Mengapa saya memutuskan menjadi ateis? Cerita Dewi Rainny ( sumber kompasiana)

Original writer : Rainny
Sumber: kompasiana

Jangan takut, ini bukan upaya atheisasi. Orang Indonesia boleh jadi takut dengan ‘kristenisasi’ dan di Eropa, orang takut dengan ‘islamisasi.’ Tapi ini bukan upaya atheisasi. Upaya mengkonversi orang-orang beragama menjadi atheis bertentangan dengan prinsip atheisme itu sendiri. Atheisme bukan kepercayaan yang harus diimani begitu saja. Atheisme adalah keyakinan seperti keyakinan ilmiah yang harus ditemukan sendiri.

Atheisme nyaman bagi diri saya, melegakan batin saya, tetapi sulit berhadapan dengan tekanan sosial di Indonesia.

Orang masih memicingkan mata pada atheisme, menganggap atheis sebagai orang paling hina di muka bumi. Atheis dianggap sebagai sumber kekejian dan kebejatan moral.

Atheis bukanlah orang tanpa etika dan moral, hanya saja atheisme tidak mendasarkan moralitas dan etikanya pada ajaran Tuhan, melainkan pada akal budi manusia. Saya kira bukan tempatnya di sini untuk memberi penjelasan apa itu atheisme.

Saya menjadi atheis bukan karena keluarga, bukan karena teman, bukan karena akibat pernikahan (tidak jarang orang pindah agama untuk menyesuaikan diri dengan UU Pernikahan di Indonesia). Saya menjadi atheis melalui pergulatan panjang mencari Tuhan.

Saya dilahirkan dari keluarga Islam lengkap dengan azan di telinga ketika saya baru saja dilahirkan. Saya belajar membaca Al-Quran sedari kecil, ikut pengajian di musala, puasa, tarawih dan membayar zakat seperti layaknya anak-anak dari keluarga muslim lainnya.

Orang tua saya, keduanya muslim yang taat dan sangat tolerans dan sangat mendorong kebebasan berekspresi serta mendorong saya untuk mencintai membaca juga dekat dengan sains dan ilmu pengetahuan.

Berangkat dewasa, mulai sejak kira-kira usia SMP, masih rajin sholat, saya mulai mempertanyakan Tuhan. Belajar Pancasila di sekolah, yang lebih mirip indoktrinasi daripada diskusi megenai ideologi dan filsafat dengan bapak dan ibu saya, saya mulai penasaran dengan Ketuhanan Yang Maha Esa dan Bhinneka Tunggal Ika. Mengapa ada banyak Tuhan? Jika semuanya adalah Tuhan yang sama mengapa aturan, tuntunan dan tuntutannya berbeda.

Dari situ saya mempelajari praktis semua agama yang ada di Indonesia, menemui romo, pedanda, biksu, dan pendeta, selain tentu saja dengan ustad dan kyai. Perjalanan yang indah mengantarkan saya pada pertemuan dengan Romo Mangun dan Gus Dur (yang adalah teman bapak saya). Masih pula saya tidak menemukan jawaban atas salah satu pertanyaan saya: Agama apa yang paling bisa mengantar penganutnya pada Tuhan.

Kemudian saya menemukan bahwa pertanyaan tersebut salah, karena jawaban yang tersedia adalah:

– Semua agama sama baiknya

– Ikuti kata hatimu sendiri

Pencarian saya mengenai semua agama sama baiknya berujung pada dilema, seperti semua kecap adalah kecap no. 1, berarti semua agama sama buruknya. Agama A mengatakan A-lah agama paling baik, dan agama B buruk. Sebaliknya agama B mengatakan hal yang sama mengenai dirinya sendiri, dan mengkatagorikan agama A sebagai agama yang tak baik. Jika ada 1.000 agama di dunia, memilih salah satu berarti berharap 1 surga, tetapi bersiap masuk 999 neraka agama lain yang disiapkan bagi orang ‘kafir’.

Pencarian saya pada tokoh-tokoh agama berpikiran luas mengantarkan saya pada kata-kata bijak, “Agama itu seperti makanan, ya, makanan jiwa, pilih yang sesuai selera, dan sreg. Walaupun katanya bergizi, tapi kalau makannya terpaksa, ya juga nggak akan enak dan nggak akan membawa manfaat buat kamu.”

Saya mulai dengan menjadi seorang peragu, skeptis, di SMA, usia 16–17 tahun. Lalu di usia 18 saya menjadi agnostik. Di usia 20 saya menjadi seorang atheis.

Perjalanan pencarian saya atas Tuhan juga membawa saya pada beberapa orang atheis yang sama sekali tidak menganjurkan saya menjadi atheis. Semua atheis yang saya jumpai mengatakan, kurang lebih, “Ikuti akal budimu, sergaplah ilmu pegetahuan, pelajari sejarah peradaban manusia.”

Atheis yang baik, menurut mereka, bukanlah seorang pendakwah yang mencari sebanyak-banyaknya pengikut, tetapi orang-orang yang mendasari moralitasnya pada akal budi manusia serta mengakui segala keterbatasannya. Atheisme bukanlah sebuah keyakinan yang menurun dalam keluarga, boleh jadi bukanlah sesuatu yang mudah diajarkan. Atheisme, adalah sebuah hasil pencarian seseorang yang bersifat personal. Seorang atheis yang baik adalah mereka yang cukup berani mempertanyakan segala sesuatu dan giat bekerja serta belajar untuk mencari jawabnya. Seorang atheis yang baik tidak bisa yakin sebelum meragukan sesuatu terlebih dahulu. Seorang atheis tidak boleh gemar mencontek karena malas mencari jawaban. Seorang atheis yang baik tidak boleh menjadi atheis karena dipengaruhi orang lain. Dengan kata lain atheisme hanya bisa ditemukan dan dialami sendiri. Seorang atheis yang baik tidak akan mendorong apalagi membujuk orang lain untuk jadi atheis, tetapi membiarkannya tumbuh dalam pencarian.

Pencarian saya berakhir pada atheisme. Saya sangat yakin bahwa Tuhan tidak ada, dan hanya ada kemungkinan kecil sekali Tuhan (beserta neraka dan surganya) ada. Tuhan mungkin saja ada, karena sangatlah tidak ilmiah mengatakan Tuhan pasti tidak ada, toh ilmuwan tidak bisa membuktikan ketiadaan Tuhan, walaupun tidak ada pula orang yang pernah membuktikan kehadiran Tuhan. Russell memberi analogi yang baik mengenai poci teh (teapot) yang mengorbit antara bumi dan Mars.

