Mengapa saya ateis? (Jawaban dari Veronica Pramesti)

Dikirim oleh: Veronica Pramesti

Mengapa saya menjadi seorang ateis, tentu saja ini merupakan sebuah kisah hidup yang tidak dapat diceritakan dalam bentuk testimoni singkat, mengingat keputusan yang saya ambil beriringan dengan perjalanan hidup saya yang saat ini masih berlangsung. Ateis adalah ketidakpercayaan terhadap Tuhan dan makhluk supernatural lainnya. Untuk sampai ke tahap tidak percaya tentunya bukan suatu hal yang mudah mengingat saya sendiri lahir di dalam keluarga yang sangat relijius dan taat beribadah. Saya tidak pernah absen pergi ke gereja, selalu hadir dalam kebaktian keluarga, mengadakan renungan pagi setiap hari, dan mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya.
Baca lebih lanjut

Kenapa ateis banyak yang mengacu pada sains?

20130825-164900.jpg

Bayangkan ada seseorang yang datang pada Anda dan menyombongkan bahwa dia memiliki ilmu yang tidak diketahui orang lain, yakni unicornology. Sebuah ilmu yang mengetahui secara detail bagaimana unicorn berkembang biak, bagaimana laju pertumbuhan tanduk per tahun dan bagaimana air kencingnya bisa menyembuhkan anemia. Bagaimana Anda menanggapi orang tersebut?

Tentu ini menarik. Selagi belum bisa dibuktikan bahwa unicorn itu ada, seseorang mengaku mengetahui secara persis segala hal tentang unicorn. Lebih mengherankan lagi, dia membanggakan hal itu.

Baca lebih lanjut

Mengenal ateisme tidak membuat saya menjadi seorang ateis.

Original post by: Findha
Sumber : Vynda blog

Saya adalah seorang muslim. Terlahir di dalam keluarga yang seluruhnya beragama Islam.

Islam dalam keluarga kami tergolong biasa saja, Ayah dan Ibu saya bukan seorang yang memiliki fanatisme tinggi terhadap agamanya. Mereka pun membebaskan anak-anaknya melakukan hal apa saja, asal tidak keluar dari norma-norma masyarakat dan melanggar nilai moral yang dijunjung tinggi dalam keluarga kami.
Baca lebih lanjut

Bisakah ilmu pengetahuan mengalahkan kematian?

20130825-165204.jpg

Sejarah Manusia diisi dengan perang antara Manusia dan kematian. Pada awal sejarah sepertinya terlihat bahwa kematian akan selamanya berkuasa atas Manusia. Tapi tanpa disadari, perang panjang ini sudah mulai dimenangkan pihak Manusia dengan menggunakan senjata ampuh mereka “IPTek” (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Pada awal peperangan banyak kubu-kubu yang masih dikuasai oleh kematian. Namun berkat bantuan IPTek, banyak kubu yang tadinya dikuasai kematian, sekarang sudah bisa direbut, dan dikuasai oleh Manusia.

Beberapa kubu yang berhasil direbut antara lain:

1. Kubu Rabies.
Pada awalnya ketika seseorang dinyatakan terkena Rabies, dipastikan dia akan segera meninggal dunia. Betapa mudahnya penyakit ini menular membuat Kubu Rabies menjadi salah satu sekutu paling ampuh dari kematian. Namun semenjak Louis Pasteur mengembangkan senjata “Vaksin” perlahan-lahan kematian mulai kehilangan kendali atas kubu Rabies. Sekarang kematian hanya mengontrol 5% saja dari kubu Rabies, sedangkan Manusia sudah menguasai 95% sisanya.

2. Kubu “Tidak Bernafas”
Pada awalnya hampir semua Manusia yang berhenti bernafas akan meninggal. Namun semenjak CPR mulai dikenalkan, bahkan diwajibkan di sebagian kalangan, manusia mampu menarik nyawa dari kematian. Sebelum kekurangan oksigen pada otak menyebabkan banyaknya kematian sel dan menimbulkan masalah baru, manusia menemukan cara untuk membuat organ pernafasan yang berhenti bekerja menjadi mormal kembali. Sekarang 80% orang yang berhenti bernafas, masih bisa dimenangkan oleh CPR.

Baca lebih lanjut

Mengapa saya memutuskan menjadi ateis? Cerita Dewi Rainny ( sumber kompasiana)

Original writer : Rainny
Sumber: kompasiana

Jangan takut, ini bukan upaya atheisasi. Orang Indonesia boleh jadi takut dengan ‘kristenisasi’ dan di Eropa, orang takut dengan ‘islamisasi.’ Tapi ini bukan upaya atheisasi. Upaya mengkonversi orang-orang beragama menjadi atheis bertentangan dengan prinsip atheisme itu sendiri. Atheisme bukan kepercayaan yang harus diimani begitu saja. Atheisme adalah keyakinan seperti keyakinan ilmiah yang harus ditemukan sendiri.

