Jika nanti ternyata setelah mati Tuhan benar-benar ada, bukankah ateis rugi?

Ini adalah pertanyaan yang sering saya jumpai setelah menjadi ateis. Bagaimana kalau nanti setelah mati kami berhadapan dengan Tuhan? Siapkah kami dengan konsekuensi masuk neraka? Bukankah lebih baik mengambil posisi yang aman, yaitu percaya Tuhan dan beragama sehingga pasti terhindar dari neraka?

Tunggu dulu. Tahukah Anda bahwa ada lebih dari 2700 konsep tuhan dan dewa-dewi yang terekam dalam sejarah manusia? Ada setidaknya ratusan agama dan aliran kepercayaan, banyak di antaranya bahkan tidak mengajarkan konsep surga dan neraka. Memang sekarang hanya ada beberapa agama besar di dunia, tetapi beberapa sistem kepercayaan (Yunani dan Mesir kuno, misalnya) bertahan selama ribuan tahun sebelum punah digantikan agama-agama yang populer saat ini. Belum lagi banyak sistem kepercayaan baru yang semakin populer (Scientology, Mormon, Saksi Yehovah, antara lain), dan entah bagaimana masa depan mereka.
Baca lebih lanjut

Iklan

Apa yang terjadi sebelum bigbang?

Jawaban:

Tidak ada istilah “sebelum big bang” karena waktu juga bermula dari
big bang. Yang terbentuk pada saat big bang bukan hanya ruang, tapi
juga waktu.

Bertanya “sebelum big bang” itu seperti bertanya
“Sebelah utara kutub utara ada apa?” Jawabannya tentu tidak ada.
Demikian juga tidak ada waktu
sebelum big bang, karena waktu juga baru ada setelah big bang.

Sunday panggabean

Bacaan terkait:
http://nasascience.nasa.gov/astrophysics/focus-areas/what-powered-the-big-bang/

http://www.big-bang-theory.com/

Tidak percaya Tuhan ada atau percaya bahwa Tuhan tidak ada?

Tidak Percaya vs. Percaya Bahwa Bukan – Perbedaan Antara Ketidakpercayaan dan Penyangkalan

Banyak yang sulit memahami bahwa “tidak percaya X” (tidak percaya adanya tuhan atau dewa-dewi) tidak sama dengan “percaya bukan X” (percaya bahwa tuhan tidak ada). Penempatan dari kata negatif adalah kuncinya: yang pertama berarti tidak memiliki sikap bahwa proposisi X (tuhan atau dewa-dewi ada) adalah benar, yang kedua berarti memiliki sikap bahwa proposisi X (tuhan atau dewa-dewi ada) adalah salah. Perbedaan di sini adalah antara ketidakpercayaan dan penyangkalan: yang pertama adalah ketidakpercayaan dalam arti luas atau sempitnya, sedangkan yang kedua adalah penyangkalan.

Membedakan antara keduanya seharusnya sederhana dan mudah saja, tetapi cukup sulit untuk menerangkan hal ini ketika seseorang tidak langsung mengerti. Yang membuat banyak orang tersandung sepertinya asumsi bahwa kalau dihadapkan dengan proposisi apa saja, pilihan yang ada hanyalah untuk percaya bahwa sesuatu itu benar atau percaya bahwa sesuatu itu salah—sehingga saat dihadapkan dengan pertanyaan apakah tuhan ada, seseorang mesti percaya bahwa: 1. setidaknya satu tuhan ada; 2. percaya bahwa tidak satu pun tuhan ada.

Ini adalah kesalahan. Mungkin benar bahwa kebanyakan proposisi yang terpikirkan adalah proposisi yang kita percayai sebagai benar atau salah, tetapi ada banyak sekali proposisi lain yang tidak masuk ke kategori yang saya sebutkan barusan. Pemikiran berhati-hati tentang beberapa skenario “hypothetical” akan membantu menjelaskan kerumitan ini.

Baca lebih lanjut

Meninggalkan Agama Bukan Berarti Meninggalkan Semua Tradisi dan Nilai Agama

Saya memulai hidup dengan mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah Protestan. Waktu SD Saya beberapa kali ikut kebaktian Khong Hu Cu walaupun Khong Hu Cu belum jadi agama resmi Indonesia. Pada saat SMP, Saya sering mengikuti kebaktian Vihara Buddhis Threavada, tapi gak terlalu rajin. Adek saya jauh lebih rajin, dan dia sering membawa majalah buddhis ke rumah.