Saya sampai pada pencarian saya, bagaimana sejarah peradaban manusia memelihara kerinduan manusia akan adanya kepastian, kebutuhan sosok imajiner yang Maha Adil, Maha Kasih, Maha Kuasa, dan bagaimana manusia berangsur-angsur menciptakan sosok Tuhannya, membunuhnya atau meninggalkannya, lalu menciptakan sosok Tuhan baru.

Sampai akal budi dan pengetahuan manusia cukup berani mengakui keterbatasannya, dan mengatakan, “Cuma itu yang kita punya, berterimakasihlah pada kita sendiri.” Memiliki Tuhan Yang Maha Kuasa tapi juga pada saat yang sama bersusah payah menyembunyikan diriNya sendiri tidak membantu manusia dalam cara apapun, kapanpun, dan di manapun, kecuali untuk menenangkan hati sendiri akan adanya kepastian mutlak dan harapan akan hadirnya keadilan sejati di alam lain.

Saya tidak memusuhi agama dan orang-orang beragama atau berTuhan. Tidak seperti orang-orang beragama yang memusuhi orang-orang tak bertuhan. Saya tidak ingin menyadarkan orang-orang beragama untuk meninggalkan Tuhannya. Saya hanya ingin orang-orang atheis (di Indonesia khususnya) yang masih dalam ketakutan atau tekanan sosial yang berat untuk bebas dari ketakutan dan tekanan.

Saya sadar bahwa orang bermacam ragam. Ada yang masih perlu Tuhan, dan ada yang tidak perlu Tuhan. Saya adalah tipe orang kedua. Kalau saya berbuat baik, bukan hidup abadi di surga yang saya harapkan, tapi karena saya tahu bahwa perbuatan itu harus saya lakukan. Kalau saya tidak berbuat jahat, bukan siksa neraka yang saya takutkan, cukup karena saya tahu perbuatan tersebut tidak pantas dilakukan.

Menjadi seorang atheis, di Indonesia, adalah perjalanan yang melelahkan, berat, dan berliku. Dilihat dari pengalaman saya, jauh lebih sukar daripada menjadi seorang yang beragama. Bahkan saya belum bisa menghapuskan kata “Islam” dari KTP saya, pun ketika saya menikah, sesuai UU saya masih harus mengikuti aturan yang berlaku. Bagi sesama atheis di Indonesia, saya hanya bisa mengatakan, “Jangan takut, kamu tidak sendirian.”

783 komentar di “Mengapa saya memutuskan menjadi ateis? Cerita Dewi Rainny ( sumber kompasiana)

  1. Membaca artikel ini bikin saya beryukur,krn saya masih memiliki tuhan,saya yakin kalo saya tidak memiliki tuhan saya pasti nakal, melakukan kejahatan,dan tidak takut berbuat jahat, dengan keyakinan adanya tuhan membuat jiwa saya teduh,sabar menghadapi cobaan dan menjadi pribadi lebih baik, walaupun saya bukan penganut yg taat, tapi saya sangat yakin keberadaan tuhan, saya tidak selalu melihat surga dan neraka sebagai sebab dan akibat berbuat baik, tapi saya melihat dari sisi lingkungan dan orang sekitar saya apakah bermanfaat atau tidak.awalnya saya selalu menyalahkan tuhan atas cobaan semakin lama saya semakin bersyukur atas cobaan itu,efek positif dari cobaan itu.hidup saya lebih bahagia semenjak saya banyak bersyukur dan menolong sesama,tanpa mengharap surga.saya merasa ada dialog diri saya dan tuhan,bahwa dia memberikan ketentraman bagi saya.tidak dapat dipungkiri bahwa agama dijadikan mesin politik buat mengadu domba,atau kambing hitam, bukan agama yg salah,tapi orang2 didalamnya yg memiliki sifat buruk jika dia berniat buruk, pada dasarnya semua agama mengajarkan kebaikan, tergantung dari mana kita melihatnya.saya lebih menyukai pribadi yg memiliki keyakinan daripada tidak memiliki keyakinan krn banyak nilai nilai luhur dan budi pekerti yg diajarkan tuhan melalui agama

  2. assalamualaikum ,disini dengan saya juga ikut berkomentar,Mungkin saya tidak sepintar dan sebudiman mbak dan saya juga bukan seorang yang banyak hapal hadist dan Al-Quran seperti saudara-saudara saya,kurang lebih saya menangkapnya seperti ini:
    1.buat apa kita beragama ? toh ada orang yang tidak beragama malah lebih baik dari sebagian yang beragama,yang beragama malah ada kelakuannya banyak yang lebih biadab daripada hewan,kemudian setiap agama mengklaim agama tersebutlah yang benar yang lain kafir
    Jawaban:
    1.Maaf , kalau anda mengklaim menjadi atheis karena lebih rasional,ilmiah dan lebih bisa menjadi manusia yang lebih baik ,saya meminta pendapat(teori) anda perlu dikaji ulang,
    Islam itu kompleks menyangkut segala macem bentuk aspek kehidupan mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi,mulai dari makan,berpakaian ,bertetangga,mandi mulai dari,Sosia,Ekonomi,Pendidikan dll, Dasar-dasarnya diambil dari Al-quran,Sunnah,Hadist dan ijtihad para Ulama.
    sekarang masalahnya ketika sudah diberikan peraturan ini-itu beberapa oknum manusia tetap melakukan dosa,kemaksiatan,kejahatan? berarti lebih baik yang atheist dong?
    perlu kita ketahui manusia itu mempunyai hawa nafsu dan akal,Jadi kecendrungan untuk berbuat dosa tetap ada baik dari internal maupun eksternal,dari internal contoh : Seorang suami yang ditinggal istrinya bekerja di luar negri pasti punya punya dorongan untuk berhubungan seksual, tergantung cara dia menghandle hawa nafsu tersebut ,dia mau berbuat serong atau setia menunggu istrinya pulang.
    kemudian faktor eksternal masih kasus yang sama seorang suami ditinggal istrinya bekerja di luar negeri,kemudia seoran temannya mengajak ke tempat prostitusi,Jadi karena faktor menuruti hawa nafsu yang buruk inilah banyak orang melakukan kemaksiatan.

    Sekarang kita analogikan Islam adalah sekolah 1 dan Atheist sekolah 2,Sekolah 1 mengajarkan ini itu,melarang ini itu,menyuruh bersikap ini itu,Tapi ada saja murid yang nakal,melanggar segala bentuk peraturan, mana yang bermasalah sekolah atau murid tersebut?

    sekolah 2 bebas tidak ada peraturan yang penting rajin belajar dan berbuat baik terhadap sesama teman,masalah pakaian,sex bebas (suka-sama suka),tidak dihiraukan.
    Kalau anda yang menjadi orang tua akan memilih sekolah yang mana? 1 atau 2 Sekolah 1 dengan peraturan ketatnya .atau sekolah 2 bebas yang penting belajar,pintar dan Tidak nakal?

