Mengapa Anda Ateis? (Jawaban -AP-)

Sebelum menjadi ateis, saya adalah seorang nasrani, namun saya tidak pernah menjadi seseorang yang relijius dan betul-betul taat pada agama, bahkan sejak SMP saya sangat menyukai lelucon-lelucon yang dianggap ofensif untuk agama-agama tertentu. Bertentangan dengan hal tersebut, saya tetap pergi ke gereja, membaca alkitab setiap malam, mendengarkan renungan bahkan merasa bersalah bila lupa berdoa atau malas ke gereja. Dalam alam bawah sadar saya tertanam dogma bahwa bila saya tidak melakukan semua itu, saya akan masuk neraka. Hal ini mungkin akibat latar belakang pendidikan saya yang sejak SD bersekolah di sekolah kristen.

Sejak kecil dogma ini selalu bertentangan dengan pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya seperti: “Kenapa Tuhan menghukum kita kalau kita bertanya mengenai ajaranNya? Bukannya Tuhan menciptakan otak supaya kita bisa mikir?” “Kalau manusia asalnya dari Adam dan Hawa, kenapa bisa ada fosil dinosaurus dan manusia purba?” “Kenapa Tuhan benci dengan kaum homoseksual? Mereka kan gak salah apa-apa,” dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan ini saat itu hanya bisa saya simpan saja dalam hati, saya mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal tersebut dan tetap beriman pada agama saya. Saya ingin sekali mengkritisi ajaran-ajaran yang ada, namun rasa takut dalam pikiran saya lebih kuat dibanding rasa ingin tahu saya. Jujur, saya bahkan tidak terpikir ada manusia yang tidak percaya akan keberadaan sosok Tuhan.
Baca lebih lanjut

Iklan

Jika Tuhan tidak ada, siapa yang selama ini mengabulkan doa?

Pertanyaan terkait:
– Bagaimana dengan doa doa yang dikabulkan? Siapa yang mengabulkan?

Jawaban:

Flying Spaghetti Monster.

Seriously:
memang anda pernah melakukan percobaan berapa sering doa anda dikabulkan?
nggak usah susah-susah.
coba anda lempar koin 10,000 kali.
tiap kali sebelum lempar anda doa minta bagian depan.
dan catat berapa kali doa anda minta bagian depan dikabulkan.

setelah itu lempar koin 10,000 kali lagi.
tapi kali ini tidak perlu berdoa, dan catat berapa kali bagian depan muncul.

pasti persentasenya tidak beda jauh dari 40-60 %

tidak ada yang bisa membuktikan kemanjuran doa.
sampai saat ini persentase sebuah kejadian, tidak dipengaruhi doa.

orang sakit parah -> berdoa + berobat -> sembuh
orang sakit parah -> berobat saja -> sembuh
orang sakit parah -> berdoa saja -> mati

orang miskin -> berdoa + bekerja -> kaya
orang miskin -> bekerja saja -> kaya
orang miskin -> berdoa saja -> miskin
lihat saja Bill Gates, Warren Buffet, Mark Zuckeberg
apa doa orang teis ada yang sanggup bikin dia memiliki kekayaan 1/10 aja dari kekayaan mereka?

coba lihat atlet Olimpiade.
apa ada orang teis yang hanya dengan berdoa tanpa latihan mati-matian, bisa menyamai prestasi mereka?

coba lihat aktor, artis pemenang Oscar.
apa ada orang teis yang hanya dengan berdoa tanpa latihan mati-matian, bisa menyamai prestasi mereka?

jadi siapa yang mengabulkan doa?
sederhana, doa tidak pernah terkabul. yang ada adalah, sebuah kejadian terjadi, dan kebetulan sesuai doa anda. seperti anda melempar koin, seperti apapun anda berdoa, persentase koin bagian depan tetap hanya 50%.

-LadyLusifer–

Diantara banyak planet kenapa hanya bumi yang dihuni mahkluk hidup?

Jawaban:

Tidak ada bukti bahwa Bumi adalah satu-satunya planet di alam semesta ini yang memiliki kehidupan. Bahkan didalam tata-surya kita saja, masih ada satelit (Europa) yang diperkirakan memiliki air dalam bentuk cair (yang artinya berpotensi memiliki kehidupan).