Membaca buku-buku Buddhis membuat Saya beranggapan bahwa buddhisme itu lebih rasional daripada agama lain. Sampai kuliah, KTP saya masih Kristen tapi Saya lebih suka untuk mengikut aktivitas Buddhisme di kampus. Semester akhir kuliah, Saya melamar kerja di sebuah yayasan Kristen, kebetulan KTP saya masih Kristen. Karena ada temen yang di sana dan direferensikan, akhirnya Saya bisa diterima bekerja. Lucunya, saya pernah memimpin doa di sana!

Baru setelah waktunya KTP diperpanjang, saya mengganti agama KTP saya menjadi Buddhisme. Menjadi seorang Buddhis, Saya sempat mengimani dogma-dogma Buddhisme seperti karma, rebirth, 31 alam, 7 cakra, dan energi panas kundalini. Saya juga menjalankan aktivitas-aktivitas khas Buddhisme seperti belajar fengshui, ba zi, bahkan mempelajari reiki. Saya bahkan sempat membeli amulet yang bisa membuat aura saya terang berkharisma dan mengikuti workshop berbayar untuk dibukakan auranya! Haha, tapi itulah saya dulu. Itu semua saya lakukan karena saya ingin sukses, dan di saat itu saya percaya bahwa hoki ditentukan dari karma baik.

Namun, yang membuat saya skeptis adalah ketika saya justru mempelajari Buddhisme. Setelah mempelajari meditasi dan energi, saya menjadi skeptis, dan di situlah mulai muncul konflik batin. Dan setelah makin mendalami lagi, ya Olloh, ternyata Buddhisme itu cuma membahas tentang psikologi diri. Saya bisa menerima itu, tapi banyak aspek lain dalam Buddhisme terutama spiritual yang Saya tinggalkan.

Sekarang saya bisa dikatakan sebagai ateis agnostik. Menurut saya, meninggalkan agama bukan berarti meninggalkan semua tradisi dan nilai agama. Menjadi ateis membuat saya lebih skeptis dan menolak ajaran-ajaran dogmatis, tapi saya sadar ada beberapa nilai Buddhisme yang turut menentukan bagaimana saya memandang hidup dan menjalaninya.

– Dono, ateis agnostik.

Mengapa Anda Ateis? (Jawaban boerong hantoe)

Saya dibesarkan di dalam keluarga Katolik yang bisa dibilang sangat taat dalam beragama. Saya dulu sangat relijius. Setiap Sabtu atau Minggu saya tidak pernah absen dalam mengikuti misa di gereja. Saya bahkan merasa bangga menjadi putra altar yang pernah melayani Kardinal di gereja kecil di kota kelahiran saya. Tapi itu dulu, karena sekarang suatu proses telah merubah pola pikir saya menjadi non-relijius, menjadi orang yang tidak percaya bahwa Tuhan ada. Proses menjadi tidak percaya ternyata tidak gampang dan memakan waktu yang tidak sebentar.

Desember 2012 lalu, saya mendengar cerita dari adik sepupu saya yang bersekolah di salah satu seminari di Jawa. Seminari adalah sekolah setara tingkat SMA, yang bertujuan untuk mengarahkan murid-muridnya untuk menjadi Pastor. Sekolah ini mewajibkan muridnya untuk tinggal di asrama di area sekolah dan kunjungan keluarga/orang-tua hanya dibatasi sekali setiap bulan. Adik sepupu saya bercerita bahwa ada teman satu sekolah yang baru saja meninggal. Temannya meninggal karena ada ranting pohon besar lapuk di area sekolahan yang jatuh menimpa kepalanya sampai berlubang. Tragisnya, peristiwa jatuhnya ranting pohon itu disaksikan langsung di depan mata ibunya (waktu itu bertepatan dengan kunjungan orang-tua murid). Dia juga menceritakan bahwa ibunya sempat berusaha untuk menahan kepala anaknya yang bolong sembari kakaknya yang ternyata juga murid senior di sekolah itu berteriak minta tolong.

Mendengar kisah tersebut saya tidak bisa berkomentar banyak, sangat memilukan. Tapi cerita tersebut mengingatkan kepada salah satu cerita teman saya hampir 10 tahun yang lalu. Di tahun 2004 saya kuliah di Australia dan tinggal di sebuah homestay bersama seorang teman dari Eropa. Meskipun kami tidak begitu dekat, dia bercerita banyak pengalaman yang dia alami sewaktu menjadi staff Emergency Response Team. Dia pernah berada di lokasi suatu peristiwa kecelakaan yang sangat parah di mana dia melihat seorang ibu yang harus menyaksikan anak laki-lakinya meninggal di belakang mobil karena terjepit. Pada saat itulah dia merubah pandangan hidupnya, dengan kata-katanya yang masih saya ingat:

“Tuhan tidak peduli atau tidak ada. Saya pilih yang terakhir.”

