Emang Seks Bebas Itu Apa Sih? Yakin Itu Artinya Kamu Bisa Bebas Tidur Dengan Siapa Saja? Udah Ngaca Belom?

Kali ini saya mau menulis sebuah topik yang sebetulnya lumayan berat dan saya gak menemukan cara lain untuk membuatnya mudah diikuti kecuali dengan gaya humor satir. Dan saya yakin, Anda akan dengan mudah mengikutinya asalkan Anda tidak membacanya dengan dahi mengernyit dan tangan yang gatel mau marah–marah di sesi komentar, jadi coba senyum dulu terus ngaca sekarang, jangan lanjutkan membaca kalau senyumnya belum enak dilihat, oke?😉

Kenapa?

Senyummu gak bisa enak dilihat?

Wah, deritamu nak, kalau kamu teis berdoalah supaya kamu enteng jodoh dan ada yang mau denganmu meskipun senyummu kayak gitu. Kalau kamu ateis, menabunglah buat operasi plastik.

Oke … oke … nanti dulu ngomelnya, saya masuk ke inti permasalahan nih, yaitu mengenai:

Kenapa saya merasa hal yang satu ini perlu dibahas di blog ini? Karena kayaknya sih isu soal ini cukup penting antara ateis dan teis, mengingat pertanyaan-pertanyaan kayak gini cukup sering muncul di page Facebook ABAM:

“Ateis tidak mengenal pernikahan ya? jadi bisa tidur dengan siapa pun dong? Enak bener ya?”

“Ateis kan tidak terikat pada aturan agama, jadi tidur dengan siapa pun termasuk ibu atau anak sendiri boleh dong?”

Yah, umm … kalau dilihat–lihat lagi ternyata model pertanyaannya gak banyak sih, segitu–segitu saja, cuma sering aja, dan biasanya datang dalam bahasa dan penulisan yang jauh lebih alay dari ini. Berterimakasihlah karena saya sudah membantu menerjemahkan pertanyaan–pertanyaan berejaan ajaib itu sebelum saya cantumkan di sini.

Daaannn … inilah pembahasannya:

Free Sex itu apa?

Nah, sesuai tata krama dan adat istiadat yang berlaku di dunia akademis, sebelum kita membahas sebuah isu, ada baiknya kita tahu dulu apa yang dibahas, karenanya mari kita mulai dengan mendefinisikan terlebih dahulu apa itu “free sex”.

Agar lebih valid saya akan menggunakan referensi–referensi definisi yang sahih di Internet, seperti:

Dan definisi yang saya temukan menurut kamus Oxford online adalah … uh … emm, maaf–maaf, tidak ada istilah free sex di kamus Oxford online.

Oke, kita pakai definisi dari kamus Merriam Webster online saja, di mana free sex berarti … emm … maaf, lagi–lagi kamus Merriam Webster juga tidak punya istilah free sex dalam kamusnya.

Pakai punya Cambridge saja deh, di mana arti dari free sex adalah … err… tidak ada juga … tidak ada istilah free sex di kamus Cambridge online.

Ya sudah deh, kita pakai definisi Wikipedia saja, at least di Wikipedia ada sebuah halaman berjudul “Free Sex” meskipun isinya sendiri hanya mengatakan bahwa Free Sex tidak punya definisi jelas tapi orang kerap menggunakan istilah tersebut untuk beberapa hal seperti promiscuity, premarital sex, dan group sex.

Jadi…

sebenarnya…

FREE SEX ITU APAAAA?????

Googling: Free Sex

Oke, kalau memang tidak ada definisi jelasnya, mari kita coba melakukan googling dan menyusun sendiri kira–kira free sex itu artinya apa. Ketika saya mencoba meng-googling “free sex”, maka yang saya temui adalah:

Situs Porno
Um. Oke. Ehm. Ya menurut ente? Tapi perlu dicatat bahwa ketika googling “free sex” dan keluarnya situs porno, biasanya frasenya lebih panjang dari itu, seperti

  1. Free Sex Videos
  2. Free Sex Clips
  3. Free Sex Tubes

Dimana kalau dilihat–lihat, itu sebetulnya adalah pemenggalan yang salah, harusnya bukan “Free Sex | Videos” atau “Free Sex | Clips” tapi “Free | Sex Videos” dan “Free | Sex Clips”, alias itu bukan situs yang ngasih video soal free sex tapi situs yang ngasih video sex secara gratis, misalnya [$^!@!^*^@!^@!*^@*! – disensor, dilarang ngasih link ke situs porno di blog ini —

Artikel Keagaaman

APAAAA???

