Untuk Apa Kita Hidup Jika Tuhan Tidak Menciptakan Kita?

Sekitar dua minggu lalu saya mendapatkan sebuah kesempatan yang luar biasa. Sebuah gereja Kristen yang cukup besar di dekat rumah saya mengadakan sebuah kelas pendalaman iman bermodel diskusi dengan tema “Gereja dan Tantangan Ateisme.” Saya diizinkan untuk ikut dan berbagi pandangan saya soal berbagai isu dari sudut pandang ateisme dan juga mengenai ateisme itu sendiri.

Sesaat setelah saya berbagi, seorang peserta diskusi mengangkat tangannya dengan penuh emosi dan suara lantang menyuarakan pendapatnya:

“Saya ingin apa yang disampaikan di forum ini berimbang. Memang benar bahwa saat ini ateisme dengan berbekal segala sains sekulernya telah mampu menjelaskan fenomena–fenomena yang terjadi di dunia ini. Namun ada satu hal dasar yang para ateis tidak bisa menjawabnya, yaitu mengenai kehidupan kita sendiri.

Para ateis tidak mampu menjawab untuk apa kita hidup dan kenapa kita bisa ada di dunia ini, karena itulah sehebat apa pun argumen ateis di berbagai hal, saya masih memegang iman saya karena Kristus mampu menjawab pertanyaan paling mendasar itu!”

Setelah itu, ia mengambil tasnya dengan alasan ada urusan lain dan meninggalkan diskusi menyisakan peserta lain yang terhening. Sayang sebetulnya karena ia tidak sempat mendengarkan paparan saya mengenai hal ini, karena itu ada baiknya saya tuliskan saja di blog ini, mudah–mudahan suatu saat beliau membacanya dan siapa tahu juga bisa berguna untuk yang lain.

Disclaimer: Penjelasan saya di bawah ini membutuhkan sedikit pengetahuan soal evolusi makhluk hidup dan big bang. Tidak mengerti juga tidak apa–apa sih, tapi kalau ada yang kurang dimengerti soal hal–hal tersebut dan mau bertanya, jangan di post yang ini, banyak post lain yang sudah membahas hal–hal tersebut atau bisa sekalian di page Facebook Anda Bertanya Ateis Menjawab (http://facebook.com/ateis.menjawab2)

Arti hidup kita di hadapan semesta

Baiklah, saya akan memulai memberikan gambaran soal topik ini dengan menampilkan sebuah kutipan yang cukup terkenal dari Joe Rogan:


Ya, secara obyektif, saya dan Anda hanyalah seorang manusia, primata yang bisa berbicara di sebuah planet bernama Bumi yang melayang mengitari sebuah bintang bernama matahari di sebuah sisi galaksi bima sakti yang terus terlempar menjauh dari pusat alam semesta dengan kecepatan luar biasa semenjak terjadinya big bang.

Atau kalau bicara angka, Anda dan saya hanyalah 2 dari 7 milyar anggota spesies manusia yang masih hidup, dan manusia hanyalah 1 dari hampir 9 juta spesies yang sudah didaftar ada di bumi, sementara bumi hanyalah 1 dari 8 planet yang mengitari matahari, dan matahari hanyalah 1 dari 300 sextilliun (milyar trilyun) bintang yang ada di alam semesta ini.

Singkatnya:

Saya dan Anda ini sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat (…) kecil dan tidak berarti jika dilihat dari skala alam semesta kita ini.

Saking kecilnya kadang membayangkannya pun membuat saya merinding, betapa tidak ada artinya saya bagi alam semesta. Saya ada atau pun tidak, tidak ada pengaruhnya bagi sextiliunan bintang lain di alam semesta ini.

Maka terkadang saya harus mengakui bahwa agama dalam hal ini bisa sangat menenangkan pikiran. Agama menimpa sosok alam semesta maha besar yang mati, dingin, dan tidak pedulian pada saya dan Anda yang kecil ini dengan sosok yang lebih besar lagi, dan sosok tersebut bukan hanya peduli terhadap ada atau tidaknya kita. Sosok tersebut bahkan peduli terhadap setiap hal kecil yang kita lakukan, kebaikan kecil kita menyumbang untuk pengemis, kebohongan–kebohongan kecil kita, bahkan dengan siapa Anda tidur malam ini.

