Ada Apa Dengan Miss World?

Oke, karena biasanya saya bikin tulisan temanya selalu menjawab pertanyaan, boleh ya sekali – sekali gantian saya yang nanya :D

Jadi ceritanya saya penasaran kenapa semua orang heboh dengan diadakannya event Miss World tahun di Bali dan Jakarta sampai ramai – ramai menolak di social media dengan diwarnai berbagai kelucuan yang entah sengaja atau tidak sengaja terjadi.

Dalam artikel ini, saya ingin mencoba melemparkan beberapa alasan yang menurut saya masuk akal dan juga argumen saya kenapa alasan tersebut sebetulnya tidak cukup kuat untuk menolak Miss World, kalau sekiranya argumen saya salah ataupun sebetulnya alasannya di luar hal – hal yang saya kemukakan ini, silahkan ditanggapi di sesi komentar.

Kalau tidak ya sudah sih gak usah banyak protes, mau nonton ya nonton, gak suka ya gak usah nonton, gitu aja kok repot. :p

Alasan Penolakan 1: Miss World adalah ajang pamer aurat!

Ciyush?
Miapah?

Maksudnya ajang pamer aurat itu model – model kontes bikini kayak gini yak:

Oke, kalau itu masalahnya, saya punya 3 argumen untuk menjawabnya:

  1. Kalau anda takut bahwa ini akan menjadi ajang semi pornografi, saya jamin nggak deh, kecuali Kate Upton ikut kontes bikini di Miss World saya jamin kontes bikini itu jauh dari kata porno. 
  2. Kalaupun memang ada yang sebentuk dengan Kate Upton ikut Miss World tahun ini dan kontes ini jadi ajang pornografi pun saya lantas tidak melihat masalahnya dimana, sejauh ini saya masih berpendapat bahwa pornografi bukanlah sesuatu yang buruk (baca juga: http://andabertanyaateismenjawab.wordpress.com/2013/08/26/agama-maksiat-dan-bencana-nasional )
  3. In case anda gak update, PANITIA DAN PEMDA BALI UDAH BOLAK – BALIK KONFIRMASI BAHWA GAK ADA KONTES BIKINI DI MISS WORLD TAHUN INI. (baca: http://regional.kompas.com/read/2013/08/27/1707308/Panitia.Pastikan.Miss.World.Tanpa.Bikini )

Masih mau protes soal aurat – mengaurat meskipun gak ada kontes bikini? Mau bilang kalau niat nutup aurat maka kontes bikini harusnya semua pakai Burqa gitu? To be fair kalau begitu harusnya anda menuntut semua stasiun televisi dibubarkan karena tidak stasiun TV yang acaranya menggunakan standar “moral” demikian.

Atau solusi lebih mudah, bagaimana kalau anda jual saja TV anda biar tidak repot?

Alasan Penolakan 2: Miss World Adalah Ajang Eksploitasi Wanita!

Apanya yang dieksploitasi?

Sebelum membahas lebih jauh, saya tanya dulu deh, apa sih bedanya dengan kontes bakat lainnya, misalnya Indonesian Idol atau JKT48 gitu?

Ya, Miss World ini sesederhana kontes bakat saja, tidak ada bedanya dengan Indonesian Idol, bedanya Indonesian Idol yang dilihat kemampuan bernyanyi, ini yang dilihat adalah kecerdasan (brain), kecantikan (beauty) dan sikapnya (behaviour).

Jadi jika anda bicara bahwa Miss World mengeksploitasi kecantikan wanita demi meraup Dollar dan kepentingan bisnis organisasi Miss World, ya dengan standar yang sama berarti Indonesian Idol mengeksploitasi kemampuan bernyanyi para pesertanya dan anda gak protes kan tentang Indonesian Idol?

Kenapa coba anda gak protes?
Karena anda menyukainya?