Ya nggak kayak situs porno juga kali muatannya -_-

Artikel–artikel keagamaan banyak yang mengandung frase “free sex”. Dan biasanya temanya adalah “free sex itu buruk”, “jauhi free sex” dan lain sebagainya. Eh ya tapi, kan definisi free sex sendiri belum ketemu dari tadi, kok udah dibilang buruk dan disuruh menjauhi aja.
Selidik punya selidik, sebagian besar artikel di internet yang memuat frase free sex justru adalah artikel model begini. Nggak ada definisi sahih soal apa itu free sex dan juga bagaimana praktiknya, tapi larangannya banyak.

Ya mungkin fenomena ini mirip–mirip dengan istilah “komunis” di orde baru kita gitu, pokoknya komunis itu jelek, serem, jangan ditiru, jangan deket–deket, beracun, bau ketek, bleguk meskipun sebetulnya arti sebenarnya apa udah entah ke mana.

Cuma ini lebih parah lagi, artinya nggak ada, pokoknya disuruh ngejauhin aja. Kalo digambarin free sex itu mungkin kayak gini:

“Keadaan bahwa generasi muda dan dewasa bisa [***] seenaknya sama siapa aja, nongkrong di bar tau–tau bisa nge[***]in [***] cewek di meja sebelah sambil diliatin orang–orang yang berpesta pora sambil [***]nya di[***] sama cewek lain, dan si cewek lain itu [***]nya lagi di[***]seru oleh beberapa cowok lain sambil bergiliran.”

Note: penulis tidak bermaksud menuliskan sesuatu yang porno, cuma karena disensor saja jadi kelihatan begitu, sebetulnya bacanya adalah:

Keadaan bahwa generasi muda dan dewasa bisa [bercanda] seenaknya sama siapa aja, nongkrong di bar tau–tau bisa nge[bayar]in [makanan] cewek di meja sebelah sambil diliatin orang–orang yang berpesta pora sambil [angry birds di ip*d]nya di[mainin] sama cewek lain, dan si cewek lain itu [galaxy t*b]nya lagi di[pinjem buat main temple run]seru oleh beberapa cowok lain sambil bergiliran.

Lupakan Dulu Soal Free Sex, Sex Sendiri Itu Kenapa Begitu Menarik Tapi Juga Begitu Dibatasi?

Nah, kalau bahas ini panjang lebar bisa jadi 1 buku sendiri seperti yang pernah ditulis oleh Jared Diamond dalam bukunya “Why Is Sex Fun?”


Singkat cerita begini, seleksi alam di masa lalu berpihak pada individu–individu yang menyukai seks. Kenapa begitu? Karena seks itu sebetulnya mengerikan, kalau orang gak menyukainya gak akan melakukannya, yang gak melakukan seks gak akan punya keturunan, jadi sifat gak suka seks ini gak akan diturunkan ke generasi berikutnya dan akan punah, sehingga sifat yang bertahan dalam generasi penerus adalah sifat menyukai seks.

Semengerikan apa seks itu? Nah, coba cek sebuah kutipan di serial House yang cukup terkenal ini:

“Sex could kill you. Do you know what the human body goes through when you have sex? Pupils dilate, arteries constrict, core temperature rises, heart races, blood pressure skyrockets, respiration becomes rapid and shallow, the brain fires bursts of electrical impulses from nowhere to nowhere and secretions spit out of every gland and the muscles tense and spasm like you’re lifting three times your body weight. It’s violent, it’s ugly, and it’s messy, and if God hadn’t made it unbelievably fun … the human race would have died out eons ago. Men are lucky they can only have one orgasm. You know that women can have an hour-long orgasm?”

Allison Cameron

Dari situ kita bisa melihat bahwa secara alami kita semua menyukai seks, tapi ketika peradaban berkembang, kita juga yang mulai membatasi seks, di mana salah satuya adalah melalui pernikahan.

Kenapa perlu dibatasi?

Lagi–lagi karena seleksi alam. Seleksi alam lebih berpihak kepada pria yang cemburuan dan menjaga pasangannya disetubuhi oleh pria lain.

Kenapa begitu?