Ya, agama menggambarkan bahwa Tuhan, yang lebih besar daripada alam semesta ini peduli terhadap semua printilan hidup kita, di saat sebetulnya keseluruhan hidup kita sendiri tidak ada artinya sama sekali bagi alam semesta yang sedemikian besar ini, dan hal ini sangat sangat sangat sangat menenangkan sekali bagi pengimannya.

Tuhan dan Tujuan

Ketika agama memberikan arti pada eksistensi pengimannya, maka arti itu tidak sebatas pada kepedulian Tuhan saja. Sesuatu akan berarti jika ada gunanya, ada tujuannya, dan itulah yang agama berikan.

The Purpose Driven Life, by RIck Warren
Dengan adanya Tuhan melalui agama, Anda punya arti, Anda punya tujuan hidup, Anda tahu untuk apa hidup di dunia ini.

Sedangkan apa yang Anda punya tanpa adanya Tuhan? Mungkin secarik puisi dari seorang sahabat saya ketika ia menjalani masa-masa awal menjadi ateis ini bisa cukup menggambarkan:

Kita hanyalah seonggok daging dan tulang yang bergerak dalam rutinitas setiap harinya.
Berbekal kanvas kosong

Atau dengan kata lain,
Berbekal kebebasan.

Ya, kita punya kebebasan.
Kebebasan untuk mendefinisikan sendiri siapakah kita.
Kebebasan untuk mendefinisikan sendiri apa tujuan hidup kita.
Kebebasan untuk mendefinisikan sendiri apa gunanya kita ada

Lupakan alam semesta yang besar dan tidak akan peduli terhadap eksistensi kita.
Kita mungkin tidak berarti bagi rasi bintang sagitarius.
Kita mungkin tidak berarti bagi planet mars
Bahkan kita mungkin tidak berarti bagi Puerto Rico

Tapi kita berarti bagi orang–orang yang mencintai kita
Kita berarti bagi orang–orang yang bahagia mendapatkan waktu hidup kita
Kita berarti bagi orang–orang yang membaik hidupnya karena pekerjaan kita
Kita semua berarti
Kita sungguh berarti bagi wajah-wajah pertama yang terlintas ketika kita mengingat paragraf ini

Ya itu secara sosial dan interpersonal sih, kalau secara biologis tujuan hidup Anda adalah bertahan hidup, berkembang biak, dan menjaga keturunan Anda karena itulah perintah dasar gen di dalam tubuh kita, dan itulah yang membuat kita menjadi seperti ini. Kenapa gen itu bisa ada di manusia bisa panjang ceritanya secara evolutionary principle, semoga kapan–kapan ada yang bahas detailnya di blog ini.😀

52 thoughts on “Untuk Apa Kita Hidup Jika Tuhan Tidak Menciptakan Kita?

  1. tulisan yang luar biasa… sungguh kecil diri kita dihadapan alam semesta.. dan anehnya masih banyak orang yang menyombongkan diri seolah olah berkuasa atas dunia ini

  2. gue puyeng bacanya tem -_- malah nabrak-nabrak sama logika gue

    kalo kita just merely a part of universe HARUSNYA kita “bergerak” dengan rutinitas+insting yang menjaga keseimbangan alam dong kaya makhluk-makhluk lainnya
    kenyataannya human being itu makhluk yang bikin tingkat kerusakan paling tinggi di muka bumi bahkan lebih rapid dari kesadaran usaha konservasi nya

    berarti adanya “kebebasan berkehendak” milik manusia kaya yang disebut di puisi itu harusnya means something dong (tapi apa juga gw gak tau. hehe..) yang membedakan kita dengan makhluk lainnya

    menurut gw sih

    • Universe itu bukan cuma bumi lho😀
      malah sebetulnya jangankan kita, bumi gak ada pun universe gak ngaruh apa – apa😀

      besok – besok gw bakal nulis lanjutannya kok, soal universe, bumi, peradaban dlsb, tungguin aja😀

    • Betul. Manusia adalah spesies yang paling banyak membuat kerusakan di bumi. Dan itu “part of nature”.

