Untuk Apa Kita Hidup Jika Tuhan Tidak Menciptakan Kita?

Sekitar dua minggu lalu saya mendapatkan sebuah kesempatan yang luar biasa. Sebuah gereja Kristen yang cukup besar di dekat rumah saya mengadakan sebuah kelas pendalaman iman bermodel diskusi dengan tema “Gereja dan Tantangan Ateisme.” Saya diizinkan untuk ikut dan berbagi pandangan saya soal berbagai isu dari sudut pandang ateisme dan juga mengenai ateisme itu sendiri.

Sesaat setelah saya berbagi, seorang peserta diskusi mengangkat tangannya dengan penuh emosi dan suara lantang menyuarakan pendapatnya:

“Saya ingin apa yang disampaikan di forum ini berimbang. Memang benar bahwa saat ini ateisme dengan berbekal segala sains sekulernya telah mampu menjelaskan fenomena–fenomena yang terjadi di dunia ini. Namun ada satu hal dasar yang para ateis tidak bisa menjawabnya, yaitu mengenai kehidupan kita sendiri.
Baca lebih lanjut

Iklan

Jika Tuhan tidak ada darimana adanya Alam semesta?

Sama seperti pertanyaan, jika zeus tidak ada, maka darimana datangnya petir? Ketidaktahuan kita mengenai darimana asal alam semesta tidak menjustifikasi kita untuk lantas percaya bahwa ada mahkluk super yang tidak terlihat, membuat alam semesta untuk suatu tujuan. Sangat mudah untuk mengatakan alam semsta ada karena gajah kosmik yang bersin, atau ulah doraemon. Sudah selayaknya kita jujur jika kita memang belum mengetahuinya.

Kita hanya selayaknya mempercayai penjelasan yang didukung oleh hasil pengamatan dan bukti bukti. Dari apa yang dapat kita kumpulkan lewat pengamatan, data data dan kalkulasi, terciptanya alam semesta lewat proses bigbang adalah teori yang paling didukung banyak bukti. Bayangkan, dalam peradabaan sains modern yang baru beberapa abad, manusia mampu mengetahui apa yang terjadi 14 milyar tahun yang lalu. Apa yang terjadi sebelum bigbang, memang belum diketahui dan disepakati oleh para ilmuwan.

Mempercayai suatu alternatif penjelasan karena sesuai dengan bukti bukti yang dapat diukur tentu lebih masuk akal daripada mempercayai suatu hal hanya karena terdapat di kitab suci dan kita akan masuk neraka jika menyangkalnya. Terakhir jika segala sesuatu harus memiliki pencipta, maka teori keberadaan Tuhan (yang belum dapat dibuktikan) tidak menjawab masalah karena timbul pertanyaan lain: siapa yang menciptakan Tuhan? Menjawab “Tuhan tidak perlu pencipta” jelas bertentangan sendiri dengan silogisme “segala sesuatu harus ada pencipta”.

Dapatkah ateis kembali beragama?

Tentu, pada umumnya para atheis bukanlah fundamentalis yang sangat yakin bahwa tuhan tidak ada. Mereka siap jika suatu sat nanti muncul bukti tak terbantahkan mengenai keberadaan Tuhan atau ketika Tuhan membiarkan dirinya dapat terdeteksi oleh manusia dengan caraNya

Seperti layaknya kita yang sulit mempercayai hal hal yang diluar nalar, pkita selalu meminta bukti yang cukup sebelum kita mempercayai seuatu cerita yang luar biasa. Demikian pula dengan atheis. Atheis menganggap bahwa keberadan Tuhan masih sebatas dongeng rumit yang tidak pernah memiliki bukti yang kuat mengenai keberadannya.