Karena pria yang cemburuan dan posesif akan berusaha menjaga pasangannya supaya hanya memiliki keturunan dari dirinya saja dan bisa menurunkan sifat–sifat tersebut, sementara pria yang tidak membatasi pasangannya untuk melakukan seks dengan pria lain peluang memiliki keturunannya lebih kecil. Bayangkan dalam 1 keluarga poliandri dengan 3 pria dan 1 istri, setiap tahun si istri bisa melahirkan 1 anak, dan kemungkinan setiap pria adalah ayah dari anak tersebut hanya 1/3, sedangkan bagi pasangan monogami, si pria sudah pasti adalah ayah dari si anak. Dari situ kita akan melihat bahwa penurunan gen pria cemburuan lebih pesat dibanding pria yang membebaskan istrinya tidur dengan pria lain.

Dan dari gambaran di atas, kita bisa melihat kenapa bentuk pernikahan poligami dan monogami lebih bertahan di masyarakat ketimbang pernikahan poliandri, karena pria yang lebih posesif (apalagi rakus) soal pasangan lebih punya peluang untuk memiliki keturunan dan menurunkan sifatnya tersebut.

Terus hubungannya sama free sex apa?

Hubungannya adalah di pengendalian kelahiran (birth control), mulai dari perhitungan masa subur, kondom, pil kontrasepsi dan lain sebagainya. Sejak manusia mengenal birth control, seks tidak lagi melulu soal keturunan. Sifat seks yang menyenangkan tetap bertahan namun batasan bahwa seks ini akan menjadi keturunan menjadi tidak wajib.

Hal ini jelas mengubah paradigma posisi seks dalam budaya manusia, manusia pun mulai melakukan seks sekedar untuk menikmati kesenangannya saja tanpa harus membatasi dalam kerangka keturunan, dan ini sudah dinikmati manusia sejak jaman dulu kala dalam bentuk masturbasi.

Begitu kita bisa mengendalikan kelahiran, seks adalah hal menyenangkan yang tidak lagi merugikan secara penurunan sifat, dan inilah yang membuat kita semua menginginkan seks lebih dari manusia di jaman purba dulu.

Note: birth control tertua yang didokumentasikan adalah dari sebuah catatan di Mesir lebih 1500 tahun sebelum Masehi, sejak saat itu sampai sekarang manusia telah mengubah paradigma seks.

Lantas, Dengan Adanya Birth Control, Apakah Kita Akan Melakukan Seks Bebas Dengan Siapa Saja?

Nggak juga, coba kamu daftar semua lawan jenis di lingkunganmu sehari–hari, mulai dari yang paling menarik sampai yang tidak. Yakin kamu mau meniduri mereka semua?

Akan selalu ada batasan dalam seks, bedanya tadinya batasan itu adalah:

“Saya hanya akan tidur dengan wanita yang akan mengandung dan merawat anak saya” atau “Saya hanya akan tidur dengan pria yang akan menjaga dan menghidupi saya dan anak saya.”

Menjadi

“Saya hanya akan tidur dengan lawan jenis (atau sama jenis, in case Anda homoseksual) yang membuat saya bahagia jika tidur dengannya.”

Apakah itu bisa diartikan seks bebas? Ya tidak juga. Kita tetap selektif kok (ya kecuali kalau one night stand ketemunya sama–sama lagi mabuk), begitu juga soal bagaimana melakukannya termasuk pada bagaimana mengontrol kelahiran dari seks tersebut. Jadi yaa … di mana bebasnya??

(Lebih) Bebas sih … kalau aturannya sendiri adalah “dilarang melakukan seks selain dengan pasangan yang diikat dalam pernikahan.” Tapi di luar itu pun masih banyak batasan–batasan yang secara personal pun kita terapkan dalam kehidupan seks kita, dan selama itu tidak merugikan orang lain dan kita bersedia bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan, ya itu tadi … di mana bebasnya??
Jadi Apakah Dengan Menjadi Ateis Lantas Kita Akan Melakukan Seks di Luar Pernikahan?

Tidak juga.

Seperti yang sudah saya ulas sebelumnya, perasaan cemburu seorang pria itu demikian besarnya tertanam di dalam gen dan otak kita, tidak semua orang bisa mengatasinya, jadi bagi yang maunya eksklusif ya tetap akan melakukan seks eksklusif dengan pasangannya.
Jadi ya kembali seperti tulisan saya sebelumnya soal tujuan hidup ateis ( https://andabertanyaateismenjawab.wordpress.com/2013/08/05/untuk-apa-kita-hidup-jika-tuhan-tidak-menciptakan-kita/ ), kita sebetulnya dihadapkan pada permasalahan ini secara personal. Jika mereka yang beragama dapat menggunakan aturan agama untuk membatasi hidupnya, ateis bisa lebih fleksibel.

