Mengapa saya ateis? (Jawaban dari Veronica Pramesti)

Dikirim oleh: Veronica Pramesti

Mengapa saya menjadi seorang ateis, tentu saja ini merupakan sebuah kisah hidup yang tidak dapat diceritakan dalam bentuk testimoni singkat, mengingat keputusan yang saya ambil beriringan dengan perjalanan hidup saya yang saat ini masih berlangsung. Ateis adalah ketidakpercayaan terhadap Tuhan dan makhluk supernatural lainnya. Untuk sampai ke tahap tidak percaya tentunya bukan suatu hal yang mudah mengingat saya sendiri lahir di dalam keluarga yang sangat relijius dan taat beribadah. Saya tidak pernah absen pergi ke gereja, selalu hadir dalam kebaktian keluarga, mengadakan renungan pagi setiap hari, dan mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya.
Baca lebih lanjut

Iklan

Jakarta Globe: Apakah Ateisme Diperbolehkan di Indonesia?

Berikut adalah artikel opini di Jakarta Globe yang menekankan bahwa ateisme tidak melanggar Pancasila. Artikel lengkapnya dapat dilihat di http://www.thejakartaglobe.com/archive/the-thinker-is-atheism-allowed/

Alexander Aan, a civil servant in Dharmasraya, West Sumatra, was beaten and charged with blasphemy after writing “God does not exist” on his Facebook page.

The response has ranged from condemnation by several international organizations to support by local citizens and the Indonesian Council of Ulema. Many people have invoked the first principle of Pancasila, the state ideology, to make the argument that atheism — and Alexander — have no place in Indonesia.

But is this really the case? Has atheism been banned by Pancasila since the dawn of the Indonesian state? Since the argument is based on the text of a legal document, let’s examine this question from a legal perspective.
Baca lebih lanjut

Mengapa Anda Ateis? (Jawaban boerong hantoe)

Saya dibesarkan di dalam keluarga Katolik yang bisa dibilang sangat taat dalam beragama. Saya dulu sangat relijius. Setiap Sabtu atau Minggu saya tidak pernah absen dalam mengikuti misa di gereja. Saya bahkan merasa bangga menjadi putra altar yang pernah melayani Kardinal di gereja kecil di kota kelahiran saya. Tapi itu dulu, karena sekarang suatu proses telah merubah pola pikir saya menjadi non-relijius, menjadi orang yang tidak percaya bahwa Tuhan ada. Proses menjadi tidak percaya ternyata tidak gampang dan memakan waktu yang tidak sebentar.

Desember 2012 lalu, saya mendengar cerita dari adik sepupu saya yang bersekolah di salah satu seminari di Jawa. Seminari adalah sekolah setara tingkat SMA, yang bertujuan untuk mengarahkan murid-muridnya untuk menjadi Pastor. Sekolah ini mewajibkan muridnya untuk tinggal di asrama di area sekolah dan kunjungan keluarga/orang-tua hanya dibatasi sekali setiap bulan. Adik sepupu saya bercerita bahwa ada teman satu sekolah yang baru saja meninggal. Temannya meninggal karena ada ranting pohon besar lapuk di area sekolahan yang jatuh menimpa kepalanya sampai berlubang. Tragisnya, peristiwa jatuhnya ranting pohon itu disaksikan langsung di depan mata ibunya (waktu itu bertepatan dengan kunjungan orang-tua murid). Dia juga menceritakan bahwa ibunya sempat berusaha untuk menahan kepala anaknya yang bolong sembari kakaknya yang ternyata juga murid senior di sekolah itu berteriak minta tolong.

