Mengapa saya memutuskan menjadi ateis? Cerita Dewi Rainny ( sumber kompasiana)

Original writer : Rainny
Sumber: kompasiana

Jangan takut, ini bukan upaya atheisasi. Orang Indonesia boleh jadi takut dengan ‘kristenisasi’ dan di Eropa, orang takut dengan ‘islamisasi.’ Tapi ini bukan upaya atheisasi. Upaya mengkonversi orang-orang beragama menjadi atheis bertentangan dengan prinsip atheisme itu sendiri. Atheisme bukan kepercayaan yang harus diimani begitu saja. Atheisme adalah keyakinan seperti keyakinan ilmiah yang harus ditemukan sendiri.

Atheisme nyaman bagi diri saya, melegakan batin saya, tetapi sulit berhadapan dengan tekanan sosial di Indonesia.

Orang masih memicingkan mata pada atheisme, menganggap atheis sebagai orang paling hina di muka bumi. Atheis dianggap sebagai sumber kekejian dan kebejatan moral.

Atheis bukanlah orang tanpa etika dan moral, hanya saja atheisme tidak mendasarkan moralitas dan etikanya pada ajaran Tuhan, melainkan pada akal budi manusia. Saya kira bukan tempatnya di sini untuk memberi penjelasan apa itu atheisme.

Saya menjadi atheis bukan karena keluarga, bukan karena teman, bukan karena akibat pernikahan (tidak jarang orang pindah agama untuk menyesuaikan diri dengan UU Pernikahan di Indonesia). Saya menjadi atheis melalui pergulatan panjang mencari Tuhan.

Saya dilahirkan dari keluarga Islam lengkap dengan azan di telinga ketika saya baru saja dilahirkan. Saya belajar membaca Al-Quran sedari kecil, ikut pengajian di musala, puasa, tarawih dan membayar zakat seperti layaknya anak-anak dari keluarga muslim lainnya.

Orang tua saya, keduanya muslim yang taat dan sangat tolerans dan sangat mendorong kebebasan berekspresi serta mendorong saya untuk mencintai membaca juga dekat dengan sains dan ilmu pengetahuan.

Berangkat dewasa, mulai sejak kira-kira usia SMP, masih rajin sholat, saya mulai mempertanyakan Tuhan. Belajar Pancasila di sekolah, yang lebih mirip indoktrinasi daripada diskusi megenai ideologi dan filsafat dengan bapak dan ibu saya, saya mulai penasaran dengan Ketuhanan Yang Maha Esa dan Bhinneka Tunggal Ika. Mengapa ada banyak Tuhan? Jika semuanya adalah Tuhan yang sama mengapa aturan, tuntunan dan tuntutannya berbeda.

Dari situ saya mempelajari praktis semua agama yang ada di Indonesia, menemui romo, pedanda, biksu, dan pendeta, selain tentu saja dengan ustad dan kyai. Perjalanan yang indah mengantarkan saya pada pertemuan dengan Romo Mangun dan Gus Dur (yang adalah teman bapak saya). Masih pula saya tidak menemukan jawaban atas salah satu pertanyaan saya: Agama apa yang paling bisa mengantar penganutnya pada Tuhan.

Kemudian saya menemukan bahwa pertanyaan tersebut salah, karena jawaban yang tersedia adalah:

– Semua agama sama baiknya

– Ikuti kata hatimu sendiri

Pencarian saya mengenai semua agama sama baiknya berujung pada dilema, seperti semua kecap adalah kecap no. 1, berarti semua agama sama buruknya. Agama A mengatakan A-lah agama paling baik, dan agama B buruk. Sebaliknya agama B mengatakan hal yang sama mengenai dirinya sendiri, dan mengkatagorikan agama A sebagai agama yang tak baik. Jika ada 1.000 agama di dunia, memilih salah satu berarti berharap 1 surga, tetapi bersiap masuk 999 neraka agama lain yang disiapkan bagi orang ‘kafir’.

Pencarian saya pada tokoh-tokoh agama berpikiran luas mengantarkan saya pada kata-kata bijak, “Agama itu seperti makanan, ya, makanan jiwa, pilih yang sesuai selera, dan sreg. Walaupun katanya bergizi, tapi kalau makannya terpaksa, ya juga nggak akan enak dan nggak akan membawa manfaat buat kamu.”

