Sains Perlu Bukti, Iman Tidak

Penulis:

‘ateis menuhankan otak, ateis menuhankan logika, ateis menuhankan
sains’. Itu adalah sebagian dari kata-kata yang sering di lontarkan
para teis kepada ateis.

Sains menjelaskan bahwa bumi itu bulat, atau lebih tepatnya elips.
Walaupun anda tidak percaya terhadap pernyataan ini tidak akan membuat
fakta bahwa bumi itu
berbentuk elips berubah menjadi berbentuk datar. Sains tak butuh orang
percaya atau tidak percaya. Sains membutuhkan bukti atau
fakta empiris. Fakta empirislah satu-satunya
yang dibutuhkan sains. Dan sains tidak pernah memberikan claim,
pernyataan yang diberikan pun didasari bukti-bukti valid.

Virus, kuman, elektron, proton, atau banyak hal lainnya secara fakta
tidak dapat ditangkap oleh pancaindra manusia. Tapi, sains bisa
membuktikannya bahwa semua itu memang real/ nyata. Pancaindra tidak
mampu menjangkaunya, tapi alat bantu kehidupan manusia bisa
menjangkaunya. Kini kita tahu bahwa objek-objek tersebut memang
terbukti ada. Bukti-lah kuncinya, bukan klaim. Bisa saja seseorang
mengklaim ini dan itu, karena ini dan itu tersebut tercantum dalam
sebuah buku suci, tapi jika tidak ada bukti yang menyertainya,
bagaimana bisa hal tersebut disebut real/ nyata. Patokannya adalah
bukti. Alangkah bodohnya jika kita meyakini sesuatu tapi tidak
memiliki bukti.

Mengklaim itu mudah, tapi membuktikannya itu yang susah. Klaim luar
biasa membutuhkan bukti luar biasa itu kata Carl Sagan (eh benar kan?.
Mengklaim bahwa perahu nuh itu ada, musa menyeberang laut merah dengan
membelahnya itu terjadi, dan bulan pernah terbelah 2 dan menyatu
kembali, itu adalah mudah. Tapi, jika tidak ada bukti kuat yang
mendukung klaim ini, bagaimana kita bisa membedakannya dari dongeng
atau bukan dongeng? Dongeng tidak butuh bukti dan tidak ada yang
menuntut bukti. Adakah yang menuntut sapu terbang dalam novel Harry
Potter itu nyata atau tidak? Tidak ada. Adakah yang menuntut manusia
hobita dalam The Lord of The Ring itu nyata atau tidak? Tidak ada.
Adakah yang menuntut kantung ajaib dalam film doraemon itu nyata atau
tidak? Tak ada kewajiban untuk membuktikan. Ya namanya juga dongeng.
Dongeng tak butuh orang repot-repot membuktikannya. Dongeng memang tak
ada bukti. Semua mengetahuinya. Sesuatu dianggap nyata membutuhkan
bukti. Dongeng tak butuh bukti. Karena tidak ada bukti, dongeng
bukanlah sesuatu yang nyata.

Dan ada lagi kalimat yang sering saya dengar dari teis:
A: Kitab suci agama saya saya benar
B: apa buktinya?
A: sebab tertulis dalamnya bahwa kitab suci ini benar.

Gimana sih, mengklaim sendiri, lalu menyatakan benar sendiri.
Bagaimana mungkin sumber pembenarnya dari kitab sucinya sendiri. Jeruk
makan jeruk lah yah. Bisakah kitab suci membuktikan klaim kebenaran
dengan bukti di luar dirinya? Tentu saja bisa. Saya sangat yakin bahwa
hal tersebut bisa dilakukan. Jika sudah ada bukti, ya selanjutnya
adalah tinggal mengumumkan bukti tersebut agar bisa dinilai
keabsahannya secara lebih seksama. Mengclaim sana-sini seperti yang
sering dilakukan para teis

Tapi, kembali ke judul tulisan ini bahwa sains memang membutuhkan
bukti, tapi iman tidak. Jelas sudah bahwa keduanya memiliki paradigma
yang berbeda.
Ateis = tidak percaya tuhan, lalu bagaimana bisa menuhankan sains?
Kalau menuhankan sains bukan ateis dong namanya🙂

57 thoughts on “Sains Perlu Bukti, Iman Tidak

  1. logikanya begini; Tidak ada sesuatu terjadi dari yang tidak ada (out of nothing).
    handphone tidk mungkin ada dngn sndirinya pasti ada yg mndsain dn mnciptakannya…
    loh loh…kok alam jagat raya ini yang begitu teratur malah nggak ada pnciptanya..?? kan aneh…
    anda sudah myakini bhwa tdk sgla ssuatu itu dpt dliht dngn apnca indra tpi harus ada buktinya…
    bukti tuhan itu ada aalah kamu sndiri..kamu asalmu dari mana..?? dari ayah dan ibu..ayah dan ibumu ari ibu dan ayahnya.. Tidak mungkin suatu mata rantai sebab akibat itu berlangsung terus ke belakang (masa lalu) tanpa batas (infinite regress)…. Sehingga harus ada sebab pertama (first cause) yang tidak disebabkan oleh sesuatu tetapi menyebabkan terjadinya sesuatu…the first itu aalah tuhan….Allahh swt..

      • Yakinlah bahwa hanya dengan KEIMANAN lah akan terungkap/TERJAWAB. Ada benar pasti ada yang salah, baik dan buruk, positif dan negatif, laki2 dan perempuan, siang dan malam, Surga dan Neraka, termasuk PERCAYA(IMAN) dan INGKAR. Jelas kan? Ilmu yang diberikan Tuhan kpd manusia juga seperti itu (berlawanan). Tapi ‘YAKIN’lah bahwa kita semua ada Yang Maha Menciptakan. Yang Maha Menetapkan, Yang Maha Menghendaki, Yang Maha Mengatur, Yang Maha Memutuskan, Yang Maha Maha Adil, Yang Maha..segalanya. BUKTIKAN!?…….Orang yang BERIMAN dibuktikan dgn menjalankan segala PERINTAH TUHAN yang tidak tampak, contohnya nabi Ibrahim harus menyembelih anaknya, Nabi Isa yang di salib, Nabi Muhammad yang harus BERPERANG dan masih banyak lagi yg lainnya. Jahatkah Tuhan? Jahilkah Tuhan? Bencikah Tuhan ? Jawabnya IKHLAS……….Pasrah (ISLAM), berserah diri ( MUSLIM/AH). Terserah Engkau ya ALLAH…..(dengan senyum keIkhlasan). Seandainya ucapan ini keluar dari Mulut dan Hati Anak2 Kita. Bagaimana perasaan kita sebagai orang tua? Bagaimana dengan Tuhan yang menciptakan Kita semua??? Agamalah yang mengajarkan dan mengkaji itu semua menuju IMAN.