Jika Planet (dan satelit) dalam tata-surya kita saja belum kita periksa semuanya, apalagi planet (dan satelit) di luar tata-surya kita.

Untuk membuktikan bahwa hanya Bumi saja yang dihuni makhluk hidup, kita harus memeriksa semua planet (baik yang sudah ditemukan, maupun belum).

Pertanyaan yang lebih tepat adalah
“Sampai saat ini, hanya Bumi yang diketahui memiliki kehidupan”

Jadi tidak tertutup kemungkinan besok, ada yang menemukan planet lain yang dihuni makhluk hidup.

–LadyLusifer–

Apakah alien itu benar benar ada?

Pertanyaan terkait:
– bagaimana pendapat kalian tentang alien?

Jawaban:

Sampai saat ini belum ada bukti pasti kalau ada alien.
tapi berdasarkan statistik diperkirakan alien benar-benar ada.

saat ini planet yang dikategorikan Super-Earth dan mengorbit di jalur Goldilock Zone sudah ditemukan sekitar puluhan. itu hanya hasil pencarian di sepotong kecil luar angkasa selama beberapa tahun.
diperkirakan di galaksi Bimasakti saja ada 100-400 Miliar bintang. dengan asumsi 1 bintang memiliki 1 planet, maka ada ratusan milliar planet.
dari milliaran planet itu, jika 0.1 % saja bisa menyokong kehidupan, maka setidaknya ada ratusan ribu planet yang bisa menyokong kehidupan.
jika dari planet tersebut 0.1% nya memiliki kehidupan, maka ada ratusan planet yang memiliki kehidupan.

dan itu baru Bimasakti saja.
belum dengan triliunan galaksi yang sudah ditemukan.

–LadyLusifer–

Mengapa Ateis? (Jawaban alika)

Saya lahir di keluarga yang beragam. Ayah saya Muslim dan ibu saya Kristen Protestan. Ketika sudah dewasa saya dan kakak-kakak saya dibebaskan untuk memilih agama masing-masing, termasuk untuk tidak menganut agama mana pun, meski selagi kecil kami semua dididik secara agama. Awalnya saya dididik secara Kristen oleh ibu saya dan diwajibkan membaca Alkitab dari awal sampai habis. Sedangkan ayah saya yang menjunjung nilai sekuler mengajarkan saya untuk berempati dan menggunakan akal sehat. “Ah, nggak perlu pusing memikirkan akhirat. Kita kan nggak tahu surga sama neraka itu ada apa nggak. Yang penting kita berbuat baik dan berguna bagi manusia,” kata ayah saya dulu. Ini sangat berbekas di diri saya, karena saya melihat bahwa ayah saya yang tidak pernah membicarakan agama, tidak pernah salat, atau pun puasa saat bulan Ramadan, adalah orang yang sangat peduli. Sudah banyak sekali orang yang ia bantu sampai lulus kuliah tanpa peduli pamrih. Semuanya dilakukan dengan diam-diam. Saya pun tahu karena banyak orang yang datang bertamu untuk menyampaikan rasa terima kasih. Sampai-sampai, suatu saat nenek saya yang Kristen sempat bilang bahwa ayah saya adalah orang yang “paling Kristen” di keluarga saya.

Cukup ironis bahwa membaca Alkitablah yang membuat saya skeptis terhadap agama. Saya pikir tidak adil kalau orang yang baik tidak dapat masuk surga kalau memegang agama yang salah atau percaya tuhan yang salah. Saat ini ada 2 milyar umat Kristen di dunia. Apa itu berarti bahwa 5 milyar manusia akan masuk neraka, termasuk ayah dan kakak saya? Atau taruhlah Islam agama yang “benar.” Apakah ini berarti lebih dari 5 milyar manusia akan masuk neraka, berhubung penganut Islam hanya 21% dari total penduduk dunia? (Sumber: Adherents.com)

Belum lagi banyak ayat yang kontradiktif dalam Alkitab sendiri. Di satu sisi Tuhan mengijinkan—bahkan kadang memerintahkan—pembunuhan (1 Samuel 12-13): “12 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. 13 Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” Hal ini sungguh janggal di pikiran saya dan tidak sesuai hati nurani saya. Namun di sisi lain Alkitab juga mengajarkan kasih sayang. Banyak ajaran Yesus yang saya kagumi, yang mungkin memang merupakan gebrakan di masanya.

