How do you know God isn’t real?

Salah satu episode dari ‘Atheist Experience’. Tayangan interaktif live Mingguan di Austin serupa dengan ‘Anda bertanya Ateis Menjawab’. Tonton tanya jawab mereka lainnya di Youtube channel ‘Atheist Experience’.

Iklan

Apa sih bedanya bangku sama kursi? (Dijawab oleh Dewi Rainny)

Jawaban menarik untuk pertanyaan menarik di grup ABAM:

Kita mengenal kata bangku dari bahasa Portugis, dan bentuknya panjang untuk dua, tiga, empat orang duduk bersama. Di mana kata/benda itu datang? Kemungkinan kata bangku datang bersama kata Portugis lainnya: banco de igreja, atau bangku gereja.

Dari mana kita mengenal kursi? Pernah mendengar ayat kursi? Ya, dari bahasa Arab. Kursi berarti singgasana, tahta, juga tempat duduk. Seperti halnya singgasana, tentu yang duduk hanya satu orang.

Tapi film “bangku kosong” sebenarnya bercerita tentang “kursi” yang kosong. Ini bicara tentang tempat duduk sekolah bukan?

Di sekolah, istilah tempat duduk yang digunakan adalah bangku. Ada ‘uang bangku’ ada istilah ‘masih duduk di bangku sekolah’ untuk menggambarkan usia seseorang, walaupun yang dipakai duduk adalah kursi–individual, satu orang satu tempat duduk, tidak berbagi.

Tapi kenapa tempat duduk di sekolah untuk murid (bukan kursi guru) disebut bangku? Karena dulunya, sekolah di Indonesia diisi dengan bangku, bukan kursi.

Lihat ilustrasi berikut:
3374133_20140612115008

Sampai saat ini, tempat duduk bagi murid masih disebut bangku, walaupun dilihat dari bentuknya sebetulnya lebih tepat disebut kursi.

Tidak berarti saat ini tak ada lagi sekolah yang menggunakan bangku. Masih ada. Lihat gambar ini:
dsc01576

http://jeperis.files.wordpress.com/2009/03/dsc01576.jpg?w=300&h=225

Bandingkan ilustrasi dari zaman dulu dan foto hari ini tentang bangku, terlihat betapa merosotnya mutu (fasilitas) pendidikan kita.

Terima kasih untuk pertanyaannya.

-Dijawab oleh Dewi Rainny.

 

Jangan lupa bergabung dengan grup ABAM di Tanya ABAM.

Masa Sih Manusia Bisa Baik atau Hidup Damai Tanpa Agama?

dogoodheart

 

Baru-baru ini saya menemukan komentar berikut terhadap salah satu tulisan saya di web ABAM: “Manusia tidak bisa damai tanpa agama dan hanya dengan mengandalkan logika.” False dilemma yang tersirat dalam komentar si X, bahwa “tanpa agama” berarti “hanya mengandalkan logika” akan saya bahas lain kali. Jujur, saya sudah lelah membaca dan mendengar komentar serupa. Banyak penganut agama yang berasumsi bahwa manusia hanya bisa “baik” kalau beragama. Yah, wajar saja kalau X (yang sepertinya orang baik-baik) percaya bahwa (seperti kebanyakan umat beragama yang baik-baik juga) semua konflik agama disebabkan oleh “oknum” dan bukan oleh ajaran-ajaran agama, juga bahwa manusia betul-betul butuh agama agar bisa hidup dengan damai atau agar bisa menjadi manusia yang baik. Memang benar, kebanyakan konflik agama  tidak murni disebabkan perang ideologi, namun juga disebabkan banyak faktor lain seperti ekonomi, wilayah, rebutan sumber daya, tribalisme, dsb. Sure, sure. Saya juga jujur kurang yakin kalau dogma tok bisa membuat sekelompok orang kalap tanpa dibantu kemisikinan, ketimpangan sosial, dan faktor lainnya. Masa iya FPI mau repot-repot mengancam tempat-tempat hiburan kalau bukan ujung-ujungnya minta amplop? Tidak mungkin kan lapisan bawahnya yang seringkali rela berpanas-panas ria membawa spanduk itu menikmati gaji jauh di atas UMR? Cukup sering juga agama menjadi lem identitas yang menyatukan kelompok yang tertindas, rebutan sumber daya, wilayah dan lain sebagainya yang saya sebut tadi. Bahwa doktrin agama seringkali berpotensi memperburuk keadaan atau memperpanjang konflik mungkin bisa dibahas di kesempatan lain.

Di kesempatan ini, saya tertarik membahas beberapa hal: apa betul manusia (sebagai kelompok) tidak bisa hidup damai tanpa agama? Lalu apa kriteria “manusia baik” yang layak dijadikan pegangan? Dan dengan mempertimbangkan kriteria “baik” ini, mengapa kita sangat perlu akal sehat (atau yang kayaknya disebut “logika” oleh si X) dalam mengambil keputusan?