        Apa yang akan terjadi dengan pengINGKARAN? Apa yang kita rasakan jika di INGKARI ? Wajarkah jika anak kita ‘mengingkari’ kita sebagai Bapak / Ibunya? Balas Budi? Akankah lunas terbayar?
        Tapi saya percaya yg INGKAR itu juga ciptaan TUHAN sebagai lawan kata dari IMAN. Salam…

    • Saya kristen.. Dan sempat menjadi Atheis selama sekian tahun.. And I’m agree with you.. Pemikiran itu yg menyadarkan saya.. Sains, logika, ilmu pengetahuan, fisika, biologi dapat menjelaskan bagaimana tahu goreng diciptakan, bahannya apa, prosesnya apa, digoreng pake apa.. Sebagaimana menjelaskan big bang, relativitas, dll.. Tetapi tetap ada koki pertama yg menciptakan nya dan memasaknya.. So, there’s God, Creature.. Teori Hawking tentang alam semesta dapat tercipta tanpa pencipta hanya arogansi semata.. And honestly, it is his ignorance..

      • Sesuatu yang ada pasti ada penciptanya, misalkan tuhan itu ada pasti ada yang menciptakan tuhan itu dan pencipta tuhan pasti juga ada peciptanya, tuhan itu adalah alam semesta, tuhan itu pencipta tidak ada yang menciptakan tuhan, alam semesta itu pencipta tidak ada yang menciptakan alam semesta.

  2. Jauh sebelum orang-orang Eropa dan Cina percaya bahwa bumi itu bulat. Ilmuan Islam telah mengemukakan Ulama Islam, Ibnu Taimiyah (1263-1328 M): “Ketahuilah, bahwa mereka (para ulama) sepakat bahwa bumi berbentuk bulat. Yang ada di bawah bumi hanyalah tengah dan paling bawahnya adalah pusat….” (Al-Jawab Ash-Shahih li Man Baddala Din Al-Masih).
    Hal yang sama juga dikemukakan oleh Ibnu khaldun dan banayak ilmuan Islam lainya pada sekitarabat ke-12an.

    • Mas Gayo,
      masalahnya adalah logika anda bener … pertanyaan saya cuma satu, darimana data / fakta / bukti sehingga anda menyimpulkan first cause itu adalah tuhan ?? darimana dasarnya anda menentukan titik stop itu sebagai tuhan ?? buktinya mana ??

      bisa saja semuanya terjadi secara kebetulan, bisa saja itu tuhan agama laen, bisa saja ini susu yang diaduk oleh dewa-dewa hindu … bisa saja satu juta klaim lainnya, intinya anda dan saya tidak tahu … bedanya saya mengaku saya belum tahu, sementara anda tanpa bukti mengatakan tahu tapi tidak bisa mempertangggungjawabkan itu

    • Setiap ciptaan itu ada manual booknya, dari sekian manual book yg diclaim sbg kitab suci yg paling original dr penciptanya, silahkan diuji…. (teringat dr zakir naik memulai menjawab pertanyaan yg serupa) 😊

      setiap ciptaan pasti berbeda bentuknya dengan penciptanya. Kursi yg kita pakai bentuknya tidak mungkin sama dengan pembuat kursi.
      Akal pikiran kita sbg manusia juga tidak akan bisa memikirkan bentuk awal mula Allah sebagai Tuhan. Itu diluar batas kemampuan logika manusia dalam berpikir.

      Fitrah manusia adalah menyadari bahwa ada kekuatan maha hebat di luar dirinya. Banyak hal yang disadari manusia berada diluar kekuasaan dirinya. Termasuk oleh peradaban kuno sekalipun, sehingga terlihat adanya sesembahan2 di peradaban tsb. Yang menjadi pertanyaan besarnya adalah, siapa atau apa kah ‘sesuatu’ itu ?

      Berbagai teori dan pemikiran coba dikeluarkan, tapi sejauh-jauh manusia berpikir, tidak mampu mereka membuktikan kebenarannya dengan akal mereka sendiri. berbagai kontradiksi muncul antara pendapat yang ada, kebingungan melanda, timbul kegalauan yang sangat untuk mencari tahu mana kah yang benar itu. Saking bingungnya, bahkan sampai ada yang berpendapat bahwa kebenaran itu tidak ada dan absurd untuk diperdebatkan. Ironis, awalnya mereka berupaya untuk mencari kebenaran, tapi pada akhirnya mereka berpendapat kebenaran itu tidak ada. Inilah diantara yang terjadi pada filsafat.

      Pada titik inilah filsafat berhenti dan tak bisa maju lagi, begitu menurut Akmal Sjafril, MPdI. Dalam artikelnya, beliau kemudian mengutip penjelasan Buya Hamka, seorang ulama yang memiliki penguasaan baik dalam ranah filsafat dan agama sekaligus :

      “Maka banyaklah soal-soal yang tidak dapat dicarikan jawabnya oleh manusia
      dengan usahanya sendiri. Meskipun bagaimana payahnya mencari. Karena
      perjalanan akal dan fikiran itu adalah terbatas. Sejauh-jauh perjalanan
      fikiran namun akhirnya akan bertemu pada satu perhentian, atau satu
      pematang yang tidak dapat dilampaui lagi. Alat-alat yang ada pada manusia
      tidak cukup buat melampaui batas itu. Sedang manusia masih tetap ingin
      hendak sampai ke sana.
      Di sinilah nyatanya kasih Tuhan Yang Maha Tinggi terhadap kepada hamba-
      Nya. Disampaikannya perjalanan itu kepada ujungnya, tidak lagi terhenti di
      tengah jalan karena tidak ada kesanggupan lagi. Diberi-Nya manusia itu
      pimpinan. Diutusnya Rasul-rasul-Nya memberitahukan perkhabaran itu.
      Diberi-Nya jembatan yang teguh dan kuat, untuk memperhubungkan alam
      kenyataan dengan alam gaib. Diberi-Nya kenyataan siapa yang menjadikan
      dan menguasai alam ini. Diberi-Nya petunjuk bahwa di belakang hidup yang
      sekarang ini, ada lagi hidup yang lebih kekal dan mulia.” (Hamka, Pelajaran Agama Islam, Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1996, Cet. XII, hlm. xi)

      Dari situ, Akmal Sjafril MPdI, menyimpulkan Agamalah yang menjawab pertanyaan-pertanyaan besar yang tak mampu dijawab oleh akal manusia.

      Dari perkuliahan konsep Ad dien, Ust. Ahmad Rofiqi memaparkan tentang bagaiamana kita menilai sebuah agama itu otentik / benar / lurus ?
      “Sebuah agama dikatakan otentik bila secara total merupakan wahyu”, begitu kurang lebih pernyataan beliau. Dalam islam, baik itu aqidah, fiqih, muamalah semua berdasarkan wahyu. Nama Agama, diambil dari wahyu. Nama Tuhan diambil dari wahyu. Nama kitab suci juga diambil dari wahyu. Semua ajaran dan tata cara ibadah semua dari wahyu. Karena itu ada kejelasan dalam islam. Islam bisa dengan jelas mengatakan mana yang sesat dan mana yang lurus, karena memiliki tolok ukur yang jelas, yaitu wahyu.

      Beliau kemudian membandingkan dengan agama lain, yang untuk nama Tuhan saja ada yang berbeda. Tata cara ibadah berbeda. dsb.

