains yang sangat modern (di masanya), yang mereka kumpulkan dari seluruh penjuru dunia dalam “gerakan penerjemahan buku” yang terkenal itu. Selain itu mereka juga mempelajari pengetahuan lokal rakyat Mesir mengenai cara memprediksi banjir sungai Nil dengan membandingkan ketinggian air dengan tahun–tahun sebelumnya. Dengan bekal pengetahuan tersebut, mereka membangun sebuah bangunan yang elok dan berguna yang sekarang kita kenal sebagai Nilometer.

Bagian Langit – Langit Nilometer

Nilometer di atas dibangun di abad ke-9 dan telah memiliki arsitektur yang begitu elok juga konstruksi yang kuat berdiri hingga berabad–abad kemudian.

Cara kerja Nilometer sebetulnya sangat sederhana. Dari tahun ke tahun pada periode sebelumnya masyarakat Mesir telah mencatat ketinggian di beberapa bagian sungai Nil setiap tahunnya dengan cara mengukir sebuah garis di batu dan mendeskripsikan kejadian apa yang terjadi di tahun tersebut.

Pada tahun–tahun berikutnya, mereka akan menebak apa yang akan terjadi di tahun tersebut berdasarkan garis catatan yang paling mendekati ketinggian air di tahun tersebut.

Dengan ilmu matematika dan konstruksi yang telah matang dan baku, pemerintah Muslim membentuk Nilometer yang sebetulnya adalah penggaris raksasa yang didirikan dari dasar tanah hingga ke permukaan. Berkat perhitungan dengan satuan baku dan presisi yang lebih baik, Nilometer yang dibangun pemerintah Muslim ini tidak hanya dapat menebak kejadian apa yang terjadi (banjir atau tidak, kemarau atau tidak) namun juga memperkirakan dengan presisi yang cukup tinggi skala dari kejadian yang akan terjadi: Jika banjir separah apa? Jika kemarau sekering apa?

Ilustrasi Nilometer Sederhana dan Penggaris Raksasa Di Tengahnya

Berkat adanya Nilometer, setiap tahun pemerintah selalu dapat memperkirakan kejadian apa yang akan lahir di tahun tersebut dan menyusun program–program penanggulangan bencana jika sampai terjadi sesuatu secara efektif dan efisien

Penutup

Saya memilih 2 potongan sejarah di atas karena keduanya menggambarkan kubu yang sangat berbeda dalam menyikapi bencana nasional, di mana yang satu menyikapinya dengan mengkaitkan bencana dan kemaksiatan, sementara yang satu lagi memandang secara ilmiah dan menjadikan bencana alam sebagai tantangan untuk ditanggulangi dan ditaklukkan.

Selain itu, keduanya pun bagian dari sejarah yang penting bagi agama–agama Samawi, yang satu adalah potongan dari lahirnya era keemasan Islam, sementara yang satu lagi adalah salah satu episode paling besar dari Perang Salib yang berlangsung berabad–abad tersebut.

Pada akhirnya kita dapat melihat bahwa sejarah mencatat adanya keberagaman cara agama menyikapi bencana alam; ada yang begini, ada yang begitu. Perkara sekarang Anda mau lebih memilih sudut pandang yang mana ya kembali ke pilihan Anda masing–masing.

Catatan Kaki:

Sekedar mengingatkan, Mesir di bawah pemerintahan Muslim saat itu sudah punya Nilometer pada abad ke-9 loh. Abad ke-9 itu 12 abad lalu loh. Seribu dua ratus tahun sebelum komentar Tifatul yang saya kutip di atas, mereka sudah punya pola pikir demikian.

SERIBU DUA RATUS TAHUN LOH.

Ngingetin aja sih.

Sekian.

Apakah kaum religius lebih bahagia dari orang ateis? Jawabnya: ya!