~

Sebelum membahas apa manusia bisa hidup damai tanpa agama, pertama-tama kita harus terlebih dahulu sepakat dengan kriteria “damai.” Sebagai kelompok, manusia dapat dikatakan damai kalau bebas dari konflik. Mungkin kriteria netral yang dapat saya gunakan di sini adalah yang dipakai oleh Global Peace Index. GPI adalah produk The Institute for Economics and Peace yang berbasis di Australia. Setiap tahun GPI mengeluarkan daftar peringkat negara-negara menurut indeks “kedamaiannya,” sesuai dengan data yang dikumpulkan oleh The Economist Intelligence Unit. Kriteria “damai” GPI antara lain sebagai berikut: jumlah konflik internal maupun eksternal, jumlah kematian yang disebabkan konflik internal maupun eksternal, tingkat kriminalitas, stabilitas politik, aktivitas teroris, jumlah tindakan kejahatan yang violent, jumlah kasus pembunuhan per 100.000 orang, dan lain-lain. You get the picture.

~

Berikut adalah negara-negara paling damai menurut GPI, dengan memperhitungkan faktor-faktor yang saya sebut di atas (urutan sesuai peringkat, dimulai dari peringkat paling tinggi): Islandia, Denmark, Selandia Baru, Austria, Swiss, Jepang, Finlandia, Kanada, Swedia, Belgia, Norwegia, dst. Daftar lengkapnya bisa ditemukan di: http://en.wikipedia.org/wiki/Global_Peace_Index#Global_Peace_Index_rankings

Kalau kita sepakat bahwa kriteria damai yang digunakan GPI cukup baik dan bahwa asumsi si X bahwa “manusia tidak bisa damai tanpa agama” memang betul, seharusnya negara-negara yang menduduki peringkat teratas dalam GPI adalah negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama. Betul kan? Bagaimana mungkin negara-negara tersebut bisa damai (i.e., memiliki tingkat konflik, tingkat kriminalitas, tingkat pembunuhan, tingkat kematian akibat konflik, dst. yang rendah) kalau mayoritas penduduknya tidak beragama?

Yuk kita lihat, seperti apa sih kepercayaan mayoritas penduduk di negara-negara yang saya sebut di atas?

NOTE: sisa persentase menjawab tidak tahu atau tidak bersedia menjawab.

Islandia: 31% percaya Tuhan, 49% tidak percaya Tuhan namun percaya semacam “spirit” atau “life force”, dan 18% tidak percaya Tuhan, spirit, dan life force*

Denmark: 28%, 47%, 24%

Austria: 44%, 38%, 12%

Swiss: 44%, 39%, 11%

Jepang: Kurang dari 15% mengaku memiliki afiliasi agama (2010)**

Finlandia: 33%, 42%, 22%

Kanada: 30% tidak percaya Tuhan***

Swedia: 18%, 45%, 34%

Belgia: 37%, 31%, 27%

Norwegia: 22%, 44%, 29%

(Sumber: Eurobarometer Poll 2010, Canadian Ipsos Reid Poll, dan Craig Lockard)

Bandingkan angka-angka di atas dengan Indonesia yang populasi irrelijiusnya mungkin tidak sampai 1% (maklum kalau susah mendapatkan angka yang akurat berhubung WNI “diharuskan” beragama).

*Pada tahun 2013, 76,18% penduduk Islandia berafiliasi dengan the Church of Iceland. Angka ini sekilas membingungkan, mengingat hasil survey yang saya berikan di atas. Yang perlu dimengerti, “afiliasi” dengan agama tidak berarti seseorang menganut agama tersebut atau beribadah menurut agama tersebut, seperti yang akan saya jelaskan di bawah.

**Menurut Craig A Lockard. Societies, Networks, and Transitions Since 1450 (2nd ed., 2010). Secara budaya, Jepang mengkombinasikan beberapa kepercayaan, termasuk Shinto. Sedangkan menurut makalah yang diterbitkan Harvard University Press tahun 1988, 70%-80% penduduk Jepang menjawab tidak percaya agama saat diikutsertakan dalam survey.

***Survey yang diselenggarakan di Kanada berbeda dengan survey yang dilaksanakan di negara-negara Eropa yang disebut di atas. Survey yang saya sebut diselenggarakan oleh The Canadian Ipsos Reid Poll (2012). Yang menarik, menurut survey yang sama, dari 31% yang mengaku tidak percaya Tuhan (BUKAN dari total penduduk), 33% mengidentifikasi diri sebagai Katolik, dan 28% mengaku Protestan. Bisa dilihat bahwa mereka yang mengaku tidak percaya Tuhan, secara kultural adalah Katolik atau Protestan. Sebagai tambahan, menurut sensus pemerintah Kanada, populasi yang nonrelijius meningkat dari 12,6% pada tahun 1991 hingga 23,9% di tahun 2011.

~

Survey agama memang sedikit problematis, seperti yang dapat kita lihat di atas. Kok bisa orang yang mengaku tidak percaya Tuhan juga mengaku Katolik? Ambil contoh kakak ipar saya (Italia-Amerika) yang “Katolik” secara kultural. Ia tidak pernah ke gereja maupun berdoa, namun merayakan Natal, tidak jauh beda dengan saya yang ateis namun dibesarkan secara protestan dan masih suka menyanyikan lagu-lagu Natal atau bertukar kado saat Natal. Juga teman saya yang orang Turki yang mengaku Muslim, namun tidak percaya Tuhan personal, organized religion, dan bahkan tidak tahu kalau wanita tidak boleh salat di masjid saat menstruasi. Bingung? In short, “agama” bagi mereka yang nonrelijius (bahkan ateis) dapat berperan sebatas sebagai identitas kultural, jadi kita harus ingat bahwa “afiliasi agama” sama sekali berbeda dengan religiositas.