Jika seorang ateis memandang seks selain dengan pasangan baik–baik saja, ya ia akan melakukannya, jika tidak ya tidak. Kembali ke masalah pertanggungjawaban pribadi atas hidupnya saja sih.😉

49 thoughts on “Emang Seks Bebas Itu Apa Sih? Yakin Itu Artinya Kamu Bisa Bebas Tidur Dengan Siapa Saja? Udah Ngaca Belom?

  1. Mas, kok kayaknya susah sih cari arti kata free sex.. Free=gratis Sex=kelamin.. Jadi free sex kelamin gratis.. Hehehe tambah asal kan.. Haha

    Anyway, gaya tulisannya menarik.. Senyum2 sendiri bacanya.. Tp tetap poin dan tujuan tulisan jelas tertangkap, paling ga oleh saya..🙂

  2. sy ateis dr hindu-bali, sy sendiri akan melakukan sexs esklusive dengan pasangan saya saja.

    Sebenarnya sy lebih suka dikatakan cultural hindu, karena saya masih sering melakukan berbagai kegiatan agama hindu, tp atas dasar fun, karena beberapa kegiatan agama itu sebuah budaya yg menarik dan saya suka bersosialisasi dg teman-teman. Hal-hal yg bersifat supranatural sy jelas tidak percaya….

  3. http://oxforddictionaries.com/definition/english/free?q=free
    “able to act or be done as one wishes; not under the control of another”
    http://oxforddictionaries.com/definition/english/sex?q=sex
    “sexual activity, including specifically sexual intercourse”

    Seharusnya sih mudah definisinya, ga perlu harus zakelijk dicari dengan entry “free sex”.
    Berarti free sex adalah “sexual activity done as one wishes; not under the control of another”.

    Lalu dengan pertanyaan yang sering ditanyakan ke kaum ateis:
    “Ateis tidak mengenal pernikahan ya? jadi bisa tidur dengan siapapun dong? Enak bener ya?”
    “Ateis kan tidak terikat pada aturan agama, jadi tidur dengan siapa pun termasuk ibu atau anak sendiri boleh dong?”
    sepertinya itu terjawab sendiri dengan conclusion artikel ini:
    “Jika seorang ateis memandang seks selain dengan pasangan baik–baik saja, ya Ia akan melakukannya, jika tidak ya tidak. Kembali ke masalah pertanggungjawaban pribadi atas hidupnya saja sih.”
    Mungkin pertanyaan pertama boleh di-rephrase, biar nggak menyinggung kaum ateis, menjadi:
    “…jadi bisa tidur dengan siapapun dong, asalkan suka sama suka?”
    dan pertanyaan kedua di-rephrase menjadi:
    “…tidur dengan siapa pun termasuk ibu atau anak sendiri boleh dong, asalkan suka sama suka?”

    Apakah komentar saya cukup menjawab makna “free sex” yang dicari, dan apakah cukup mengklarifikasi maksud pertanyaan yang disinggung di intro di atas?
    BTW, saya teis, muslim.

  4. menurut saya sih free sex itu lebih ke hubungan seks yang tidak terikat dalam hal apapun dan dilakukan secara sadar serta tanpa ada pihak yang mendominasi (rata dan adil :p) dan juga saling menikmati, istilah saya sih “part time sex partner, full time friend”🙂 *pure sex without any contaminations*

  5. ngakak juga sih baca artikelnya agan..
    tapi sepenuhnya bagus kok ini artikelnya
    tidak berat di sebelah pihak
    tapi 1 kata yang saya suka dari artikel agan..
    “Kembali ke masalah pertanggungjawaban pribadi atas hidupnya saja sih”
    *abis M*k*ng L*ve > beranak > bertanggung jawab atas apa yang di perbuat = bertanggung jawab pada hasil dari perbuatannya :3
    (itu sih menurut saya)

    terusin gan bikin artikel kek gini😛

  6. Sex is free for love not for money

    tapi tidak dengan segala tanggung jawab dan moral selanjutnya .

    Kalau sex itu harus di nilai dan dibayar dengan uang, artinya secara duniawi dia ternilai padahal love is something priceless

    Love dan Sex seharusnya setara dan bernilai seharga diri seorang manusia, siapa yang bisa menilai dan menuliskan berapa harga diri anda ?