      Dengan mempelajari itu semua, tampaklah kebenaran islam dari setiap agama, ataupun setiap kepercayaan dan pemikiran yang ada. Dan lebih dari itu, kebenaran ini telah teruji dengan melewati berbagai peradaban dan tetap tidak mengalami perubahan ajaran maupun tata cara peribadatan.

      Segala puji bagi Allah SWT yang telah menjaga itu semua sampai kepada kita.

  3. Ateis = tidak percaya tuhan, lalu bagaimana bisa menuhankan sains?
    Kalau menuhankan sains bukan ateis dong namanya :)……………..
    kalimat diatas tanpa dijawab/disanggahpun para atheis sudah terjebak dengan kelogisannya sendiri , pada awalnya mereka mengagungkan klaim perlu bukti, padahal sains butuh bukti untuk bisa diklaim, lalu berkata tidak menuhankan sains, ini berarti dari yang semula tidak percaya tuhan, kemudian menjadi tidak percaya sains…pada akhirnya mereka tidak percaya pada apapun karena mereka tidak percaya pada logika mereka sendiri

    • Ateis = tidak percaya tuhan, lalu bagaimana bisa menuhankan sains?
      Ga nyambung… namanya saja Ateis, kenapa ada kalimat “menuhankan”

      • Menuhankan disini berarti percaya, artinya percaya kepada tuhan atau percaya kepada ilmiah. Saya tidak bermaksud bertarung di kepercayaan kepada tuhan atau kepercayaan di ilmiah saya hanya mengungkapkan maksud dari kata menuhankan.

  4. Atheis menuhankan sains bukan kata-kata atheis sendiri, akan tetapi lebih sering kata-kata theis. Alangkah indahnya sikap kritis teman-teman semua terhadap atheis diajukan juga kepada agama teman-teman. Pasti Indonesia akan maju. Kenapa standar yang tinggi diberikan ke atheis sedangkan ke sesama theis tidak ? Sains butuh bukti, jika ada bukti baru maka secara gentle sains akan mengaku salah, semoga suatu saat agama bisa seperti itu.

    • benar kata Tua, karena sains sendiri masih terus berkembang dan berkembang serta kebenarannya masih perlu pembuktian yang memakan waktu jangka panjang.. ketika sebuah teori itu runtuh ya para saintis juga dengan sendirinya pasti akan menyanggah dan menganggap salah teori semula.. lalu mencari lagi teori baru begitu seterusnya,, intinya mencari terus jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada.. menurut saya itu semangat dari seorang ateis.. lagipula yang ingin ditekankan pada artikel ini adalah bahwa ateis tidak menuhankan sains.. ateis tidak menuhankan siapa siapa.. dan opini anda (risnan) menjadi dengan sendirinya dibenarkan oleh anda sendiri bahwa ateis tidak percaya pada apapun..

  5. Salam kenal bro n sist Ateis Indonesia? gw dimas, gw seorang theis. boleh gw berteman dengan kalian? tapi gw tetep theis, ngga masalah kan bro?
    Jujur gw ngga sengaja nemu web kalian, setelah gw baca dan coba gw fahami dari tadi siang, ternyata kalian ini sebenarnya orang orang yang penuh logika yah? beda banget sama yang gw denger tentang kalian selama ini. kalian juga humanis, humoris, dan romantis hehe..
    astaga kolup, tadi mau commen apa ya?
    oh iya ini gw mau ngasih apa yah? sebenernya si berharap banget bisa sharing dengan temen temen Ateis Indonesia ..
    itu pun kalo temen temen ngga keberatan hehe ..

    Okey, this is it ..

    kalian pernah dengar nasihat logis ini ngga “Janganlah engkau seperti lilin, contohlah matahari” ? Nasihat itu folosofis. Lilin berjasa pada semua yang disekitarnya dengan memberikan cahaya, tetapi pengorbanannya sangat besar. Dirinya habis terbakar. Lain halnya dengan matahari yang memberi cahaya kepada alam sekitarnya, tetapi dirinya tidak habis terbakar seperti lilin. Mungkin sampe disini aja sebenernya kalian pasti udah langsung connect ya? *seruput kopi dulu biar sharing nya keliatan nyantai ya sob ..

    baiklah kita sudah meloncat dari cakrawala nasihat ke cakrawala filosofis. Sekarang kita lanjutkan loncatan itu ke cakrawala ilmu eksakta dengan mencoba menjawab pertanyaan ini: Betulkah matahari itu tidak akan habis terbakar? Betulkah matahari merupakan sumber energi yang tak habis-habisnya?

    Pertanyaan-pertanyan tersebut sudah sejak lama dicari jawabannya. Tapi sebenarnya ada dua hal yang menyebabkan pertanyaan itu sulit dijawab. Pertama, matahari letaknya di alam atas, di makrokosmos. Tidak dapat dijangkau secara langsung oleh instrumen laboratorium. Matahari hanya dapat dijangkau oleh instrumen secara tidak langsung, yaitu dengan teropong. Data yang secara maksimal dapat diperoleh dari pengukuran secara tidak langsung suhu matahari: sekitar 6250 derajat C pada permukaannya dan 20-juta derajat C pada bagian dalamnya. Kedua, andaikata instrumen itu dapat menjangkau matahari secara langsung, maka tidak akan ada material yang dapat bertahan dari suhu yang setinggi itu. bukankah demikian?

    Lalu bagaimana akal untuk dapat mengetahui seluk-beluk matahari sehingga dapat menjawab pertanyaan yang dikemukakan di atas itu?

    thanks🙂

    • gimana para ilmuwan paham tentang seluk beluk matahari dan lika likunya sebenernya simple aja kok bro, pernah diajarin gak di fisika SMA cara mengukur kedalaman laut , cara mengukur kedalaman gua, cara memproyeksikan mapping sebuah gua? kalo mau dibahasakan lebih simple cara ilmuwan mengukur diamater matahari , massa matahari, dan kandungan matahari ya hampir sama kok dengan yang mereka lakukan pada bumi.. yakni menggunakan gelombang suara atau kita kenal dengan persamaan s=v.t atau v=s/t (mungkin ada persamaan lain saya kurang paham tapi biasanya gelombang suara yang digunakan untuk mapping menggunakan persamaan tersebut), pada suhu dan kondisi cuaca apapun suara dengan kapasitas Hz dan frekuensi tertentu gak bakal terpengaruh dan bisa menjadi salah satu alat atau mediasi (saya sebut salah satu karena kelak entah kapan pasti akan ditemukan sebuah zat yang bisa bertahan dengan suhu panas luar biasa ) yang bisa digunakan untuk memproyeksikan keadaan fisik matahari