Saya mulai belajar untuk cherry-picking. Apa yang baik saya ambil dan terapkan, dan yang menurut saya buruk tidak saya gubris. Namun kemudian saya berpikir. Kalau kitab suci merupakan semacam “kebenaran sejati” yang seharusnya bersifat absolut dan timeless, mengapa mesti dipilah-pilah? Saya lalu sampai kepada kesimpulan bahwa, well, mungkin agama hanya produk budaya manusia. Nilai-nilai moralitas sifatnya tidak stagnan. Apa yang beribu-ribu tahun lalu dianggap baik tidak lagi dianggap baik sekarang. Misalnya, terbukti bahwa hukuman mati tidak menciptakan masyarakat yang aman dan tenteram (kita lihat bahwa negara-negara Skandinavia yang tidak menerapkan hukuman mati merupakan negara-negara yang paling tenteram menurut Global Peace Index, misalnya). Pernikahan dengan anak di bawah umur sekarang tentu saja tidak lagi wajar. Memiliki lebih dari 1 istri juga bisa dibilang sudah tidak jaman. Apalagi kita tahu sekarang bahwa “wanita lebih banyak dari pria” cuma mitos. Pokoknya, banyak nilai agama yang harus dimodifikasi sesuai dengan perkembangan jaman agar sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Karena hal-hal di atas saya berkesimpulan bahwa saya tidak perlu agama untuk menjadi manusia yang baik. Saya cukup mengandalkan empati dan akal sehat sebagai modal dasar saya menjadi manusia yang bermoral.

Saya menyelesaikan SMA di Amerika Serikat. Karena melihat bahwa banyak guru dan teman-teman saya yang tidak beragama, saya baru sadar bahwa memang manusia tidak perlu beragama. Sebelumnya saya pikir manusia mesti beragama. Maklum, saya besar di Indonesia, di mana kolom agama masih diwajibkan di KTP (ya ampun, sudah abad 21 loh ini!). Saat itulah saya mulai menyadari dan menerima bahwa saya tidak lagi beragama.

Mengapa ateis? Tidak ada bukti bahwa ada sosok pencipta atau sosok Tuhan personal yang ikut campur dalam kehidupan manusia. Kalau ada Tuhan yang Maha Kuasa, mengapa Ia mengijinkan begitu banyak manusia sengsara, belum lagi yang melakukan berbagai macam tindakan kejahatan atas namaNya. Sedangkan kalau Tuhan tidak Maha Kuasa, maka Tuhan seperti apa yang ada? Dan perlukah kita sembah?

Ateisme bagi saya adalah posisi terbuka. Saya tentu tidak bisa bilang secara pasti bahwa tidak ada sosok Tuhan (ada banyak sekali konsep Tuhan, termasuk Tuhan non-personal yang hanya sebagai pencipta; juga lihat: apa sih bedanya tidak percaya Tuhan ada dan percaya bahwa Tuhan tidak ada?). Saya hanya menyadari bahwa alam semesta dan segala isinya ini tidak memerlukan adanya pencipta, dan selama belum ada bukti bahwa Tuhan memang ada (entah Tuhan yang bagaimana), ya saya tidak perlu percaya. Tanpa saya sadari, saya sudah masuk kategori ateis.

Sekarang karena kakak-kakak saya sudah menikah, ada banyak tambahan baru di keluarga saya, termasuk yang Katolik, Hindu, panteis, dan irelijius. Meskipun keyakinan kami berbeda, toh kami tetap akur dan saling mengasihi. Apa serunya sih dunia yang seragam?

What’s your story? ;)

-Alika

Apa itu agnostik? Apa perbedaannya dengan ateis?