Tahun 2004 inilah yang menjadi titik di mana saya mulai ragu dan membuka banyak pertanyaan. Kenapa banyak kesengsaraan di dunia ini sedangkan orang-orang yang beragama bersyukur bahwa mereka ditolong oleh “kekuatan di atas”. Kenapa “kekuatan di atas” tersebut tidak menolong orang-orang yang lebih membutuhkan? Apakah benar apa kata teman saya, bahwa tuhan tidak peduli? Ya, itulah jawaban saya saat itu. Tuhan hanya tidak peduli, karena tanpa dia siapa yang menciptakan manusia dan alam semesta?

Proses berjalan selama beberapa tahun ke depan sampai saya menjadi sangat tertarik dengan sains. Sosok ilmuwan yang mengubah obsesi saya terhadap sains adalah Carl Sagan. Dari situlah saya mulai tertarik dengan astronomi, astrofisika, ilmu fisika pada umumnya, kosmologi, dan beberapa sains modern seperti ilmu kuantum, relativitas, fisika nuklir dan lainnya. Saya memahami bagaimana alam semesta ini terbentuk, saya mengerti secara teknis bagaimana Einstein bisa menuangkan teori relativitasnya, saya mengerti proses-proses dari inflasi kuantum 13,8 miliar tahun lalu menjadi proses evolusi yang menghasilkan sosok manusia, saya belajar untuk rendah hati dan berkata tidak tahu jika memang tidak tahu. Saya menyadari bahwa ilmu pengetahuan maju dengan pesatnya sehingga kekosongan/ketidaktahuan yang biasanya diatributkan sebagai “karya tuhan” menjadi sebuah fenomena alam yang bisa dijelaskan tanpa faktor supernatural. Saya juga menyadari bahwa moral tidak datang dari agama. Moralitas datang dari empati dan pengalaman hidup manusia, bukan dari ajaran agamanya.

Saya melirik kembali pernyataan teman saya, “Tuhan tidak peduli atau tidak ada. Saya pilih yang terakhir.”

Saya juga pilih yang terakhir.

/boo/

Apakah yang disebut Dark Matter dan Dark Energy? Apakah keduanya terbukti ada?

Jawaban:

Dark matter/ dark energi sebenarnya adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan perbedaan antara laju kecepatan expansi alam semesta sebagaimana hasil pengamatan edwin hubble dengan konstanta gravitasi yang dihasilkan dari perhitungan seluruh materi yang tampak di alam semesta ini.

Istilah ini muncul akibat alam semesta sepertinya mengembang dengan kecepatan yang nyaris seimbang dengan kekuatan gravitasi yang dapat menghentikan ekspansi tersebut. Berdasarkan teori standard model (big bang) jumlah materi yang tampak di alam semesta (bintang, planet, asteroid, debu-debu nebula) tidaklah cukup untuk memperlambat kecepatan ekspansi alam semesta seperti yang kita amati sekarang.

Karena itu para astrophysicists memperkirakan ada materi tidak tampak dalam jumlah yang sangat besar, tersebar merata di seluruh alam semesta yang dapat memperlambat kecepatan ekspansi alam semesta seperti yang kita amati sekarang.

Karena istilah ini datang dari perhitungan matematika dan bukan dari hasil pengamatan tidak banyak yang bisa diketahui dari sifatnya. Hanya massa yang dimiliki lebih ,besar dari seluruh materi tampak (bintang, planet, asteroid, debu2 nebula) dan berperan sangat besar dalam terbentuknya alam semesta seperti kondisi yang kita amati sekarang.

Penjawab: sunday panggabean

Bacaan lebih lanjut:
stephen hawking – black hole and baby universe

Apakah black hole itu? Apakah black hole benar-benar ada?

Apakah itu Lubang Hitam?

Lubang Hitam, yang juga akrab disebut Black Hole, adalah sebuah fenomena pelengkungan ruang-waktu yang sangat ekstrim sehingga tidak ada yang bisa lolos dari interaksi gravitasi yang dihasilkan, bahkan kecepatan cahaya sekalipun.