20130825-234515.jpg

Dua tahun lalu, seorang kawan saya yang masih religius (sekarang ateis, tapi bukan itu fokus kita dalam artikel ini) memperlihatkan artikel penelitian yang menunjukkan bahwa secara statistik, orang-orang religius lebih bahagia ketimbang mereka yang non-religius. Penelitian ini didukung oleh banyak peer review dan replikasi serupa sehingga bukan merupakan anecdotal evidence. Non-religius dan ateis lebih mudah terserang stres dan depresi sementara orang-orang religius lebih resisten terhadap depresi dan menunjukkan indeks kebahagiaan yang lebih tinggi dalam cakupan populasi yang sama. Ketika menunjukkan artikel-artikel ini, rekan saya dengan wajah penuh kemenangan mengatakan “in your face, atheist!! Muahahaha…

Saya bisa memahami bahwa ketika orang beragama menghadapi masalah, dia memiliki sosok untuk mengadu, terlepas dari apakah doa bisa mempengaruhi hasil (berdasarkan hasil penelitian-penelitian berikut ternyata tidak), ada rasa ketenangan yang didapat seseorang ketika berdoa. Berbeda dengan ateis yang cenderung taktis dalam menghadapi masalah dan fokus pada solusi. Tentu ketika solusi secara jelas tidak bisa didapat, ateis rentan terhadap stress dan depresi.

Namun ternyata ketika kita melihat lebih dalam dan melakukan cross analysis dengan faktor faktor yang terlibat di dalamnya, agama menang dalam indeks kebahagiaan bukan karena alasan sesederhana itu. Pertama, penelitian-penelitian tersebut dilakukan di Amerika Serikat dan negara-negara maju di mana perilaku manusia cenderung lebih individualistik dan agama adalah salah satu sarana aktivitas sosial yang paling dominan dalam mempersatukan masyarakat. Dan aktivitas sosiallah yang secara signifikan berpengaruh terhadap kebahagiaan. Diener and Seligman (2002) menunjukkan bahwa orang-orang religius secara signifikan lebih terikat pada lingkungan sosial lewat agamanya, yang mana jika populasi ini dikeluarkan dalam penelitian maka agama dalam lingkup individu sama sekali tidak memprediksi kebahagiaan lebih tinggi dibanding non-religius.

Didukung juga penelitian Salsman, Brown, Brechting, & Carlson (2005), orang-orang religius lebih memiliki keinginan untuk mendukung lingkungannya secara sosial dan hal ini juga berkorelasi terhadap kemapanan psikologis.

Paling penting, Okulicz-Kozaryn (2010) menunjukkan bahwa kepuasan hidup mereka yang religius hanya ada secara signifikan jika mereka tinggal di lingkungan di mana mayoritas orang adalah religius. Di lingkungan di mana mayoritas orang adalah non religius, perbedaan tingkat kebahagiaan tidak terlihat secara signifikan dari dua kelompok tersebut.

Cukup jelas bagaimana faktor pembeda adalah aktivitas sosial, dan bukan merupakan faedah suci yang dikaruniakan Tuhan. Saya pribadi mengenal banyak orang yang mengaku lebih bahagia setelah terbebas dari dogma dan bertemu dengan rekan-rekan yang sepemahaman. Terlebih lagi, terlepas dari itu semua, masa di mana anak masih percaya Sinterklas tentu lebih menyenangkan dibanding ketika dia menyadari bahwa Sinterklas hanyalah dongeng.

Further reading:

http://springerlink.metapress.com/content/650q541579041625/fulltext.html

http://psr.sagepub.com/content/14/1/84.abstract,A

http://www.psychologytoday.com/blog/death-love-sex-magic/201212/are-religious-people-happier-non-religious-people

Cohen-Zada, D. & Sander, W. (2011) Religious Participation versus Shopping: What Makes People Happier? Journal of Law and Economics.

Diener, E., & Seligman, M.E.P. (2002). Very happy people. Psychological Science, 13, 81-84.

Okulicz-Kozaryn, A. (2010). Religiosity and life satisfaction across nations. Mental Health, Religion & Culture, 13, 155-169.

Salsman, J. M., Brown, T. L., Brechting, E. H., & Carlson, C. R. (2005). The link between religion and spirituality and psychological adjustment: The mediating role of optimism and social support. Personality and Social Psychology Bulletin, 31, 522–535.

Most Religious Countries and Most Atheist Countries

Artikel berikut menyorot mengenai beberapa statistik merosotnya kepercayaan terhadap agama, seiring majunya pendidikan dan ilmu pengetahuan dari 57 Negara. Artikel sumber dapat ditemukan di huffingtonpost.com.

