Jakarta Globe: Apakah Ateisme Diperbolehkan di Indonesia?

Berikut adalah artikel opini di Jakarta Globe yang menekankan bahwa ateisme tidak melanggar Pancasila. Artikel lengkapnya dapat dilihat di http://www.thejakartaglobe.com/archive/the-thinker-is-atheism-allowed/

Alexander Aan, a civil servant in Dharmasraya, West Sumatra, was beaten and charged with blasphemy after writing “God does not exist” on his Facebook page.

The response has ranged from condemnation by several international organizations to support by local citizens and the Indonesian Council of Ulema. Many people have invoked the first principle of Pancasila, the state ideology, to make the argument that atheism — and Alexander — have no place in Indonesia.

But is this really the case? Has atheism been banned by Pancasila since the dawn of the Indonesian state? Since the argument is based on the text of a legal document, let’s examine this question from a legal perspective.
Baca lebih lanjut

Mengapa Anda Ateis? (Jawaban -AP-)

Sebelum menjadi ateis, saya adalah seorang nasrani, namun saya tidak pernah menjadi seseorang yang relijius dan betul-betul taat pada agama, bahkan sejak SMP saya sangat menyukai lelucon-lelucon yang dianggap ofensif untuk agama-agama tertentu. Bertentangan dengan hal tersebut, saya tetap pergi ke gereja, membaca alkitab setiap malam, mendengarkan renungan bahkan merasa bersalah bila lupa berdoa atau malas ke gereja. Dalam alam bawah sadar saya tertanam dogma bahwa bila saya tidak melakukan semua itu, saya akan masuk neraka. Hal ini mungkin akibat latar belakang pendidikan saya yang sejak SD bersekolah di sekolah kristen.

Sejak kecil dogma ini selalu bertentangan dengan pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya seperti: “Kenapa Tuhan menghukum kita kalau kita bertanya mengenai ajaranNya? Bukannya Tuhan menciptakan otak supaya kita bisa mikir?” “Kalau manusia asalnya dari Adam dan Hawa, kenapa bisa ada fosil dinosaurus dan manusia purba?” “Kenapa Tuhan benci dengan kaum homoseksual? Mereka kan gak salah apa-apa,” dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan ini saat itu hanya bisa saya simpan saja dalam hati, saya mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal tersebut dan tetap beriman pada agama saya. Saya ingin sekali mengkritisi ajaran-ajaran yang ada, namun rasa takut dalam pikiran saya lebih kuat dibanding rasa ingin tahu saya. Jujur, saya bahkan tidak terpikir ada manusia yang tidak percaya akan keberadaan sosok Tuhan.
Baca lebih lanjut

Mengapa Ateis? (Jawaban alika)

Saya lahir di keluarga yang beragam. Ayah saya Muslim dan ibu saya Kristen Protestan. Ketika sudah dewasa saya dan kakak-kakak saya dibebaskan untuk memilih agama masing-masing, termasuk untuk tidak menganut agama mana pun, meski selagi kecil kami semua dididik secara agama. Awalnya saya dididik secara Kristen oleh ibu saya dan diwajibkan membaca Alkitab dari awal sampai habis. Sedangkan ayah saya yang menjunjung nilai sekuler mengajarkan saya untuk berempati dan menggunakan akal sehat. “Ah, nggak perlu pusing memikirkan akhirat. Kita kan nggak tahu surga sama neraka itu ada apa nggak. Yang penting kita berbuat baik dan berguna bagi manusia,” kata ayah saya dulu. Ini sangat berbekas di diri saya, karena saya melihat bahwa ayah saya yang tidak pernah membicarakan agama, tidak pernah salat, atau pun puasa saat bulan Ramadan, adalah orang yang sangat peduli. Sudah banyak sekali orang yang ia bantu sampai lulus kuliah tanpa peduli pamrih. Semuanya dilakukan dengan diam-diam. Saya pun tahu karena banyak orang yang datang bertamu untuk menyampaikan rasa terima kasih. Sampai-sampai, suatu saat nenek saya yang Kristen sempat bilang bahwa ayah saya adalah orang yang “paling Kristen” di keluarga saya.