    Kemudian anda mengklaim bahkan seorang atheist bahkan bisa lebih alim dari seorang yang beragama, Dalam Islam berbuat baik banyak jenisnya berbuat baik kepada sesama manusia,sesama makhluk,tumbuhan dan berbuat bak pada diri sendiri.Jika ada seorang atheist merasa bisa lebih alim karena dia mambantu orang dan yang beragama tidak membantu orang ,dalam ajaran islam itu disebut ujub yakni merasa bangga dengan kebaikannya,itu yang anda sebut lebih baik? jika anda merasa karena menyumbang 100 juta dan orang beragama 10 juta membuat anda lebih baik dan berguna bagi orang banyak? bisa saja anda menyumbang 100 juta tapi nilainya tidak lebih dari 10 juta,mungkin anda riya’,mungkin 100jt 25% dari gaji anda sebulan dan yang 10 juta 50% dari gaji orang tersebut.

    Sekali lagi Islam itu kompleks meliputi semua aspek dan terbukti bermanfaat secara medis ,psikologis dan sosial bukan sekedar ritual aja.

    Hanya Islam yang diterima dan akhirat itu bukan tanpa alasan dan omong kosong kami bisa membuktikan kalau tuhan-tuhan yang lain tidak benar baik secara logika dan ilmiah,adanya tuhan itu bukan omong kosong dan khayalan anak kecil,Jadi please jangan beropini tanpa ilmu,kalau anda punya dasar ilmiah yang membuktikan tuhan tidak eksis share ke internet,sosmed dll jangan sekedar opini menyesatkan,kasian generasi muda yang masih awam tentang agama diracuni dengan hal-hal seperti ini, buktikan Jika anda merasa Atheist itu lebih rasional,ilmiah lebih baik dari islam. jangan teori saja

  3. Saya islam, dan saya taat beragama
    Menurut yang saya pelajari, tuhan itu ada dan tuhan itu adalah kita.
    Karena alasan saya adalah kita adalah bagian dari tuhan.
    Tuhan punya 4 makhluk:
    -jin: diciptakan tuhan
    -hewan: diciptakan tuhan
    -Malaikat: diciptakan tuhan
    -Kita(manusia): ditiupkan oleh tuhan
    Kata ditiupkan itu lah yang saya sebut kalau kita adalah tuhan.

    Beragama? Semua agama saya rasa semuanya sama, sama-sama menunjukkan kita ke jalan yang lurus dan benar.
    Saya pernah baca kitab weda, injil katolik, dan panuturan kahuripan (kitab agama pedalaman kalimantan), dan buku pedoman saya al-qur’an. Semua kitab yang saya baca semuanya sama, sama sama mengajarkan kita untuk kejalan yang lurus, bahkan ada satu ayat yang menyampaikan bahwa ‘penting untuk mengenal allah (islam) atau tuhan (non islam)’.

  4. Saya percaya adanya Tuhan tapi saya tidak percaya agama. Saya masih dalam perjalanan mencari agama. Saya dilahirkan dalam keluarga Islam dan orang tua saya selalu memaksa saya untuk beribadah walau saya tak ingin melakukannya.
    Saya memiliki teman dari berbagai agama dan mereka menganggap agama mereka yang paling benar. Mereka mengatakan agama mereka adalah agama yang paling baik dan membujuk saya untuk masuk ke agama mereka daripada saya tak beragama. Dari situlah timbul keraguan saya untuk beragama tapi saya percaya keberadaan Tuhan.

  5. banyak orang yang menganaggap atheis itu gaya hidup, seperti halnya di eropa, menurut mereka hidup di jaman sains dan teknologi, menjadi seorang yang mengamini agama itu terdengar kuno.
    hanya saja menjadi atheis yang taat itu tidak mudah karna harus memiliki dasar yang kuat.

    dalam kasus diatas yang dapat saya tangkap adalah ke tidak mampuan penulis dalam menemukan Tuhan. jadi penulis hanya saja tidak melompati jembatan pembatas dalam menemukan tuhan, dan tidak menwmukan guru yang tepat.

  6. agama itu hanya satu yang membuat berbeda adalah manusia itu sendiri.
    bukan agama / tuhan yang membuat berbeda tapi manusia .pikirlah jikaa tuhan ada 1000 maka akan ada peperangan besar antara tuhan mu dan tuhanku toh kenyataan nya gak ada tuhan yang perang
    berarti tuhan itu hanya satu
    manusiaa lah yang membuat berbeda
    dasar kimak ui

  7. Sampai sekarang saya belum mendapatkan jawaban bila tuhan tidak ada siapakah yang menciptakan dan menjalankan semua ini? Matahari dan bulan saling bergantian, air mengalir dari gunung ke laut, semua itu terlalu rumit jika hanya kebetulan itu semua pasti sudah ada yang mengaturnya

  8. Mba dewi maaf saya mau nanya mba dewi nikah dgn laki – laki penganut atheis jg ya ?
    Cara atheis menikah gimana ya prosesi nya ?
    Maaf sy hanya ingin tau saja krn klu berdebat soal agama sy juga bkn org yg terlalu paham tentang agama tp sy masih percaya tentang adanya Tuhan yg menciptakan langit dan bumi dan segala isinya ..

  9. Anda cuman bertanya ke pengemuka agama..
    kalau Anda ingin mencari tahu apakah Tuhan itu ada pelajari dalam2 setiap kitab pasti Anda akan menyadarinya ..saya jga se org pecinta sains
    pemikiran saya sma persis seperti Anda smua sudah saya pelajari..dari trbntuk nya bumi dan bgaimana manusia lahir ke dunia..
    jadi ..kali lah ilmu se dalam2 nya tapi jangan pernah mengali dzat nya..Anda tidak akan pernah menemukan nya..ibarat orang bertanya bagai mana Allah itu terbentuk.. saya seorang muslim jadi saya mencontohkan Allah..
    coba Anda pikir Anda tidak akan pernah menemukan nya karena Tuhan itu di hati bukan di orang lain..ibarat Anda di cubit mengapa Anda merasa sakit..??jadi Anda bsa merasakan
    bgtu juga Tuhan..Anda mengatakan ..sudah pernah mempelajari falsafah,falsafah apa yang Anda baca..apakah Anda pernah membaca falsafah Ibnu Sina..klau anda sdah mmpljari falsafah dari Ibnu Sina pasti Anda mengetahui nya ..saya bukan mengajak Anda untuk kembali ke jalan Allah cuman ingin menyampaikan yang saya pelajari dan saya percaya..ingat sains tidak selalu benar coba Anda cari tahu kenapa orang mati tidak bisa hidup lagi dengan ilmiah ,kalau anda cuman mempelajari sains untuk hidup di dunia..setelah mati untuk apa yang Anda pelajari ..klau tidak ada berarti Anda hidup dengan kesia2 an sama seperti samanya binatang iya kan..klau Anda se orang pemikir pasti anda bertanya kemana saya setelah mati ini..banyak hal yang ingin saya sampaikan ..tpi ckup smpai di sni dlu..saya mnta maaf klau ada perkataan saya yang kurang enak di dengar. terimakasih telah membaca tulisan saya salam damai 🙂

  10. Kalau tidak ada tuhan siapa yg menciptakan alam semesta ini, siapa yg mengatur tata surya,? Siapa yg mematikan makhluk yg hidup.?