Mendengar kisah tersebut saya tidak bisa berkomentar banyak, sangat memilukan. Tapi cerita tersebut mengingatkan kepada salah satu cerita teman saya hampir 10 tahun yang lalu. Di tahun 2004 saya kuliah di Australia dan tinggal di sebuah homestay bersama seorang teman dari Eropa. Meskipun kami tidak begitu dekat, dia bercerita banyak pengalaman yang dia alami sewaktu menjadi staff Emergency Response Team. Dia pernah berada di lokasi suatu peristiwa kecelakaan yang sangat parah di mana dia melihat seorang ibu yang harus menyaksikan anak laki-lakinya meninggal di belakang mobil karena terjepit. Pada saat itulah dia merubah pandangan hidupnya, dengan kata-katanya yang masih saya ingat:

“Tuhan tidak peduli atau tidak ada. Saya pilih yang terakhir.”

Tahun 2004 inilah yang menjadi titik di mana saya mulai ragu dan membuka banyak pertanyaan. Kenapa banyak kesengsaraan di dunia ini sedangkan orang-orang yang beragama bersyukur bahwa mereka ditolong oleh “kekuatan di atas”. Kenapa “kekuatan di atas” tersebut tidak menolong orang-orang yang lebih membutuhkan? Apakah benar apa kata teman saya, bahwa tuhan tidak peduli? Ya, itulah jawaban saya saat itu. Tuhan hanya tidak peduli, karena tanpa dia siapa yang menciptakan manusia dan alam semesta?

Proses berjalan selama beberapa tahun ke depan sampai saya menjadi sangat tertarik dengan sains. Sosok ilmuwan yang mengubah obsesi saya terhadap sains adalah Carl Sagan. Dari situlah saya mulai tertarik dengan astronomi, astrofisika, ilmu fisika pada umumnya, kosmologi, dan beberapa sains modern seperti ilmu kuantum, relativitas, fisika nuklir dan lainnya. Saya memahami bagaimana alam semesta ini terbentuk, saya mengerti secara teknis bagaimana Einstein bisa menuangkan teori relativitasnya, saya mengerti proses-proses dari inflasi kuantum 13,8 miliar tahun lalu menjadi proses evolusi yang menghasilkan sosok manusia, saya belajar untuk rendah hati dan berkata tidak tahu jika memang tidak tahu. Saya menyadari bahwa ilmu pengetahuan maju dengan pesatnya sehingga kekosongan/ketidaktahuan yang biasanya diatributkan sebagai “karya tuhan” menjadi sebuah fenomena alam yang bisa dijelaskan tanpa faktor supernatural. Saya juga menyadari bahwa moral tidak datang dari agama. Moralitas datang dari empati dan pengalaman hidup manusia, bukan dari ajaran agamanya.

Saya melirik kembali pernyataan teman saya, “Tuhan tidak peduli atau tidak ada. Saya pilih yang terakhir.”

Saya juga pilih yang terakhir.

/boo/

Jika Tuhan tidak ada, siapa yang selama ini mengabulkan doa?

Pertanyaan terkait:
– Bagaimana dengan doa doa yang dikabulkan? Siapa yang mengabulkan?

Jawaban:

Flying Spaghetti Monster.

Seriously:
memang anda pernah melakukan percobaan berapa sering doa anda dikabulkan?
nggak usah susah-susah.
coba anda lempar koin 10,000 kali.
tiap kali sebelum lempar anda doa minta bagian depan.
dan catat berapa kali doa anda minta bagian depan dikabulkan.

setelah itu lempar koin 10,000 kali lagi.
tapi kali ini tidak perlu berdoa, dan catat berapa kali bagian depan muncul.

pasti persentasenya tidak beda jauh dari 40-60 %

tidak ada yang bisa membuktikan kemanjuran doa.
sampai saat ini persentase sebuah kejadian, tidak dipengaruhi doa.

orang sakit parah -> berdoa + berobat -> sembuh
orang sakit parah -> berobat saja -> sembuh
orang sakit parah -> berdoa saja -> mati

orang miskin -> berdoa + bekerja -> kaya
orang miskin -> bekerja saja -> kaya
orang miskin -> berdoa saja -> miskin
lihat saja Bill Gates, Warren Buffet, Mark Zuckeberg
apa doa orang teis ada yang sanggup bikin dia memiliki kekayaan 1/10 aja dari kekayaan mereka?

