Ada Apa Dengan Miss World?

Oke, karena biasanya saya bikin tulisan temanya selalu menjawab pertanyaan, boleh ya sekali – sekali gantian saya yang nanya 😀

Jadi ceritanya saya penasaran kenapa semua orang heboh dengan diadakannya event Miss World tahun di Bali dan Jakarta sampai ramai – ramai menolak di social media dengan diwarnai berbagai kelucuan yang entah sengaja atau tidak sengaja terjadi.

Dalam artikel ini, saya ingin mencoba melemparkan beberapa alasan yang menurut saya masuk akal dan juga argumen saya kenapa alasan tersebut sebetulnya tidak cukup kuat untuk menolak Miss World, kalau sekiranya argumen saya salah ataupun sebetulnya alasannya di luar hal – hal yang saya kemukakan ini, silahkan ditanggapi di sesi komentar.

Kalau tidak ya sudah sih gak usah banyak protes, mau nonton ya nonton, gak suka ya gak usah nonton, gitu aja kok repot. :p

Alasan Penolakan 1: Miss World adalah ajang pamer aurat!

Ciyush?
Miapah?

Maksudnya ajang pamer aurat itu model – model kontes bikini kayak gini yak:

Oke, kalau itu masalahnya, saya punya 3 argumen untuk menjawabnya:

  1. Kalau anda takut bahwa ini akan menjadi ajang semi pornografi, saya jamin nggak deh, kecuali Kate Upton ikut kontes bikini di Miss World saya jamin kontes bikini itu jauh dari kata porno. 
  2. Kalaupun memang ada yang sebentuk dengan Kate Upton ikut Miss World tahun ini dan kontes ini jadi ajang pornografi pun saya lantas tidak melihat masalahnya dimana, sejauh ini saya masih berpendapat bahwa pornografi bukanlah sesuatu yang buruk (baca juga: https://andabertanyaateismenjawab.wordpress.com/2013/08/26/agama-maksiat-dan-bencana-nasional )
  3. In case anda gak update, PANITIA DAN PEMDA BALI UDAH BOLAK – BALIK KONFIRMASI BAHWA GAK ADA KONTES BIKINI DI MISS WORLD TAHUN INI. (baca: http://regional.kompas.com/read/2013/08/27/1707308/Panitia.Pastikan.Miss.World.Tanpa.Bikini )

Masih mau protes soal aurat – mengaurat meskipun gak ada kontes bikini? Mau bilang kalau niat nutup aurat maka kontes bikini harusnya semua pakai Burqa gitu? To be fair kalau begitu harusnya anda menuntut semua stasiun televisi dibubarkan karena tidak stasiun TV yang acaranya menggunakan standar “moral” demikian.

Atau solusi lebih mudah, bagaimana kalau anda jual saja TV anda biar tidak repot?

Alasan Penolakan 2: Miss World Adalah Ajang Eksploitasi Wanita!

Apanya yang dieksploitasi?

Sebelum membahas lebih jauh, saya tanya dulu deh, apa sih bedanya dengan kontes bakat lainnya, misalnya Indonesian Idol atau JKT48 gitu?

Ya, Miss World ini sesederhana kontes bakat saja, tidak ada bedanya dengan Indonesian Idol, bedanya Indonesian Idol yang dilihat kemampuan bernyanyi, ini yang dilihat adalah kecerdasan (brain), kecantikan (beauty) dan sikapnya (behaviour).

Jadi jika anda bicara bahwa Miss World mengeksploitasi kecantikan wanita demi meraup Dollar dan kepentingan bisnis organisasi Miss World, ya dengan standar yang sama berarti Indonesian Idol mengeksploitasi kemampuan bernyanyi para pesertanya dan anda gak protes kan tentang Indonesian Idol?

Kenapa coba anda gak protes?
Karena anda menyukainya?

Terus kalau ada orang lain sukanya sama Miss World gak boleh gitu?
Semua orang seleranya harus sama dengan anda?

Terus kalau anda gak suka sama JKT48 nanti kalau mereka konser lagi anda mau demo lagi gitu nolak konser JKT48?