      Tapi anda mesti inget bahwa “universe” memang tidak melulu berisi keteraturan, tapi juga ketidakteraturan. Ada yang dinamakan “cosmic collision”, tabrakan antar galaksi, misalnya.

      Di bumi sendiri ada gempa, angin tornado, badai, tsunami dan sebagainya yang sebenarnya ya “merusak”. Tapi, ya itulah alam. Ada keteraturan, ada ketidakteraturan. Seimbang.

  3. Begitu sombongnya kita berkata alam semesta ini besar, pdhl bkn kita yg berusaha mencari tau atau menemukannya. Dan lebih sombong lg, buat kesimpulan sendiri arti eksistensi kera-kera di alam semesta. Padahal sebagian kera yg berusaha itu, belum sampai pada kesimpulan akhir.

    • huh? ini maksudnya apa kata2 sok bijak dan puitis ga jelas

      jadi menurut anda alam semesta itu ga besar gitu?
      ya ga perlu juga semua orang meneliti dan melihat sendiri teropongnya untuk tahu kalau ada galaksi lain
      we have scientists doing that, peer reviewed scientists

  4. hidup ga harus punya tujuan kan,apalagi yang berhubungan dengan tuhan, surga, neraka, dsb
    menjalani momen saat ini dengan usaha terbaik saja sudah cukup,

  5. puisi nya jujur dan original.sangat bagus kalau di kemas jadi lagu.
    boleh tau siapa yang nulis puisi di atas?
    kalau diijinkan,saya tertarik untuk menggubah nya jadi lagu,,,,hehehe.itu pun kalau diijinkan.
    salam.

  6. Ping-balik: Selamat datang di web ABAM! | Anda Bertanya Ateis Menjawab

  7. Ping-balik: Selamat atang di ABAM! | Anda Bertanya Ateis Menjawab

  8. Ping-balik: Darimana Datangnya Semua Ini Jika Tuhan Tidak Menciptakannya? | Anda Bertanya Ateis Menjawab

  9. Tulisan yang menarik. Sebetulnya, secara pragmatis “agama” memang memiliki manfaat. Yah sekurangnya untuk “penghiburan” saat mengalami kejatuhan, atau sekedar memberi motivasi. Tapi semua itu jelas tidak berarti bahwa klaim-klaim teologis menjadi benar.

    Kalo saya ditanya, “apa tujuan hidup?” Maka gampang jawabannya: “mencari kebahagiaan”.

    Semua orang, tanpa kecuali, pasti senang dengan “kebahagiaan”. Walau begitu, ukuran kebahagiaan itu berbeda-beda dan sangat relatif. Yang merasa bahagia kalau pergi ke gereja dan berdoa di sana, ya pergilah ke gereja dan berdoa di sana. Tapi dengan adanya rasa bahagia dalam ibadah di gereja, itu bukan berarti bahwa klaim-klaim teologi di agama yang anda anut menjadi benar adanya.

    Bahagia saya sih nggak muluk-muluk. Asal koneksi internet lancar, ada kopi, plus gudang garam filter, udah nikmat banget rasanya hidup ini, walau itu bukan satu-satunya kebahagiaan saya.

    • betul sekali ….. saya merasa tenang kalau sedang sholat ….. ya saya akan sholat .. apalagi kalau sholat malam atau sholat di tepi sawah (dimasjid kecil di kampung) …. meskipun saya tahu kalau Al Quran berisi sesuatu hal yang tidak bisa dibuktikan oleh science …… saya tahu beberapa ayat dalam Al Quran bertenhtangan dengan science …..

  10. Ping-balik: Emang Sex Bebas Itu Apa Sih? Yakin Itu Artinya Kamu Bisa Bebas Tidur Dengan Siapa Saja? Udah Ngaca Belom? | Anda Bertanya Ateis Menjawab

  11. Boleh saja berpendapat bahwa kita hanyalah monyet yang berpikir… Bahkan cuma sekedar debu-debu bintang… Tetap kita yang sesungguhnya adalah kita yang sedang mengamati diri kita yang sedang berpikir itu

  12. Hi Botem,

    Gue baru baca tulisan yang ini. Cuman mau nanya/komen aja, bukan kritik atau nyerang😀

    Sebenernya pertanyaan “untuk apa kita hidup” ini, kalau dari sisi gue adalah:

    “To make my God happy, and to ensure that my family and children can make everyone else in the world, and God, happy too.