Biar mudah, berikut daftar bangsa yang paling tidak religius* menurut GALLUP WorldView Poll 2006-2011 (diakses 14 September 2011):

  1. Swedia
  2. Denmark
  3. RRC
  4. Norwegia
  5. Estonia
  6. UK
  7. Hong Kong
  8. Perancis
  9. Czech Republic
  10. Jepang
  11. Finlandia
  12. Belgia
  13. Selandia Baru

*Daftar sesuai peringkat, dari paling tidak religius.

Di Eropa, jumlah penduduk yang tidak beragama semakin meningkat. Menurut studi berdasarkan sembilan survey berbeda yang hasilnya dilaporkan di pertemuan American Physical Society di Dallas, AS, pada tahun 2011, agama akan mulai “punah” di negara-negara berikut: Australia, Austria, Kanada, Czech Republic, Finlandia, Irlandia, Belanda, Selandia Baru, dan Swiss. Model matematika yang digunakan sama dengan yang digunakan oleh Dr. Daniel Abrams di tahun 2003 untuk untuk mengukur “kematian” (kepunahan) bahasa-bahasa dunia (http://www.bbc.co.uk/news/science-environment-12811197). Cukup lucu bahwa banyak negara yang digunakan dalam survey juga dinilai GPI sebagai negara-negara yang paling “damai” di dunia. Kebetulan?

~

Jadi, menganggapi komentar pengunjung web ABAM tadi: tidak, manusia sebagai kelompok tidak butuh agama untuk damai, untuk tidak berbuat jahat, dst. (by the way, baru-baru ini empat penjara di Swedia yang penduduknya hanya 18% teis ditutup karena jumlah pelaku tindakan kriminal menurun). Mungkin saja si X tadi secara pribadi merasa agama memberikan dia jangkar moral, belum lagi ketenangan, harapan, dsb. Mungkin saja ada manusia-manusia yang akan saling bacok kalau tidak dilarang agama, atau akan mencuri, atau akan korupsi, seperti yang sering terjadi di Indonesia ini. Eh…ah sudahlah.

Kita yang dibesarkan di Indonesia sudah dikondisikan dari kecil untuk percaya bahwa tanpa agama manusia tidak akan berfungsi secara sosial dan akan bertindak anarkis, bahwa agamalah yang berperan sebagai rem moral. Maka mungkin wajar kalau ada ketakutan bahwa tanpa rem moral tersebut, manusia akan bertindak semaunya. Kalau Anda sering main ke FP ABAM, tentu sering kan ketemu pertanyaan kocak seperti, “Kalau tidak percaya Tuhan, berarti kalian bebas dong ngapain aja (dari nyolong, membunuh, sampai ke yang absurd seperti ‘ngeseks dengan adik/ibu sendiri’—true story)?” Namun, dengan logika serupa, seharusnya Indonesia yang mayoritas beragama lebih bersih dari tindakan kejahatan, korupsi, human trafficking, konflik internal, dan sebagainya dibandingkan bangsa-bangsa “kafir” yang saya sebutkan di atas. Kenyataannya? Justru tingkat pendidikan dan kesejahteraanlah yang berkorelasi lebih erat dengan  kedamaian, dengan rendahnya tingkat kriminalitas.

Anyway, sekedar menawarkan perspektif. Berikut adalah lima negara yang menduduki peringkat terendah GPI: Sudan, Irak, Syria, Somalia, Afghanistan. Apa ini berarti agama membuat orang saling bunuh? Tidak juga. Kenyataannya memang jauh lebih kompleks dari itu, karena seperti yang saya kemukakan di awal, banyak variabel lain yang memiliki andil. Hanya, kalau agama menjamin  manusia akan damai atau kalau manusia butuh agama agar damai, melihat bukti yang ada, ya sudah jelas salah. Saya yakin, tanpa percaya Tuhan atau agama pun  Anda tidak akan lantas jadi maling, pemerkosa, dan pembunuh. Atau taruhlah Anda termasuk sebagian kecil manusia yang memang ada bakat psikopat, tidak punya empati, dan cuma takut sama neraka (semoga tidak ya), mbok ya jangan pukul rata dan menganggap bahwa semua orang seperti Anda.

~

Lalu mengapa manusia perlu akal sehat (mungkin ini yang disebut si X tadi sebagai “logika”—terus terang saya juga kurang paham) agar bisa benar-benar “baik”? Ambil contoh teman saya di Amerika Serikat. Katherine ini murid S2, salah satu murid yang paling berprestasi di bidang kami. Suatu saat saya, Katherine, dan teman saya satu lagi sedang bersiap-siap menonton film horor. Entah kenapa, link Amazon Prime yang ingin kami gunakan untuk menonton film online sedang kumat. Karena frustrasi, teman saya yang satu lagi mengusulkan agar kami menonton film tersebut di link lain yang gratis (dan seperti kebanyakan situs film gratis, juga ilegal). Katherine terdiam sebentar. Kata dia pelan-pelan (mungkin karena tidak mau menyinggung perasaan teman saya atau terkesan menggurui), “Hm, sebisa mungkin I want to do it the right way.” The right way artinya, tidak melanggar hukum dengan menonton film bajakan di link online gratis.