Lubang hitam terjadi disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor yang paling umum adalah akibat dari efek gravitasi yang sangat kuat sehingga tekanan internal di skala atom tidak bisa menahan keruntuhan gravitasinya sendiri. Faktor lain penyebab lubang hitam adalah tabrakan dua atau lebih benda padat berenergi tinggi.

“Selain massa, energi juga bisa melengkungkan ruang dan waktu. Jadi lubang hitam juga bisa terbentuk tanpa harus ada materi, melainkan murni dari energi yang sangat tinggi difokuskan ke satu titik sehingga tercipta singularitas. Fenomena ini disebut dengan Kugelblitz.”

Sebuah bintang yang mendekati ajalnya, hanya mempunyai sedikit bahan bakar untuk menghasilkan energi panas yang juga berfungsi juga untuk memberikan tekanan internal melawan gravitasi. Jika fusi nuklir sudah tidak bisa terjadi, bintang sekarat tersebut tidak mampu lagi menghasilkan panas dan memberikan tekanan internal, sehingga gaya gravitasi mengambil alih dan bintang tersebut ambruk.

Nasib akhir bintang sangat bervariasi. Faktor yang mendukung variasi tersebut dipengaruhi oleh massa awal bintang tersebut. Bintang bermassa setara dengan Matahari kita akan berubah menjadi white dwarf pada saat ajalnya. Hanya bintang bermassa puluhan kali massa Matahari yang memungkinkan kematian bintang tersebut melahirkan lubang hitam.

Apakah lubang hitam itu nyata atau hanya sekedar konsep matematis saja?

Lubang hitam itu nyata. Mungkin memang terasa tidak masuk di akal untuk membayangkan sebuah planet yang dimampatkan hingga menjadi lubang hitam. Tapi ingat bahwa materi di alam semesta ini tersusun oleh atom. Sedangkan struktur dari atom sendiri didominasi oleh ruang hampa. Jika inti atom (nukleus) kita analogikan berukuran sebesar buah anggur, elektron terdekat berada di jarak sekitar 1.5 kilometer dari nukleusnya.

Di samping itu keberadaan lubang hitam sudah dikonfirmasi oleh para ilmuwan beberapa tahun terakhir ini. Bima Sakti mempunyai satu lubang hitam super-besar berada di tengah-tengah galaksi. Tata surya kita mengorbit lubang hitam ini setiap sekitar 250.000 tahun sekali.

Bagaimana penjelasan lubang hitam secara teknis?

Disclaimer: Bagian ini berisikan rumus-rumus fisika untuk menjelaskan bagaimana ilmuwan menyimpulkan fenomena lubang hitam. Anda diharapkan untuk mengerti sedikit matematika aljabar dan dasar-dasar fisika untuk menurunkan rumus-rumus di bawah.

Untuk bisa menjelaskan lebih detil bagaimana fenomena ini bisa terjadi, mari kita bahas secara lebih terperinci. Fenomena alam yang kerap kita alami sehari-hari sering melibatkan gravitasi. Contohnya adalah saat kita melempar bola ke atas, bola tersebut akan kembali jatuh ke tanah. Semakin kuat anda melempar bola keatas, semakin jauh bola tersebut bergerak sebelum akhirnya kembali jatuh ke Bumi.

Energi pergerakan yang dihasilkan dari ayunan tangan kita sewaktu melempar bola ke atas disebut sebagai energi kinetik.

E_{kinetik} = \frac{1}{2}mv^2

m — massa bola
v — kecepatan bola

Sedangkan energi yang dihasilkan bola tersebut karena berada di medan gravitasi Bumi disebut energi potensial. (catatan: energi potensial biasanya bertanda negatif karena berlawanan dengan energi kinetik).

E_{potensial} = -\frac{GMm}{r}

G — konstanta gravitasi
M — massa Bumi
m — massa bola
r — jarak antara bola dan Bumi

Pernahkah terpikirkan oleh Anda seberapa cepat anda harus melempar bola ke atas, sehingga bola tersebut tidak akan pernah jatuh kembali ke Bumi? Untuk bisa melakukan hal tersebut akumulasi energi kinetik dan energi potensial harus nol; atau dengan kata lain nilai energi kinetik dan energi potensial adalah sama.