    Atheis ataupun theis bisa saja tidak memiliki harga diri kalau memang dasarnya cuma nafsu

  7. free sex itu memang bukan definisi yang stabil…. mungkin tidak akan pernah ada manusia yang bisa memaknai deifnisi tentang sex bebas… orang2 hanya bisa mengasosiasikan hal tersebut sama dengan dengan aktifitas seksual yang colok sana-sini… pada kenyataannya sex bebas itu sulit untuk dilakukan… pemikiran itu hanya utopia, suatu fantasi keliaran manusia akan adanya manusia seperti itu yang dinarasikan melalu media2 murahan… pada akhirnya, harus ada proses seleksi “situ ok?” saya yakin sesadar apapun seorang rockstar bahwa dirinya menggairahkan di mata wanita, pasti rockstar itu tetap memilih2 yang “setara”, karena orgasm itu hardwork…

  8. Sebagai air crew, ketika sy menginjakkan kota amsterdam yg konon dilegendakan sebagai kota free sex, maka dengan gaya ndeso saya mulai tebar pesona,….ternyata sulit tuh nyari cewek bule untuk diajak kikuk kikuk,….bener juga judul tulisan ini,…”….ngaca dulu,…”,…..

  9. Hal yang tidak jelas semacam ‘free-sex’ ini kok teramat jelas ya larangannya? Kadang bingung juga jadinya… Btw artikelnya sangat bagus, dengan rujukan yang jelas… Maksudnya jelas bahwa free-sex ternyata tidak terdefinisi di kamus-kamus yang sahih sekalipun🙂

  10. menurut saia, istilah free sex itu adalah bebas melakukan aktifitas sex dengan apa saja (makhluk hidup dan tak hidup) dalam keadaan sadar, penjabaran free sex disini masih belum menuju kesimpulan dan premature

  11. jadi sebenarnya anda mendukung free sexs atau nggak?😀

    oke kita ganti aja jgn free seks deh ya, tapi kegiatan melakukan aktivitas seks dengan orang yg kita suka dan buat kita nyaman. wah kalo gini bisa lbh dari 1 dong?🙂
    anda terus bertanya loh dimana bebasnya???
    makanya itu pentingnya suatu ikatan pernikahan.supaya kita gk jadi kyk binatang, nyaman sama ini ya bobo bareng, gk nyaman ya putus tar gantian yg lain lg
    ya itulah pentingnya agama, sebagai patokan kita dalam menjalani kehidupan, patokan kita untuk melakukan hal yang bermoral atau nggak.
    maaf jika saya salah menafsirkan tulisan anda mohon dikoreksi. indahnya diskusi🙂

  12. Ateis bertindak sesuai dengan etika dan ilmu pengetahuan yang dipahaminya dan etiket yang disetujuinya, Setiap induvidu ateis memiliki standar etika masing-masing yang tidak sama, berbeda dengan teis memiliki satu standar etika yang sama dalam kelompoknya. walau pada kenyataan banyak induvidu teis yang melanggar etika kelompoknya.

    Beberapa alasan ateis tidak melakukan free sex(yang dimaksud bertukar pasangan) adalah karena penyakit menular dan tidak sesuai dengan etika yang dipahaminya.
    Beberapa alasan teis tidak melakukan free sex(yang dimaksud bertukar pasangan) adalah karena neraka dan penyakit menular.

  13. Agama (Tuhan) mengatur tentang Sex karena disitu ada “Kehidupan” bukan semata-mata kenikmatan.

    “Ateis kan tidak terikat pada aturan agama, jadi tidur dengan siapa pun termasuk ibu atau anak sendiri boleh dong?” _belum terjawab!

    • pertanyaan seperti itu kurang tepat. boleh dan tidak boleh adalah keputusan individual, bukan keputusan agama😛

      aturan agama biarpun ada yang mengatur hal seperti itu juga tidak bisa menghalangi seseorang yang beragama sekalipun untuk melakukan incest.

      tapi setiap orang masih menggunakan common sense, dan apabila disini ingin melibatkan munculnya “kehidupan” yang baru maka jawabannya adalah tidak. incest memiliki kemungkinan tinggi dapat memberikan kelainan seperti rentannya pada anak untuk mengidap penyakit seperti hemofilia, anemia, cacat pada jantung, masalah pernapasan dll.