Alasan 3: Miss World Merendahkan Wanita

Atau versi lengkapnya “Miss World merendahkan wanita yang tidak sesuai sama standar Miss World”.

Sesuai yang saya tulis di atas, Miss World dan kontes kecantikan sebangsanya mengklaim bahwa mereka menilai seorang wanita dari 3 hal, yaitu brain, beauty dan behavior, nah lantas kalau begitu apa kabar nasibnya wanita yang tidak cerdas, tidak cantik, maupun tidak santun?

Dengan adanya kontes semacam Miss World ini yang mengkampanyekan standar penilaian wanita sebagai 3 hal tersebut, maka wanita yang tidak cerdas, cantik maupun santun akan dinilai sebagai warga kelas dua di masyarakat dong?

Kalau sudah begitu, lantas bagaimana dengan karakter – karakter lain yang sebetulnya juga baik untuk dimiliki seorang wanita tapi tidak masuk ke 3 kategori itu? Kasihan kan wanita – wanita itu jadi dipandang rendah hanya karena mereka tidak cerdas, cantik maupun santun, padahal mereka itu sebetulnya patuh pada orang tua, peduli lingkungan, taat hukum dan rajin menabung?

Oke, untuk bagian ini kita bagi 2 deh, pertama: apakah menurut anda kecerdasan, kecantikan dan sikap bukanlah kualitas dari seorang wanita?

Yakin anda wanita cerdas gak patut dihargai?
Yakin anda wanita wanita santun gak patut dihargai?

Dan tentu saja:
Yakin anda wanita cantik gak patut dihargai?

Nah ini agak ribet nih, ini sebetulnya salah satu point yang paling banyak diprotes orang, konon katanya kapitalisme telah menjual image kecantikan sebagai nilai tertinggi dari harga diri seorang wanita.

Tapi yakin dunia ini jadi begini hanya karena kapitalisme?

Yakin manusia di masa lalu sebelum era kapitalisme tidak menilai kualitas utama perempuan dari fisiknya?

Pernah dengar mitologi Yunani soal Medusa?

Sebelum dikutuk menjadi monster berambut ular, Medusa adalah seorang pendeta wanita cantik penjaga kuil Athena. Ia wanita yang selain cantik, juga cerdas dan sangat taat kepada Athena sebelum akhirnya Ia diperkosa oleh Poseidon karena menolak cintanya.

Pertanyaannya adalah, memangnya Poseidon jatuh cinta pada Medusa karena dia cerdas? Atau karena dia taat? Ya jelas tidak, satu – satunya alasan Poseidon jatuh cinta pada Medusa adalah karena kecantikannya. Jadi budaya dimana kita menilai seorang wanita dengan menitik beratkan pada fisiknya saja.

Tidak usah jauh – jauh, awal abad ke 20 masyarakat barat masih menganggap tidak sopan seorang wanita yang mengomentari urusan politik atau ekonomi, jadi jangankan kecerdasannya dihargai, menunjukkan kecerdasan saja dianggap tidak sopan, apa lagi yang mau dinilai dari seorang wanita dalam budaya seperti itu kalau bukan semata – mata kecantikannya?

Jadi kalau menurut saya, Miss World ataupun kontes kecantikan manapun sebetulnya tidak merendahkan wanita manapun, budaya kita memang sudah ribuan tahun menganggap wanita sepele kok, lihat saja bagaimana Taliban menembak seorang anak kecil wanita hanya karena Ia ingin cerdas, kurang meremehkan apa lagi dunia kita terhadap kaum wanita?

Kebudayaan kita seratus tahun terakhir memang perlahan mulai bersahabat kepada wanita, namun memang belum seutuhnya berpihak secara fair bagi pria dan wanita, dan saya rasa Miss World, Miss Universe ataupun Putri Indonesia dan sebangsanya jelas bukan sebuah faktor yang justru memundurkan usaha tersebut bukan? Jadi dimana masalahnya?

Alasan 4: Apa kata dunia kalau sampai tahu Indonesia menyelenggarakan event Miss World?

Apa coba?
Seriusan saya beneran nggak tau.