    Also, to make a dent in the universe while doing so.”

    Yang patahan kedua (“to ensure that my family and children..”) dan ketiga (“to make a dent in the universe”) menurut gue ga usah dijelasin lah ya.

    Yang pertama. “To make my God happy”. Kenapa?

    Buat gue, alesannya cukup simpel.

    “Karena dengan ngebikin Tuhan gue happy, gue juga ngerasa happy!”

    Gue ngerasa lebih happy kalau gue ngejalanin hal-hal positif yang ada di agama gue.

    Gue ngerasa lebih happy kalau di saat hopeless, gue bisa ngadu ke Tuhan gue.

    Gue ngerasa lebih happy kalau, di saat lagi bahagia, gue ngejalanin ajaran Tuhan gue buat ngebagi kebahagiaan dengan beramal atau zakat.

    Dengan punya agama, gue jadi pribadi yang lebih optimis, positif, dan produktif.

    Inner peace.

    Gue cuma pengen tau aja, kalau buat ateis, gimana caranya lo secure “inner peace” itu?

    What would you do when the plane starts falling?

    What would you do when you’re in rock bottom, and everything just doesn’t work out?

    What would you do, ketika lo mau operasi penting dan mau dibius?

    Gue cuma penasaran aja, gimana caranya ateis handle situasi-situasi out of control kayak gitu.

    Thanks Tem😀

    • Tentu. Yang seperti itu bisa dipahami. Semua orang ingin bahagia dan itu adalah tujuan hidupnya. Ada yang bahagia dengan mendapatkan banyak uang. Ada yang bahagia dengan membantu anak jalanan. Terakhir, ada yang mencari kebahagiaan lewat drugs.

      Kita paham bahwa bahagia adalah proses kimiawi otak yang bisa disintesiskan dan karena itulah beberapa obat obatan sengaja dibuat untuk mensimulasi rasa bahagia tersebut. Orang tidak lagi peduli apakah itu nyata atau tidak selama itu membuat mereka bahagia. Demikian pula dengan anda yang tidak peduli apakah tuhan nyata atau tidak selama itu membuat anda bahagia. Jika saya membeli mainan demi membahagiakan anak imajiner saya, itu adalah sepenuhnya hak saya meskipun dipandang aneh bagi orang lainnya.

      Menjawab pertanyaan ‘inner peace’, menurut saya pribadi saya merasa justru lebih tenang menghadapi masalah. Secara sederhana karena saya sadar segala faktor yang terlibat didalamnya. Berdoa ketika pesawat jatuh tidak akan merubah keadaan. Saat saya masih beragama dulu justru saya lebih banyak memikirkan apa salah saya terhadap Tuhan hingga mendapat musibah seberat ini. Waktu dan pikiran saya lebih banyak habis untuk berdoa dan khawatir daripada mencari solusi.

    • gw gak keberatan untuk mati kalau emang gw gak bisa survive dari sebuah kondisi, gak ada yang perlu ditakutin, gw udah bikin setiap momen di dunia gw ini berharga dan gw gak percaya ada kehidupan lagi setelah kematian,jadi yaa… apa yang mesti gw pusingin?😀

      ditambah lagi fakta bahwa gw gak percaya ada yang bakal ngebackup gw di saat susah bikin gw lebih terstruktur dalam hidup, sejauh ini sejak gw ateis gw gak pernah depresi parah yang bikin gw cuma bisa berdoa doang kayak jaman masih teis dulu😀

    • Kalau dari balasan anda mengenai Inner Peace, di situlah asal muasal Agama diciptakan, dan tentunya Deity atau tuhan diciptakan. Ketika kita menghadapi situasi kepedihan atau kecelakaan yang tidak bisa dikomprehen oleh otak manusia, mereka memulai konsep Wishful Thinking. SEANDAINYA. Seandainya ada seseorang yg tiba2 terbang menangkap pesawat ketika jatuh, ketika kita terpuruk dalam kondisi keuangan, ada seseorang yg mengirimkan 1M(ber), ketika kita tau operasinya berprobabilitas 50/50, maka ada seseorang yg akan memberikan suatu “kepastian” dalam hati, atau dalam konteks ini conscience kita, bahwa semuanya akan baik2 saja. Apakah inner peace seperti itu yg layak dipertahankan atau dicapai?