coba lihat atlet Olimpiade.
apa ada orang teis yang hanya dengan berdoa tanpa latihan mati-matian, bisa menyamai prestasi mereka?

coba lihat aktor, artis pemenang Oscar.
apa ada orang teis yang hanya dengan berdoa tanpa latihan mati-matian, bisa menyamai prestasi mereka?

jadi siapa yang mengabulkan doa?
sederhana, doa tidak pernah terkabul. yang ada adalah, sebuah kejadian terjadi, dan kebetulan sesuai doa anda. seperti anda melempar koin, seperti apapun anda berdoa, persentase koin bagian depan tetap hanya 50%.

-LadyLusifer–

SuratRakyat: Mitos dan Pertanyaan Mengenai Ateisme

Sumber: http://www.suratrakyat.com/article/LppUUbEIga7p____mitos-dan-pertanyaan-mengenai-ateisme

Ateisme adalah bentuk ketidakpercayaan terhadap Tuhan dan dewa-dewi.  Dalam kata lain, seorang ateis tidak memercayai adanya bentuk kesadaran yang biasa disebut Tuhan, dalam penciptaan alam semesta.  Di negara-negara maju yang sekuler, keberadaan ateis bukanlah hal yang aneh. Bahkan, populasi ateis berkembang pesat karena adanya kebebasan berpikir, kemajuan teknologi,  dan pengetahuan yang mudah didapat. Lalu bagaimana dengan ateis di Indonesia? Apakah ada manusia yang tidak percaya kepada Tuhan di negara yang memiliki populasi penduduk muslim terbesar di dunia? Apakah menjadi ateis di Indonesia melanggar hukum dan tidak sesuai dengan sila pertama Pancasila yang menjadi falsafah dasar kenegaraan?

Banyak sekali mitos yang salah mengenai seorang ateis. Cukup banyak masyarakat di Indonesia menanggap bahwa orang yang tidak memercayai keberadaan Tuhan adalah orang yang bebas tak terbatas, tidak mempunyai batasan-batasan moral, sehingga akan merugikan orang lain. Ada pula yang menganggap ateisme sama dengan komunisme atau seorang ateis pastilah komunis. Anggapan awam terhadap ateis ini ternyata banyak yang keliru. Hal ini disebabkan karena adanya stigma buruk mengenai ateisme sehingga penjelasan yang benar mengenai ateisme sulit didapat.

Tidak sedikit juga masyarakat yang bertanya-tanya mengenai ateisme. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan mengenai ateisme yang sering ditanyakan oleh masyarakat, yang saya coba jawab berdasarkan penjelasan dari narasumber dan observasi.

Baca lebih lanjut

Liputan tentang ateis di Indonesia dan page ABAM (The New York Times)

Berikut cuplikan artikel The New York Times berjudul: “For Indonesian Atheists, a Community of Support Amid Constant Fear”. Page ABAM juga ada disebutkan di artikel tersebut (“You Ask Atheist Answer”). Artikel penuhnya ada di: http://www.nytimes.com/2013/04/27/world/asia/26iht-indonesia26.html

JAKARTA — Karina is an atheist, but her friends jokingly call her “the prophet.” That is because she is helping nurture a community for unbelievers in predominantly Muslim Indonesia, where trumpeting one’s disbelief in God can lead to abuse, ostracism and even prison.

“It’s very normal for atheists to be paranoid because the environment does not support them,” said Ms. Karina, 26, who uses only one name. But, she said, “in this group people don’t need to be afraid.”

Indonesian Atheists was founded with a Facebook page in 2008 and now holds regular gatherings. The Internet has offered its members a safe space to air their opinions, and the feeling of community has made them braver about gathering in public. But recent prosecutions of people who made online comments deemed blasphemous by the country’s courts have stoked fears that they too could come under attack.