Saya mulai dengan menjadi seorang peragu, skeptis, di SMA, usia 16–17 tahun. Lalu di usia 18 saya menjadi agnostik. Di usia 20 saya menjadi seorang atheis.

Perjalanan pencarian saya atas Tuhan juga membawa saya pada beberapa orang atheis yang sama sekali tidak menganjurkan saya menjadi atheis. Semua atheis yang saya jumpai mengatakan, kurang lebih, “Ikuti akal budimu, sergaplah ilmu pegetahuan, pelajari sejarah peradaban manusia.”

Atheis yang baik, menurut mereka, bukanlah seorang pendakwah yang mencari sebanyak-banyaknya pengikut, tetapi orang-orang yang mendasari moralitasnya pada akal budi manusia serta mengakui segala keterbatasannya. Atheisme bukanlah sebuah keyakinan yang menurun dalam keluarga, boleh jadi bukanlah sesuatu yang mudah diajarkan. Atheisme, adalah sebuah hasil pencarian seseorang yang bersifat personal. Seorang atheis yang baik adalah mereka yang cukup berani mempertanyakan segala sesuatu dan giat bekerja serta belajar untuk mencari jawabnya. Seorang atheis yang baik tidak bisa yakin sebelum meragukan sesuatu terlebih dahulu. Seorang atheis tidak boleh gemar mencontek karena malas mencari jawaban. Seorang atheis yang baik tidak boleh menjadi atheis karena dipengaruhi orang lain. Dengan kata lain atheisme hanya bisa ditemukan dan dialami sendiri. Seorang atheis yang baik tidak akan mendorong apalagi membujuk orang lain untuk jadi atheis, tetapi membiarkannya tumbuh dalam pencarian.

Pencarian saya berakhir pada atheisme. Saya sangat yakin bahwa Tuhan tidak ada, dan hanya ada kemungkinan kecil sekali Tuhan (beserta neraka dan surganya) ada. Tuhan mungkin saja ada, karena sangatlah tidak ilmiah mengatakan Tuhan pasti tidak ada, toh ilmuwan tidak bisa membuktikan ketiadaan Tuhan, walaupun tidak ada pula orang yang pernah membuktikan kehadiran Tuhan. Russell memberi analogi yang baik mengenai poci teh (teapot) yang mengorbit antara bumi dan Mars.

Saya sampai pada pencarian saya, bagaimana sejarah peradaban manusia memelihara kerinduan manusia akan adanya kepastian, kebutuhan sosok imajiner yang Maha Adil, Maha Kasih, Maha Kuasa, dan bagaimana manusia berangsur-angsur menciptakan sosok Tuhannya, membunuhnya atau meninggalkannya, lalu menciptakan sosok Tuhan baru.

Sampai akal budi dan pengetahuan manusia cukup berani mengakui keterbatasannya, dan mengatakan, “Cuma itu yang kita punya, berterimakasihlah pada kita sendiri.” Memiliki Tuhan Yang Maha Kuasa tapi juga pada saat yang sama bersusah payah menyembunyikan diriNya sendiri tidak membantu manusia dalam cara apapun, kapanpun, dan di manapun, kecuali untuk menenangkan hati sendiri akan adanya kepastian mutlak dan harapan akan hadirnya keadilan sejati di alam lain.

Saya tidak memusuhi agama dan orang-orang beragama atau berTuhan. Tidak seperti orang-orang beragama yang memusuhi orang-orang tak bertuhan. Saya tidak ingin menyadarkan orang-orang beragama untuk meninggalkan Tuhannya. Saya hanya ingin orang-orang atheis (di Indonesia khususnya) yang masih dalam ketakutan atau tekanan sosial yang berat untuk bebas dari ketakutan dan tekanan.

Saya sadar bahwa orang bermacam ragam. Ada yang masih perlu Tuhan, dan ada yang tidak perlu Tuhan. Saya adalah tipe orang kedua. Kalau saya berbuat baik, bukan hidup abadi di surga yang saya harapkan, tapi karena saya tahu bahwa perbuatan itu harus saya lakukan. Kalau saya tidak berbuat jahat, bukan siksa neraka yang saya takutkan, cukup karena saya tahu perbuatan tersebut tidak pantas dilakukan.