Apakah reaksi kita berubah kepada Cina ketika mereka menyelenggarakan Miss World tahun lalu? Atau apakah reaksi kita berubah kepada Turki ketika mereka memenangkan Miss World tahun 2002? Lantas bakal bagaimana reaksi dunia? Dan “dunia” yang anda maksud itu siapa? Negara – negara Asia? Amerika? PBB?

Alasan 5: Miss World tidak sesuai dengan budaya timur

Ini saya setuju sekali, karena dalam budaya timur memang seharusnya wanita itu cukup menjadi pajangan suami saja, tidak perlu ikut kontes – kontesan semacam ini.

Penutup

Adakah yang terlewat? Sesuai yang saya tulis di awal, jika ada argumen saya yang salah silahkan dikoreksi, jika ternyata alasannya di luar 5 hal yang saya kemukakan di atas ya silahkan juga disampaikan. 😉

Iklan

Seberapa Haram Alkohol Sebetulnya?

Karena akhir – akhir ini isu halal/haramnya makanan/minuman lagi rame, terutama isu “Solaria gak halal” dan “Ahok bilang bir bukan miras karena alkoholnya sedikit”, gw mau ngoceh dikit yak soal sebuah hal yang udah ada di kepala gw bertahun – tahun tapi belom pernah gw keluarin dari kepala gw

boleh kan? boleh kan?

Kalo gak boleh yaudah sih gak usah diterusin bacanya kok repot :p

Waktu gw jaman kuliah, pas materi pelajaran agama Islam, ada perdebatan antara temen sekelas gw dan dosen gw soal seharam apa Alkohol, temen gw bilang:

“Alkohol itu haram no matter what, jangankan minuman beralkohol, bikin kue pake rum ataupun pake parfum yang mengandung alkohol aja sebetulnya haram”

Sementara dosen gw bilang:

“Yang haram itu mabuknya, kalau kamu gak mabuk ya gak haram”

Secara pas itu status gw adalah teis gak pedulian gw gak ambil pusing buat ikutan mereka debat, tapi belakangan pas gw baca2 sejarah soal Islamic Golden Age, gw rasa gw nemuin jawabannya:

Alkohol itu gak haram, kecuali lo pake buat memabukkan diri.

Seperti biasa gw akan mulai dari definisi dulu, sesuai pelajaran kimia kita jaman SMA, kita sepakat ya bahwa definisi Alkohol adalah senyawa rantai karbon yang di ujungnya ada -OH.

Sepakat kan? Sepakat kan? Lanjut.

Sekarang kita lihat lagi, kapankah Alkohol mulai dikenal manusia?

Di Eropa, Timur Tengah sampai Asia Timur, sejak abad sebelum masehi sudah dikenal beberapa jenis minuman yang mengandung Alkohol dan memabukkan, mulai dari anggur, khamr sampai arak udah dikenal sama berbagai peradaban.

Tapi mereka belum kenal tuh yang namanya Alkohol, mereka cuma tau itu bikin mabuk, titik. Gak tau ada komposisi apa di dalemnya, karena ilmu kimia (ataupun alkemi, pendahulunya) belum sampai situ.

Nah, pas Islamic Golden Age, para ilmuwan – ilmuwan jaman itu kan kurang kerjaannya bukan main tuh, segala hal mereka riset hingga menghasilkan berbagai temuan penting dan luar biasa bagi dunia, di situlah mereka baru menemukan adanya zat bernama Alkohol, termasuk cara membuatnya.

note: notice gak bahwa semua hal berbau ilmiah yang depannya “Al” itu bikinan Islamic Golden Age? Contoh: Al-jabar, Al-goritma, Al-kaline dan termasuk juga Al-kohol (Al-kuhl)

Nah, ketika mereka menemukan Alkohol apa mereka langsung bilang itu haram? Ya nggak. Prinsip mereka yang diharamkan dalam Quran itu kan khamr, dan prinsip mereka khamr mengacu pada sifat “memabukkan”-nya, bukan sama komposisi di dalamnya.

Alkohol adalah salah satu produk paling penting dalam kemajuan Islam di era itu, berkat Alkohol dan teknik ekstraksi wangi dari tumbuh – tumbuhan, mereka berhasil bikin minyak wangi terbaik sepanjang sejarah sampai saat itu, dan itu jadi komoditi ekspor gede – gedean ke cina, eropa dan afrika, salah satu penyokong ekonomi yang bikin maju mereka.

