Tidak percaya Tuhan ada atau percaya bahwa Tuhan tidak ada?

Tidak Percaya vs. Percaya Bahwa Bukan – Perbedaan Antara Ketidakpercayaan dan Penyangkalan

Banyak yang sulit memahami bahwa “tidak percaya X” (tidak percaya adanya tuhan atau dewa-dewi) tidak sama dengan “percaya bukan X” (percaya bahwa tuhan tidak ada). Penempatan dari kata negatif adalah kuncinya: yang pertama berarti tidak memiliki sikap bahwa proposisi X (tuhan atau dewa-dewi ada) adalah benar, yang kedua berarti memiliki sikap bahwa proposisi X (tuhan atau dewa-dewi ada) adalah salah. Perbedaan di sini adalah antara ketidakpercayaan dan penyangkalan: yang pertama adalah ketidakpercayaan dalam arti luas atau sempitnya, sedangkan yang kedua adalah penyangkalan.

Membedakan antara keduanya seharusnya sederhana dan mudah saja, tetapi cukup sulit untuk menerangkan hal ini ketika seseorang tidak langsung mengerti. Yang membuat banyak orang tersandung sepertinya asumsi bahwa kalau dihadapkan dengan proposisi apa saja, pilihan yang ada hanyalah untuk percaya bahwa sesuatu itu benar atau percaya bahwa sesuatu itu salah—sehingga saat dihadapkan dengan pertanyaan apakah tuhan ada, seseorang mesti percaya bahwa: 1. setidaknya satu tuhan ada; 2. percaya bahwa tidak satu pun tuhan ada.

Ini adalah kesalahan. Mungkin benar bahwa kebanyakan proposisi yang terpikirkan adalah proposisi yang kita percayai sebagai benar atau salah, tetapi ada banyak sekali proposisi lain yang tidak masuk ke kategori yang saya sebutkan barusan. Pemikiran berhati-hati tentang beberapa skenario “hypothetical” akan membantu menjelaskan kerumitan ini.

Baca lebih lanjut

Iklan

How to Be an Atheist Without Being a Dick About It

Artikel berikut ditulis oleh lindy west dari sumber berikut di bawah ini.

http://jezebel.com/how-to-be-an-atheist-without-being-a-dick-about-it-823225375

I’m an atheist and I’m embarrassed. Not because I’m self-conscious about my convictions (lol, no), but because so many people insist on being such condescending dicks in the name of atheism. I didn’t settle on my belief system because it’s a great opportunity for me to dunk on church ladies—it’s my belief system because I believe in it. Or, don’t believe in it. Whatever. And I don’t appreciate people turning my worldview into some weird, weaponized intellectual superiority complex. Religion is awful in a lot of ways, yes. But that doesn’t mean you have to be awful too.

So, okay, in my heart, I am certain: that shit’s not real. Even “certain” isn’t quite accurate, because it implies the possibility of choice, of something outside this conviction. I’m not “certain” of this conviction—I am this conviction. At this point, the idea that god would enter my world in any sort of non-academic capacity is as laughable as the notion that I might hire Jenny McCarthy to be my child’s pediatrician. Or, I don’t know, that I might spend a weekend driving a microscopic school bus around inside the sinuses of a know-it-all child. Only it’s even less plausible than that, because at least doing donuts in Arnold’s colon is conceivable to the human mind.

Baca lebih lanjut