    • // Ateis kan tidak terikat pada aturan agama, jadi tidur dengan siapa pun termasuk ibu atau anak sendiri boleh dong?//
      Menyedihkan sekali bagaimana agar tidak melakukan hal ini saja anda perlu agama.

    • Ya ampun, Bung. Jadi kamu itu kalau tidak percaya agama lagi terus pingin tidur sama ibu atau anak kamu sendiri ya? Ya sudah, memang sebaiknya kamu tetap beragama. Tapi maaf ya, jangan samakan kamu dengan kami-kami. Dan kalau memang kamu ada keinginan untuk tidur dengan anak kamu sendiri, apalagi kalau dia di bawah umur, saya sarankan konseling ke psikiater deh sebelum ada korban.

      • loh apa justifikasi atau alasan logis anda untuk menyebut perbuatan incest salah? setahu saya larangan untuk melakukan hal tersebut hanya muncul dari tuntunan agama! dan saya yakin anda mengatakan hal itu tidak benar karena anda pernah menerima doktrin agama tentang hal tsb bukan dari pemikiran logis anda sendiri. Jika memang dasar ideologi ateis semata-mata berasal dari pemikiran logis dan nalar, tolong jelaskan dasar logika perbuatan incest adalah salah!
        Coba anda lihat acara THE BIG DEBATE antara Prof. Lawrence krauss ‘atheis’ dan Hamza Tzortzis ‘muslim’ (cari di youtube videonya). Di acara itu prof. krauss jelas2 bilang “it doesn’t clear to me why incest is wrong!” nah loh. Inilah pendapat orang atheis tulen, lantas kenapa anda berpikiran berbeda? Sebenarnya anda beruntung lahir di indonesia, sehingga anda masih bersentuhan dengan doktrin2 agama. Beberapa doktrin itu anda tolak, beberapa doktrin itu anda terima meskipun tidak memiliki dasar logika yang jelas juga. jika anda lahir di amerika atau negara lain yang mayoritas penduduknya atheis mungkin anda pun akan berpikir seperti prof krauss. Apakah itu yang anda inginkan?

      • @ffr
        perbuatan incest memiliki resiko yang lebih tinggi pada keturunan untuk memiliki cacat pada saat kelahiran daripada keturunan yang dihasilkan dari pasangan yang tidak terikat dalam hubungan darah. selain itu juga Incest sendiri merupakan cultural taboo yang sudah ada sejak dahulu. bukan karena agama:\

        ” Coba anda lihat acara THE BIG DEBATE antara Prof. Lawrence krauss ‘atheis’ dan Hamza Tzortzis ‘muslim’ (cari di youtube videonya). Di acara itu prof. krauss jelas2 bilang “it doesn’t clear to me why incest is wrong!” nah loh. Inilah pendapat orang atheis tulen, lantas kenapa anda berpikiran berbeda? ”

        kenapa anda mengeneralisasikan seluruh komunitas atheis berdasarkan dengan debat prof. Krauss:\ bukan berarti bahwa prof. Krauss adalah seseorang yang terkemuka di komunitas atheis maka kami harus sejalan pikiran dengannya. apakah anda menganggap atheis sebagai satu komunitas tok yang dimana orang-orang terkemuka mencerminkan komunitasnya seperti pada agama ? lalu dimana letaknya penggunaan pemikiran kritis para atheis lol:\

      • @disbeliever
        “bukan berarti bahwa prof. Krauss adalah seseorang yang terkemuka di komunitas atheis maka kami harus sejalan pikiran dengannya”
        SETUJU….nah sekarang tolong jelaskan dasar pemikiran logis anda tentang betapa salahnya perbuatan incest (oh incestnya tidak untuk punya keturunan ya, pake alat kontrasepsi, dan dilakukan suka sama suka) itu agar saya dapat membedakan anda dengan prof krauss. Dan tolong jangan pake alasan karena hal itu “cultural taboo” karena alasan semacam itu gak logis dan gak menjelaskan apapun. Itu sama saja dengan saya mengatakan:”menjadi ateis itu salah karena ateis itu tabu bagi masyarakat indonesia”. Gas logis dan gak bisa diterima kan?