Cukup ironis bahwa membaca Alkitablah yang membuat saya skeptis terhadap agama. Saya pikir tidak adil kalau orang yang baik tidak dapat masuk surga kalau memegang agama yang salah atau percaya tuhan yang salah. Saat ini ada 2 milyar umat Kristen di dunia. Apa itu berarti bahwa 5 milyar manusia akan masuk neraka, termasuk ayah dan kakak saya? Atau taruhlah Islam agama yang “benar.” Apakah ini berarti lebih dari 5 milyar manusia akan masuk neraka, berhubung penganut Islam hanya 21% dari total penduduk dunia? (Sumber: Adherents.com)

Belum lagi banyak ayat yang kontradiktif dalam Alkitab sendiri. Di satu sisi Tuhan mengijinkan—bahkan kadang memerintahkan—pembunuhan (1 Samuel 12-13): “12 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. 13 Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” Hal ini sungguh janggal di pikiran saya dan tidak sesuai hati nurani saya. Namun di sisi lain Alkitab juga mengajarkan kasih sayang. Banyak ajaran Yesus yang saya kagumi, yang mungkin memang merupakan gebrakan di masanya.

Saya mulai belajar untuk cherry-picking. Apa yang baik saya ambil dan terapkan, dan yang menurut saya buruk tidak saya gubris. Namun kemudian saya berpikir. Kalau kitab suci merupakan semacam “kebenaran sejati” yang seharusnya bersifat absolut dan timeless, mengapa mesti dipilah-pilah? Saya lalu sampai kepada kesimpulan bahwa, well, mungkin agama hanya produk budaya manusia. Nilai-nilai moralitas sifatnya tidak stagnan. Apa yang beribu-ribu tahun lalu dianggap baik tidak lagi dianggap baik sekarang. Misalnya, terbukti bahwa hukuman mati tidak menciptakan masyarakat yang aman dan tenteram (kita lihat bahwa negara-negara Skandinavia yang tidak menerapkan hukuman mati merupakan negara-negara yang paling tenteram menurut Global Peace Index, misalnya). Pernikahan dengan anak di bawah umur sekarang tentu saja tidak lagi wajar. Memiliki lebih dari 1 istri juga bisa dibilang sudah tidak jaman. Apalagi kita tahu sekarang bahwa “wanita lebih banyak dari pria” cuma mitos. Pokoknya, banyak nilai agama yang harus dimodifikasi sesuai dengan perkembangan jaman agar sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Karena hal-hal di atas saya berkesimpulan bahwa saya tidak perlu agama untuk menjadi manusia yang baik. Saya cukup mengandalkan empati dan akal sehat sebagai modal dasar saya menjadi manusia yang bermoral.

Saya menyelesaikan SMA di Amerika Serikat. Karena melihat bahwa banyak guru dan teman-teman saya yang tidak beragama, saya baru sadar bahwa memang manusia tidak perlu beragama. Sebelumnya saya pikir manusia mesti beragama. Maklum, saya besar di Indonesia, di mana kolom agama masih diwajibkan di KTP (ya ampun, sudah abad 21 loh ini!). Saat itulah saya mulai menyadari dan menerima bahwa saya tidak lagi beragama.

Mengapa ateis? Tidak ada bukti bahwa ada sosok pencipta atau sosok Tuhan personal yang ikut campur dalam kehidupan manusia. Kalau ada Tuhan yang Maha Kuasa, mengapa Ia mengijinkan begitu banyak manusia sengsara, belum lagi yang melakukan berbagai macam tindakan kejahatan atas namaNya. Sedangkan kalau Tuhan tidak Maha Kuasa, maka Tuhan seperti apa yang ada? Dan perlukah kita sembah?

Ateisme bagi saya adalah posisi terbuka. Saya tentu tidak bisa bilang secara pasti bahwa tidak ada sosok Tuhan (ada banyak sekali konsep Tuhan, termasuk Tuhan non-personal yang hanya sebagai pencipta; juga lihat: apa sih bedanya tidak percaya Tuhan ada dan percaya bahwa Tuhan tidak ada?). Saya hanya menyadari bahwa alam semesta dan segala isinya ini tidak memerlukan adanya pencipta, dan selama belum ada bukti bahwa Tuhan memang ada (entah Tuhan yang bagaimana), ya saya tidak perlu percaya. Tanpa saya sadari, saya sudah masuk kategori ateis.