Terus kalau ada orang lain sukanya sama Miss World gak boleh gitu?
Semua orang seleranya harus sama dengan anda?

Terus kalau anda gak suka sama JKT48 nanti kalau mereka konser lagi anda mau demo lagi gitu nolak konser JKT48?

Alasan 3: Miss World Merendahkan Wanita

Atau versi lengkapnya “Miss World merendahkan wanita yang tidak sesuai sama standar Miss World”.

Sesuai yang saya tulis di atas, Miss World dan kontes kecantikan sebangsanya mengklaim bahwa mereka menilai seorang wanita dari 3 hal, yaitu brain, beauty dan behavior, nah lantas kalau begitu apa kabar nasibnya wanita yang tidak cerdas, tidak cantik, maupun tidak santun?

Dengan adanya kontes semacam Miss World ini yang mengkampanyekan standar penilaian wanita sebagai 3 hal tersebut, maka wanita yang tidak cerdas, cantik maupun santun akan dinilai sebagai warga kelas dua di masyarakat dong?

Kalau sudah begitu, lantas bagaimana dengan karakter – karakter lain yang sebetulnya juga baik untuk dimiliki seorang wanita tapi tidak masuk ke 3 kategori itu? Kasihan kan wanita – wanita itu jadi dipandang rendah hanya karena mereka tidak cerdas, cantik maupun santun, padahal mereka itu sebetulnya patuh pada orang tua, peduli lingkungan, taat hukum dan rajin menabung?

Oke, untuk bagian ini kita bagi 2 deh, pertama: apakah menurut anda kecerdasan, kecantikan dan sikap bukanlah kualitas dari seorang wanita?

Yakin anda wanita cerdas gak patut dihargai?
Yakin anda wanita wanita santun gak patut dihargai?

Dan tentu saja:
Yakin anda wanita cantik gak patut dihargai?

Nah ini agak ribet nih, ini sebetulnya salah satu point yang paling banyak diprotes orang, konon katanya kapitalisme telah menjual image kecantikan sebagai nilai tertinggi dari harga diri seorang wanita.

Tapi yakin dunia ini jadi begini hanya karena kapitalisme?

Yakin manusia di masa lalu sebelum era kapitalisme tidak menilai kualitas utama perempuan dari fisiknya?

Pernah dengar mitologi Yunani soal Medusa?

Sebelum dikutuk menjadi monster berambut ular, Medusa adalah seorang pendeta wanita cantik penjaga kuil Athena. Ia wanita yang selain cantik, juga cerdas dan sangat taat kepada Athena sebelum akhirnya Ia diperkosa oleh Poseidon karena menolak cintanya.

Pertanyaannya adalah, memangnya Poseidon jatuh cinta pada Medusa karena dia cerdas? Atau karena dia taat? Ya jelas tidak, satu – satunya alasan Poseidon jatuh cinta pada Medusa adalah karena kecantikannya. Jadi budaya dimana kita menilai seorang wanita dengan menitik beratkan pada fisiknya saja.

Tidak usah jauh – jauh, awal abad ke 20 masyarakat barat masih menganggap tidak sopan seorang wanita yang mengomentari urusan politik atau ekonomi, jadi jangankan kecerdasannya dihargai, menunjukkan kecerdasan saja dianggap tidak sopan, apa lagi yang mau dinilai dari seorang wanita dalam budaya seperti itu kalau bukan semata – mata kecantikannya?

Jadi kalau menurut saya, Miss World ataupun kontes kecantikan manapun sebetulnya tidak merendahkan wanita manapun, budaya kita memang sudah ribuan tahun menganggap wanita sepele kok, lihat saja bagaimana Taliban menembak seorang anak kecil wanita hanya karena Ia ingin cerdas, kurang meremehkan apa lagi dunia kita terhadap kaum wanita?