  11. ada yang tidak tercipta, yang tidak dilahirkan, yang tidak menjelma dan mutlak adanya…adalah kata-2 dari seorang yang telah mengalami pencerahan sempurna..yaitu Sang Buddha Gautama, beliau berkata pada murid-2nya bahwa Tuhan bukanlah sosok yang maha pencipta dan yang berkuasa atas segalanya dijagad raya ini. Jagad raya dan hukum alam ini ada dengan sendirinya.dan membicarakan sosok pencipta tdklah terlalu penting, yang paling penting adalah bagaimana kita menjalani kehidupan ini dengan baik agar kita semua mahkluk hidup tidak lagi mengalami samsara di kehidupan ini dan mencapai Nibbana (bukan sorga menurut agama-2 lainnya)..BRAVO SANG BUDDHA…yang telah mengetahui dan memahami secara gamblang dan bukan berdasar dogma atau kepercayaan semata..

  12. Terimakasih telah menulis artikel ini.

    Saya usia 23th, pertanyaan yang anda rasakan udah saya rasakan semejak smp, dan sampai sekarang belum ada jawabannya, di tambah dari ketakutan saya terhadap keluarga yang kental dengan keyakinan agamanya. saya boleh mendengarkan secara detail lagi tentang pengalaman anda ? Kalau berkenan mohon emailnya saya secara pribadi di taufikm110@gmail.com.

    Terimakasih

  13. Kalo mempertdebatkan tuhan dan agama saya yakin tidaka akan ada habisnya..intinya tuhan ada dalam keyakinan kita sediri. Ketidak adaan tuhan menurut atheis bisa saja menjadi tuhan itu sndiri. Tuhan itu ada tapi wujudnya kita tidak tau..bahkan waktupun bisa kita sebut tuhan..pembuktiannyalah yg kita cari. Intinga dalam hidup kalo menurut saya jangan jadi fanatik sama apa yg belum pernah kalian liht. Belajar memengerti dan menghormati hidup dan perbedaan pendapat orang lain. Terapkan teori humanisme dalam diri kalian. Jadilah orng yang baik tanpa pernah melihat kalo sorga dan neraka itu ada. Dan berdamailah kalian dengan diri kalian sendiri. saya yakin stiap ajaran agama pasti mngjarkan kita untuk mnjadi baik. Tapi karena manusia, politik dll itulah yg menghilangkan nilai kemurnian agama itu sendiri. Apapun diri kalian jadilah manusia yang bisa memanusiakan manusia lainnya.

  14. Seorang atheis ga bisa di pengaruhi, di intervensi dan di intimidasi karena atheis bukan ikut ikutan kemana arah angin condong maka ngikut. Atheis adalah hasil kajian panjang dengan fakta fakta nyata yg dialami langsung oleh seseorang sebelum dia memutuskan menjadi seorang atheis. Buat mereka yg beragama A atau agama B atau agama C jelas mereka harus tetap percaya dengan agama yg mereka anut dan memerangin semua yg berada di luar agama yg mereka percaya. Saya juga islam sekarang atheis sejati

  15. Seorang atheis ga bisa di pengaruhi, di intervensi dan di intimidasi karena atheis bukan ikut ikutan kemana arah angin condong maka ngikut. Atheis adalah hasil kajian panjang dengan fakta fakta nyata yg dialami langsung oleh seseorang sebelum dia memutuskan menjadi seorang atheis. Buat mereka yg beragama A atau agama B atau agama C jelas mereka harus tetap percaya dengan agama yg mereka anut dan memerangin semua yg berada di luar agama yg mereka percaya. Saya juga islam sekarang atheis sejati

  16. Atheis,yeah satan do their job as well…..then how sains explain about supernatural???…karena saya muak dengan teori anologikan agama inilah….semua harus inilah…lets talk more scientist…Gak percaya hal ghaib?yah pertama itu bisa sebuah sugesti,namun sayangnya sebagian lagi benar bahwa “hal” ini memang ada,,why?karena memang Tuhan menciptakannya.
    Dan mengutip sedikit perkataan stephen hawking si pencetus black hole itu….memang terbuatnya bumi dapat dijelaskan secara metematis…walau agama sudah ada yg mengxplain tuh theory….namun yg menariknya si hawk pernah ngomong : Semua kedetailan ini,susunan tata surya ini,,dan keseimbangan ini,,seolah olah ada yang telah merencanakannya..kata doi kepada istrinya yg khatolik berat tuh bos…and bytheway klo kamu islam dan udah tau tentang video the arrival dan sebagainya yg berbau konspirasi…loe pasti ngerti napa agama banyak dijadiin duit dan tumpah darah…taulah yg benar slalu ditindas sampai tiada kata benar dalam agama,,tau dong agama apa yg paling ditindas dan dikriminasi di bumi ini??whhy?”mereka”takut kita bangun dan menyadari betapa kuatnya kita….walaupun gue ngutip lagi nih dari temen gw “saya percaya agama saya,walaupun saya masuk neraka,saya tinggal bicara saja kepada Tuhan..salah Anda menciptakan agama lebih dari satu”wkwkwkw itulah manusia….makanya diagama ane orang yang paling beruntung tuh bukan yang taat ibadah…tapi orang yang berfikir dan berilmu,,trus salahnya kenapa tujuan agama banyaknya karena pengen masuk surga?kita diciptakan buat nyembah surga atau Tuhan??makanya kita hidup untuk mencari ridha nya boss…caranya ibadah pake ilmu biar gak sesat…dan lagi pula bila tak ada Tuhan……………
    “LIFE MUST BE A MISTAKE” or the worst is “LIFE IS A KIND OF JOKES”
    Atheis tak salah..dia hanya mencari mana yg benar…dia hanya perlu satu langkah..merasakan apa yg ada dihatinya dan dapat masuk dalam benak pikirannya secara logika si orangnya…..namu sekali lagi sob…klo agama harus ada logika,,,,tuh bukan agama tapi teori….wkwkwkw Peace.