“Members’ growing outspokenness and courage does not indicate that other people increasingly accept us,” said Karl Karnadi, 29, the group’s founder. He lives in Germany and is candid about being a nonbeliever on Facebook and Twitter. Inside Indonesia, atheists are circumspect about their views, he said, and refrain from public criticism of Islam or any statements that could run afoul of the country’s blasphemy law. Still, he said, that is an advance from a time when people were fiercely secretive.

“At first people think they’re alone,” Mr. Karl said in a Skype interview. “But after we meet each other, we feel like we’re accepted. We’re together if anything happens to us, and that feeling of community is very valuable.”

…full article: http://www.nytimes.com/2013/04/27/world/asia/26iht-indonesia26.html

Apa ideologi politik para ateis?

Para ateis bisa memiliki ideologi politik yang berbeda beda dan semuanya sah-sah saja. Namun mayoritas ateis mendambakan diterapkannya sistem sekuler yang baik dan demokratis. Sekularisme memungkinkan bahwa aturan negara tidak dicampuradukkan dengan aturan agama. Segala bentuk peraturan dan perundangan harus memiliki landasan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan demi kepentingan bersama dan bukan landasan yang bersumber dari kitab suci.

 

Sekularisme memberikan ruang kepada siapapun untuk menjalankan ritual keagamaan yang dia percaya dalam batasan tidak mengganggu kepentingan kehidupan orang lain. Bahwa hukum negara diberlakukan sebagai hukum negara di mana semua orang harus tunduk padanya. Anda tidak bisa lolos mengendarai motor menggunakan sorban dengan dalil agama ketika aturan negara menyuruh anda mengenakan helm, dan masih banyak lagi. Sayangnya banyak sekali persepsi salah mengenai sekularisme berkembang di masyarakat, dan jika Anda teliti, sebagian besar dari opini buruk tentang sekularisme mengandung informasi yang salah, atau bahkan seringnya tidak memiliki alasan sama sekali. Anda akan sering menemukan kalimat seperti “ sekularisme adalah ideologi kafir, sekularisme adalah propaganda barat, sekularisme adalah penghancur agama, dan seterusnya tanpa disertai alur alasan logis yang jelas.

 

Alasan mayoritas ateis mendukung sekularisme adalah demi kehidupan bersama yang lebih baik tanpa ada aksi merugikan yang dilakukan sebagian orang dengan agama sebagai pembenarannya. Kami mendambakan berkembangnya ilmu pengetahuan secara lebih baik.

Apa itu agnostik? Apa perbedaannya dengan ateis?

Secara terminologi agnostik adalah orang yang memiliki pandangan bahwa ada atau tidaknya Tuhan tidak dapat diketahui. Agnostik lawan kata dari gnostik yang artinya berpendapat bahwa Tuhan dapat diketahui sebagai ada atau tidak. Ateis dan teis lebih berimplikasi pada sikap dan tindakan. Anda seorang teis jika Anda percaya Tuhan ada dan segala tindakan Anda dilakukan dengan berpedoman atas perintahnya, ateis jika Anda tidak menganggap Tuhan ada dan tidak mendasarkan tingkah laku atas perintahnya. Maka dari itu dapat muncul empat jenis kombinasi: teis agnostik, mereka yang menyembah Tuhan namun mengakui Tuhan tidak dapat diketahui; teis gnostik, mereka yang menyembah Tuhan yang percaya keberadaan Tuhan bisa diketahui; ateis agnostik, mereka yang tidak percaya Tuhan dan berpendapat ada/tidaknya Tuhan tidak diketahui; yang terakhir, ateis gnostik, yakni mereka yang tidak menyembah Tuhan dan berpendapat bahwa Tuhan memang jelas-jelas tidak ada.

Beranjak dari definisi-definisi tersebut kita bisa melihat bahwa di luar sana sebenarnya banyak didominasi oleh teis agnostik, yakni mereka yang tidak yakin bahwa Tuhan ada atau tidak namun melakukan peribadatan untuk sekedar jaga-jaga (ini bisa juga merupakan residu ketakutan yang tertanam sejak kecil akan neraka dan dosa akibat tidak menyembah Tuhan yang benar) atau alasan lainnya.