Menjadi seorang atheis, di Indonesia, adalah perjalanan yang melelahkan, berat, dan berliku. Dilihat dari pengalaman saya, jauh lebih sukar daripada menjadi seorang yang beragama. Bahkan saya belum bisa menghapuskan kata “Islam” dari KTP saya, pun ketika saya menikah, sesuai UU saya masih harus mengikuti aturan yang berlaku. Bagi sesama atheis di Indonesia, saya hanya bisa mengatakan, “Jangan takut, kamu tidak sendirian.”

742 thoughts on “Mengapa saya memutuskan menjadi ateis? Cerita Dewi Rainny ( sumber kompasiana)

  1. saya coba bantu jabarkan secara simpel saja dalam hidup ini tentang keberadaan tuhan…

    1.Apa iya rumah yg mbak tempati bisa berdiri sendiri tanpa ada yg membuat???
    2.apa iya pakaian yg mbak pakai setiap hari muncul begitu saja dilemari pakaian???
    3.apa iya kendaraan yg mbak tunggangi setiap hari tiba tiba ada digarasi???
    4.apa iya makanan yg mbak makan setiap hari itu muncul begitu saja dimeja makan???

    TIDAK MUNGKIN…

    SEMUA BUTUH PENCIPTA…seperti halnya kita manusia dan alam semesta tidak mungkin begitu saja ada muncul secara tiba tiba tanpa ada yg menciptakan… mustahil… dialah yg kita sebut TUHAN…

    • Argumen anda berawal dari ketidak tahuan anda bagaimana alam semesta ini muncul bagaimana sesuatu terjadi. Kelasnya sama seperti pertanyaan:
      – Apa iya suara petir ada tanpa ada yang menabuh?
      – Apa iya pelangi bisa berwarna tanpa ada yang mengecatnya?
      – Apa mungkin hujan bisa turun jika tidak ada yang menyiramnya?

      Wajar jika orang tidak tau bagaimana petir bekerja akan percaya ada ZEUS diatas sana. Jelas sekali argumen ketuhanan anda hanya karena alasan ketidaktahuan. Ini disebut sebagai ‘God of the gap’.

      Salam🙂

  2. Antara kesombongan dan kebodohan merupakan 2 sisi mata uang yg tak terpisahkan. Itulah gambaran yg tepat untuk orang yg memilih atheis.

    • Orang yang sewaktu kecil percaya sinterklas, seiring bertambahnya pengetahuan dan nalar menjadi tidak percaya lagi dengan sinterklas. Itulah gambaran yang lebih tepat. Ateis bukanlah sesuatu untuk dipilih.

  3. Jika kau raguJika kau ragu. Akan tuhan..coba berpikirlah…siapa yg selama ini mengawasimu? Mengasihimu? Memberimu kehidupan? apkah ada manusia atau. Apapun selain tuhan yg kau anggap tak ada… Lalu siapa yg menciptakan langit bumi dan seisinya melainkan sang penciptanya? Jika kau pernah rajin baca kitab mu al quran… Apa pernah juga membaca terjemahannya agar kau mengerti bahasanya? Sesungguhnya allah memudahkan bahasanya bagimu agar kau mengerti..mudah mudahan allah membimbing mu kembali pada jalan yg lurus (benar).aminDengan tuhan…

    • Siapa yang mengawasi? Mengasihi? Tidak ada. Perhatikan sekeliling dengan seksama dan jarak pandang yang luas. Apa yang terjadi di afrika yang mayoritas muslim? Apa yang terjadi di pedalaman india, apa yang terjadi di jazirah arab? Tidak terasa kehadiran tuhan. Semua tunduk pada hukum rimba seolah tiada tuhan. Gadis kecil kelaparan, anak anak terbunuh. Tidak ada alasan untuk itu kenapa Tuhan (jika ada) membiarkan itu terjadi.

      Tidak. Quran jelas tidak mudah untuk dipahami. Perdebatan tafsir, revisi tafsir, dan kelakuan para pembunuh berlandaskan al quran disisi lain orang menuduhnya memahami al quran secara salah. Pelajarilah Al Quran mu dari sumber sejarah yang netral. Muhammad pun tidak pernah menyuruh quran dibukukan. Quran hanyalah kumpulan perkataan Muhammad yang lalu dikumpulkan dan distandarisasikan secara paksa oleh generasi pemimpin sesudahnya sebagai alat politik.