  17. Francis bacon berkata”sedikit pengetahuan membuat manusia menjadi atheis, tapi pengetahuan yg mendalam membuat manusia menjadi beriman akan adanya Tuhan.”.
    Ini berarti bahwa orang atheis adalah orang bodoh karena pengetahuannya hanya sedikit dan orang beriman adalah orang cerdas.
    Kemudian timbul pertanyaan “dari semua agama yg ada, Tuhan manakah yg benar2 Tuhan sesungguhnya?, dan jawabannya ada dlm Alqur’an surat Al ikhlas ayat 1-4, dan orang muslim menyebutnya ALLAH swt.

  18. Mana yang benar mana yang salah…?
    Rawatlah dirimu tapi jangan merasa paling terawat,carilah kebenaran menurutmu tapi jangan merasa paling benar. Semua orang menjalani jalur hidupnya masing – masing, janganlah memaksa yang lain ikut jalur kita.
    Jalani hidup kita masing – masing SALAH dan BENAR tetap berdampingan.
    Manusia makhluk TERBATAS…..

  19. Kenapa mencari tuhan… kita bukan harus mencari tuhan???? Kita hanya harus mengerti kodrat kita itu apa…. kita dari mana, sedang dmna dan mau krmana. Apa itu hamba apa itu manusia dan apa itu tuhan.. smua hanya kalimat… apa kita bisa menunjukan rasa sakit kepermukaan biar semua orang tau sebesar apa rasa sakit anda. Apa anda bisa?? Silahkan definisi rasa sakit anda..

  20. Bahkan Anda sendiri tidak pernah tahu dari manakah asal sumber utama kebaikan dan kejahatan yg sesungguhnya.

    Anda harus lebih banyak belajar lagi tentang kehidupan ini.
    Belajarlah dari kaum intelektual, kaum pemikir dan perenung.
    Pernahkah Anda merenung tentang kebenaran?.

    Cobalah utk membaca buku-buku karya Harun Yahya atau menyaksikan videonya.
    Belajarlah dari Dr. Zakir Naik dan ulama-ulama besar lainnya.

    Namun, jika Anda masih tetap menjadi ateis, menurut Saya, Anda adalah seorang manusia yg bukan datang dari Dunia.

  21. Allah tidak pernah membutuhkan manusia.. manusialah yang mebutuhkan Allah.. saudara menjadi atheis sama sekali tidak ada ruginya bagi Allah… tanpa Allah siap2lah hidup stress.. gelisah.. resah.. sll sakit hati.. selalu berkekurangan.. tidak pernah puas.. kecewa… ketakutan….

  22. Bisa dikatakan 60-70% pemikiran Mbk Dewi seperti yg saya renungkan, dimana setiap agama mengajarkan kebaikan, dan ada ajaran yg saling melengkapi dr 1 agama utk agama lain, hanya saja bedanya saya masih parcaya Tuhan itu ada, memang sedikit disayangkan 1 agama musti menjatuhkan agama yg lain ditiap ajarannya, padahal seharusnya baik buruk seseorang bukan dinilai dr agama. Walaupun begitu banyak pilihan saya masih yakin dg agama yg saya anut karena menurut saya agama ini yg paling mendekati kebenaran, terlepas dr baik buruknya ajarannya. Dan yg membuat saya dan Mbk Dewi sangat berbeda kenapa meragukan Tuhan atau agama adalah alasan Mbk Dewi tidak begitu kuat dan cukup sepele untuk seorang yg baru beranjak remaja, sedangkan saya sendiri terlahir sebagai salah 1 kaum terlaknat(dianggap begitu) oleh semua agama atau bahkan yg atheis sekalipun tanpa diberi sebab yg jelas(masalalu kelam).

  23. orang ateis dan beragama sesungguhnya punya 1 kesamaan:
    orang ateis: percaya bahwa alam semesta itu tercipta sendiri dan seimbang dengam sendirinya.
    oang beragama: Tuhan yang tunggal tercipta dengan sendirinya dan mencipta alam semesta dan menjaga keseimbangan nya.

    kita orang beragama dan ateis mempercayai hal yang tak masuk akal, alam semesta tercipta sendiri dan seimbang dengan sendirinya(ateis), tuhan tercipta dengan sendirinya dan menjaga keseimbangan ciptaannya(orang beragama)

  24. Berfikir itu bukan sekedar menganalisis, tapi berfikir itu harus ikhlas dengan semua perbedaan.

    Saat itu saya juga bingung kenapa
    Hanya manusia yang memiliki akal, padahal harusnya semua spesies mahluk berpotensi berevolusi seperti manusia yang “katanya” manusia hasil evolusi dari kera.

    Tapi karena adanya al-qur’an saya menjadi tidak bingung lagi karena al qur’an bilang manusia adalah khalifah (pemimpin) di planet ini, yang secara logika seorang pemimpin harus memiliki kualitas yang lebih baik dari mahluk2 lain.

    Bahkan fakta fakta tentang sains telah diterangkan al-qur’an 14 abad yang lalu, mungkinkah orang2 dulu bisa berfikir seperti itu, dari mulai penciptaan kehidupan di bumi yang berasal dari air dan kejadianya adalah hujan, sampai penciptaan langit yang asalnya adalah materi yang sama dan meledak (bigbang) bahkan sampai penyempurnaanya (mengembang) dan masihbanyak lagi.

    Sepertinya para ateism itu menjadi ateism berasal dari kebingungan, kegelisahan dan kecemasan, al-quran bilang orang – orang yang tersesat selalu diliputi oleh perasaan spt itu karena hasutan iblis yang terkutuk.

    Silahkan pelajari al-qur’an dengan arti, maksud dan hikmahnya, jika anda ikhlas mencari kebenaran sesudah merasa benar ataupun yg merasa bingung tidak ada salahnya pelajari al-qur’an minimal 1 ayat, dan buktikan apakah ada keganjilan/keraguan/bahkan kesalahan ?
    Jika anda ikhlas insya allah, allah akan berikan petunjuk

  25. Mengagumkan bila mendengar cerita anda, saya turut angkat topi dengan cara anda mempublikasikan keyakinan. Tanpa bermaksud mengkritisi, menghakimi, atau menggurui. Untuk saya pribadi, ketidakpercayaan dengan adanya Tuhan adalah pendapat yg bersifat sementara. Mungkin sebuah “userguide” bisa membantu menemukan yg anda cari, tanpa terikat oleh sebuah penerjemah yg mungkin bisa saja salah dalam memberikan pemahaman. Semoga membantu, Terima kasih…

  26. Kalau tuhan itu tidak ada,, berarti anda sudah gila,,, Yang menciptakan Alam semesta ini siapa kalau bukan tuhan? Yang mengembangkan benih didalam rahim itu siapa kalau bukan tuhan ? ATHEIS ITU hampir sama dengan jalan pemikiran toleransi agama islam. Cuma atheis itu hanya gak percaya aja tuhan itu ada karena gak di pelajari.. makanya gak yakin…

  27. Mumpung masih muda, sehat, kuat, berkecukupan, puaskan duniamu, nanti kau akan tau sendiri, “Allah itu ada”. Dan saat itu, kau akan sadar, saat nafas tak lagi kuat, jantung tak lagi berdegup kencang, tubuh gak sekuat sekarang, carilah teman ateismu, mengobatimu secara ilmiah sperti pengetahuanmu yang tinggi, jika tak lagi bertahan, berfikirlah kalo itu hanya sistem tubuh yang sudah tidak berjalan lagi dengan catatan kalo masih bisa berfikir saat itu. Jgn lupa tambahkan keyakinanmu tidak ada tuhan “selain Allah”.