      “interior Matahari tidak bisa dilihat secara langsung dan Matahari sendiri tidak dapat ditembus radiasi elektromagnetik. Mengikuti seismologi yang memakai gelombang gempa untuk mengungkap struktur terdalam Bumi, disiplin helioseismologi memakai gelombang tekanan (suara infrasonik) yang melintasi interior Matahari untuk mengukur dan menggambar struktur terdalam Matahari.[37] Model komputer Matahari juga dimanfaatkan sebagai alat bantu teoretis untuk menyelidiki lapisan-lapisan terdalamnya” http://id.wikipedia.org/wiki/Matahari

      untuk teknisnya seperti apa mungkin bisa ditanyakan pada bro bro admin ABAM🙂

      • untuk tambahan aja matahari kelak akan habis karena yang terbakar dari matahari adalah helium.. seperti yang sudah dijelaskan teori bigbang sebelumnya matahari sama sperti bintang kelak akan meledak dan mati analoginya mgkin sama seperti balon yang diisi helium kemudian dibakar…

        mungkin selama ini kita merasa matahari kok nggak abis abis ya nyalaa truuss… karena perbandingan hidup kita dibumi sama perbandingan matahari mulai dari terbentuk sampai menjadi matahari sekarang udh berbeda jauh, matahari udah milyaran tahun sedangkan kita hanya puluhan ratusan tahun, makanya keburu kita udah mati tapi matahari masih ada aja, itu perasaan realtive yang kita alami.. coba kita hidup di jaman matahari akan habis habisnya ya pasti kita akan bilang matahari umurnya pendek banget.. makanya sayangi bumi kita dan mataharinya karena kita akan tinggal dimana lagi klo gak bumi.. mgkin berapa ribu tahun kedepan manusia udah pindah ke planet lain, tpi kita manusia yang sekrang mau ngapain kalo ngga jaga bumi sebisanya..🙂

  6. Admin ABAM … saya pernah menulis dalam komen suatu artikel apa itu ya judulnya… “pokoknya terkait roh….” bahwa science itu selalu lambat memahami sesuatu. bagaimana menurutmu?
    induktifitas memang selalu begitu sifatnya… terlambat… dan selalu terlambat.

    Bahkan mungkin kelompok yang memperkerjakan argumen-argumen science termasuk sebuah tindakan ketololan yang termasuk kategori “kelompok bodoh (terlambat paham) tapi tak tahu kalu dia itu terlambat. sementara anda masih berdiskusi tentang dan klaim bagusnya bukti-bukti panca indera, atau bagusnya akal, banyak bola mata ketika di Indonesia sana nampak orang berjalan di atas air dengan cara mempekerjakan iman.

    Dia ndak perlu masuk universitas paling bonafit di Indonesia untuk mempelajari hal itu.
    Atau, melalui suka duka pengalaman berpuluh tahun, atau bahkan pengalaman… you name it la… 100, 200, 300 tahun agar dapat bisa berjalan di atas air.
    Atau mungkin belajar filsafat-filsafat “sampah” yang ditulis bagus-bagus, indah menurut gramatik, revolusioner di zamannya, pokoknya memenuhi mimpi-mimpimu anda la.

    Dia bodoh pokoknya kalau soal logika… dia hanya yakin saja. Tapi, kenapa pula dia dapat berjalan di atas air? bahkan produk-produk laborat pun tak dapat buat semacam itu lho.
    Jadi tunggu kebenaran yang u ideal-idealkan sampai kapan?
    Lalu u mudah saja bilang dan respon… “saya tolak pengakuan itu, sebab itu tiada.sebab yang begitu saya tak nampak kecuali dalam film.”
    Mbok ya keluar dari kamar, jangan baca buku terus saja…,
    coba cari dan lihat secara dekat lagi…, coba u datang atau cari sumber itu. Jangan-jangan prosedur kamu belum lengkap kali… heheh emangnya penelitian trial error laborat … dengan alat-alat konyol itu…
    jika belum jumpa, kenapa saya pun jumpa ?

  7. Jujur saya suka dengan orang kritis seperti anda… tapi sedikit koreksi dari saya Bahwa justru perjalanan keimanan seseorang memerlukan pembuktian.. mungkin anda dari background agama yang berbeda sebelum memutuskan untuk menjadi Atheis.. akan tetapi didalam islam keimanan itu terbagi dari 3 tingkatan: 1. Yaqin 2. Ainul Yaqin 3. Haqqul Yaqin..(untuk lebih jelasnya anda bisa googling sendiri !),, dan didalam Kitab Al Quran anda bisa membaca Surat Ibrahim.. disitu terdapat kisah perjalanan Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan.. dan dalam pencarian tersebut Beliau mencari pembuktian2 hingga bertemu dengan yang sebenarNya (Makrifat)… dan apabila anda mempelajari sejarah2 tentang agama2 didunia… terlebih agama2 samawi, dimana agama itu dibentuk melalui logika2 akal yang revolusioner pada masa nya untuk mengajarkan dan menuntun manusia kejalan yang benar dan merubah kebiasaan2 buruk adat istiadat buruk pada masanya dengan menggunakan logika.. sebagaimana sejarah telah mencatat jauh sebelum Aristoteles membuat buku Organon berisi tentang dasar2 logika berpikir,, Sidharta Gautama pendiri agama Budha telah mengajarkan cara2 berpikir secara logika dalam menjalani kehidupan… salam kenal ! sekian terima kasih…

  8. Sejak kapan sains identik dengan ateis? Bukannya sains itu bebas nilai? Kenapa mempertentangkan sains dengan agama? Apakah sains sudah bisa membuktikan Tuhan itu memang tidak ada? Apakah sains sudah bisa membuktikan tidak ada kehidupan setelah kematian? Apakah sains sudah bisa membuktikan surga dan neraka itu tidak ada? Kalo belum bisa dibuktikan oleh sains lalu apakah itu berarti sudah pasti tidak ada?

    • -mungkin sebaliknya, atheis lebih identik dengan sains.
      – –
      -karena sains menjelaskan kekosongan-kekosongan yang ditinggalkan agama.
      -tidak, begitu juga sebaliknya dengan anda, bisakah anda membuktikannya keberadaannya ?
      -tidak, begitu juga sebaliknya dengan anda, bisakah anda membuktikannya keberadaannya ?
      -tidak, begitu juga sebaliknya dengan anda, bisakah anda membuktikannya keberadaannya ?
      -selain sains, apabila menggunakan pemikiran sendiri, konsep kehidupan setelah kematian, surga dan neraka, dan ketuhanan, hanyalah pelarian manusia dari takutnya akan kematian dan bahwa kehidupan ini adalah terbatas.

      • [[-tidak, begitu juga sebaliknya dengan anda, bisakah anda membuktikannya keberadaannya ? ]]
        Dalam konteks keberadaan tuhan tentu saja hal tsb bisa dibuktikan. Lihatlah sekeliling anda, adakah sesuatu yang bisa muncul tanpa ada asal/sebabnya? TIDAK ADA, inilah bukti adanya sang primary causa (Tuhan). Lalu lihatlah lagi, adakah makhluk hidup yang bisa muncul dari benda mati? TIDAK ADA, inilah bukti bawah sang primary causa tidak hanya ada tapi juga hidup dan berkuasa atas hukum alam. (untuk penjelasan lebih detailnya baca comment saya di https://andabertanyaateismenjawab.wordpress.com/2013/08/11/apa-bukti-bahwa-tuhan-tidak-ada/comment-page-1)

      • Jadi, sains belum bisa membuktikannya, iya kan? Lalu bagaimana anda bisa yakin bahwa itu hanyalah pelarian manusia dari takutnya akan kematian dan bahwa kehidupan ini terbatas? Nah, yang seperti ini termasuk iman juga namanya. Iman bahwa Tuhan itu tidak ada. Iman bahwa kehidupan setelah kematian itu tidak ada. Iman bahwa surga dan neraka itu tidak ada. Ternyata ateis itu sama saja dengan teis, sama-sama beriman kepada sesuatu yang belum bisa dibuktikan kebenarannya.