      Apakah Inner Peace itu harus diengage ketika kita menjelang ajal atau ketika kita berbuat amal? Ketika saya masih taat beragama, saya lebih mempunyai Inner Fear dibandingkan Inner Peace. Ketakutan2 yg bersifat tidak pragmatic, apakah saya mendukakan tuhan dengan merokok, masturbasi, atau apakah saya dosa ketika saya menyuap polisi ketika saat ditilang, atau tidak memberi sedekah pada pengemis di lampu merah? Saya takut karna ada Polisi Moral yg mengikutiku setiap saat dibandingkan apakah Polisi ini senang kalau saya memuji dia selalu atau pergi tempat ibadah dan bernyanyi setiap jam. Buat saya Inner Peace bagi beberapa orang beragama bisa bermanfaat, tapi mereka lupa bahwa Tuhan itu tidak bisa main2 dengan dosa2 yg anda belum lakukan atau sudah lakukan (kalau anda mendeskripsikan bahwa tuhan itu omniscient), dan di situ saya tidak bisa hidup tenang dengan Inner Fear. Dan Inner Fear dan Peace dari agama yg saya peluk bukan solusi atas kehidupan pribadi saya, sekarang saya lebih bebas dari Fear atau Peace yg tidak perlu diciptakan karna saya tidak terikat. Jadi Agama bukan hanya menimbulkan Inner Peace tapi juga Inner Fear. Silahkan anda pilih.

  13. Seperti kata Sartre, ‘existence precedes essence’. Ada dulu, baru berarti. Tujuan atau makna hidup ya kita sendiri yang mebuatnya. Kebebasan kitalah yang mampu memaknai arti hidup kita sendiri.

  14. Sekedar Share,

    Tentang tujuan hidup adalah salah satu misteri terbesar dalam hidup saya, sejak kecil pun saya sudah menanyakannya kepada orang tua dan diri saya sendiri, saya selalu menanyakan, apa tujuan hidup ini ? kalau sekedar mengharap surga dan menghindari neraka, bagi saya itu klise dan terkesan kekanak-kanakan, pasti ada yang lebih besar dari itu, seperti syair seorang sufi wanita Rabiatul ‘Adawiyah (yang dijadikan lagu oleh Ahmad Dhani) : Kalau surga dan neraka tidak ada, apa kita tetap berbuat baik di dunia ini ?

    Saya mulai mendapat pencerahan ketika saya mengkaji tasawwuf, sebagai seorang yang beragama, saya dituntut tetap menjalankan kebaikan itu tanpa peduli surga atau neraka, ditipu atau tidak, dipuji atau dicaci, karena kebaikan itu nisbi, tergantung sudut pandang seseorang dan pikiran apa yang ada di otak ketika melakukan kebaikan itu, seperti ketika seorang menyumbang uang pada pengemis, dia dipuji oleh lingkungannya tapi bisa jadi dia sombong karena pemberiannya itu tidak ikhlas, hanya dia sendiri yang tahu.

    Pada akhirnya saya mulai mengerti bahwa tujuan hidup adalah kebahagiaan, kebaikan yang tuluslah yang membuat kita bahagia, untuk mengerti ketulusan maka dituntut ilmu yang memadai, dan dengan ilmu yang memadai diharapkan hati dan pikiran kita lebih fleksibel (luwes) dalam menghadapi dunia, dengan keluwesan hati dan pikiran maka hidup kita menjadi bahagia karena luwes dan tak mudah terbentur dengan permasalahan. Ketika kita bahagia, maka hal itu akan menular pada lingkungan kita, dan diharapkan menjalar ke seluruh dunia. Itulah tujuan hidup manusia menurut saya, membahagiakan diri dan menularkannya kepada orang lain dan seluruh alam.

    terima kasih,

  15. Berarti kalau mati ya mati aja gitu?emang [α̲̅d̲̅α̲̅] penjelasan ilmiah tntang rasanya kmatian dan apa yang terjadi setelah kematian?