  28. Assalamu alaikum wr.wb
    semoga anda bisa mendapat hikmah dan petunjuk sebelum anda meninggal “amin”

    Bagi orang-orang yang mempelajari Al-Quran dengan niat ingin menemukan kebenaran dan hidup di atasnya, maka akan nampak bahwa Al-Quran merupakan pesan dari Pencipta alam semesta, dan harus diakui, bahwa Al-Quran adalah book of sign, bukan book of science. Fakta-fakta ilmiah yang ada di dalam Al-Quran hanya lah pertanda bahwa ia datang dari Pencipta alam semesta untuk mengingatkan manusia akan hak Penciptanya, dan hak-hak lain yang harus ia penuhi, termasuk hak dirinya sendiri.
    Atheis yang menjadikan akal sebagai sumber kebenaran akan selalu bermasalah dengan keberadaan Allah. Dalam pandangan atheis, islam hanya lah keyakinan yang berporos pada figur Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang diyakini sebagai utusan Tuhan. Mungkin ini satu-satunya argumen mereka yang paling esensial. Namun jika para atheis berkaca, sesugguhnya keyakinan mereka tentang fenomena alam bersumber dari hipotesis yang bisa benar-bisa salah, hal ini terlihat dari hipotesis yang mengalami revisi yang jelas-jelas membuktikan kekeliruan teori sebelumnya.
    Mari kita lihat fakta yang sering digunakan para atheis untuk membuktikan ini sebagai fakta kebenaran.
    • Demokritos menyebut elemen alam yang tidak dapat dibagi-bagi lagi sebagai atom
    • 1897, J.J. Thomson meruntuhkan konsep tersebut dengan ditemukannya subatom dengan penelitian sinar katode hasil teori model puding prem
    • 1909, Ernest Rutherford berpendapat bahwa inti atom berada ditengah atom sedangkan elektron berada di sekeliling proton seperti planet berada di sekeliling matahari
    • 1926, Diperkenalkan orbital atom yang menyatakan bahwa elektron hanya merupakan fenomena gelombang dalam atom, bukan partikel
    • 1932, James Chadwick menemukan komponen yang disebut neutron
    Jika kita amati, teori manusia tentang atom selalu berubah. Seandainya ada seorang anak terlahir pada tahn 1887 dan ia sangat tertarik dengan keyakinan tentang atom, pada umur 10 tahun ia berpendapat atom seperti puding prem, saat berumur 22 tahun ia harus merubah keyakinannya dengan teori rutherford, saat berumur 39 tahun ia harus merevisi lagi keyakinannya dengan teori orbital atom dan saat berumur 45 tahun ia harus mengikuti keyakinan James Chadwick. Jika memang ternyata James Chadwick benar, maka beruntung lah ia karena meyakini kebenaran. Namun apa yang terjadi dengan ayah dan kakeknya? Tentu saja keyakinan ayah dan kakeknya bukan lah keyakinan James Chadwick yang dianggap benar. Bagaimana jika ternyata setelah habisnya kehidupan anak yang terlahir 1887 tadi, ada teori baru tentang atom yang menggugurkan teori sebelumnya. Pada dasarnya, apa yang diyakini kaum atheis, tidak lebih kuat daripada apa yang diyakini kaum muslimin.

    Terlalu banyak hal-hal yang tidak sanggup dijangkau akal, namun keberadaanya adalah suatu yang pasti, seperti adanya emosi dalam diri mereka yang menyebabkan mereka bisa merasakan kegembiraan, kesedihan, cinta maupun benci. Bahkan saat fenomena kesedihan dialami manusia, kelenjar air mata melakukan lakrimasi padahal secara alami ia berfungsi untuk membersihkan mata, apa yang memicu mata melakukan lakrimasi berlebihan saat muncul kesedihan? Tidak sadarkah kaum atheis itu bahwa teori yang mereka bawakan tentang hal itu tidak lebih terpercaya daripada kisah Sunan Kalijaga. Mengapa mereka menolak keberadaan Tuhan hanya karena tidak dapat dicapai indra manusia, padahal mereka tidak dapat memahami sesuatu yang lebih dekat dari kuku kaki mereka sendiri. Atau mereka menolak keberadaan Tuhan hanya karena tidak ingin berada di bawah aturan yang datang bersama keyakinan akan Tuhan.
    Aturan merupakan bentuk tindak lanjut paling rasional bagi orang-orang yang telah melihat kebenaran. Tanpa aturan, kebenaran hanya lah merupakan pengetahuan yang tidak memberikan manfaat. Sebagian atheis beranggapan aturan agama hanya mengekang dan peniadaanya akan memberikan kebebesan hakiki. Mungkin mereka perlu diingatkan, bahwa fisika, kimia maupun bagian-bagian science yang lain mengajarkan bahwa semua berjalan dengan keteraturan yang dapat diamati manusia. Saat pertama mengenal fisika, kita diajari aturan-aturan yang digunakan untuk mengukur sifat maupun perilaku benda di alam. Kita juga belajar aturan-aturan yang berlaku pada pergerakan benda padat, cair maupun gas. Kita juga belajar bagaimana aturan yang berlaku pada energi yang bekerja pada benda-benda teresebut. Inti semua itu adalah kita mempelajari aturan-aturan yang berlaku di alam agar dapat menyelaraskan diri dengan aturan-aturan tersebut sehingga kita mendapat manfaat darinya.

    Bagaimana dengan kehidupan manusia? Manusia lebih butuh aturan, untuk keselamatannya sendiri dan orang-orang yang ia cintai. Bahkan pasukan yang tidak mengenal takut sekalipun butuh aturan antar sesama mereka. Tanpa aturan, mereka akan saling menghancurkan dan tidak ada yang tersisa dari mereka. Tanpa aturan, tidak ada strategi yang dapat dijalankan dan bisa dipastikan mereka dapat dimusnahkan. Bahkan kalaupun seseorang hidup sendiri, ia tetap butuh aturan -setidaknya aturan makan- untuk bertahan hidup.