Atheisme nyaman bagi diri saya, melegakan batin saya, tetapi sulit berhadapan dengan tekanan sosial di Indonesia.

Orang masih memicingkan mata pada atheisme, menganggap atheis sebagai orang paling hina di muka bumi. Atheis dianggap sebagai sumber kekejian dan kebejatan moral.

Atheis bukanlah orang tanpa etika dan moral, hanya saja atheisme tidak mendasarkan moralitas dan etikanya pada ajaran Tuhan, melainkan pada akal budi manusia. Saya kira bukan tempatnya di sini untuk memberi penjelasan apa itu atheisme.
Baca lebih lanjut

Kenapa Anda ateis? (Jawaban -H-)

Saya dilahirkan di keluarga chinese tradisional. Jadi keluarga saya sangat, katakanlah, kolot dalam berbagai hal, termasuk agama.
Saya dibesarkan dgn ajaran KongHuCu dan ajaran leluhur, yang dimana saya setiap hari sembahyang di altar yg ada di dlm rumah, dan setiap penanggalan 1 dan 15 imlek, saya pergi ke kelenteng utk sembahyang. Dan ritual ini saya jalanin selama 26 tahun. Ironisnya, saya disekolahkan di sekolah Katolik dari TK sampai SMU. Ini membuat saya bertanya tanya ttg kebenaran agama dan tuhan.

Saya membaca alkitab dr PL sampai PB dan menemukan berbagai kontradiksi2. Di SMU saya mulai bertanya kepada guru agama dan pastor yg ada di sekolah ttg “kebijakan bapa surgawi” yg kelihatannya plin plan dan tidak menemukan jawaban yg memuaskan. Tp di masa2 itu, saya tidak skeptis dan mungkin tidak begitu tertarik dgn agama dan sains. Masih masa main2.

Pada masa kuliah, saya lbh banyak mengenal hal2 mistis dr keluarga sendiri. Mulai dari orang pintar, sampai dgn tatung2 yg dipakai oleh bos2 besar di indonesia. Pada waktu itu saya sangat tertarik dgn hal2 gaib. Saya minta dibukakan “mata batin” yg katanya bs melihat “dunia lain”. Meskipun tertarik, sy adalah org yg sangat rasional. Jd saya mau buktikan sendiri, bukan disuruh percaya saja. Dan tidak ada satupun “guru besar ilmu gaib” yg mampu membukakan mata batin saya. Berbagai alasan dikemukakan, belum waktunya lah, harus puasa lah, dan berbagai alasan klenik lainnya.
Baca lebih lanjut

Mengapa Anda ateis? (Jawaban mike shu)

Story by: Mike Shu

Saya adalah orang yang sangat logis, sangat aktif, energetic, mencintai hidup dan sangat penuh rasa ingin tahu. Terlahir dari pasangan Tionghoa Buddha-Katolik, saya termasuk anak yang taat beribadah, aktif di dalam gereja, dan menjadi putra altar adalah hal yang normal ketika saya masih di bangku SD – SMP. Namun, seiring berkembangnya pengetahuan dan ilmu yang saya dapat, semakin haus pula keingintahuan saya. Saya mulai bertanya-tanya tentang keberadaan dan penjelasan akan konsep Tuhan. Bertahun-tahun saya bertanya kepada para ahli agama dan pastor. Namun, jawaban semacam “karena Tuhan mengajarkan begitu” atau “karena sudah tertulis di Alkitab” sangatlah tidak memuaskan.

Hal ini berlanjut hingga saya duduk di bangku SMA, di mana saya mulai mempelajari sejarah agama-agama yang ada beserta isi ajarannya yang banyak menuai kebencian, pembunuhan, diskriminasi, dan sebagainya. Ketika itu saya mulai meragukan kebenaran konsep Tuhan. Tapi saya tidak gegabah, saya merasa masih perlu belajar lebih banyak dan tentunya mencari konfirmasi atas sisi sejarah yang saya pelajari.
Baca lebih lanjut

Bukankah Alam Semesta Punya Sebab Yaitu Tuhan? (Argumen Prima Causa)

Argumen yang paling sering diutarakan oleh teis untuk membuktikan keberadaan tuhan adalah argumen prima causa atau sebab utama, yang biasanya dituangkan dalam bentuk sebagai berikut:

(1) Segala sesuatu yang berawal (seperti materi) punya sebab

(2) Alam semesta itu berawal

Simpulan: maka alam semesta punya sebab dan sebab itu Tuhan.

Argumen ini jelas bermasalah. Masalah pertama yang menerpa adalah non sequitur atau “it does not follow.” Premis di atas sebenarnya jika diurai secara logis berusaha membuktikan bahwa alam semesta ini punya sebab. Simpulan “sebab itu Tuhan” tidak terkandung dalam premis-premisnya, dan maka argumen prima causa ini melakukan lompatan logika dengan mengasumsikan secara a priori bahwa sebab itu Tuhan. Kalaupun Tuhan mau dimasukkan ke dalam premisnya dengan cara menyatakan bahwa sebab sama dengan Tuhan, maka akan terjadi kesesatan petition principii atau “assuming the initial point”, karena argumennya akan menjadi seperti ini:
Baca lebih lanjut

Jakarta Globe: Apakah Ateisme Diperbolehkan di Indonesia?