E_{kinetik} + (- E_{potensial}) = 0
E_{kinetik} = E_{potensial}
\frac{1}{2}mv^2 = \frac{GMm}{r}
v^2 = \frac{2GM}{r}
v_{lepas} = \sqrt{\frac{2GM}{r}}

“Kecepatan lepas planet Bumi adalah 11 kilometer/detik. Kecepatan sebuah peluru saja hanya sekitar 1 kilometer/detik. Bayangkan berapa banyak bahan bakar yang harus digunakan untuk menghasilkan energi sehingga bisa menggerakkan roket hingga berkecepatan 11 kilometer/detik.”

Kita telah menurunkan rumus baru yang dinamakan kecepatan lepas (escape velocity). Kecepatan lepas adalah seberapa cepat sebuah benda harus bergerak untuk keluar dari gaya tarik gravitasi sebuah planet. Rumus ini dipergunakan oleh para astronom untuk menentukan nilai kecepatan sebuah roket agar bisa terlepas dari orbit Bumi.

Oke, mari kita kembali ke definisi lubang hitam, tapi kali ini mari kita definisikan secara teknis. Lubang hitam adalah sebuah medan gravitasi di mana kecepatan lepas benda tersebut sama dengan atau melebihi kecepatan cahaya.

v_{lepas} = \sqrt{\frac{2GM}{r}}
c = \sqrt{\frac{2GM}{r}}

c — kecepatan cahaya (300.000 kilometer/detik)

Dari rumus di atas, ilmuwan bernama Karl Schwarschild menurunkan rumus terkenal yang disebut sebagai radius Schwarschild.

c = \sqrt{\frac{2GM}{r}}
c^2 = \frac{2GM}{r}
r_{Schwarschild} = \frac{2GM}{c^2}

“Untuk mengubah planet Bumi menjadi sebuah lubang hitam, semua massa Bumi harus dimampatkan menjadi sebuah bola yang berradius 9 milimeter.”

Definisi radius Schwarschild adalah nilai radius sebuah geometri yang di mana jika semua massa sebuah benda dimampatkan ke dalam radius tersebut, benda itu akan memiliki kecepatan lepas sama atau lebih besar dari kecepatan cahaya—atau singkatnya, lubang hitam.

/boo/

Mengapa Anda Ateis? (Jawaban -AP-)

Sebelum menjadi ateis, saya adalah seorang nasrani, namun saya tidak pernah menjadi seseorang yang relijius dan betul-betul taat pada agama, bahkan sejak SMP saya sangat menyukai lelucon-lelucon yang dianggap ofensif untuk agama-agama tertentu. Bertentangan dengan hal tersebut, saya tetap pergi ke gereja, membaca alkitab setiap malam, mendengarkan renungan bahkan merasa bersalah bila lupa berdoa atau malas ke gereja. Dalam alam bawah sadar saya tertanam dogma bahwa bila saya tidak melakukan semua itu, saya akan masuk neraka. Hal ini mungkin akibat latar belakang pendidikan saya yang sejak SD bersekolah di sekolah kristen.

Sejak kecil dogma ini selalu bertentangan dengan pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya seperti: “Kenapa Tuhan menghukum kita kalau kita bertanya mengenai ajaranNya? Bukannya Tuhan menciptakan otak supaya kita bisa mikir?” “Kalau manusia asalnya dari Adam dan Hawa, kenapa bisa ada fosil dinosaurus dan manusia purba?” “Kenapa Tuhan benci dengan kaum homoseksual? Mereka kan gak salah apa-apa,” dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan ini saat itu hanya bisa saya simpan saja dalam hati, saya mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal tersebut dan tetap beriman pada agama saya. Saya ingin sekali mengkritisi ajaran-ajaran yang ada, namun rasa takut dalam pikiran saya lebih kuat dibanding rasa ingin tahu saya. Jujur, saya bahkan tidak terpikir ada manusia yang tidak percaya akan keberadaan sosok Tuhan.
Baca lebih lanjut

Siapa sajakah tokoh terkenal yang ateis?

Jawaban:

Antara lain:
Bill Gates (Pendiri Microsoft)
Mark Zuckeberg (Pencipta Facebook)
Steve Jobs (Pendiri Apple)
Carl Sagan (Astronomer)
Richard Dawkins (Evolutionary Biologist)
Michio Kaku (Physicist)
Stephen Hawking (Physicist)
Christopher Hitchens (Jurnalis)
George Carlin (Comedian)

–LadyLusifer–

Apa yang dimaksud Einstein dengan “God didn’t play dice”?

Pertanyaan terkait:
– bukankah Einstein percaya Tuhan?
– apa agama einstein?