Secara terminologi agnostik adalah orang yang memiliki pandangan bahwa ada atau tidaknya Tuhan tidak dapat diketahui. Agnostik lawan kata dari gnostik yang artinya berpendapat bahwa Tuhan dapat diketahui sebagai ada atau tidak. Ateis dan teis lebih berimplikasi pada sikap dan tindakan. Anda seorang teis jika Anda percaya Tuhan ada dan segala tindakan Anda dilakukan dengan berpedoman atas perintahnya, ateis jika Anda tidak menganggap Tuhan ada dan tidak mendasarkan tingkah laku atas perintahnya. Maka dari itu dapat muncul empat jenis kombinasi: teis agnostik, mereka yang menyembah Tuhan namun mengakui Tuhan tidak dapat diketahui; teis gnostik, mereka yang menyembah Tuhan yang percaya keberadaan Tuhan bisa diketahui; ateis agnostik, mereka yang tidak percaya Tuhan dan berpendapat ada/tidaknya Tuhan tidak diketahui; yang terakhir, ateis gnostik, yakni mereka yang tidak menyembah Tuhan dan berpendapat bahwa Tuhan memang jelas-jelas tidak ada.

Beranjak dari definisi-definisi tersebut kita bisa melihat bahwa di luar sana sebenarnya banyak didominasi oleh teis agnostik, yakni mereka yang tidak yakin bahwa Tuhan ada atau tidak namun melakukan peribadatan untuk sekedar jaga-jaga (ini bisa juga merupakan residu ketakutan yang tertanam sejak kecil akan neraka dan dosa akibat tidak menyembah Tuhan yang benar) atau alasan lainnya.

Jika Tuhan tidak ada darimana adanya Alam semesta?

Sama seperti pertanyaan, jika zeus tidak ada, maka darimana datangnya petir? Ketidaktahuan kita mengenai darimana asal alam semesta tidak menjustifikasi kita untuk lantas percaya bahwa ada mahkluk super yang tidak terlihat, membuat alam semesta untuk suatu tujuan. Sangat mudah untuk mengatakan alam semsta ada karena gajah kosmik yang bersin, atau ulah doraemon. Sudah selayaknya kita jujur jika kita memang belum mengetahuinya.

Kita hanya selayaknya mempercayai penjelasan yang didukung oleh hasil pengamatan dan bukti bukti. Dari apa yang dapat kita kumpulkan lewat pengamatan, data data dan kalkulasi, terciptanya alam semesta lewat proses bigbang adalah teori yang paling didukung banyak bukti. Bayangkan, dalam peradabaan sains modern yang baru beberapa abad, manusia mampu mengetahui apa yang terjadi 14 milyar tahun yang lalu. Apa yang terjadi sebelum bigbang, memang belum diketahui dan disepakati oleh para ilmuwan.

Mempercayai suatu alternatif penjelasan karena sesuai dengan bukti bukti yang dapat diukur tentu lebih masuk akal daripada mempercayai suatu hal hanya karena terdapat di kitab suci dan kita akan masuk neraka jika menyangkalnya. Terakhir jika segala sesuatu harus memiliki pencipta, maka teori keberadaan Tuhan (yang belum dapat dibuktikan) tidak menjawab masalah karena timbul pertanyaan lain: siapa yang menciptakan Tuhan? Menjawab “Tuhan tidak perlu pencipta” jelas bertentangan sendiri dengan silogisme “segala sesuatu harus ada pencipta”.

Apa yang membuat seseorang menjadi ateis?

Ada berbagai macam alasan yang membawa seseorang menjadi atheis. Pada awalnya tentu saja semua orang lahir tidak beragama ataupun menyembah Tuhan tertentu, yang kemudian menganut agama yang dianut orang tua mereka. Dalam perkembangannya banyak yang menyadari bahwa kepercayaannya yang dibawa sejak kecil ternyata tidak memenuhi bukti yang cukup untuk dianggap sebagai fakta, melainkan dongeng yang sangat luar biasa sehingga seolah mampu memberikan segala jawaban mendasar tentang asal usul dan tujuan kehidupan. Para atheis pada umumnya adalah mereka yang peduli akan kebenaran dan mencarinya dengan mengedepankan objektifitas, menghidnari asumsi, dan menarik kesimpulan yang paling logis. Dengan demikian mereka mampu menganalisa secara objektif bagaimana hingga agama dan imajinasi manusia tentang Tuhan muncul.

Dalam variasinya ada juga beberapa atheis lemah yang menjadi atheis karena merasa doanya tidak pernah di dengar oleh tuhan dan mulai berasumssi bahwa tuhan tidak ada, atau tidak peduli pada umatnya.