Memang perlu sedikit saja akal sehat untuk mengerti bahwa menonton film bajakan, menyogok polisi demi menghindari surat tilang, tidak membayar pajak seperti semestinya, sama saja dengan mencuri, karena merugikan pihak-pihak lain dengan mengambil atau tidak memberikan uang kepada pihak-pihak yang berhak secara hukum. Katherine ini juga tidak membeli pakaian dari beberapa merk Amerika Serikat karena tidak setuju dengan bagaimana mereka memperlakukan pekerja-pekerja pabrik di berbagai negara ketiga (baik dari kondisi kerja sampai tunjangan hidup). Katherine juga tidak membeli berlian karena khawatir berlian tersebut datang dari daerah-daerah konflik.

Dan guess what? Katherine seorang ateis yang datang dari keluarga sekuler. Ia, tidak seperti saya, tidak dibesarkan secara agama. Dan seperti saya, ia menganggap semua agama dan kitab suci hanya dongeng belaka.

Kalau Anda taat beragama dan yakin bahwa agamalah yang membuat Anda tetap baik, tanyakan ke diri Anda sendiri, apakah Anda sudah se”baik” Katherine (yang, btw, juga seorang vegetarian)? Atau sekedar “baik” secukupnya menurut agama Anda saja (tidak nyolong dompet orang, tidak  membunuh, menghormati orang tua, rajin ibadah, sedekah, yaddayadda)? Menjadi baik secukupnya itu mudah kalau Anda bukan seorang sociopath. Menjadi benar-benar baiklah yang susah. Saya juga masih berusaha agar bisa sebaik teman saya Katherine.