  16. Ping-balik: Pandangan Seorang Ateis Tentang “SEX BEBAS”. Apakah Itu Sex Bebas? Oleh : Rizky Andriawan | Ateis Jawa (Javanese Atheist)

  17. Menurut saya Ateis muncul karena ketidakmampuan untuk membuktikan bahwa Sang Pencipta itu ada, jadi ini hanya sebuah ide, gagasan atau konsep yang akhirnya berkembang menjadi Isme yang dianut oleh sebagian orang yang mempunyai ide dan gagasan yang serupa. Siapa bilang Ateis tidak punya Tuhan? Tuhan nya ya akal fikiran dan ego…Jika dilihat dari Definisi Tuhan adalah Dia yang bergantung padanya segala sesuatu, itu artinya Ateis menganggap bahwa akal fikiran dan ego nya sebagai Tuhan mereka, karena mereka menggantungkan semuanya hanya dari akal fikiran yg tentu saja mempunyai batasan dalam berfikir. Hal sederhana bahwa segala sesuatu ada yg membuat dan menciptakannya, bisa dilihati dari adanya blog ABAM ini. Pertanyaan saya apa bisa blog ini tiba2 ada dengan sendirinya tanpa ada admin yang membuat dan merancangnya? Bahkan hal sederhana seperti blog ini saja ada pelaku dan pembuatnya apalagi hal sebesar alam semesta yang sangat kompleks? Keterbatasan pancaindera, akal, dan alat2 canggih yang belum bisa melihat atau menyentuh Sang Pencipta, bukan berarti kalau Sang Pencipta itu tidak ada. Saya yakin semua manusia setuju kalau kita bernafas menggunakan oksigen, tapi apa kita bisa melihat bentuk dan wujud oksigen, bagaimana warna, rasa dan baunya, adakah alat2 canggih yang membuat kita bisa menyentuh oksigen? kalau belum mampu sebaiknya jangan dulu percaya kalau selama ini kita bernafas membutuhkan oksigen, kan belum bisa dibuktikan baru bisa dirasakan pada saat kita menghirupnya. Begitu juga dengan Sang Pencipta, tidak usah kita tanyakan bagaimana dan seperti apa bentuknya, cukup kita rasakan dengan hati nurani yang terdalam, semoga kita bisa menemukan jawabannya disitu. Mari kita sama2 mencari kebenaran yang hakiki, bukan bertahan dengan ego dan opini masing2 apalagi percaya terhadap teori2 para filusuf yang tidak lebih hanya sebuah ide, gagasan, dan teori spekulasi juga berandai-andai yang juga sama2 belum bisa dibuktikan. Maaf jika ada kata2 yang kurang berkenan. Terima Kasih🙂

    • kalau memang atheis memiliki tuhan yaitu akal dan fikiran, berarti anda yang beragama telah menduakan tuhan anda, karena anda sebagai orang yang beragama juga sering percaya dan mengandalkan akal dan fikiran anda. Kalau memang anda percaya dengan kekuasaan tuhan anda kenapa anda sering memanfaatkan kekuasaan akal & fikiran (yang sebelumnya anda sebut sebagai tuhan para atheis) untuk menyelesaikan masalah ? kenapa anda tidak berhenti memakai akal dan fikiran anda dan memulai mengandalkan kekuasaan tuhan anda yang sebenarnya sepenuhnya ?. Sebagai contohnya, saat anda kesuliatan dalam menyelesaikan suatu ujian tertulis kenapa anda harus memakai fikiran anda ? padahal kan anda sudah mempunyai tuhan yg maha kuasa, kenapa anda tidak berhenti berfikir saja dan memulai meminta jawaban ujian tertulis itu dengan berdoa pada tuhan anda ?

  18. “Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. AlBaqoroh ;30)

  19. suatu kala ada seseorang datang ke orang bijak, dan menyatakan sesuatu, “saya tidak percaya tuhan…” kata orang tersebut. lalu orang bijak tersebut tersenyum, lalu ke dapur dan mengambilkan 2 gelas air minum, yg satu untuk tamuny dan satu untuk diriny sendiri, setelah itu, orang bijak tersebut menyuruh orang td untuk minum bersamanya. taklama kemudian setelah minum orang bijak tersebut menyandqrkan badan dan kepalany ke dinding sambil memegang gelas ditanganny, tak lama kemudia orang bijak itu memejamkan matany dan tertidur sambil memegang gelas, sontak saja gelas ditanganny jatuh karna tak dipegang erat oleh sibijak, “tar….” bunyi gelas pecah tersebut.