    Aturan dalam kehidupan manusia memberikan keadilan di tengah-tengah mereka. Misalnya, seorang atheis karena rasa solidaritasnya yang tinggi dan kepercayaan perbankan kepadanya, meminjam uang dari bank untuk dipinjamkan kembali kepada teman sesama atheis yang sedang membutuhkan. Karena merasa tidak sanggup mengembalikan uang pinjaman, temannya tersebut memutuskan untuk bunuh diri. Dalam keadaan ini, tentu saja sang atheis berada pada posisi terjepit, ia harus membayar hutang padahal temannya yang ia percayai sudah menjadi mayat. Dimana sang atheis akan meminta keadilan?. (emang ada penjara yang mau memenjarakan mayat, atau mayatnya bisa disuruh kerja bakti sampai hutangnya lunas). Dalam hal ini agama menjanjikan satu tempat yang keadilan akan ditegakkan dan tidak satupun yang dapat melawannya.

    Sama seperti hipotesis science yang dinyatakan oleh seorang scientist, agama dapat berupa aturan yang dicetuskan seorang manusia yang mengaku mendapat aturan tersebut dari Tuhan, Tinggal kita yang harus memverifikasi, mana aturan yang benar-benar dari Tuhan, sebuah aturan yang disampaikan melalui orang-orang yang jujur dan cerdas, yang dapat diverifikasi kejujurannya dengan cara-cara yang cerdas. Seandainya atheis mempelajari bagaimana Al-Quran tersebar ditengah-tengah manusia, bagaimana metode verifikasi Hadits bekerja, tentu mereka akan mengetahui bahwa Islam adalah satu-satunya aturan yang memenuhi persyaratan untuk dijadikan aturan hidup jika memang mereka menginginkan kebenar

  29. Aku akan kutip ucapan orang bijak:anggap saja anda orang beragama,lalu anda beribadah,sedekah,beramal baik dll,ternyata eh ternyata akhirat tidak ada,maka setidaknya anda akan dikenang sebagai orang baik.
    Sebaliknya,anda adalah seorang ateis,lalu mati,ternyata akhirat benar benar ada,inilah resiko yang harus anda hadapi,yaitu menjalani siksa neraka yang sadis,kejam dan tidak berkesudahan.gimana,Apakah anda siap mengambil resiko yang paling rawan..?? Kalau aku pribadi si naudzubillah min dzalik…!!

  30. Saya hanya ingin memberi informasi saja, kalau anda ingin belajar tentang agama islahm hindu budha kristen atau yang lain, tolong dibaca kitab suci nya. Islam alquran, kristen bibel, hindu wedha dan yang lain. Jangan bertanya pada ahli agama, tapi kepada ahli kitab. Saran saya anda menonton video youtube “dr.zakir naik.” Beliau ahli perbandingan agama. Semoga mendapat jawaban.

  31. Akal manapun tidak bisa mengatakan bahwa Tuhan itu ada, jika ada yang mengatakan ada maka akal akan menanyakan mana? karena indra yang dimiliki manusia tidak merasakannya maka akal mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada.

    Tapi yang tidak terasa oleh indra belum tentu tidak ada dan akal pun mempercayainya. Sebagai contoh adalah objek yang bernama “rata-rata tinggi badan semua manusia di bumi pada waktu sekarang”. Akal manapun tidak bisa menjawab berapa nilai objek ini kalau ada. Tapi akal tetap mengatakan bahwa objek itu ada karena akal bisa menghitungnya dengan prosedur: jumlahkan semua tinggi badan masing-masing manusia pada saat sekarang lalu bagi dengan banyaknya manusia yang ada sekarang”.

    Baik, memang objek Tuhan berbeda dengan objek yang saya singgung di atas. Tapi pernyataan ini haram dikatakan oleh orang atheis. Jika anda (atheis) mengatakannya, maka anda tidak konsisten dengan ke atheisan anda, bagaimana mungkin anda mengatakan dua objek berbeda kalau salah satu atau keduanya tidak ada? Pernyataan itu hanya boleh dikatakan oleh non-atheis dan saya akan melanjutkan cerita pada paragraf berikut.

    Selain memiliki akal, manusi juga memiliki hati. Hati sifatnya mampu membenarkan atau menyalahkan sesuatu pernyataan yang akal tidak mampu menjangkaunya. Contoh pada saat kita mempelajari teori atau sistem tertentu, di sana terdapat aksioma atau asumsi atau aturan main yang harus dibenarkan. Siapa yang membenarkan, yaitu hati. setelah dibenarkan maka akal melakukan respond dengan berfikir berdasar aksioma tadi. Jika hati menolaknya, maka saya sarankan agar anda keluar dari teori atau sistem itu karena akal anda tidak akan mau berfikir dengan aksioma itu.

    Tidak ada masalah dengan mau atheis atau tidak, karena itu berdasar pada hati anda: membenarkan adanya tuhan atau menyalahinya. Membenarkan atau menyalahkan adanya tuhan adalah keputusan hati dan bukan keputusan akal, akal hanya mengikuti hati. Jadi kalau anda atheis karena awalnya menggunakan akal, saya kira itu prosedur yang keliru. Tapi kalau anda atheis karena hati menyalahkan adanya Tuhan kemudian anda beragumen dengan akal anda berdasar asumsi tuhan tidak ada, maka argumen anda valid. Jadi sebenarnya manusia menolak [menerima] keberadaan Tuhan itu karena hatinya menolak [menerima]nya dan bukan dari penjelajahan akal. Namun seseorang yang beragama tertentu bisa jadi karena penjelajahan akal selain karena orang tuanya beragama tertentu.

    Terakhir, saya sebagai non-atheis bertanya kepada yang atheis, akan kemanakah anda setelah anda mati. Ini bukan penantangan berdebat, namun saya ingin mengetahui, biar lebih kenal.