  4. Saya cukup menghargai pemikiran Mbak Dewi. Saya juga termasuk orang yang menempuh perjalanan panjang untuk meyakini adanya Tuhan.

    Saya kritik. Dua Poin landasan mbak.
    1. Semua agama sama baiknya. Saya setuju, tapi tidak berarti semua yang baik benar. Yang benar tetap satu.

    2. Ikuti kata hati. Ini salah, padahal yang benar ikuti akal baru hati.

    Kesimpulan para pencari Tuhan yang berujung pada atheime merupakan bukti keterbatasan akal manusia untuk menjangkau yang tidak terbatas.

    Tapi mengesampingkan fakta, bahwa tidak ada satu pun benda yang terbentuk tanpa ada yang membentuk. Tidak ada satu pun yang tercipta tanpa ada yang mencipta. Adonan bakso saja tidak akan menjadi bulat tanpa dibentuk bulat, apalagi manusia yang bentuk dan strukturnya amat rumit?

    Sejatinya Iman pada Tuhan adalah meyakini Eksistensinya. Yang bisa kita liat dari segala benda yang ada dialam raya ini. Karena kalau menjangkau Dzat-Nya merupakan suatu yang tidak mungkin dijangkau oleh akal manusia.

    Intinya manusia bisa menjangkau sesuatu yang tidak dapat di Indra olehnya apabila ada petunjuk yang menunjukannya. Adanya tai kuda dijalan raya menandakan adanya kuda yang tadi melintasinya, meski kuda itu sendiri tidak terindra oleh kita.

  5. hal ini mengingatkan saya pada saat saya yakin ingin belajar menjadi seorang muslim kembali lalu ragu karena tetangga saya berisik ngomongin masalah agama dan suka mengkafir-kafirkan agama lain, padahal saat itu ada cowok saya sedang bertamu. saya mendengarnya sangat sakit hati sekali
    kenapa?
    sejauh ini saya sudah membantu dia dalam hal pangan dan uang untuk kebutuhan sangu anaknya tapi rasanya ketika dia berbicara seperti itu ketika ada pacar saya seperti berfikir mayoritas penganut tersebut gimana gitu.
    dan jadi memperkuat saya untuk memilih keyakinan atheis bahkan pacar saya yang mendengar keluh kesah saya, diapun ikut untuk menjadi atheis.
    maaf, ya yang penganut agama yang saya sebut.
    saya gak ada niat memecah belah tapi itu unek2 saya kenapa saya memilih atheis

  6. Pada dasarnya seseorang memilih menjadi ateis adalah karena mereka tidak menemukan Tuhan dan tidak mengalami pribadi Kasih Tuhan secara utuh. kadangkala persepsi ini salah, Firman Tuhan mengajarkan bahwa : “Tuhan mencintai orang berdosa”, artinya : Tuhan mencintai orang – orang berdosa bukan berarti Tuhan mencintai dosa !

    Ketika Tuhan berbicara, menegur (menghakimi) kita karena ada sesuatu dosa dalam diri kita maksudnya Tuhan adalah menuntun kita kepada pertobatan, sebaliknya iblis dan diri kita akan membawa kita semakin tenggelam dalam dosa, terpuruk dan semakin tidak bisa mengenal gambar diri kita.

    “Relation” berbeda dgn “Religion”, Tuhan datang tidak membawa agama tapi hubungan pribadi dengan pribadiNya tersebut.

  7. Mengapa seperti itu??
    Tidakkah kau percaya bahwa tuhan itu ada…
    Jika kamu ada, maka siapa yang mencipatakanmu.. siapa TuhanMu wahai Manusia?