      • @ffr saya secara personal percaya akan argumen Thomas Aquinas, tetapi dari pertanyaan diatas pejalan kaki diatas saya mendeduksi bahwa dia mengimplikasikan tentang abrahamic god. strawmen dikit sry😛

        @pejalan kaki

        – ” Jadi, sains belum bisa membuktikannya, iya kan? ” iya.

        – ” Lalu bagaimana anda bisa yakin bahwa itu hanyalah pelarian manusia dari takutnya akan kematian dan bahwa kehidupan ini terbatas? ” setelah berdialog dan bertukar pikiran dengan sesama, membaca buku dan artikel tentang theologi dan antropologi. saya berkesimpulan bahwa tuhan/prima causa itu ada tetapi tidak pada agama.

        – ” Nah, yang seperti ini termasuk iman juga namanya. Iman bahwa Tuhan itu tidak ada. Iman bahwa kehidupan setelah kematian itu tidak ada. Iman bahwa surga dan neraka itu tidak ada. Ternyata ateis itu sama saja dengan teis, sama-sama beriman kepada sesuatu yang belum bisa dibuktikan kebenarannya.” kalau itu adalah jawaban yang anda ingin dengarkan silahkan saja🙂

      • @Dbeliever
        “saya berkesimpulan bahwa tuhan/prima causa itu ada tetapi tidak pada agama”
        Oh berarti anda sudah percaya tuhan ya. Oke deh kl begitu saya ingin tanya, apakah anda percaya bahwa tuhan/primary cause itu harus tunggal?

      • @Dbeliever

        Maksud saya apakah anda percaya bahwa primary cause yang anda yakini ada itu haruslah merupakan suatu entitas yang tunggal?

    • Saya setuju, seakan akan para atheis ini menganggap bahwa para theis tidak mempelajari sains. Dari banyak tulisan para atheis mereka menganggap bahwa mereka inilah pelaku sains. Tidak usah jauh2, lihat saja bapak sains kita bj habibie sangat taat beribadah.

  9. menurut saya,ada kejadian baru sains mulai meneliti dan mengeluarkan pendapat;
    contohnya;duluh orang tidak mengetahui mengapa sampai ada hujan,tetapi krna sains menilitinya,maka timbulah pandangan tentang bagaimana sampai bisa terjadi hujan.

  10. kalo orang2 atheis ingin membuktikan keberadaan Tuhan, malaikat, alam kubur, surga, neraka, teknisnya gampang sekali: bunuhlah diri Anda sendiri.

    itu cara paling ilmiah dan gampang.

    kalau ingin agak moderat tapi agak lama: ya tunggulah kematian Anda.

    • Sepertinya saya pernah melihat statement sejenis ini lalu ada replynya:
      Analogi ini seperti ada yang menawarkan uang 1 milyar tapi syaratnya anda harus mati dulu.

      Kalo diancam seperti itu, walaupun uangnya tidak terbatas juga siapa yang bakal mau? Lupakan saja. Saya jadi penasaran apa ini jawaban staples yang diajarkan agama untuk membalas para atheis.

  11. Ateis itu sbenarnya para pencari Tuhan yg paling semangat,y bagus lah, semoga cepet ketemu bukti Tuhanny dan buat mnusia lebih yakin akan keberadaan Tuhan,dijamin psti keburu mati,mending segera tobat n anut yg udah ada,krena dulu jg asalnya dari ateis semua,jd ngapain klian nyari” lg bukti,buang” wktu,keburu mati nyesel lho,hidup cuma sekali,mati pun sekali

  12. Berfikir dengan menggunakan akal fikiran untuk mencari bukti rasionalnya,itulah jalan keluar terbaiknya, berfikir empirik melulu kekita kita sudah masuk ke wilayah metafisik akan nampak konyol.dan berfikir rasional tentang Tuhan itu harus dengan melihat fakta di dunia nyata agar tidak berspekulasi,contoh : semua wujud benda teknologi yang terdesain itu mustahil bisa tercipta secara kebetulan,sehingga mengatakan bahwa wujud yang terdesain itu bisa berasal dari kebetulan-bisa terwujud tanpa perlu sang pendesain tentu saja hal itu akan merupakan sebuah sesat fikir berlogika.itu hanya baru argumentasi yang sederhana saja dulu tetapi tetap bersifat mendasar

    [Edit by admin: Remove link]

  13. Menurut saya agama dan sains dua-duanya adalah upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia tentang kehidupan dan alam sekitarnya dengan sudut pandang yang berbeda. Tapi yang membuat seseorang dapat memilih jalan mana yang dia tempuh adalah karena dia manusia. Dan adalah sebuah fakta bahwa manusia itu berbeda-beda. Yang penting jalan manapun yang anda pilih janganlah membuat anda kehilangan kemanusiaan anda.

  14. oooooh….

    coba ada mesin waktu…bakal saya bunuhin tuh penemu2 jenius…
    sehingga kini tidak ada internet, tidak ada tipi, tidak ada pesawat, tidak ada geologist…dll…
    gara2 mereka yang munculin ilmu pengetahuan…sekarang ada atheis.
    coba ilmu pengetahuan/sains tidak pernah ada di muka bumi…maka tidak akan ada atheis.

    bener ga?..hahhahahahahaha

    lebih ke pokok lagi….ilmu pengetahuan itu dateng nya dari ORANG2 CERDAS…
    ORANG2 CERDAS itu manusia…dasar berengsek neh yang nyipatin manusia.
    kenapa manusia di ciptain…coba kagak…kan gak mungkin ada MANUSIA2 CERDAS
    yang mengempakan sains…siapa yang NYIPTAIN MANUSIA??..gue abisin..dasar biang kerok

    kenapa ga diciptain dimuka bumi ini hewan semua aja…pake ada manusia segala..haduuuh

    bener ga?…hahahahahaha…

    Saya Muslim…dalam mengamalkan hidup…kami harus menjalani kehidupan ini dengan 2 sisi.
    Sisi Keyakinan ( mentaati aturan dan menjauhi larangan-NYA )..serta kehidupan dunia dalam pencarian nafkah yg ditopang dengan aturan2 manusia, ilmpu pengetahuan..pendidikan ini dan itu.

    Mempelajari dan mengamalkan ilmu keyakinan kepada Tuhan sekaligus bersosialisasi, mencari nafkah…bukanlah hal yang mudah. Tapi…sebagian dari kami ( bukan saya )..ada yang sukses. ada yang pintar…ada yang kaya…macem2 pokoknya.