  32. bayangkan ketika anda benar benar dalam keadaan terdesak..pasti anda akan berkata “ya tuhan”– “oh my god” dll

  33. Siapa yang menciptakan manusia???
    apakah manusia bisa berdiri sendiri?
    semakin sering seseorang mencari tuhan, maka semakin jauh ia dengan tuhan (Atheis)..
    Siapa Tuhanmu?
    Siapa Nabimu?
    Apa Kitabmu?
    Dimana Kiblatmu?
    pertanyaan Itu nanti akan ditemukan ketika sudah mati.
    Jika tak percaya akan ada nya tuhan, apa yg akan dijawab dengan pertanyaan tersebut??
    ISLAM agama Tuhan (ALLAH)

  34. Hay, untuk seluruh umat atheis di sni saya mau tanya. Dluan mana ayam sama telur ? Apakah anda di bumi langsung ada bumi, lalu siapa yg menciptakan bumi? Tolong untuk yg berpaham atheis d sni, jawab pertanyaan saya. Trmksh

  35. Menjelang Subuh.., waktu menghadap Allah SWT.. Anda belum paham tingkat keindahan teringgi pada kehidupan manusia adalah merasa dekat dengan Tuhannya, sebuah bentuk “kepasrahan” yang indah dan “mencerdaskan”..
    Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan diberi ilmu di antara kalian beberapa derajat (QS al-Mujadalah [58]: 11).Dengan Iman dan ilmu Allah mengangkat manusia. Dengan jalan Iman dan Ilmu, Allah menyediakan agar manusia dengan akalnya dapat dekat kepadaNya. Tingkatkanlah iman dan Ilmu agar dengannya semakin dekat kepada Allah. Sejatinya Allah memahami beriman untuk kesucian dan berilmu adalah naluri fitrah yang ada pada manusia
    Teruslah mencari kebenaran, seperti nabi Ibrahim mencari TuhanNya. Telisiklah kitab suci apa yang menjamin kebenaran dan ketidak adanya keraguan. Sungguh agama itu untuk menjaga jiwa. Agama adalah sumber ketenangan jiwa . Al Qur’an menyebutkan Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Dalam kekuasaan Islam diamana dijamin ketenangan hidup, Rasulullah saw. pernah menulis surat kepada penduduk Yaman, bahwa siapa saja yang tetap memeluk Yahudi atau Nasrani, dia tidak boleh dihasut [untuk meninggalkan agamanya], hanya saja wajib membayar jizyah, (HR Ibn Hazm dalam kitabnya, Al-Muhalla). Jika anda sudah yakin dengar dan taatlah, maka dalam keterbatasan kita, Insyaallah kesempurnaan hidup Insyaallah menjadi milik kita Ketahuilah sangat banyak yang belum diketahui tentang Islam

  36. Maaf,saya hanya ingin bertanya
    Bagaimana nasib arang arab,orang indonesia,orang mana saja pokoknya yang ada didunia,sebelum datang islam mereka pasti bukan islam/kafir bukan,bagaimana sepeninggal dia?
    Orang yang merasa islam getol pasti tahu jawabanya,kalau masuk neraka kasihan dong mereka karna Alloh telat kasih wahyu.
    Jangan kasih jawaban Wallohu a’lam

  37. akal sehat bukan datang dari manusia itu sendiri,atau tumbuh begitu saja pada diri manusia. jika awal paling awal kehidupan tidak ada yang mengajari,maka manusia akan bener2 seperti binatang. sebenarnya cukup memikirkan kekompleks’an pada tubuh manusia,lengkap dengan perasaan2 yang ada,saling syncron,dan berkaitan. jika sebuah kehidupan itu ada karena kebetulan,ada begitu saja,seharusnya seluruhnya sama,bukan berbeda-beda jenis,apalgi manusia makhluk yang paling kompleks. jika yang di sebut tuhan itu alien misalnya,apakah alien juga hidup begitu saja. apalgi isunya,alien adalah makhluk paling cerdas. sebab itu, jangan karena sebuah agama sampai membuatmu tidak mempercayai adanya tuhan. “tuhan dekat dengan urat leher” iya memang,tapi bukan berrti manusia itu sendiri tuhannya. kamu hanya mencari fakta,sedangkan kamu lupa kenyataan pada dirimu sendiri. untuk mencari tuhan bukan berkeliling dunia,bukan berkeliling ke pastur,utadz,kiai,pendeta dsb,tp berkelilinglah dalam otak dan hatimu tanpa membadingkan sebuah ajaran,agama,dll. jika mencari tuhan masih di selimuti nafsu,maka sampe kematianpun kamu tidak akan menemukannya kecuali sesudah mati. saya tidak benci kamu. semua orang bebas untuk memlih. tapi maaf,dari tulisan kamu saya melihat kamu memilih atheis karena pandangn kamu terhdap agama,bukan karena mencari tuhan yang sebenarnya. tapi jika kamu nyaman saat ini,itu pilihan pribadi. semoga menjadi insan yang baik ^_^

  38. Ah, nggak juga tergantung dari pemahaman dan latar belakang orang juga.
    Toh juga kalo diurut urut sesuai sejarah tuhan manusia ya cuma satu itu doang, ngga banyak.
    Cuma karna segelintir orang yang punya kepentingan mangkanya bikin tuhan baru.

  39. Saya berpendapat sama…menjadi Atheis adalah sebuah pilihan…akan tetapi pilihan tersebut sebaiknya jatuh pada pilihan terakhir.
    – karena menjadi orang yang atheis artinya seperti kita tidak percaya dengan meja kursi ada pembuatnya…dari mana meja kursi itu ada…? tidak tahu tiba2 ada saja…(itulah jawaban anda).
    – Mencari agama yang paling benar menurut versi anda sebenarnya mudah saja..
    * Pelajari saja satu persatu kitab sucinya…mana yang masuk akal menurut anda…

    NB : sangat sayang sekali begitu cepat memutuskan untuk menjadi seorang Atheis tanpa ada usaha untuk mempelajari kitab suci yang ada.

  40. Jika ada 1.000 agama di dunia, memilih salah satu berarti berharap 1 surga, tetapi bersiap masuk 999 neraka agama lain yang disiapkan bagi orang ‘kafir’.

    Setidaknya ada kemungkinan mendapatkan 1 surga itu daripada tidak sama sekali :-))

  41. Saya sangat sependapat dengan penulis, terimakasih sudah mewakili apa yang saya rasakan. Bagi saya hidup tanpa merasa paling benar dengan agama yang diyakini adalah sesuatu yang membahagiakan, tidak memandang sebelah mata seolah olah surga sudah didepan mata. Saya bukanlah orang yang haus akan surga dan takut neraka, jika memang itu ada pun saya juga tidak sedikitpun takut karena saya setidaknya tetap bertuhan tanpa ritual ritual keagamaan, karena menurut saya banyak hal yang saya tidak tahu. Intinya menurut saya semua adalah relatif, setiap yang disini bebas mengemukakan apa yang diyakini dengan tingkat kekerasan kepala yang luar biasa. Terimakasih

  42. Tulisan ysng menarik, saya juga seorang atheis dan menjadi 1 1 ny atheis d keluarga saya, menurut saya ada kekuatan mutlak tapi itu bukan tuhan tapi pikiran dan alam kita, ketika kita meninggal tubuh akan menyatu dengan alam, arwah kita akan tetap hidup meskipun jasmani sudah mati, yang diperlukan hanya mencari tubuh baru bukannya kembali ke tuhan.. Benar kata anda saya menghormati teman” saya yang bergama tapi mereka selalu memojokan saya karena saya atheis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s