  8. kartu dapat di gunakan pada saat masa aktifnya.jadi clo sudah masa tenggang udah gak bisa d gunakan.sama dengan agama juga ada masa aktifnya.maka islam adalah agama yang berlaku hingga hari kiamat,mnurut saya

  9. Sahabat ku, trimakasih atas luahan mu.. Aku memahami dan menghargai itu.. Stiap org punya hak, hak untuk hidup, hak untuk beropini, hak untuk memeluk kepercayaan, dan segala hak-hak lainya..
    Inti dari semua ini adalah kepercayaan terhadap suatu jalan kebaikan.. Stiap individu memiliki kepercayaan masing2 atau yg di sebut agama. Dahulu, sebelum kitab injil turun, orang tidak ada yg berfahaman yg di bawa oleh injil, stelah injil turun manusia tidak ada yg beragama Islam, lbih kurang seperti itu lah singkat maksud nya. Dan sekarang setelah Alqur’an turun kemudian ada banyak kepercayaan lainya.. Dan setiap kepercayaan itu ada ideologinya dan pembawanya, injil di bawa oleh isa, alqur’an di bawa oleh Muhammad. Trus atheis di bawa oleh siapa? Pasti ada yg menciptakan ideologi itu bukan? Konteks nya sama saja, ada aturan, ideologi dan pembawanya, kalau dalam agama sang pembawa kitab atau ideologi adalah nabi.. Jadi intinya sama, atheis itu nabinya adalah mr siapa itu yg menciptakanya? TUHAN nya adalah pemikiran, terutama pemikiran ahli sains dan ilmu pengetahuan yg mengkaji bahwa Tuhan itu tidak ujud… Jadi, kalau atheis sebelum ini mengatakan bahwa org yg percaya Tuhan itu ada itu bodoh, begitu juga orang yg mempercayai atheis yg percaya sama fahaman atheis karena ideologi penjelasan pemikiran mereka.. Fakta kebenaran pemikiran atheis pun tidak bisa di katakan benar secara mutlak, hanya benar menurut yg percaya saja.. Begitu juga orang yg beragama tetap percaya walau tidak pernah melihat Tuhan nya.. Jadi kenapa harus di pusing kan kepala kita untuk memikirkan itu semua.. Kalau di perdebatkan pun semua pihak akan merasa benar menurut kepercayaan masing2. Tapi kebenaran yg mutlak tak kan terhasil bukan? Ketenangan itu hanya hadir oleh keterbukaan kita memahami jalur kehidupan ini kawan.. Saudara bilang tidak tenang karena tidak pasti dengan Tuhan sewaktu masih beragama, tapi malah memilih kepercayaan yg membuat saudara lebih tidak tenang karena banyak orang yg tidak setuju dgn jalan yg anda pilih. Jadi siapa yg salah? TUHAN atau diri anda sendiri?
    Hidup itu hanya sebentar kawan, jangan di sibuk kan dengan pertanyaan2 konyol yg membuat hati kita tidak tenang.
    Jadi setelah adanya agama dan atheis ini apabila anda masih kurang pasti dengan jalan saudara, jalan apalagi yg anda tempuh..
    Apa perlu saya membuat sesuatu kepercayaan yg fenomenal yaitu satu jalur fahaman yg fleksibel, kalau anda di lingkungan kristen anda berhak ibadah kristen, dan kalau anda di lingkungan muslim anda beribadah sebagai muslim, terus kalau anda dalam kumpulan atheis anda ikut aja sebagai atheis jadi biar anda gak bingun menjalani hidup, apa perlu seperti itu?
    Saya seorang muslim teman. Dan saya tidak pernah mempersoalkan ini itu… Karna setiap individu harus punya prinsif pemikiran yg padu dan kokoh untuk jalan hidupnya. Kalau kamu ingin jadi polisi maka kamu pelajari dan tekuni mengikut jalurnya, jangan menoleh kebelakang lagi, dan buang segala keraguan di hati, maka kamu pasti jadi polisi.. Dalam mengerjakan sesuatu itu memang harus seperti itu, apapun itu. Apalagi soal kepercayaan..
    Jadi intinya buang segala keraguan yg mengganggu apabila menjalani sesuatu walau sekecil apapun itu supaya kita bisa melakukanya dengan nyaman..
    Kalau dalam konteks prinsif, saudara adalah type yg tidak tetap pendirian, mudah tergoda oleh permainan fikiran sendiri. Gimana bisa tenang kalau seperti itu… Kalau soal baik dan buruk, tidak perlu agama, logika pemikiran pun pasti mengutamakan yg baik ketimbang yg buruk, bukan begitu kawan? Katanya agama itu kurang etis untuk di ikuti karena merupakan kebiasaan orang dulu dan nenek moyang kita yg harus kita ikuti.. Jadi semenjak berdirinya atheis sampai 200 tahun lagi jika tetap di ikuti apa bukan di bilang kebiasaan nenek moyang juga bagi anak cucu orang atheis 200 tahun kedepan..
    Nyeleneh semua itu kawan.. Bikin pusing kalau di bahas..
    Saya dan kami, bahkan orang tua anda yg percaya dgn adanya Tuhan cukup bahagia koq, jadi kenapa anda tidak demikian?
    Berarti ada yg salah dalam konteks anda berfikir. Dan di islam pun di beri pemahaman bahwa manusia itu ciptaan paling sempurna karena memiliki akal, bahkan dunia sains pun berkata hal yg sama.. Jadi anda di lahirkan sebagai islam itu tidak salah. Tapi anda yg salah dalam menilai prinsif kehidupan itu sendiri…