      • @ffr penilaian akan hal seperti incest menurut saya lebih terkategori kedalam penilaian estetika daripada etika. dilihat secara logis apabila anda memaksudkan antara suka-sama-suka dan tidak bertujuan untuk menghasilkan keturunan maka secara etika tidak ada salahnya, tetapi hal tersebut bagi saya secara estetika adalah hal yang “jelek”, dan begitu pula dengan hampir seluruh kebudayaan manusia yang memiliki norma tentang incest. yang dimana saya mengacu pada the westermarck effect.

        kalau anda masih belum puas, mungkin anda bisa memuaskan rasa keingintahuan anda dengan melakukan research sendiri di bagian psikologi manusia dan bertanya kepada orang yang ahli di bidangnya.

        cheers.

      • @Dbeliever
        “dilihat secara logis apabila anda memaksudkan antara suka-sama-suka dan tidak bertujuan untuk menghasilkan keturunan maka secara etika tidak ada salahnya, tetapi hal tersebut bagi saya secara estetika adalah hal yang “jelek””
        Estetika adalah penilaian yang dihasilkan dari tekanan sosial (penerimaan masyarakat), betul atau tidak? jika betul, maka benarlah perkiraan saya. Beruntunglah anda telah dilahirkan di Indonesia.

        “yang dimana saya mengacu pada the westermarck effect”
        Saya sudah baca2 tentang westermarck effect. Teori itu menjelaskan bagaimana seseorang biasanya kehilangan ketertarikan (secara seksual) kepada orang yang tumbuh besar bersama dirinya. Tapi saya tidak menemukan penjelasan mengapa jika seandainya pun orang itu melakukan seks dengan orang yang tumbuh besar bersama dirinya, hal itu menjadi salah secara moral. Ada beberapa penjelasan secara psikologis bahwa orang yang melakukan incest itu terkadang merasa bersalah dan jijik terhadap dirinya sendiri. Tapi perasaan inipun sebenarnya dihasilkan dari “doktrin” yang telah bersemayam dalam alam bawah sadarnya bahwa incest itu salah (entah itu dari agama atau tatanan sosialnya).

        “selain itu juga Incest sendiri merupakan cultural taboo yang sudah ada sejak dahulu. bukan karena agama”
        Nah, ini menarik….jika kita kembali ke masa awal kemunculan manusia. Saya pikir ketika itu jumlah manusia pasti masih sangat sedikit. Sehingga di saat itu, incest kemungkinan besar adalah hal yang tak terhindarkan (ya mo kawin ma sapa lagi wong ga ada manusia laen selain saudara sendiri). Dan ini kemungkinan besar terbawa hingga beberapa generasi setelahnya. Nah, kira-kira apa yang membuat nenek moyang kita setelah itu berubah pikiran ya? kapan kira-kira incest menjadi tabu bagi mereka? dan mengapa?

      • @ Max F :
        kalo tidur beneran ya bole sama sapa aja bole ngga ada yg ngelarang,,
        agar tdk melakukan yg kau maksud, kita tdk sll butuh agama, yg kita butuhkan adl SUSILA / MORAL… bedakan itu antara agama & moral…!!!

  14. Penjelasan tentang ini ada di hukum NEGARA (hukum tuhan ga kepakai).

    jelas atheis butuh pernikahan ..butuh control sex ga bisa free seks.
    knp? ada Hukum negara (bukan agama)… pernikahan resmi jelas ada aturan warisan, harta gono gini, uang santunan dan hak anak.. Coba aja free seks tanpa di setujui pasangan terus pasangan nuntut cerai! bisa miskiiiin hahahaha
    Kalau ada permpuan mau di nikahi tanpa mendaftar ke negara enaaak doong…perempuan tersebut tdk bisa nuntut macam2 kalau laki nya berselingkuh…

  15. Reblogged this on Free Thinker and commented:
    menarik.. tapi bagi yg mw baca, sblmnya open-minded dulu ya, jgn mikir gw setuju 100%, masi ada bbrp yg gw ga terlalu setuju.. ya yg bnr mw baca secara objektif, lumayan bwt bahan pemikiran🙂

  16. Jauh dari fakta
    Aq punya beberapa teman ateis, tapi tidak seperti ini kondisinya
    Peluang dilakukan eksklusif dan tanpa tanggung jawab terbuka lebar selebar-lebarnya😀
    Saat ini mereka stress berat, bingung, jiwanya tidak tentram dan akalnya tidak terpuaskan.

    kenapa begitu?