    pesan terkandungny, gelas yg ditinggal dtanganyg tidk dpegang erat sambil tertidur aja pecah, bagaimna keselarasan alam semesta jika ditinggal tidur atau tdk djaga oleh sang pencipta?…..
    semoga paham inti ceritanya yak wkwk

  20. Tetap tidak menjawab pertanyaan. Kalau makna hidup diserahkan kepada masing2 individu, orang bisa memilih bunuh diri sebagai jalan hidup dan anda tidak bisa melarang2 walaupun (mungkin) gak setuju.

    Bukankah ini makna kehidupan yg meniadakan makna apapun? contradictio in terminis?

    Intinya, kita bisa memilih pemaknaan yg berbeda2 ubtuk hidup kita, tapi pastilah ada makna yg universal, tujuan hidup yg universal.

    Satu lagi.
    Alih2 cepat2 menyimpulkan ini wishful thinking, anda seharusnya menganggap ini pertanyaan yg wajar.
    Saya rasa ini cara berpikir yg alamiah sekaligus scientific. Trying to make sense of the universe through particular phenomena

  21. hidup… buat apa kamu hidup kalo cuma buat kebebasan, rasa sayang, dan ketetapan alam… kamu hidup karna “anugerah”… kamu merasakan bahwa kamu sangat kecil dibanding alam semesta, tapi kamu juga ga sadar bahwa alam semesta itu sendiri sangat-sangat kecil dibandingkan dengan “Tuhan”. coba bayangkan, Tuhan yang begitu besar peduli dengan sebuah sel yg bergerak di alam ini, apalagi kamu…!!! manusia adalah citranya, gambarannya… misalnya kamu membuat miniatur sebuah mobil, pasti miniatur itu memiliki gambaran yg lebih kecil dari aslinya… dan kamu perlu tahu, dia (Yang Maha Esa) menciptakan kita jauh lebih kecil darinya itu untuk menandakan bahwa tak ada lagi yg lebih besar darinya… dan ketahuilah besar-kecil itu bukanlah ukuran fisik tapi ukuran yg tidak akan dapat kita definisikan dengan logika kita, misalnya ukuran fisik bumi ini lebih besar dari kita, namun bagi Tuhan kita jauh lebih besar dan berharga daripada alam ini… namun ia juga tak suka jika kita semena-mena merusak, mengklaim, dan menghancurkan ciptaannya semau kita, karna pada dasarnya kita juga adalah “CIPTAANNYA”… tinggalkanlah kesombonganmu yang menganggap bahwa kamu itu bebas, ingat tanpa dia tidak ada yg mampu melewati hidup, bahkan kamu tidak akan punya perasaan terhadap kehidupan, dan kamu pasti ingin mati… percayalah, saya sudah melewati itu semua… saya sudah terjebak dalam itu… tapi saya ingin keluar dari kesombongan saya, dan saya harus mengakui saya ini adalah Ciptaan, dan saya harus turut dalam aturannya, karna saya tak punya kuasa atas hidup, dan saya tidak akan mampu hidup dengan usaha… tapi begitu banyak sekali hal tak terduga yg menyelamatkan saya, kalo dari sudut pandang logika itu gak mungkin, tapi pertolongan itu datang seperti ada yg mengaturnya, dan itu gak bisa disebut “kebetulan” karna pertolongan itu datang berkali-kali, makanya disebut mukhjizat… setelah saya sadar saya masih bisa bernafas sampai saat ini karna anugerah, saya memutuskan untuk ikut Yesus selamanya, dia membatasi kesombongan saya, dan saya tahu tidak ada orang yg suka pada kesombongan, apalagi Dia… kita melakukan keburukan karna kita terpengaruh, seperti ada dorongan dan seperti ada yg berbicara dipikiran kita, itulah yg disebut godaan… Coba pikirkan matang-matang, dan renungkan, jangan mengeraskan hati dan kepala, tapi cobalah jangan bebal… Pasrahkan pikiran anda, dan jangan berharap apa-apa, nanti anda akan tahu sendiri… Terimakasih…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s