  10. Tentang agama mungkin anda harus mempelajari lebih dlm lgi dan berpikir menggunakan manteq yg sudah diluruskan oleh shohabat dizaman nabi muhammad(bukan manteq aristoteles) anda mungkin harus mempelajari tauhid dan mengenal 20 sifat wajib wujudnya allah dari mulai wujud sampai mutakaliman dan mempelajari sifat jaiz nya allah. Dan mengetahui perkara baru, yg asalnya tdk ada mnjdi ada . Mungkin dengan berpikir menggunakan aqal (tauhid) dan menemukan adanya perkara(amr) dan .menghukumi perkara tsb (idrok) mungkin dihati anda akan hilang ttng keraguan tuhan . Dan anda akan percaya bhwa allah SWT lah tuhan semesta alam.

    Wallahualam bissowab .

    • Saya

      Kalau menurut saya, antara orang beragama dan yang tak beragama itu letak perbedaannya bukan karena mereka memiliki Tuhan atau tidak. Tuhan itu pasti ada, mereka saja yang masih ingusan (baru lahir kemarin & mungkin tdk bs hidup lama) belum bs menemukan Dia.

      Perbedaan orang beragama & tidak adalah karena mereka RAJIN atau MALAS…tanyakan pd diri kita sendiri, apakah kita malas utk sholat, malas utk pergi ke gereja, atau malas menjalankan ibadah sesuai agama kita…kalau kita tdk malas/msh menjalankan ibadah, berarti kita msh beragama, tp kalau kita malas/tdk menjalankan ibadah sama sekali yah sudah pasti kita tidak beragama…walaupun kata kamu, kamu beragama, tp kamu tdk beribadah, yah kamu ngga beragama.

      Sebaliknya kata kamu, kamu adalah atheis, tp kamu msh mau pergi shalat, berarti kamu msh punya agama, terserah kamu mau sebut itu terpaksa atau tdk krn kehendak hati.
      Jadi intinya melihat beragama/tidak itu simple, yaitu antara orang RAJIN ibadah (Beragama) & Malas ibadah (Tidak Beragama).

      Ngga perlu deh kamu bilang kamu atheis, toh dg mata telanjang saya jg bs baca kalau kamu MALAS Ibadah. Bilang saja kamu MALAS atau RAJIN ibadah di artikel ini, ngga usah bawa2 ttg percaya Tuhan atau ilmu agama. Karena kamu sendiri yg bilang kamu tau dg keterbatasan kamu.

      Terimakasih…saya doakan semoga penulis artikel ini selalu diberi kesehatan agar tetap memiliki akal dan sifat RAJIN. Amieen

    • saya setuju dengan saudara cyf, dengan kita mempelajari syariat, tauhid, dan tasauf lebih nyaman membuktikan keberadaan tuhan,,, Wallahualam bissowab

  11. Atheisme tercipta karena ada akal dan fikiran… agama juga tercipta karena ada akal dan fikiran…trus yg memberi kita akal dan fikiran itu siapa…??? kenapa hanya manusia yg diberi akal dan fikiran….??? Banyak agama diciptakan…bingung memilihnya mana yg benar..keterbatasan akal dan fikiran lah yg menentukan mana yg akan dipilih…bahkan kalaupun harus tidak memilih..salah satu agama ….. itu karena keterbatasan akal dan fikiran kita
    Agama anda samakan dg makanan atau apapun … sama ssaja..tergantung dg kemampuan berfikir anda… contoh kalau agama disamakan dg makanan kita harus belajar dan cari tau jenis makanan itu dibuat oleh siapa dan terbuat dr apa.. baru kita bisa menyimpulkan ttg makanan itu …..dan jangan lupa kita tetap harus merasakan makanan itu…baru bisa menyimpulkan makanan itu enak atau tdk nya… sehat atau tidaknya dampaknya apa terhadap tubuh kita harus sedetail deatailnya agar tdk ada keraguan lagi…. jangan sudah makan dan merasa tdk enak langsung menyimpulkan tdk sehat.. tdk cocok… padahal tdk tau bahan nya terbuat dr apa dampak utk tubuh apa…dll …