(Alika)

~~~

P.S.

Omong-omong soal korupsi tadi, sebagai penutup, ini daftar 10 negara paling tidak korup menurut studi yang diselenggarakan Transparency International (dimuat di Reuters):

Paling tidak korup (sesuai peringkat):

  1. Denmark
  2. Selandia Baru (skor sama dengan Denmark)
  3. Finlandia
  4. Swedia (skor sama dengan Finlandia)
  5. Norwegia
  6. Singapura (skor yang sama dengan Norwegia)
  7. Swiss
  8. Belanda
  9. Australia
  10. Kanada (skor yang sama dengan Australia)

Bosan yah. Negara-negara yang sama terus yang muncul. 

Pasti konspirasi jiionis!

Pasti konspirasi jiionis!

Sumber:

http://economicsandpeace.org/

http://www.eiu.com/

http://www.visionofhumanity.org/pdf/gpi/2013_Global_Peace_Index_Report.pdf

http://economicsandpeace.org/wp-content/uploads/2011/09/2012-Global-Peace-Index-Report.pdf

http://www.bbc.co.uk/news/science-environment-12811197

http://www12.statcan.gc.ca/nhs-enm/2011/as-sa/99-010-x/99-010-x2011001-eng.pdf

http://www.theguardian.com/world/2013/nov/11/sweden-closes-prisons-number-inmates-plummets

http://redcresearch.ie/wp-content/uploads/2012/08/RED-C-press-release-Religion-and-Atheism-25-7-12.pdf

Eurobarometer Poll Report 2010

Lockard, Craig A. Societies, Networks, and Transitions: A Global History. Volume II: Since 1450. 2nd ed. Cengage Learning, 2010.

http://www.reuters.com/article/2013/12/03/idUS95815491020131203

GALLUP WorldView Poll 2006-2011 via http://en.wikipedia.org/wiki/Irreligion_by_country#Countries

Speciation as a Clear Evidence of How Biological Evolution is at Work

We used to hear about Darwin’s theory of evolution as the explanation of the present bio-diversity and leftover fossils found by the archaeologist. Sure, it’s easy to agree that natural selection plays a major role at making the rest of us walk the earth while the unfit succumbed and later on known as part of our prehistoric ancestors. But then again, why were they so different than the survivors at all? One of the explanations I found on a course about biological evolution was the one about Allopatric Speciation.

As we know, it’s the name for” speciation by geographic isolation” which is what happens when a population of a species got divided by barriers which made them separated by locations, which in turns making both (or more) populations developed their genetic differently later on as seen in their descendants.

How in real life would this be happening? Now surely we can use our human populations on earth as logical reasoning. We can clearly see how people who live on East Asian continent part of the world phenotypically different from the people who live on African continent. Though studies said that we all came from Africa, by the time we discovered the fact, we already looked very different in terms of appearance. Of course scientists stated that individual humans’ genetic differences are so miniscule (around 0.1%) that even when we can see how different our appearances are, we’re still the same species.

Just by the fact that geographical separation can create such difference within a species, it’s no doubt genetic diversity between 2 species populations from the same origin can become distinct cousins in the phylogeny tree. One example of such, is the majestic African Elephant. “The African Elephant has always been regarded as a single species but, because of morphological and DNA differences, some scientists classify them into three subspecies “.

And just how an argument based on Allopatric Speciation would prove that Evolution is right? Well, as it’s just one method of how one species can become different species, just think how it gives such impact on earth’s huge scale within such long period of time? Species populations got separated from one another, and little by little they went different ways, and repeat the process from billions of years ago until today. With addition of fossil findings and lab researches, evolution is a mindset that doesn’t just make sense, but proven to be happening even now.

 

Sources:

http://evolution.berkeley.edu/evosite/evo101/VC1bAllopatric.shtml

http://en.wikipedia.org/wiki/Allopatric_speciation

http://humanorigins.si.edu/evidence/genetics

http://www.darwinwasright.org/speciation.html

http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/2282801.stm

http://myxo.css.msu.edu/ecoli/

Ada Apa Dengan Miss World?

Oke, karena biasanya saya bikin tulisan temanya selalu menjawab pertanyaan, boleh ya sekali – sekali gantian saya yang nanya 😀

Jadi ceritanya saya penasaran kenapa semua orang heboh dengan diadakannya event Miss World tahun di Bali dan Jakarta sampai ramai – ramai menolak di social media dengan diwarnai berbagai kelucuan yang entah sengaja atau tidak sengaja terjadi.

Dalam artikel ini, saya ingin mencoba melemparkan beberapa alasan yang menurut saya masuk akal dan juga argumen saya kenapa alasan tersebut sebetulnya tidak cukup kuat untuk menolak Miss World, kalau sekiranya argumen saya salah ataupun sebetulnya alasannya di luar hal – hal yang saya kemukakan ini, silahkan ditanggapi di sesi komentar.