Di luar itu, tentara Muslim di jaman itu yang begitu perkasa ketika bertempur melawan musuh – musuhnya, salah satu rahasianya adalah minum ramuan khusus yang digunakan untuk meningkatkan stamina dan konsentrasi, dimana salah satu bahannya adalah Alkohol.

Jadi, kalau menurut gw sih, berkaca kepada sejarah, yang diharamkan adalah apa yang memabukkan, bukan spesifik bahan Alkohol itu sendiri, jadi kalo ditanya komentar Ahok bener apa salah pas dia bilang bir itu bukan minuman keras, ya pikir aja sendiri, kadar Alkohol di bir itu cuma 5%, kaliin deh sama total massa yang cuma 300 gram-an cairan dalam sebotol/sekaleng bir, cuma ada 15 gram alkohol di situ, bikin mabok gak?

Kalo argumennya “kalo minum sekaleng mungkin nggak, tapi kalo banyak kan mabok”, ya minum air putih kalo seliter juga mabok, cobain aja deh minum aqua seliter terus beraktivitas, apa gak mabok karena kembung tuh?

Ini pemikiran gw dulu aja sih, sekarang ya udah gak ngaruh juga buat gw, toh gw mau minum ya minum aja, tapi in case ada yang tertarik buat mempertimbangkan halal/haramnya Alkohol dari sudut pandang ini ya silahkan, kan banyak tuh pengen makan kue pake rum tapi takut haram karena ada Alkoholnya.

Sekian ocehan singkat gw, kalo ada salah fakta atau logical fallacy mohon dikoreksi 😉

Updated:

Berdasarkan diskusi di sesi komentar saat post ini gw bikin di notes Facebook, ada beberapa masukan soal bagaimana memandang kehalal/haraman Alkohol:

  • Ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa Rasul pernah mengkonsumsi cuka, dimana cuka sendiri adalah hasil fermentasi yang mengandung Alkohol, disini ditunjukkan bahwa haram/halal memang bukan semata – mata karena Alkohol
  • Salah satu cara mudah menentukan sebuah zat (baik beralkohol maupun tidak) haram atau tidak adalah dengan melihat trend dari zat tersebut, jika zat tersebut cenderung membuat mabuk (mis: vodka, whiskey, etc) ya sebaiknya dianggap haram, tapi kalau tidak (mis: durian, tape) ya berarti bisa dianggap halal

Agama, Maksiat dan Bencana Nasional

Tulisan ini berawal dari sebuah post saya di Facebook beberapa minggu lalu ketika saya mengomentari sebuah isu di mana seorang politisi mengatakan bahwa situs–situs “Islami” (baca: arrahmah, voa-islam, dkk) lebih berbahaya dari situs porno.

Saya berargumen bahwa situs porno sebetulnya memang tidak berbahaya, malah beberapa studi mengatakan bahwa konsumsi pornografi di suatu masyarakat sebetulnya berbanding terbalik dengan social harm yang berhubungan dengan seks seperti pemerkosaan, kehamilan remaja, dsb. Berikut potongan pembahasan saya waktu itu:

Emang apa sih bahayanya situs porno?

Kalau kata Tifatul Sembiring atau Habib Selon sih banyak, berimbas ke mulai dari pemerkosaan sampai kepada bumi gonjang-ganjing langit bergelinjang gunung meletus pesawat jatuh—semuanya disebabkan oleh situs porno dan Lady Gaga.
Tapi apa bener begitu?

Dalam banyak studi yang sudah saya baca, pornografi justru berdampak positif terhadap masyarakat, sebagaimana terlihat di negara-negara dengan konsumsi pornografi yang meningkat—justru beragam masalah sosial yang berhubungan dengan seks seperti perkosaan, kehamilan remaja, penyakit menular seksual sampai pada aborsi justru menurun

Pada bagian awal dari kutipan saya tersebut, saya sedikit menyinggung mengenai sebuah stigma yang muncul akhir–akhir ini bahwa hal buruk yang terjadi di antara kita adalah akibat berbagai tindakan “amoral” masyarakat dan cara menyelamatkannya ya dengan memperbaiki moral masyarakat.

tiffie

Tentu saja pola pikir yang seperti itu spontan menjadi semacam lelucon di kalangan mereka yang tidak mempercayainya, baik itu dari kalangan ateis, teis berlainan agama maupun teis seagama yang tidak setuju dan menganggap pola pikir demikian itu primitif dan tidak ilmiah.