Sekarang karena kakak-kakak saya sudah menikah, ada banyak tambahan baru di keluarga saya, termasuk yang Katolik, Hindu, panteis, dan irelijius. Meskipun keyakinan kami berbeda, toh kami tetap akur dan saling mengasihi. Apa serunya sih dunia yang seragam?

What’s your story? ;)

-Alika

Liputan tentang ateis di Indonesia dan page ABAM (The New York Times)

Berikut cuplikan artikel The New York Times berjudul: “For Indonesian Atheists, a Community of Support Amid Constant Fear”. Page ABAM juga ada disebutkan di artikel tersebut (“You Ask Atheist Answer”). Artikel penuhnya ada di: http://www.nytimes.com/2013/04/27/world/asia/26iht-indonesia26.html

JAKARTA — Karina is an atheist, but her friends jokingly call her “the prophet.” That is because she is helping nurture a community for unbelievers in predominantly Muslim Indonesia, where trumpeting one’s disbelief in God can lead to abuse, ostracism and even prison.

“It’s very normal for atheists to be paranoid because the environment does not support them,” said Ms. Karina, 26, who uses only one name. But, she said, “in this group people don’t need to be afraid.”

Indonesian Atheists was founded with a Facebook page in 2008 and now holds regular gatherings. The Internet has offered its members a safe space to air their opinions, and the feeling of community has made them braver about gathering in public. But recent prosecutions of people who made online comments deemed blasphemous by the country’s courts have stoked fears that they too could come under attack.

“Members’ growing outspokenness and courage does not indicate that other people increasingly accept us,” said Karl Karnadi, 29, the group’s founder. He lives in Germany and is candid about being a nonbeliever on Facebook and Twitter. Inside Indonesia, atheists are circumspect about their views, he said, and refrain from public criticism of Islam or any statements that could run afoul of the country’s blasphemy law. Still, he said, that is an advance from a time when people were fiercely secretive.

“At first people think they’re alone,” Mr. Karl said in a Skype interview. “But after we meet each other, we feel like we’re accepted. We’re together if anything happens to us, and that feeling of community is very valuable.”

…full article: http://www.nytimes.com/2013/04/27/world/asia/26iht-indonesia26.html

Apa penjelasan ateis mengenai Anak Indigo?

Semua orang ingin anaknya dianggap spesial. Semua anak ingin dirinya dianggap spesial. Anak anak pada umumnya sangat gemar berimajinasi bahkan dalam beberapa kasus tidak mampu membedakan imajinasi dengan realita. Ini juga terjadi pada orang dewasa dan disebut sebagai gejala schizophrenia. Kelainan ini menyebabkan mereka seolah mendengar sesuatu, melihat sesuatu, dll. Perkembangan media informasi yang luar biasa dewasa ini membuat banyak anak kecil menjadi lebih tau dibanding anak kecil satu dasawarsa yang lalu.

Anak yang terlanjur dianggap indigo akan berbuat apapun untuk mempertahankan perhatian yang sudah didapatnya termasuk dengan melakukan trik trik murahan, akting, dan kebohongan. Ini dapat dimaklumi karena merupakan mekanisme pertahanan secara alami untuk mempertahankan posisinya dalam lingkungan sosialnya. Orang tua yang terlanjur bangga dan percaya akan anaknya yang spesial memperparah keadaan dengan melakukan selective thingking. Apapun fenomena yang terjadi akan dikaitkan dengan ‘kemampuan’ si anak dan cenderung melebih lebihkan didepan orang tua lainnya.

Jika kita mempelajari sejarah istilah anak indigo, istilah itu muncul pertama kali dalam buku yang ditulis seorang paranormal bernama Lee caroll berjudul “The Indigo Children” yang mengklaim anak anak indigo adalah anak yang kerasukan roh dari planet Kryon.

Fenomena anak indigo adalah fenomena yang sangat memprihatinkan dalam dunia pendidikan indonesia. Lihat bagaimana istilah anak indigo dan aura sudah ditinggalkan di negara maju karena sudah diketahui sebagai sebuah kepalsuan.

Pineal gland adalah bagian otak yang sering di selewengkan fungsinya oleh mereka yang menjual pseudoscience. Sama seperti mesenchepalon (otak tengah) yang juga digunakan untuk penipuan mengintip secara massal. Tak ada satupun anak indigo yang memiliki kemampuan luar biasa yang bisa diuji.