Which countries are the most and least religious? The WIN-Gallup International “Religion and Atheism Index” collected data from 57 countries in order to find out.

The Religiosity Index represents the percentage of the population who self-describe themselves as ‘a religious person’ in the question worded as: Irrespective of whether you attend a place of worship or not, would you say you are a religious person, not a religious person or a convinced atheist?
Some interesting takeaways:

1. The poor are more religious than the rich. People in the bottom income groups are 17 percent more religious than those in the top income groups.

2. Globally, the number of those claiming to be religious has dropped by 9 percent from 2005 to 2011, while the number of people identifying themselves as atheists has risen by 3 percent.

3. Four countries have experienced a drop in religiosity in their populations that is greater than 20 percent between 2005 and 2012. France and Switzerland saw decreases of 21 percent, while Ireland’s number of faithful declined by 22 percent and Vietnam’s by 23 percent.

Emang Seks Bebas Itu Apa Sih? Yakin Itu Artinya Kamu Bisa Bebas Tidur Dengan Siapa Saja? Udah Ngaca Belom?

Kali ini saya mau menulis sebuah topik yang sebetulnya lumayan berat dan saya gak menemukan cara lain untuk membuatnya mudah diikuti kecuali dengan gaya humor satir. Dan saya yakin, Anda akan dengan mudah mengikutinya asalkan Anda tidak membacanya dengan dahi mengernyit dan tangan yang gatel mau marah–marah di sesi komentar, jadi coba senyum dulu terus ngaca sekarang, jangan lanjutkan membaca kalau senyumnya belum enak dilihat, oke? 😉

Kenapa?

Senyummu gak bisa enak dilihat?

Wah, deritamu nak, kalau kamu teis berdoalah supaya kamu enteng jodoh dan ada yang mau denganmu meskipun senyummu kayak gitu. Kalau kamu ateis, menabunglah buat operasi plastik.

Baca lebih lanjut

Apa itu mesin waktu?

20130825-163931.jpg

Mesin waktu, dari sudut pandang film-film fiksi sains, adalah sebuah kendaraan di mana pengendara (dan penumpangnya) mempunyai kemampuan untuk memanipulasi arus jalannya waktu sehingga dapat memutarbalikkan waktu menuju masa lalu atau mempercepat waktu menuju masa depan. Apakah kemampuan untuk memanipulasi arus jalannya waktu ini benar-benar bisa dilakukan? Mari kita bahas bersama. Tapi sebelumnya mari kita bedakan antara perjalanan ke masa lalu dan ke masa depan.

Apakah perjalanan menuju masa lampau itu mungkin? Apakah kita bisa memutarbalikkan waktu?

Jawaban singkatnya, tidak. Dalam bidang fisika termodinamika, kita mengenal apa yang disebut dengan entropi. Entropi, dalam skala keseharian, adalah nilai perubahan energi untuk mencapai keseimbangan temperatur dalam sebuah sistem tertutup. Contoh sederhana disebutkan dalam hukum kedua termodinamika itu sendiri: energi panas akan selalu mengisi ruangan yang bersuhu lebih rendah sehingga suhu akhir ruangan tersebut mencapai keseimbangan. Sedangkan di skala sub-atomik, entropi adalah dinamika pergerakan partikel untuk mencapai suatu keseimbangan (thermal equilibrium) yang berprinsip pada hukum kedua termodinamika. Jadi, memutarbalikkan waktu berarti juga memutarbalikkan momentum pergerakan seluruh partikel di alam semesta ini agar menempati posisi sebelumnya. Hal ini tentu bertentangan dengan hukum kedua termodinamika.

Baca lebih lanjut

Bila Menikah adalah Anjuran Agama, Mengapa Ateis Menikah?

Bertahun-tahun menjadi ateis, ada satu pertanyaan yang tidak pernah bosan ditanyakan oleh para teis, yaitu pernikahan. Modus yang saya tangkap adalah sebetulnya mereka hanya ingin mengatakan kalau menikah itu adalah anjuran agama. Dan karena pernikahan adalah hal agamis, bila ateis menikah maka ateis tersebut sebetulnya juga menjalankan sebuah ajaran agama. Tapi apakah benar demikian?