Kalau tidak ya sudah sih gak usah banyak protes, mau nonton ya nonton, gak suka ya gak usah nonton, gitu aja kok repot. :p

Alasan Penolakan 1: Miss World adalah ajang pamer aurat!

Ciyush?
Miapah?

Maksudnya ajang pamer aurat itu model – model kontes bikini kayak gini yak:

Oke, kalau itu masalahnya, saya punya 3 argumen untuk menjawabnya:

  1. Kalau anda takut bahwa ini akan menjadi ajang semi pornografi, saya jamin nggak deh, kecuali Kate Upton ikut kontes bikini di Miss World saya jamin kontes bikini itu jauh dari kata porno. 
  2. Kalaupun memang ada yang sebentuk dengan Kate Upton ikut Miss World tahun ini dan kontes ini jadi ajang pornografi pun saya lantas tidak melihat masalahnya dimana, sejauh ini saya masih berpendapat bahwa pornografi bukanlah sesuatu yang buruk (baca juga: https://andabertanyaateismenjawab.wordpress.com/2013/08/26/agama-maksiat-dan-bencana-nasional )
  3. In case anda gak update, PANITIA DAN PEMDA BALI UDAH BOLAK – BALIK KONFIRMASI BAHWA GAK ADA KONTES BIKINI DI MISS WORLD TAHUN INI. (baca: http://regional.kompas.com/read/2013/08/27/1707308/Panitia.Pastikan.Miss.World.Tanpa.Bikini )

Masih mau protes soal aurat – mengaurat meskipun gak ada kontes bikini? Mau bilang kalau niat nutup aurat maka kontes bikini harusnya semua pakai Burqa gitu? To be fair kalau begitu harusnya anda menuntut semua stasiun televisi dibubarkan karena tidak stasiun TV yang acaranya menggunakan standar “moral” demikian.

Atau solusi lebih mudah, bagaimana kalau anda jual saja TV anda biar tidak repot?

Alasan Penolakan 2: Miss World Adalah Ajang Eksploitasi Wanita!

Apanya yang dieksploitasi?

Sebelum membahas lebih jauh, saya tanya dulu deh, apa sih bedanya dengan kontes bakat lainnya, misalnya Indonesian Idol atau JKT48 gitu?

Ya, Miss World ini sesederhana kontes bakat saja, tidak ada bedanya dengan Indonesian Idol, bedanya Indonesian Idol yang dilihat kemampuan bernyanyi, ini yang dilihat adalah kecerdasan (brain), kecantikan (beauty) dan sikapnya (behaviour).

Jadi jika anda bicara bahwa Miss World mengeksploitasi kecantikan wanita demi meraup Dollar dan kepentingan bisnis organisasi Miss World, ya dengan standar yang sama berarti Indonesian Idol mengeksploitasi kemampuan bernyanyi para pesertanya dan anda gak protes kan tentang Indonesian Idol?

Kenapa coba anda gak protes?
Karena anda menyukainya?

Terus kalau ada orang lain sukanya sama Miss World gak boleh gitu?
Semua orang seleranya harus sama dengan anda?

Terus kalau anda gak suka sama JKT48 nanti kalau mereka konser lagi anda mau demo lagi gitu nolak konser JKT48?

Alasan 3: Miss World Merendahkan Wanita

Atau versi lengkapnya “Miss World merendahkan wanita yang tidak sesuai sama standar Miss World”.

Sesuai yang saya tulis di atas, Miss World dan kontes kecantikan sebangsanya mengklaim bahwa mereka menilai seorang wanita dari 3 hal, yaitu brain, beauty dan behavior, nah lantas kalau begitu apa kabar nasibnya wanita yang tidak cerdas, tidak cantik, maupun tidak santun?

Dengan adanya kontes semacam Miss World ini yang mengkampanyekan standar penilaian wanita sebagai 3 hal tersebut, maka wanita yang tidak cerdas, cantik maupun santun akan dinilai sebagai warga kelas dua di masyarakat dong?

Kalau sudah begitu, lantas bagaimana dengan karakter – karakter lain yang sebetulnya juga baik untuk dimiliki seorang wanita tapi tidak masuk ke 3 kategori itu? Kasihan kan wanita – wanita itu jadi dipandang rendah hanya karena mereka tidak cerdas, cantik maupun santun, padahal mereka itu sebetulnya patuh pada orang tua, peduli lingkungan, taat hukum dan rajin menabung?

Oke, untuk bagian ini kita bagi 2 deh, pertama: apakah menurut anda kecerdasan, kecantikan dan sikap bukanlah kualitas dari seorang wanita?

Yakin anda wanita cerdas gak patut dihargai?
Yakin anda wanita wanita santun gak patut dihargai?

Dan tentu saja:
Yakin anda wanita cantik gak patut dihargai?

Nah ini agak ribet nih, ini sebetulnya salah satu point yang paling banyak diprotes orang, konon katanya kapitalisme telah menjual image kecantikan sebagai nilai tertinggi dari harga diri seorang wanita.

Tapi yakin dunia ini jadi begini hanya karena kapitalisme?

Yakin manusia di masa lalu sebelum era kapitalisme tidak menilai kualitas utama perempuan dari fisiknya?

Pernah dengar mitologi Yunani soal Medusa?

Sebelum dikutuk menjadi monster berambut ular, Medusa adalah seorang pendeta wanita cantik penjaga kuil Athena. Ia wanita yang selain cantik, juga cerdas dan sangat taat kepada Athena sebelum akhirnya Ia diperkosa oleh Poseidon karena menolak cintanya.

Pertanyaannya adalah, memangnya Poseidon jatuh cinta pada Medusa karena dia cerdas? Atau karena dia taat? Ya jelas tidak, satu – satunya alasan Poseidon jatuh cinta pada Medusa adalah karena kecantikannya. Jadi budaya dimana kita menilai seorang wanita dengan menitik beratkan pada fisiknya saja.

Tidak usah jauh – jauh, awal abad ke 20 masyarakat barat masih menganggap tidak sopan seorang wanita yang mengomentari urusan politik atau ekonomi, jadi jangankan kecerdasannya dihargai, menunjukkan kecerdasan saja dianggap tidak sopan, apa lagi yang mau dinilai dari seorang wanita dalam budaya seperti itu kalau bukan semata – mata kecantikannya?