Jika Tuhan tidak ada darimana adanya Alam semesta?

Sama seperti pertanyaan, jika zeus tidak ada, maka darimana datangnya petir? Ketidaktahuan kita mengenai darimana asal alam semesta tidak menjustifikasi kita untuk lantas percaya bahwa ada mahkluk super yang tidak terlihat, membuat alam semesta untuk suatu tujuan. Sangat mudah untuk mengatakan alam semsta ada karena gajah kosmik yang bersin, atau ulah doraemon. Sudah selayaknya kita jujur jika kita memang belum mengetahuinya.

Kita hanya selayaknya mempercayai penjelasan yang didukung oleh hasil pengamatan dan bukti bukti. Dari apa yang dapat kita kumpulkan lewat pengamatan, data data dan kalkulasi, terciptanya alam semesta lewat proses bigbang adalah teori yang paling didukung banyak bukti. Bayangkan, dalam peradabaan sains modern yang baru beberapa abad, manusia mampu mengetahui apa yang terjadi 14 milyar tahun yang lalu. Apa yang terjadi sebelum bigbang, memang belum diketahui dan disepakati oleh para ilmuwan.

Mempercayai suatu alternatif penjelasan karena sesuai dengan bukti bukti yang dapat diukur tentu lebih masuk akal daripada mempercayai suatu hal hanya karena terdapat di kitab suci dan kita akan masuk neraka jika menyangkalnya. Terakhir jika segala sesuatu harus memiliki pencipta, maka teori keberadaan Tuhan (yang belum dapat dibuktikan) tidak menjawab masalah karena timbul pertanyaan lain: siapa yang menciptakan Tuhan? Menjawab “Tuhan tidak perlu pencipta” jelas bertentangan sendiri dengan silogisme “segala sesuatu harus ada pencipta”.

Kemanakah ateis setelah mati?

Secara umum ateis tidak percaya akan kehidupan setelah mati. Kebanyakan mempercayai bahwa setelah mati, sama seperti sebelum lahir. Tidak ada bukti apapun, kecuali orang-orang yang mengalami gangguan psikologis pernah menceritakan kehidupan setelah kematian. Tentu semua orang menginginkan adanya kehidupan setelah mati. Sangat indah membayangkan kita bisa tetap menjaga ingatan dan keberadan kita. Tapi bukti bukti sejauh ini tidak mengindikasikan adanya hal tersebut. Mereka yang mengaku sempat mengalami kematian menggambarkan alam kematian secara jauh berbeda dan berakar apda kepercayan agamanya massing masing.

Apa yang membuat seseorang menjadi ateis?

Ada berbagai macam alasan yang membawa seseorang menjadi atheis. Pada awalnya tentu saja semua orang lahir tidak beragama ataupun menyembah Tuhan tertentu, yang kemudian menganut agama yang dianut orang tua mereka. Dalam perkembangannya banyak yang menyadari bahwa kepercayaannya yang dibawa sejak kecil ternyata tidak memenuhi bukti yang cukup untuk dianggap sebagai fakta, melainkan dongeng yang sangat luar biasa sehingga seolah mampu memberikan segala jawaban mendasar tentang asal usul dan tujuan kehidupan. Para atheis pada umumnya adalah mereka yang peduli akan kebenaran dan mencarinya dengan mengedepankan objektifitas, menghidnari asumsi, dan menarik kesimpulan yang paling logis. Dengan demikian mereka mampu menganalisa secara objektif bagaimana hingga agama dan imajinasi manusia tentang Tuhan muncul.

Dalam variasinya ada juga beberapa atheis lemah yang menjadi atheis karena merasa doanya tidak pernah di dengar oleh tuhan dan mulai berasumssi bahwa tuhan tidak ada, atau tidak peduli pada umatnya.