Begitu banyak teis fanatik yang terobsesi dengan pertanyaan tentang pernikahan. Dan dari banyak diskusi, saya menyimpulkan bahwa para fanatik ini berpikir bahwa pernikahan adalah satu hal yang membuat manusia lebih mulia daripada makhluk lain. Sekilas mungkin ini benar, tapi bila kita lihat lebih jauh, kita sama-sama tahu bahwa pernikahan itu tidak terbatas pada ritualnya.

Baca lebih lanjut

Apa itu “Flying Spaghetti Monster”?

20130812-075327.jpg

Flying Spaghetti Monster adalah Tuhan parodi/agama parodi yang sering digunakan para nonbeliever (ateis) ketika ditanya apa agama/tuhan mereka dalam konteks yang tidak serius. Sama seperti ‘invisible pink unicorn’ atau versi lokal: Cherrybelle Tuhan Semesta Alam. Banyak agama besar di dunia memiliki kisah yang kurang lebih sama anehnya, namun karena mereka terbiasa dengan kisah agama masing masing, mereka hanya mampu melihat kekonyolan agama lainnya. Kemunculan istilah istilah FSM sendirimemiliki cerita yang menarik.

Awal mulanya: negara bagian Kansas di Amerika Serikat dengan cerobohnya mengeluarkan keputusan untuk mengganti kurikulum mengenai teori evolusi dan menawarkan intelligent design sebagai alternatif dalam meta pelajaran sains. Seperti kita tau, intelligent design memiliki prinsip bahwa tubuh manusia dan alam semesta yang kompleks pasti memiliki pencipta di baliknya. Bahwa awalnya ini terlihat seperti argumen teisme umum, di dalamnya sarat dengan jumping argumen yang berakhir dengan pengajaran teologi Kristen.
Baca lebih lanjut

Bagaimana cara menjadi ateis?

20130825-164259.jpg

Pertanyaan ini sebenarnya cukup konyol untuk dijawab (namun benar-benar pernah ditanyakan di FP ABAM). Sama seperti pertanyaan “bagaimana cara menjadi golput”? Jawabannya: jangan ikut pemilu! Sesederhana itu. Menjadi ateis, sesimpel tidak percaya Tuhan. Itu saja. Tak ada syahadat atau ritual tertentu yang mengukuhkan Anda jadi ateis karena memang ateisme bukan agama.

Tapi ini menjadi pembahasan yang valid ketika kita bertanya lebih lanjut. “Sejak lahir saya dididik beragama dan percaya pada Tuhan, bagaimana mungkin saya membuktikan kepercayaan saya itu salah selama ini?” Ada beberapa langkah menarik yang Anda bisa coba, setidaknya baca.

Baca lebih lanjut

Apa Bukti Bahwa Tuhan Tidak Ada?

20130825-164421.jpg

Pertanyaan ini hanya bisa dijawab apabila kata “Tuhan” didefinisikan secara jelas. Tanpa definisi yang jelas, tidak mungkin apa pun dibuktikan ada atau tidak ada. Bayangkan Anda diminta membuktikan keberadaan X tanpa disebutkan secara sangat jelas, apa itu X. Permasalahan sama tentang Tuhan mengingat hampir semua agama memiliki deskripsi sendiri tentang Tuhan. Ada yang menganggapnya sosok yang bisa marah dan berkehendak, ada yang berkata Tuhan adalah kesadaran manusia itu sendiri. Ini membuat pembuktian Tuhan menjadi mustahil ketika semua memiliki definisi berbeda.

Persoalan kedua adalah dalam skala sebesar alam semesta, membuktikan ketiadaan sesuatu adalah mustahil. Contoh, tidak ada yang bisa membuktikan bahwa Sinterklas tidak ada. Tidak ada yang pernah merekam dan menjelajahi setiap jengkal bumi untuk menunjukkan bahwa tidak ada Sinterklas. Bagaimana jika Sinterklas bersembunyi di Bulan? Bagaimana jika Sinterklas bersembunyi di dimensi lain? Ini jugalah yang terjadi pada jin. Tidak ada yang bisa membuktikan jin tidak ada, tidak ada yang bisa membuktikan Doraemon tidak ada.

Baca lebih lanjut