Jadi kalau menurut saya, Miss World ataupun kontes kecantikan manapun sebetulnya tidak merendahkan wanita manapun, budaya kita memang sudah ribuan tahun menganggap wanita sepele kok, lihat saja bagaimana Taliban menembak seorang anak kecil wanita hanya karena Ia ingin cerdas, kurang meremehkan apa lagi dunia kita terhadap kaum wanita?

Kebudayaan kita seratus tahun terakhir memang perlahan mulai bersahabat kepada wanita, namun memang belum seutuhnya berpihak secara fair bagi pria dan wanita, dan saya rasa Miss World, Miss Universe ataupun Putri Indonesia dan sebangsanya jelas bukan sebuah faktor yang justru memundurkan usaha tersebut bukan? Jadi dimana masalahnya?

Alasan 4: Apa kata dunia kalau sampai tahu Indonesia menyelenggarakan event Miss World?

Apa coba?
Seriusan saya beneran nggak tau.

Apakah reaksi kita berubah kepada Cina ketika mereka menyelenggarakan Miss World tahun lalu? Atau apakah reaksi kita berubah kepada Turki ketika mereka memenangkan Miss World tahun 2002? Lantas bakal bagaimana reaksi dunia? Dan “dunia” yang anda maksud itu siapa? Negara – negara Asia? Amerika? PBB?

Alasan 5: Miss World tidak sesuai dengan budaya timur

Ini saya setuju sekali, karena dalam budaya timur memang seharusnya wanita itu cukup menjadi pajangan suami saja, tidak perlu ikut kontes – kontesan semacam ini.

Penutup

Adakah yang terlewat? Sesuai yang saya tulis di awal, jika ada argumen saya yang salah silahkan dikoreksi, jika ternyata alasannya di luar 5 hal yang saya kemukakan di atas ya silahkan juga disampaikan. 😉

Seberapa Haram Alkohol Sebetulnya?

Karena akhir – akhir ini isu halal/haramnya makanan/minuman lagi rame, terutama isu “Solaria gak halal” dan “Ahok bilang bir bukan miras karena alkoholnya sedikit”, gw mau ngoceh dikit yak soal sebuah hal yang udah ada di kepala gw bertahun – tahun tapi belom pernah gw keluarin dari kepala gw

boleh kan? boleh kan?

Kalo gak boleh yaudah sih gak usah diterusin bacanya kok repot :p

Waktu gw jaman kuliah, pas materi pelajaran agama Islam, ada perdebatan antara temen sekelas gw dan dosen gw soal seharam apa Alkohol, temen gw bilang:

“Alkohol itu haram no matter what, jangankan minuman beralkohol, bikin kue pake rum ataupun pake parfum yang mengandung alkohol aja sebetulnya haram”

Sementara dosen gw bilang:

“Yang haram itu mabuknya, kalau kamu gak mabuk ya gak haram”

Secara pas itu status gw adalah teis gak pedulian gw gak ambil pusing buat ikutan mereka debat, tapi belakangan pas gw baca2 sejarah soal Islamic Golden Age, gw rasa gw nemuin jawabannya:

Alkohol itu gak haram, kecuali lo pake buat memabukkan diri.

Seperti biasa gw akan mulai dari definisi dulu, sesuai pelajaran kimia kita jaman SMA, kita sepakat ya bahwa definisi Alkohol adalah senyawa rantai karbon yang di ujungnya ada -OH.

Sepakat kan? Sepakat kan? Lanjut.

Sekarang kita lihat lagi, kapankah Alkohol mulai dikenal manusia?

Di Eropa, Timur Tengah sampai Asia Timur, sejak abad sebelum masehi sudah dikenal beberapa jenis minuman yang mengandung Alkohol dan memabukkan, mulai dari anggur, khamr sampai arak udah dikenal sama berbagai peradaban.

Tapi mereka belum kenal tuh yang namanya Alkohol, mereka cuma tau itu bikin mabuk, titik. Gak tau ada komposisi apa di dalemnya, karena ilmu kimia (ataupun alkemi, pendahulunya) belum sampai situ.

Nah, pas Islamic Golden Age, para ilmuwan – ilmuwan jaman itu kan kurang kerjaannya bukan main tuh, segala hal mereka riset hingga menghasilkan berbagai temuan penting dan luar biasa bagi dunia, di situlah mereka baru menemukan adanya zat bernama Alkohol, termasuk cara membuatnya.

note: notice gak bahwa semua hal berbau ilmiah yang depannya “Al” itu bikinan Islamic Golden Age? Contoh: Al-jabar, Al-goritma, Al-kaline dan termasuk juga Al-kohol (Al-kuhl)

Nah, ketika mereka menemukan Alkohol apa mereka langsung bilang itu haram? Ya nggak. Prinsip mereka yang diharamkan dalam Quran itu kan khamr, dan prinsip mereka khamr mengacu pada sifat “memabukkan”-nya, bukan sama komposisi di dalamnya.

Alkohol adalah salah satu produk paling penting dalam kemajuan Islam di era itu, berkat Alkohol dan teknik ekstraksi wangi dari tumbuh – tumbuhan, mereka berhasil bikin minyak wangi terbaik sepanjang sejarah sampai saat itu, dan itu jadi komoditi ekspor gede – gedean ke cina, eropa dan afrika, salah satu penyokong ekonomi yang bikin maju mereka.

Di luar itu, tentara Muslim di jaman itu yang begitu perkasa ketika bertempur melawan musuh – musuhnya, salah satu rahasianya adalah minum ramuan khusus yang digunakan untuk meningkatkan stamina dan konsentrasi, dimana salah satu bahannya adalah Alkohol.

Jadi, kalau menurut gw sih, berkaca kepada sejarah, yang diharamkan adalah apa yang memabukkan, bukan spesifik bahan Alkohol itu sendiri, jadi kalo ditanya komentar Ahok bener apa salah pas dia bilang bir itu bukan minuman keras, ya pikir aja sendiri, kadar Alkohol di bir itu cuma 5%, kaliin deh sama total massa yang cuma 300 gram-an cairan dalam sebotol/sekaleng bir, cuma ada 15 gram alkohol di situ, bikin mabok gak?