  12. Prinsip ketuhanan bukan dengan akal sobat. Karena akal kita terbatas. Bersyukurlah untuk kalian yang beragama. Karena menjadi seorang atheis(peragu) sungguh bukan pilihan yang bijak. Yang membuat tuhan seolah tidak ada itu karena akal kita yg terbatas bukan karena tuhan tidak ada

  13. Maaf sebelumnya, saya menghargai yang anda yakini bahwa tuhan tidak ada.

    Tetapi, perlu anda ketahui bahwasanya belum pernah ada seorang makhluk (manusia, jin, iblis) sekalipun yang bisa membuat bumi beserta isinya terdiri dari : manusia, hewan, tumbuhan dll. Belum ada yang bisa membuat matahari, bulan, bintang persis dengan yang anda rasa kan saat ini termasuk (air, api, tanah, udara).

    Kesimpulan: berarti ada yang lebih hebat dari manusia, makhluk yang paling sempurna sekalipun. Tuhan🙂

    Jika ada makhluk (manusia, jin, iblis) yang mampu membuat bumi persis dengan segala isi nya seperti saat ini. Antarkan saya kepada nya, saya orang yang pertama kali menyembah nya🙂

  14. Tuhan memberikan hak kebebasan untuk semua manusia untuk berfikir menggunakan akalnya.jangankan para ilmuan nabi dan para rhosulpun sebagai penyebar agama belum pernah melihat tuhannya akan tetapi kita dan mereka meyakaini akan keberadaan-Nya dengan ilmu dan tanda-tandanya.

  15. Saya punya satu pertanyaan, kalau orang yang menganut atheisme merasa kehidupan sedang tidak adil, tidak ada orang terdekat/keluarga atau siapapun yang bisa diandalkan, kemana akan bersandar?

  16. thanks dan ya gw orang paling kesepian di dunia ini dan aku tidak memedulikanya tidak perlu berdebat hanya biarkan orang seperti saya seorang ateis menanggung semua akibat yang ku perbuat dan aku tau kau mencoba membuat orang” mengerti, sejak awal benar dan salah itu tidak pernah ada di dunia ini

  17. Dalam perjalanan panjang anda, sudahkah anda singgah ke Masjid Ahmadiyah? Cobalah berjumpa Imam kami, beliau skrg berkediaman di London. Semoga diberi petunjuk (hidayah).🙂

  18. Sebenarnya saya tertarik dengan pola fikir anda yg kritis tentang agama. Maaf sebelumnya ya mbak saya cuman ingin membenarkan kekeliruan pola pikir anda , sekarang begini jika atheis hanya bermain dengan nalar atau logika , coba jelaskan bagaimana cara Adam pertama kali ada di bumi ? Jelaskan tentang awal keberadaan alam semesta ? Agama tidak selalu bisa dicerna oleh akal ,tidak bakal habis untuk di persoalkan . Sekarang kalau dalam benak anda muncul pertanyaan , Tuhan itu dimana ? Maka saya juga akan bertanya jika manusia itu hidup karna nyawa , coba jelaskan spesifiknya nyawa itu ada di mana ? Di kepala , di badan atau di kaki ? Hidup anda tidak akan ada tujuan jika terus seperti itu , terima kasih ya mbak atas waktunya

  19. Saya pernah membaca kisah, seingat saya ini kisah nyata tentang seorang atheis yang naik pesawat terbang, lalu pesawat tsb mengalami gangguan hebat saat terbang (maaf saya lupa kena petir, awan atau turbulens), semua penumpang ketakutan, ada yang panik berteriak, berdoa, dll, termasuk pak/bu atheis tsb, dia berteriak “Tuhan tolonglah saya”, Sekian.
    Semoga bermanfaat, wallahu a’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s