    Dan anda sebagai Atheis…harusnya hidupnya jauh lebih maju daripada kami2 yang berAGAMA. karena otak dan pikiran anda hanya tertuju pada 1 bidang kehidupan saja…yaitu kehidupan dunia. anda tidak perlu takut berbuat jahat karena tidak akan ada yang memasukan anda kedalam neraka..benar?. Anda tidak perlu memikirkan persoalan Agama…anda bisa fokus ke sains, pencarian nafkah…

    Maka…berkaryalah kalian…kami umat beragama tidak perlu repot2 bikin penemuan baru dibidang sains. kami cukup beli saja produknya sama kalian. Ini lebih baik…kami bisa lebih fokus kepada Agama kami…kami perbaiki Keyaqinan kami…urusan temuan2 dan ilmu sejarah..kami pasrahkan kepada kalian para Atheis. OKE…

    bener ga? hahahahahaha

    Lakum dinukum waliadin..untukku agamaku untukmu agamamu..so..we cant force you to believe GOD…it is your choice..your heart is yours..not mine, so i cant change your heart right?.

    • Ya memang you can’t change our heart. Tapi kenapa nadanya ada kepahitan ya? Kalaupun konsep neraka/surgawi ada, toh situ masuk kita tidak kan? Simpel saja.

      • Manusia bernafas dengan oksigen, semua orang percaya, tapi apakah bisa di buktikan bahwa oksigen itu ada,, kalau bisa di buktikan apa rasanya, apa warnanya dan bagaimana bentuknya..
        Begitupun tuhan, kita hanya perlu meyakini bahwa DIA. Segala sesuatu tidak mesti harus di buktikan. Menurut islam di atas langit masih ada langit,, apakah sains bisa membuktikan coba tembuslah langit di antariksa sana apakah mampu? tentu tidak. Jadi ilmu dan pengetahuan manusia itu hanya secuil.

  15. PROVING THE EXISTENCE OF ALLAH (SWT) TO AN ATHEIST by Dr. Zakir Naik

    CONGRATULATING AN ATHEIST

    Normally, when I meet an atheist, the first thing I like to do is to congratulate him and say, ” My special congratulations to you”, because most of the people who believe in God are doing blind belief – he is a Christian, because his father is a Christian; he is a Hindu, because his father is a Hindu; the majority of the people in the world are blindly following the religion of their fathers. An atheist, on the other hand, even though he may belong to a religious family, uses his intellect to deny the existence of God; what ever concept or qualities of God he may have learnt in his religion may not seem to be logical to him.

    My Muslim brothers may question me, “Zakir, why are you congratulating an atheist?” The reason that I am congratulating an atheist is because he agrees with the first part of the Shahada i.e. the Islamic Creed, ‘La ilaaha’ – meaning ‘there is no God’.

    So half my job is already done; now the only part left is ‘il lallah’ i.e. ‘BUT ALLAH’ which I shall do Insha Allah. With others (who are not atheists) I have to first remove from their minds the wrong concept of God they may have and then put the correct concept of one true God.

    LOGICAL CONCEPT OF GOD

    My first question to the atheist will be: “What is the definition of God?” For a person to say there is no God, he should know what is the meaning of God. If I hold a book and say that ‘this is a pen’, for the opposite person to say, ‘it is not a pen’, he should know what is the definition of a pen, even if he does not know nor is able to recognise or identify the object I am holding in my hand. For him to say this is not a pen, he should at least know what a pen means. Similarly for an atheist to say ‘there is no God’, he should at least know the concept of God. His concept of God would be derived from the surroundings in which he lives. The god that a large number of people worship has got human qualities – therefore he does not believe in such a god. Similarly a Muslim too does not and should not believe in such false gods.

    If a non-Muslim believes that Islam is a merciless religion with something to do with terrorism; a religion which does not give rights to women; a religion which contradicts science; in his limited sense that non-Muslim is correct to reject such Islam. The problem is he has a wrong picture of Islam. Even I reject such a false picture of Islam, but at the same time, it becomes my duty as a Muslim to present the correct picture of Islam to that non-Muslim i.e. Islam is a merciful religion, it gives equal rights to the women, it is not incompatible with logic, reason and science; if I present the correct facts about Islam, that non-Muslim may Inshallah accept Islam.

    Similarly the atheist rejects the false gods and the duty of every Muslim is to present the correct concept of God which he shall Insha Allah not refuse.

    (You may refer to my article, ‘Concept of God in Islam’, for more details)

    QUR’AN AND MODERN SCIENCE

    The methods of proving the existence of God with usage of the material provided in the ‘Concept of God in Islam’ to an atheist may satisfy some but not all.

    Many atheists demand a scientific proof for the existence of God. I agree that today is the age of science and technology. Let us use scientific knowledge to kill two birds with one stone, i.e. to prove the existence of God and simultaneously prove that the Qur’an is a revelation of God.

    If a new object or a machine, which no one in the world has ever seen or heard of before, is shown to an atheist or any person and then a question is asked, ” Who is the first person who will be able to provide details of the mechanism of this unknown object? After little bit of thinking, he will reply, ‘the creator of that object.’ Some may say ‘the producer’ while others may say ‘the manufacturer.’ What ever answer the person gives, keep it in your mind, the answer will always be either the creator, the producer, the manufacturer or some what of the same meaning, i.e. the person who has made it or created it. Don’t grapple with words, whatever answer he gives, the meaning will be same, therefore accept it.

    SCIENTIFIC FACTS MENTIONED IN THE QUR’AN: for details on this subject please refer to my book, ‘THE QUR’AN AND MODERN SCIENCE – COMPATIBLE OR INCOMPATIBLE?

    THEORY OF PROBABILITY

    In mathematics there is a theory known as ‘Theory of Probability’. If you have two options, out of which one is right, and one is wrong, the chances that you will chose the right one is half, i.e. one out of the two will be correct. You have 50% chances of being correct. Similarly if you toss a coin the chances that your guess will be correct is 50% (1 out of 2) i.e. 1/2. If you toss a coin the second time, the chances that you will be correct in the second toss is again 50% i.e. half. But the chances that you will be correct in both the tosses is half multiplied by half (1/2 x 1/2) which is equal to 1/4 i.e. 50% of 50% which is equal to 25%. If you toss a coin the third time, chances that you will be correct all three times is (1/2 x 1/2 x 1/2) that is 1/8 or 50% of 50% of 50% that is 12½%.

    A dice has got six sides. If you throw a dice and guess any number between 1 to 6, the chances that your guess will be correct is 1/6. If you throw the dice the second time, the chances that your guess will be correct in both the throws is (1/6 x 1/6) which is equal to 1/36. If you throw the dice the third time, the chances that all your three guesses are correct is (1/6 x 1/6 x 1/6) is equal to 1/216 that is less than 0.5 %.

    Let us apply this theory of probability to the Qur’an, and assume that a person has guessed all the information that is mentioned in the Qur’an which was unknown at that time. Let us discuss the probability of all the guesses being simultaneously correct.