Kalo argumennya “kalo minum sekaleng mungkin nggak, tapi kalo banyak kan mabok”, ya minum air putih kalo seliter juga mabok, cobain aja deh minum aqua seliter terus beraktivitas, apa gak mabok karena kembung tuh?

Ini pemikiran gw dulu aja sih, sekarang ya udah gak ngaruh juga buat gw, toh gw mau minum ya minum aja, tapi in case ada yang tertarik buat mempertimbangkan halal/haramnya Alkohol dari sudut pandang ini ya silahkan, kan banyak tuh pengen makan kue pake rum tapi takut haram karena ada Alkoholnya.

Sekian ocehan singkat gw, kalo ada salah fakta atau logical fallacy mohon dikoreksi 😉

Updated:

Berdasarkan diskusi di sesi komentar saat post ini gw bikin di notes Facebook, ada beberapa masukan soal bagaimana memandang kehalal/haraman Alkohol:

  • Ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa Rasul pernah mengkonsumsi cuka, dimana cuka sendiri adalah hasil fermentasi yang mengandung Alkohol, disini ditunjukkan bahwa haram/halal memang bukan semata – mata karena Alkohol
  • Salah satu cara mudah menentukan sebuah zat (baik beralkohol maupun tidak) haram atau tidak adalah dengan melihat trend dari zat tersebut, jika zat tersebut cenderung membuat mabuk (mis: vodka, whiskey, etc) ya sebaiknya dianggap haram, tapi kalau tidak (mis: durian, tape) ya berarti bisa dianggap halal

Daftar Isi Web ABAM

abamSelamat datang di ABAM. Tiga tahun kami melayani pertanyaan seputar ateisme, sains, supranatural, dan sebagainya melalui Fanpage ABAM di Facebook, kami mencoba mendokumentasikan jawaban dari pertanyaan yang sering ditanyakan di sana secara lebih baik. Melalui page ini kami berharap semua orang bisa memahami apa itu ateisme sebelum memutuskan untuk beropini terhadap ateisme secara umum. Di web ini Anda akan membaca apa yang kami pikirkan, apa yang kami baca, dan apa yang kami alami.

Menu Tanya jawab berisi pertanyaan dan jawaban yang sering kami dapatkan di Fanpage ABAM.

Menu Rekomendasi berisi rekomendasi film, buku, artikel yang kami anggap bagus dalam memperluas pengetahuan seputar sains yang kadang bisa beririsan tipis dengan ketidakbertuhanan.

Menu Insight, Anda akan mendapatkan tulisan bebas yang ditulis para ateis seputar beragam topik.

Menu Kisah Ateis berusaha menjawab pertanyaan terbesar yang paling sering ditanyakan, yakni bagaimana dan kenapa seseorang menjadi ateis. Bagian ini berisi kumpulan argumen dan cerita bagaimana seseorang menjadi tidak mempercayai lagi keberadaan tuhan.

Berikut adalah daftar pertanyaan yang dijawab di Web ini. Daftar ini akan terus bertambah.

Seputar Ateisme Mendasar

Apakah ateisme itu?

Bukankah ateis adalah kepercayaan juga? Bahwa Tuhan tidak ada?

Apa itu agnostik? Apa perbedaannya dengan ateis?

Apa itu Panteisme? Apa itu Deisme?

Apa yang dimaksud istilah ‘god of the gaps’?

Politik dan Kehidupan Ateis

Apa isi kolom agama di KTP ateis?

Apakah komunis itu ateis?

Apa ideologi politik para ateis?

Apakah dengan menjadi ateis bisa melakukan sex bebas?

Apakah ateis menikah? Bagaimana pandangan ateis tentang pernikahan?

Apakah ateisme dilarang di Indonesia? Kaitannya dengan sila Pertama Pancasila?

Menyangkut Sila Pertama “Ketuhanan yang maha Esa” apakah ateis perlu diusir dari Indonesia?

Apa sebenarnya sekuler itu?

Masa Sih Manusia Bisa Hidup Damai atau Baik Tanpa Agama?

Filosofis

Adakah cara menjadi ateis?

Bagaimana ateis membuktikan bahwa Tuhan Tidak ada?

Dari Mana Datangnya Semua Ini Jika Tuhan Tidak Menciptakannya?

Untuk Apa Kita Hidup Jika Tuhan Tidak Menciptakan Kita?

Jika tidak ada surga dan neraka, bagaimana dengan orang-orang jahat yang lolos dari peradilan dunia?

Tanpa agama, apa landasan moral ateis?

Tidak percaya Tuhan ada atau percaya bahwa Tuhan tidak ada?

Ada banyak konsep Tuhan, apakah Ateis tidak percaya semuanya?

Jika Tuhan tidak ada dari mana adanya Alam Semesta?

Ke manakah ateis setelah mati?

Bisakah ilmu pengetahuan mengalahkan kematian?

Bukankah Alam Semesta Punya Sebab Yaitu Tuhan? (Argumen Prima Causa)

Apa yang dimaksud “religion is just a matter of geography”?

Jika nanti ternyata setelah mati Tuhan benar-benar ada, bukankah ateis rugi?

Jika Tuhan tidak ada, siapa yang selama ini mengabulkan doa?

Di antara banyak planet kenapa hanya bumi yang dihuni mahkluk hidup?

Dapatkah ateis kembali beragama?

Ilmu Pengetahuan

Kenapa ateis banyak yang mengacu pada sains?

Apakah ada kemungkinan ada Universe lain di luar Universe yang kita tinggali?

Apa itu Dark Matter & Dark Energy?

Apakah black hole itu? Apakah black hole benar-benar ada?

Apakah mesin waktu itu benar benar bisa dibuat?

Penjelasan Supranatural & Debunking

Bagaimana penjelasan mengenai orang yang tiba-tiba mampu berbahasa asing?

Apakah roh itu benar benar ada? Jika tidak, bagaimana manusia bisa hidup?

Apa penjelasan ateis mengenai Anak Indigo?

Bagaimana penjelasan mayat tokoh agama yang tidak membusuk?

Pertanyaan Lucu dan Lain-Lain

Apa itu “Flying spaghetti monster” dan kenapa ateis sering menyebutnya?

Apakah benar Einstein pernah membantah seorang profesor tentang keberadaan Tuhan?

Apa yang dimaksud Einstein dengan “God didn’t play dice”?

Apakah alien itu benar-benar ada?

Kenapa polisi tidur dinamakan polisi tidur?

Kenapa menguap itu menular?

Kenapa manusia bermimpi?