  17. pada dasarnya secara tidak sadar atheis pun bertuhan, mereka menuhankan logika dan akal pikiran sebagai satu2 nya sumber kebenaran

    • Ini namanya memaksakan definisi tuhan. Yang tadinya “mahkluk supranatural yang menciptakan isi bumi’ disimplifikasi jadi “sesuatu yang disembah” hanya u tuk bisa mengatakan ‘ateis sebenernya bertuhan’.

      • Setuju dengan dkyanus..
        “Laa ilaha illallah” berarti tiada tuhan selain Allah yang berhak untuk disembah dan diibadahi dengan benar, termasuk di dalamnya bersandar hanya kepada Allah.
        Ateis menyandarkan dirinya pada tuhan diri, tuhan logika, tuhan akal dan tuhan iptek.
        Biasanya sih kalau menyandarkan diri kepada mahluk, tuhan “selain Allah”, orang tersebut biasanya selalu resah dan gelisah.🙂

  18. kalau menurut definisi pribadi kami, free sex itu memang ngga ada dlm kamus bhs inggris, maksud nya free sex itu adl seks bebas.
    seks bebas adalah hubungan seksual yang dilakukan secara bebas, tanpa ada ikatan antara (para) pelakunya (ex: dengan teman, PSK, dsb),
    hal tsb berbeda dengan seks pranikah, dimana seks pranikah adl hubungan seks yang dilandasi ikatan antara para pelakunya (ex: dengan pacar)

  19. Ateis, isi nya orang2 hebat semua kek nya nih..
    Mau nnya sih sebenarnya, apakah ibu dan bapak kalian juga ateis??

    Kalo mereka juga ateis itu tmbah keren lho..
    Tapi kalo mereka ga atheis, maaf ya, betapa bodohnya ibu dan bapak kalian, yg tidak mengerti ttg ateis.. Atau mungkin, betapa bodohnya kalian yg ga pernah d ajar ibu bapak kalian ttg sebuah agama.. Lol..

  20. Jangan menganggap atheist(s) itu kemudian segalanya jadi terbalik dengan ukuran para theists yang dianggap lebih umum dan wajar.
    Saya suka dengan jawaban bahwa incest itu adalah hal estetik.
    Jangan dianggap bahwa atheist itu lebih suka lagu yang sumnang daripada musik yang merdu. Jangan pula dianggap atheist lebih suka pakaian buluk daripada yang indah. Nilai estetik relatif umum untuk semua manusia, khususnya yang sejaman.

    Kalau incest itu dianggap buruk oleh seorang atheis, tak boleh kita memaksakan mereka harus suka. Tak perlu alasan logik untuk tidak suka hal yang tidak estetik, tidak indah, tidak lezat.
    Tak perlu dalil canggih menyatakan bahwa petai dan durian itu menjijikkan bagi sebagian orang dan lezat bagi sebagian lainnya. Atau dangdut itu lebih asik daripada musik klasik.

    Soal selera,

  21. Saya seorang teis, saya jg bingung dengan kata2 freesex ini. Opini saya;
    Mungkin awalnya free sex ini dipakai utk menghimbau masyarakat agar tidak sex asal2 an yang akhirnya melebar kemana2. Tidak sex asal2 an , apa maksud ini? Maksud ini adalah safety sex. Use condom or hindari org yg terkena penyakit menular via sex like hiv aids. Kalo kita liat ads2 luar negri mereka jarang bilang free sex tetapi lebih milih safety sex krn menurut saya sex itu bisa dgn siapa saja asal sama2 mau dan sesuai dengan norma yg berlaku bagi dirinya dan lingkungannya. Sekali lagi ini hanya opini maaf apabila krg jelas😀

  22. ha ha ha mbulet ente selalu ada alasan pembenaran wong jelas jelas sex bebas tanpa moral kok alasannys evolusi bagaimana kalau evolusi secara ilmiah diatur dan aman berarti kita nyaman dong ngesex terus asyik ayo monggo digasak istri orang tetangga atau siapa aja tmsk mertua ibu kandung wong gak dosa kok apa yg anda cari didunia

    • Tentang Incest: by nature, baik Theist maupun Atheist BISA melakukan incest tapi Theist ga mau karena DILARANG oleh agamanya (kalau tdk dilarang, mgkn ada sebagian kaum theist yg melakukannya). Kaum Atheist tdk melakukan incest krn TIDAK MAU (padahal tdk ada yg melarangnya). Kesimpulan: Theist tdk incest krn unsur dari luar dirinya (larangan norma agama). Atheist tdk incest krn kesadaran dari dalam dirinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s