Tapi yang menjadi menarik adalah ketika kita mempertanyakan:

“Apa iya agama ‘segitunya’ dalam memandang isu korelasi antara bencana dan maksiat itu? Apa sejak jaman dulu sudah begitu, terus dipertahankan sampai sekarang gitu?”

Nah, untuk menjawabnya, dalam artikel ini saya akan mengangkat 2 buah peristiwa penting dalam sejarah peradaban yang dibangun di atas filosofi agama samawi terkait dengan cara memandang hubungan antara bencana dan maksiat ini. Semoga bermanfaat 😉

Raja Louis IX dan Perang Salib ke-7 (Abad 13)

Pasca direbutnya kembali Yerusalem oleh Sultan Salahudin Ayyubi di abad ke-12, semua usaha Pasukan Salib untuk kembali menguasai Yerusalem yang paling mendekati keberhasilan hanyalah di bawah komando raja legendaris Inggris Richard the Lionheart, di mana ia sempat beradu strategi langsung melawan Salahudin sebelum akhirnya memutuskan pulang ke Inggris karena adik kandungnya berusaha merebut takhta darinya.

Tujuh puluh tahun sejak era Richard the Lionheart, Pasukan Salib hanya bisa gigit jari dalam setiap usahanya merebut Yerusalem hingga akhirnya muncullah Raja Louis IX dari Perancis.

Louis IX, Pemimpin Pasukan Salib di Perang Salib ke-7

Louis IX mendeklarasikan visinya bahwa alasan gagalnya perjuangan Pasukan Salib untuk menunaikan misi suci mereka merebut kembali Yerusalem adalah selain kurangnya persiapan juga karena mereka tidak diberkati oleh Tuhan.

Ia beranggapan bahwa selain kegagalan Eropa merebut Yerusalem, krisis dan wabah di negaranya adalah hukuman Tuhan karena buruknya moralitas di negara mereka, termasuk di antaranya korupsi para pejabat publik. Sehingga menurutnya, cara terbaik untuk memperbaiki negerinya adalah dengan menunaikan misi suci sekaligus tanggung jawab mereka kepada Tuhan yaitu dengan merebut kembali Yerusalem dari penguasa Muslim.

Namun untuk melaksanakan itu pun beliau masih memiliki satu masalah: Raja Louis IX beranggapan selama ini kegagalan Pasukan Salib juga merupakan hukuman Tuhan. Karenanya ia memiliki visi bahwa sebelum berangkat berjuang, Pasukan Salib ini perlu terlebih dahulu menyucikan diri dan negara mereka.

Louis IX memungut pajak besar dari rakyatnya yang digunakan membiayai operasi pemberantasan korupsi, inspeksi maksiat, biaya logistik selama perang dan juga pelatihan sekaligus pertapaan dan penyucian diri pasukan elite yang akan dibawanya mengembara.

Visi Louis IX sungguh inspiratif. Sekalipun negara mereka tidak sedang dalam kondisi baik, rakyat mempercayakan nasib mereka pada sang raja dan membayar pajak tersebut.

Akhirnya berangkatlah mereka, puluhan ribu tentara elite yang selain telah terlatih bertempur juga telah menyucikan diri mereka dengan berbagai ritual keagamaan selama berbulan–bulan. Mereka berlayar ke Mesir untuk menyerang pusat pemerintahan Islam demi menaklukkan musuh bebuyutan mereka tersebut dan merebut kembali Yerusalem.

Hasilnya?

Setelah sukses membantai satu camp penjagaan Muslim di Gideila, mereka kemudian melanjutkan serangan mereka ke Al Mansurah.

Di mana di sana mereka…

Kalah strategi … dan dihabisi … sampai rata.

