Mengapa saya ateis? (Jawaban dari Veronica Pramesti)

Dikirim oleh: Veronica Pramesti

Mengapa saya menjadi seorang ateis, tentu saja ini merupakan sebuah kisah hidup yang tidak dapat diceritakan dalam bentuk testimoni singkat, mengingat keputusan yang saya ambil beriringan dengan perjalanan hidup saya yang saat ini masih berlangsung. Ateis adalah ketidakpercayaan terhadap Tuhan dan makhluk supernatural lainnya. Untuk sampai ke tahap tidak percaya tentunya bukan suatu hal yang mudah mengingat saya sendiri lahir di dalam keluarga yang sangat relijius dan taat beribadah. Saya tidak pernah absen pergi ke gereja, selalu hadir dalam kebaktian keluarga, mengadakan renungan pagi setiap hari, dan mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya.
Baca lebih lanjut

Iklan

Mengapa anda ateis? (Jawaban -val-)

prayerSaya lahir dari keluarga muslim yang taat. Ayah saya berprofesi sebagai guru agama dan aktif di lembaga Muhammadiyah. Ibu saya relawan di Taman Pendidikan Al quran masjid setempat. Sejak kecil saya dibacakan kisah kisah nabi sebelum tidur beserta mukjizat dari para nabi, dan tak lupa mengaji setiap selesai sholat magrib berjamaah, dan ikut taman pendidikan al quran hingga kelas 3 smp, khatam al quran, menjuarai beberapa perlombaan berbasis pengetahuan agama. Sejak Sekolah Dasar hingga SMA saya dimasukkan di sekolah yayasan Muhammadiyah.

Perkenalan pertama saya dengan ateisme tidak secara baik baik. Pertama kali saya mengenal kata atheis adalah ketika menonton film pemberontakan G30S PKI, yang diputar orde baru setiap hari kesaktian pancasila. Yang mendoktrin bahwa komunisme itu keji, tanpa menjelaskan apa itu komunisme. Semua dalam paradigma hitam-putih, benar-salah. Saya dijelaskan bahwa orang orang yang membunuh jendral-jendral secara keji dalam film itu adalah ateis komunis. Orang orang jahat yang tidak bertuhan. (Tentu dewasa ini kemudian saya tau bagaimana kejadian G30S PKI yang sebenarnya, apa itu komunisme, perbedaannya dengan ateisme, dan alasan kenapa PKI kala itu mampu meraih dukungan rakyat Indonesia sehingga mampu menjadi partai terbesar kedua di Indonesia).

Baca lebih lanjut