Berikut adalah artikel opini di Jakarta Globe yang menekankan bahwa ateisme tidak melanggar Pancasila. Artikel lengkapnya dapat dilihat di http://www.thejakartaglobe.com/archive/the-thinker-is-atheism-allowed/

Alexander Aan, a civil servant in Dharmasraya, West Sumatra, was beaten and charged with blasphemy after writing “God does not exist” on his Facebook page.

The response has ranged from condemnation by several international organizations to support by local citizens and the Indonesian Council of Ulema. Many people have invoked the first principle of Pancasila, the state ideology, to make the argument that atheism — and Alexander — have no place in Indonesia.

But is this really the case? Has atheism been banned by Pancasila since the dawn of the Indonesian state? Since the argument is based on the text of a legal document, let’s examine this question from a legal perspective.
Baca lebih lanjut

Mengapa Anda Ateis? (Jawaban Arimbi)

Story by: Arimbi

Saya berasal dari keluarga muslim yang taat. Ayah saya aktivis sebuah ormas Islam moderat sedangkan Ibu termasuk Muslim abangan. Mereka mendidik saya dan kedua adik saya untuk taat beragama, seperti kebanyakan muslim lain di kampung saya dulu. Saat duduk di kelas satu SD, orang tua saya memasukkan saya ke TPA (Taman Pendidikan Alquran) untuk belajar baca tulis Al-Qur’an serta Tajwid. Saya bahkan pernah diikutkan lomba Qiro’ sebagai tanda bahwa kemampuan dan kefasihan saya dalam membaca Al Quran diakui tempat saya belajar mengaji. Tamat TPA, saya masuk Madrasah untuk belajar lebih banyak lagi ilmu Islam. Saya belajar di madrasah setiap sore hari. Hari Senin sampai Minggu kecuali hari Jumat. Di sana saya belajar fiqih, ibadah muamalah, ilmu akhlak, Al-khot, syorof, dan lain-lain. Sebagai anak-anak, saat itu saya merasa sedikit kesal dengan aktivitas mengaji dan belajar ilmu Islam. Tentu saja bagi saya lebih enak main dari pada pergi ke madrasah. Namun siapa yang tahu, persis seperti yang banyak disampaikan oleh orang-orang tua, bahwa manfaat dari belajar di TPA dan madrasah akan tampak saat kita dewasa. Dan benar, ilmu yang saya dapat di TPA dan di Madrasah adalah modal utama saya dalam menelaah Islam secara kritis bertahun-tahun kemudian.
Baca lebih lanjut

Apakah benar Einstein pernah membantah seorang profesor tentang keberadaan Tuhan?

Dialog seorang profesor dengan muridnya mengenai teodisi atau upaya untuk merekonsiliasi keberadaan Tuhan dengan kejahatan telah menyebar luas di dunia maya. Seorang murid dikisahkan berhasil membantah pernyataan profesor yang digambarkan “sombong.” Biasanya di akhir kata ditambahkan embel-embel “murid itu adalah Albert Einstein,” yang jelas salah karena Einstein tidak percaya Tuhan personal, namun kepada Tuhannya Baruch Spinoza, yaitu keserasian hukum alam. Selain mencatut nama Einstein, dialog ini juga memiliki kesalahan logika yang fatal.

Berikut adalah perbaikan untuk dialog tersebut yang diterjemahkan dari http://www.rationalresponders.com/debunking_an_urban_legend_evil_is_a_lack_of_something dengan sedikit adaptasi.
Baca lebih lanjut

Bagaimana penjelasan mengenai orang yang tiba-tiba mampu berbahasa asing?

By -Val-

Mulai dari klaim anak indigo, kursus bahasa asing melalui metode jin, hingga orang yang tiba-tiba berbicara bahasa asing setelah kecelakaan, ada banyak kasus di mana seseorang diceritakan secara tiba-tiba menguasai bahasa asing tertentu, atau berbicara dengan aksen tertentu. Tentu ada banyak variasi kasus dan variasi penjelasan. Namun secara garis besar dalam hampir sebagian besar kasus, bahasa yang diucapkan tidak benar-benar lancar. Dalam artian hanya sepatah dua kata, atau satu kalimat penuh. Atau benar-benar tidak memiliki arti dan hanya terdengar seperti bahasa tertentu dari karakter kata dan logatnya. Menariknya, ketidaktahuan masyarakat akan kenapa fenomena ini bisa muncul, menyebabkan cerita seperti ini berkembang dengan bumbu bumbu supranatural dan metafisika.

Sebagian besar dari cerita tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Baca lebih lanjut