Mengapa Anda Ateis? (Jawaban Arimbi)

Story by: Arimbi

Saya berasal dari keluarga muslim yang taat. Ayah saya aktivis sebuah ormas Islam moderat sedangkan Ibu termasuk Muslim abangan. Mereka mendidik saya dan kedua adik saya untuk taat beragama, seperti kebanyakan muslim lain di kampung saya dulu. Saat duduk di kelas satu SD, orang tua saya memasukkan saya ke TPA (Taman Pendidikan Alquran) untuk belajar baca tulis Al-Qur’an serta Tajwid. Saya bahkan pernah diikutkan lomba Qiro’ sebagai tanda bahwa kemampuan dan kefasihan saya dalam membaca Al Quran diakui tempat saya belajar mengaji. Tamat TPA, saya masuk Madrasah untuk belajar lebih banyak lagi ilmu Islam. Saya belajar di madrasah setiap sore hari. Hari Senin sampai Minggu kecuali hari Jumat. Di sana saya belajar fiqih, ibadah muamalah, ilmu akhlak, Al-khot, syorof, dan lain-lain. Sebagai anak-anak, saat itu saya merasa sedikit kesal dengan aktivitas mengaji dan belajar ilmu Islam. Tentu saja bagi saya lebih enak main dari pada pergi ke madrasah. Namun siapa yang tahu, persis seperti yang banyak disampaikan oleh orang-orang tua, bahwa manfaat dari belajar di TPA dan madrasah akan tampak saat kita dewasa. Dan benar, ilmu yang saya dapat di TPA dan di Madrasah adalah modal utama saya dalam menelaah Islam secara kritis bertahun-tahun kemudian.
Baca lebih lanjut

Iklan

Mengapa anda ateis? ( jawaban Rizky)

Story by: Rizky Adriawan

Saya dibesarkan di keluarga Muslim yang biasa–biasa saja, ibu saya rajin salat dan mengaji sementara ayah saya lebih cenderung seorang Muslim secara praktik meskipun secara pendalaman personal ia mengoleksi dan membaca ratusan buku agama yang sekarang pun sebagian masih ada di kamar saya.

Layaknya anak Muslim lainnya, ibu saya mendaftarkan saya untuk les mengaji sejak saya masih kelas 1 SD dan melangganankan saya majalah Aku Anak Shaleh, tidak hanya itu, ia pun membuatkan saya kliping komik-komik kisah nabi, cerita sahabat dan doa–doa sederhana yang diambilnya dari majalah tersebut.
Baca lebih lanjut