Jawaban:

Harus dilihat konteksnya.
1. Einstein adalah seorang Panteis, berarti god yang dimaksud dia mengacu kepada God seorang Panteis yaitu Alam Semesta.
jadi artinya “Alam Semesta tidak bermain dadu”

2. Quantum
bermain dadu disini, merujuk kepada Heisenberg’s “Uncertainty Principle” dimana salah satunya mengatakan bahwa keberadaan sebuah partikel itu tidak bisa ditentukan secara pasti.
yang bisa dikatakan adalah probabilitas keberadaan partikel tersebut.
jadi 2 partikel dalam keadaan yang sama persis, belum tentu menempati posisi yang sama persis.
yang bisa ditentukan adalah seberapa besar kemungkinannya partikel tersebut berada di posisi tertentu. permainan peluang ini yang dimaksud “bermain dadu” oleh Einstein.

http://www.ias.ac.in/resonance/July2008/p655-661.pdf

–LadyLusifer–

Apa yang dimaksud istilah ‘god of the gaps’?

Jawaban:

maksudnya tuhan berada di celah-celah ilmu pengetahuan.

4000 tahun lalu, sains tidak bisa menjawab apa itu petir. maka celah itu diisi dengan tuhan.
setelah sains bisa mengisi celah petir, maka tuhan yang tadinya mengisi celah tersebut dibuang.

300 tahun lalu, sains tidak bisa menjawab, mengapa benda jatuh. maka jawabannya tuhan.
setelah sains bisa menjelaskan fenomena Gravitasi, maka tuhan yang tadinya mengisi celah tersebut dibuang.

200 tahun lalu, sains tidak bisa menjawab, darimana asal Manusia. maka diisi dengan tuhan.
setelah sains bisa menjelaskan fenomena Evolusi, maka tuhan yang tadinya mengisi celah tersebut dibuang.

100 tahun lalu, sains tidak bisa menjawab, darimana asal alam semesta. maka diisi dengan genesis.
setelah sains bisa menjelaskan fenomena big_bang, maka tuhan yang tadinya mengisi celah tersebut dibuang.

itulah yang dimaksud dengan “God of the Gaps”
tuhan yang hanya berfungsi menambal lubang di ilmu pengetahuan.
seiring dengan meningkatnya sains dalam menjawab lubang tersebut, maka tuhan yang tadinya menambal lubang tersebut dibuang, dan diingat sebagai mitos.

–LadyLusifer–

Jika Tuhan tidak ada, siapa yang selama ini mengabulkan doa?

Pertanyaan terkait:
– Bagaimana dengan doa doa yang dikabulkan? Siapa yang mengabulkan?

Jawaban:

Flying Spaghetti Monster.

Seriously:
memang anda pernah melakukan percobaan berapa sering doa anda dikabulkan?
nggak usah susah-susah.
coba anda lempar koin 10,000 kali.
tiap kali sebelum lempar anda doa minta bagian depan.
dan catat berapa kali doa anda minta bagian depan dikabulkan.

setelah itu lempar koin 10,000 kali lagi.
tapi kali ini tidak perlu berdoa, dan catat berapa kali bagian depan muncul.

pasti persentasenya tidak beda jauh dari 40-60 %

tidak ada yang bisa membuktikan kemanjuran doa.
sampai saat ini persentase sebuah kejadian, tidak dipengaruhi doa.

orang sakit parah -> berdoa + berobat -> sembuh
orang sakit parah -> berobat saja -> sembuh
orang sakit parah -> berdoa saja -> mati

orang miskin -> berdoa + bekerja -> kaya
orang miskin -> bekerja saja -> kaya
orang miskin -> berdoa saja -> miskin
lihat saja Bill Gates, Warren Buffet, Mark Zuckeberg
apa doa orang teis ada yang sanggup bikin dia memiliki kekayaan 1/10 aja dari kekayaan mereka?

coba lihat atlet Olimpiade.
apa ada orang teis yang hanya dengan berdoa tanpa latihan mati-matian, bisa menyamai prestasi mereka?

coba lihat aktor, artis pemenang Oscar.
apa ada orang teis yang hanya dengan berdoa tanpa latihan mati-matian, bisa menyamai prestasi mereka?

jadi siapa yang mengabulkan doa?
sederhana, doa tidak pernah terkabul. yang ada adalah, sebuah kejadian terjadi, dan kebetulan sesuai doa anda. seperti anda melempar koin, seperti apapun anda berdoa, persentase koin bagian depan tetap hanya 50%.

-LadyLusifer–