    At the time when the Qur’an was revealed, people thought the world was flat, there are several other options for the shape of the earth. It could be triangular, it could be quadrangular, pentagonal, hexagonal, heptagonal, octagonal, spherical, etc. Lets assume there are about 30 different options for the shape of the earth. The Qur’an rightly says it is spherical, if it was a guess the chances of the guess being correct is 1/30.

    The light of the moon can be its own light or a reflected light. The Qur’an rightly says it is a reflected light. If it is a guess, the chances that it will be correct is 1/2 and the probability that both the guesses i.e the earth is spherical and the light of the moon is reflected light is 1/30 x 1/2 = 1/60.

    Further, the Qur’an also mentions every living thing is made of water. Every living thing can be made up of either wood, stone, copper, aluminum, steel, silver, gold, oxygen, nitrogen, hydrogen, oil, water, cement, concrete, etc. The options are say about 10,000. The Qur’an rightly says that everything is made up of water. If it is a guess, the chances that it will be correct is 1/10,000 and the probability of all the three guesses i.e. the earth is spherical, light of moon is reflected light and everything is created from water being correct is 1/30 x 1/2 x 1/10,000 = 1/60,000 which is equal to about .0017%.

    The Qur’an speaks about hundreds of things that were not known to men at the time of its revelation. Only in three options the result is .0017%. I leave it upto you, to work out the probability if all the hundreds of the unknown facts were guesses, the chances of all of them being correct guesses simultaneously and there being not a single wrong guess. It is beyond human capacity to make all correct guesses without a single mistake, which itself is sufficient to prove to a logical person that the origin of the Qur’an is Divine.

    CREATOR IS THE AUTHOR OF THE QUR’AN

    The only logical answer to the question as to who could have mentioned all these scientific facts 1400 years ago before they were discovered, is exactly the same answer initially given by the atheist or any person, to the question who will be the first person who will be able to tell the mechanism of the unknown object. It is the ‘CREATOR’, the producer, the Manufacturer of the whole universe and its contents. In the English language He is ‘God’, or more appropriate in the Arabic language, ‘ALLAH’.

    QUR’AN IS A BOOK OF SIGNS AND NOT SCIENCE

    Let me remind you that the Qur’an is not a book of Science, ‘S-C-I-E-N-C-E’ but a book of Signs ‘S-I-G-N-S’ i.e. a book of ayaats. The Qur’an contains more than 6,000 ayaats, i.e. ‘signs’, out of which more than a thousand speak about Science. I am not trying to prove that the Qur’an is the word of God using scientific knowledge as a yard stick because any yardstick is supposed to be more superior than what is being checked or verified. For us Muslims the Qur’an is the Furqan i.e. criteria to judge right from wrong and the ultimate yardstick which is more superior to scientific knowledge.

    But for an educated man who is an atheist, scientific knowledge is the ultimate test which he believes in. We do know that science many a times takes ‘U’ turns, therefore I have restricted the examples only to scientific facts which have sufficient proof and evidence and not scientific theories based on assumptions. Using the ultimate yardstick of the atheist, I am trying to prove to him that the Qur’an is the word of God and it contains the scientific knowledge which is his yardstick which was discovered recently, while the Qur’an was revealed 1400 year ago. At the end of the discussion, we both come to the same conclusion that God though superior to science, is not incompatible with it.

    SCIENCE IS ELIMINATING MODELS OF GOD BUT NOT GOD

    Francis Bacon, the famous philosopher, has rightly said that a little knowledge of science makes man an atheist, but an in-depth study of science makes him a believer in God. Scientists today are eliminating models of God, but they are not eliminating God. If you translate this into Arabic, it is La illaha illal la, There is no god, (god with a small ‘g’ that is fake god) but God (with a capital ‘G’).

    Surah Fussilat:

    “Soon We will show them our signs in the (farthest) regions (of the earth), and in their own souls, until it becomes manifest to them that this is the Truth. Is it not enough that thy Lord doth witness all things?”

    [Al-Quran 41:53]

  16. Orang beragama adalah orang yang beruntung…,jika setelah kematian ternyata tidak ada Tuhan maka orang yang beragama tidak ada ruginya setidaknya dia telah berbuat baik di dunia.tetapi jika setelah kematian ada Tuhan bagi yang tidak beragama…..,anda tau sendiri jawabanya…,

  17. Saya theis, dan saya suka blog ini, sekarang intinya tak perlu melihat latar belakang seseorang yang penting saling mengharagai, atheis menghargai theis dan saya yang theis pun menghargai kawan2 yang atheis
    Ouh iya kenapa saya memilih brrgama karena saya merasa beragama adalah kebutuhan dan saya percaya ada Dzat yang memulai semua ini
    Kedua, saya melihat sosok Muhammaad adalah sosok paling jujur, dalam islam ada namanya sanad, misal dari A mendengar dari B mendengar dari C mendengar bahwa Muhammaad berkata bla bla bla
    Itu yang tidak dijumpai di agama lain
    hadits ada levelnya, ada level bahwa hadist A 99% benar2 dikatakan oleh Muhammad
    Hadits B 60% dikatakan oleh Muhammad
    Dan bahkan ada hadits palsu yang 0% perkataan Muhammaad

    Ketiga,dalam Al-Quran, menurut Dr Zakir Naik, 80% ayat al Quran adalah 100% benar
    Dan 20% masih ambigu,tidak benar ada yang bisa membuktikan kebenarannya dan tidak ada pula yang bisa membuktikan bahwa itu salah
    Jadi jika yang 80% tidak ada 1% pun yang salah maka saya percaya 20% yang ambigu adalah benar

    Ketiga,dalam sains sejauh ini belum ada yang bertolak belakang dengan apa yang dikatakan Quran
    Bahkan Quraan sudah berkata lebih dulu dibanding sebuah teori baru
    Misal teori big bang

    Terimakasih senang membaca blog ini

  18. Tidak mungkin lampu bisa menyala jika tidak ada sumber listriknya. Tidak mungkin komputer ada jika tidak ada yg membuatnya. Pelajari baik2 tentang big bang, Dialah Allah yang menciptakannya. Buktinya?, yaitu alam semesta itu sendiri, sudah saya bilang mustahil komputer ada jika tidak ada yg membuatnya. Al qur’an banyak menceritakan tentang penciptaan seperti Allah menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan (big bang), bahwa dahulu langit dan bumi adalah sesuatu yang padu lalu Allah memisahkannya, bahwa langit (alam semesta) itu mengembang, bahwa besi dan air dari langit (luar bumi) lalu Allah menurunkannya (melalui meteor). Manusia saja masih belum bisa mengetahui darimana asalnya dark matter tapi sudah berani berkata bahwa tuhan itu tidak ada. Dark matter itu ada di sekitar kita tapi terlalu besar untuk bisa diteliti, dark matter itu adalah yang menggerakan galaxy. Dark matter saja tidak bisa diteliti wujud dan asalnya tapi manusia sudah sombong ingin melihat tuhan yg notabennya lebih besar lagi dari alam semesta itu sendiri. Lalu coba kamu pelajari atom, bagaimana mungkin sesuatu yang mati seperti tanah dan batu itu bisa menjadi hidup itu hanyalah atas ijin Allah.