Pasukan Salib yang terlatih dan tersucikan itu pun kembali ke negaranya dengan kekalahan dan kenangan dari ribuan tentara yang tewas dalam perang. Sang Raja dengan berbekal pembersihan diri dan negara gagal menyelesaikan misi sucinya. Dan keadaan rakyatnya pun tidak membaik.

Nilometer dan Banjir Sungai Nil (Abad 9)

Beberapa ratus tahun sebelum era Perang Salib, Islam tengah melebarkan sayap kekuasaan selebar–lebarnya, termasuk salah satunya ke Mesir.

Salah satu isu yang dihadapi oleh pemerintah Mesir kala itu adalah banjir dari sungai Nil yang bisa datang tiba–tiba dan merusak properti rakyat maupun pemerintah. Mengingat pentingnya sungai Nil dan banjirnya tersebut bagi kehidupan rakyat, pemerintah Muslim pun tidak tinggal diam dan mengambil tindakan untuk mengurangi efek dari bencana tersebut.


Kala itu, Islam telah terbekali dengan sains yang sangat modern (di masanya), yang mereka kumpulkan dari seluruh penjuru dunia dalam “gerakan penerjemahan buku” yang terkenal itu. Selain itu mereka juga mempelajari pengetahuan lokal rakyat Mesir mengenai cara memprediksi banjir sungai Nil dengan membandingkan ketinggian air dengan tahun–tahun sebelumnya. Dengan bekal pengetahuan tersebut, mereka membangun sebuah bangunan yang elok dan berguna yang sekarang kita kenal sebagai Nilometer.

Bagian Langit – Langit Nilometer

Nilometer di atas dibangun di abad ke-9 dan telah memiliki arsitektur yang begitu elok juga konstruksi yang kuat berdiri hingga berabad–abad kemudian.

Cara kerja Nilometer sebetulnya sangat sederhana. Dari tahun ke tahun pada periode sebelumnya masyarakat Mesir telah mencatat ketinggian di beberapa bagian sungai Nil setiap tahunnya dengan cara mengukir sebuah garis di batu dan mendeskripsikan kejadian apa yang terjadi di tahun tersebut.

Pada tahun–tahun berikutnya, mereka akan menebak apa yang akan terjadi di tahun tersebut berdasarkan garis catatan yang paling mendekati ketinggian air di tahun tersebut.

Dengan ilmu matematika dan konstruksi yang telah matang dan baku, pemerintah Muslim membentuk Nilometer yang sebetulnya adalah penggaris raksasa yang didirikan dari dasar tanah hingga ke permukaan. Berkat perhitungan dengan satuan baku dan presisi yang lebih baik, Nilometer yang dibangun pemerintah Muslim ini tidak hanya dapat menebak kejadian apa yang terjadi (banjir atau tidak, kemarau atau tidak) namun juga memperkirakan dengan presisi yang cukup tinggi skala dari kejadian yang akan terjadi: Jika banjir separah apa? Jika kemarau sekering apa?

Ilustrasi Nilometer Sederhana dan Penggaris Raksasa Di Tengahnya

Berkat adanya Nilometer, setiap tahun pemerintah selalu dapat memperkirakan kejadian apa yang akan lahir di tahun tersebut dan menyusun program–program penanggulangan bencana jika sampai terjadi sesuatu secara efektif dan efisien

Penutup

Saya memilih 2 potongan sejarah di atas karena keduanya menggambarkan kubu yang sangat berbeda dalam menyikapi bencana nasional, di mana yang satu menyikapinya dengan mengkaitkan bencana dan kemaksiatan, sementara yang satu lagi memandang secara ilmiah dan menjadikan bencana alam sebagai tantangan untuk ditanggulangi dan ditaklukkan.

Selain itu, keduanya pun bagian dari sejarah yang penting bagi agama–agama Samawi, yang satu adalah potongan dari lahirnya era keemasan Islam, sementara yang satu lagi adalah salah satu episode paling besar dari Perang Salib yang berlangsung berabad–abad tersebut.