  19. Dongeng juga terkadang berasal dari sejarah…….hanya saja sejarah itu hanya tinggal cerita tanpa bukti…sehingga menjadi dongeng……Manusia dari Adam atau Manusia dari Kera itu juga di bilang dongeng….walau secara ilmu pengetahuan di temukan fosil2 manusia purba jutaan tahun….tetapi ada juga fosil2 manusia modern jutaan tahun yang lalu……membingungkan……masing2 ilmuwan mengklaim penemuannya..yang semuanya itu sudah menjadi dongeng…..sama seperti dongeng malinkundang di kutuk menjadi batu…..secara bukti ada buktinya….tapi apa bener itu batu dulunya manusia..???semua hanya berawal dari kisah cerita dari mulut ke mulut…generasi ke generasi trus di pertahankan hingga menjadi dongeng untuk tidur…..

    kisah Adam, Nuh, Musa, Luth, bagi ateis adalah dongeng…tapi bagi mereka yang percaya itu benar terjadi….walau secara ilmu science belum terbukti….tapi tidak mungkin ada kisah tanpa ada yang menceritakan dari awal….minimal mengetahui kisah dari keturunan umatnya Musa pada saat itu…..sehingga kisah itu di ceritakan hingga generasi ke generasi……sehingga menjadi seperti dongeng….padahal kisah itu benar ada…..misalkan sama seperti kita menelusuri leluhur kta…..yang akhirnya leluhur kita itu katanya seseorang yang sakti, raja, dan bla..bla….tapi itu semua tidak bisa di buktikan…hanya sebuah cerita….jadi seseorang juga bisa mempercayai sesuatu hal walau tanpa bukti…..jalani saja hidup ini….yang pada akhirnya kita juga akan menjadi sebuah kisah dan dongeng buat generasi kita (manusia) yang akan datang.

  20. @chintya lim : yang nyiptain Tuhan itu tukang gulali.. (gak percaya ? tanya aja ama Galileo Galilei)

    pada kepinteran semua deh, baru belajar filsafat/psikologi 2 semester aja gayanya udah kaya yang ngerti Stephen Hawking, Big bang, Einstein dll.
    Kalo udah tahu cara nurunin rumusnya /persamaan matermatikanya “lubang cacing” boleh deh kita diskusi..

    • Assalamualaikum wr.wb
      Kalau tuhan itu diciptakan oleh tukang gulali lalu siapa yg menciptakan tukang gulali tersebut?
      Anda belum paham atau belum mengerti dengan hal penciptaan bahwa yang menciptakan alam semesta jagad raya kita dan makhluk hidup adalah allah.swt kalau anda bertanya siapa yang menciptakan allah.swt,jawabannya tidak ada yang menciptakan allah karena allah itu tidak beranak dan diperanakan sama halnya dengan angka 1 itu berasal? Sebagaimana angka 2 adalah 1+1 atau 4 adalah karena kita mengetahui bahwa 1 itu adalah bilangan tunggal. Dia bisa mencipta angka lain, tapi dia tidak tercipta dari angka apapun. Artinya, tidak ada kesulitan memahami bahwa Allah itu Zat Maha Tunggal yang Maha mencipta tapi tidak bisa diciptakan. Wassalamualaikum wr.wb

  21. Nah loh….lagi pada browsing tu kyak nya……lebih baik ABAM nih kerja nyata aja, manfaatkan kepintaran anda, manfaatkan untuk sesama manusia, bukan malahan mancing2 masalah sama yang beragama.
    Eh…pada orang Indonesia kan? Jadilah manusia yg berguna untuk bangsa dan negaramu. Tuhan bukan untuk diperdebatkan, gak akan ada ujungnya sampai kiamat. Kalian cuma cari2 pembenaran dengan adu argumen. Gak bakalan NYAMBUNG……tanpa sadar kalian sudah menyombongkan diri dg kepintaran yg kamu miliki. Ke Blinger…… Ilmu yg kalian miliki gak nyambung untuk diperdebatkan!! Nyambungnya itu sama Greg. W Dewantto. Silahkan klo mo berargumen sama beliau…..Orang yang gak percaya Tuhan malahan dikasih ceramah, kitab suci, hadist…malah penghinaan yang kamu dapat. Apa kamu gak sakit hati Tuhan dibegitu2kan? Salam..

  22. Jangan salah tafsir ya….agama itu jalan menuju Keimanan (bukan sebaliknya), orang yang ber IMAN akan menjalankan AGAMA nya dgn baik dan benar, tulus dan Ikhlas…tanpa pamrih surga atau neraka…Jadi klo mau cari Keimanan harus beragama. Mau cari Tuhan harus beragama…..jangan sepotong2 apalagi kalau harus membukti2kan dengan rumus2.
    Kecakapan Jasmani dan Kecakapan Rohani harus dimiliki Manusia. Bukan diperdebatkan…pasti gak bakalan ketemu. Salam.

  23. sebaiknya kita lihat saja kelak, yang benar ateis atau teis🙂
    kalau saya pribadi, saya percaya bahwa Tuhan itu ada. tapi saya tidak dapat membuktikannya, saya hanya sekedar percaya dan menjalani saja perintah Tuhan melalui kitab suci agama saya. karena di agama saya, menjadi murtat adalah kesalahan besar. jadi, Tuhan itu ada atau tidak, saya dituntut untuk percaya bahwa Dia ada🙂

    saya percaya,dari mana asal saya mendapat makanan adalah dari Tuhan yang pada kenyataannya adalah usaha orang tua saya mencari uang.

  24. bagi yang mencari Tuhan. liat penjelasannya dr. zakir di youtube dulu, beliau kalau menjelaskan tuhan manteb banget. pinter banget orangnya, logikanya main banget :))

  25. Atheis = Tidak percaya tuhan

    Sedangkan atheis mengikuti sains/sebab nyata yang diterjemahkan akal sebagai hakikat.

    tahukah anda? bahwa agama islam mendefinisikan Tuhan itu adalah “apa yang diikuti dan dicintai?
    bahkan di dalam Al-qur’an ada ayat “afa ra aita man ittakhadza ilaahahu hawahu” artinya “apakah kamu tidak melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan”
    Bagaimana mungkin anda berani memutuskan menjadi atheis? Definisi Tuhan saja belum anda ketahui. Atheis hanyalah suatu kumpulan manusia yang merasa sangat kritis. padahal hanyalah orang yang mempelajari sebab.
    Sedangkan di Al-Qur’an ada ayat “Wa ja’alnaa likulli syaiin sababa”
    artinya “Dan kami jadikan segala sesuatu bersebab”

  26. Salut sama komentar komentarnya yang berusaha menyadrkan saudara kita buat percaya bahwa Allah itu ada.
    Semoga yang ngak percaya akan adanya Allah bisa menjadi percaya
    jadi yang ngak percaya teruslah semangat buat mencari kebenaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s