Pada akhirnya kita dapat melihat bahwa sejarah mencatat adanya keberagaman cara agama menyikapi bencana alam; ada yang begini, ada yang begitu. Perkara sekarang Anda mau lebih memilih sudut pandang yang mana ya kembali ke pilihan Anda masing–masing.

Catatan Kaki:

Sekedar mengingatkan, Mesir di bawah pemerintahan Muslim saat itu sudah punya Nilometer pada abad ke-9 loh. Abad ke-9 itu 12 abad lalu loh. Seribu dua ratus tahun sebelum komentar Tifatul yang saya kutip di atas, mereka sudah punya pola pikir demikian.

SERIBU DUA RATUS TAHUN LOH.

Ngingetin aja sih.

Sekian.

Emang Seks Bebas Itu Apa Sih? Yakin Itu Artinya Kamu Bisa Bebas Tidur Dengan Siapa Saja? Udah Ngaca Belom?

Kali ini saya mau menulis sebuah topik yang sebetulnya lumayan berat dan saya gak menemukan cara lain untuk membuatnya mudah diikuti kecuali dengan gaya humor satir. Dan saya yakin, Anda akan dengan mudah mengikutinya asalkan Anda tidak membacanya dengan dahi mengernyit dan tangan yang gatel mau marah–marah di sesi komentar, jadi coba senyum dulu terus ngaca sekarang, jangan lanjutkan membaca kalau senyumnya belum enak dilihat, oke? 😉

Kenapa?

Senyummu gak bisa enak dilihat?

Wah, deritamu nak, kalau kamu teis berdoalah supaya kamu enteng jodoh dan ada yang mau denganmu meskipun senyummu kayak gitu. Kalau kamu ateis, menabunglah buat operasi plastik.

Baca lebih lanjut

Dari Mana Datangnya Semua Ini Jika Tuhan Tidak Menciptakannya?

Menyambung tulisan saya sebelumnya mengenai “Untuk Apa Kita Hidup Jika Tuhan Tidak Menciptakan Kita?” (https://andabertanyaateismenjawab.wordpress.com/2013/08/05/untuk-apa-kita-hidup-jika-tuhan-tidak-menciptakan-kita), maka dalam tulisan ini saya akan kembali menulis sebuah isu yang berkaitan dengan keberadaan kita manusia dari sudut pandang yang tidak melibatkan tuhan di dalamnya.

Sebagai pengantar jika anda belum membaca tulisan saya sebelumnya dan ingin meneruskan membaca tulisan ini sampai habis tanpa berpindah halaman, rangkaian tulisan “Jika Tuhan Tidak Menciptakan Kita” ini saya tulis sebagai jawaban atas pertanyaan yang disampaikan kepada saya di sebuah gereja beberapa saat lalu yang kurang lebih berbunyi seperti ini:

“Memang benar bahwa saat ini ateisme dengan berbekal segala sains sekulernya telah mampu menjelaskan fenomena – fenomena yang terjadi di dunia ini. Namun ada satu hal dasar yang para ateis tidak bisa menjawabnya, yaitu mengenai kehidupan kita sendiri.
Baca lebih lanjut

Untuk Apa Kita Hidup Jika Tuhan Tidak Menciptakan Kita?

Sekitar dua minggu lalu saya mendapatkan sebuah kesempatan yang luar biasa. Sebuah gereja Kristen yang cukup besar di dekat rumah saya mengadakan sebuah kelas pendalaman iman bermodel diskusi dengan tema “Gereja dan Tantangan Ateisme.” Saya diizinkan untuk ikut dan berbagi pandangan saya soal berbagai isu dari sudut pandang ateisme dan juga mengenai ateisme itu sendiri.

Sesaat setelah saya berbagi, seorang peserta diskusi mengangkat tangannya dengan penuh emosi dan suara lantang menyuarakan pendapatnya:

“Saya ingin apa yang disampaikan di forum ini berimbang. Memang benar bahwa saat ini ateisme dengan berbekal segala sains sekulernya telah mampu menjelaskan fenomena–fenomena yang terjadi di dunia ini. Namun ada satu hal dasar yang para ateis tidak bisa menjawabnya, yaitu mengenai kehidupan kita sendiri.
Baca lebih lanjut