Kebudayaan kita seratus tahun terakhir memang perlahan mulai bersahabat kepada wanita, namun memang belum seutuhnya berpihak secara fair bagi pria dan wanita, dan saya rasa Miss World, Miss Universe ataupun Putri Indonesia dan sebangsanya jelas bukan sebuah faktor yang justru memundurkan usaha tersebut bukan? Jadi dimana masalahnya?

Alasan 4: Apa kata dunia kalau sampai tahu Indonesia menyelenggarakan event Miss World?

Apa coba?
Seriusan saya beneran nggak tau.

Apakah reaksi kita berubah kepada Cina ketika mereka menyelenggarakan Miss World tahun lalu? Atau apakah reaksi kita berubah kepada Turki ketika mereka memenangkan Miss World tahun 2002? Lantas bakal bagaimana reaksi dunia? Dan “dunia” yang anda maksud itu siapa? Negara – negara Asia? Amerika? PBB?

Alasan 5: Miss World tidak sesuai dengan budaya timur

Ini saya setuju sekali, karena dalam budaya timur memang seharusnya wanita itu cukup menjadi pajangan suami saja, tidak perlu ikut kontes – kontesan semacam ini.

Penutup

Adakah yang terlewat? Sesuai yang saya tulis di awal, jika ada argumen saya yang salah silahkan dikoreksi, jika ternyata alasannya di luar 5 hal yang saya kemukakan di atas ya silahkan juga disampaikan. ;)

14 gagasan untuk “Ada Apa Dengan Miss World?

  1. Alasan yang paling kuat sebetulnya adalah yang nomor 2: Miss World Adalah Ajang Eksploitasi Wanita!

    Bukan wanita, sebetulnya, tapi tubuh/daging yang diperlombakan. Mirip dengan kontes binaragawan. Yang diperlombakan daging belaka. Tapi daging binaragawan bagian dari prestasi berolahraga, latihan, dan lainnya. Sama juga. Daging Miss World yang diperlombakan juga hasil kerja keras.

    Bagaimana dengan wajah? Asli, tak boleh operasi plastik, alami, artinya murni mengandalkan genetika, bukan sebuah prestasi?

    Ini artinya kita belum lepas dari dorongan hewaniah dan kedagingan, bawaan milyaran tahun evolusi. Dorongan beranak pinak dengan lawan jenis yang paling aduhai (sehat, cantik/ganteng, kuat) dengan kata lain, gennya bagus. Nggak jauh-jauh dengan istilah anak muda, “demi perbaikan keturunan.”

    Ini, kemudian seperti seolah brain & behaviour dinomordua dan dinomortigakan. Memang iya. Kontes miss-miss-an itu memang syarat utamanya cantik dulu. Beauty dulu. Kalaupun ada yang brain & behaviournya lebih bagus dari Miss yang manapun, tapi kalau “beauty”nya nggak masuk itungan (entah karena cacad, ada tompel segede Gaban di mukanya, tattooan dll) toh nggak akan bisa lolos seleksi.

    Kita tahulah, kalau brain dan behaviour itu cuma tambahan aja. Gampangannya, beautynya harus udah 9 dulu nilainya, nanti dicari yang brain+behaviournya paling bagus dari yang beautynya udah bernilai 9 itu.

    Jadi, kalo ada ada perempuan nilainya 12, tapi persebaran nilai beauty, brain, behaviournya 4+4+4, dia nggak bisa ngalahin perempuan di ajang Miss World yang nilainya 9+1+1, walaupun totalnya cuma 11.

    Bahayanya ajang Miss World apa? Kalau dia jadi standar seluruh umat manusia (baca: laki-laki heteroseksual), bahwa inilah perempuan ideal. Bahayanya kalau standar Miss World jadi standar dunia apa? Perempuan terobjektivikasi. Karena keutamaannya ada di sesuatu yang bukan karyanya sendiri–dalam hal ini kecantikan wajah, bukan di-brain-nya yang hasil susah payah belajar, berpikir kritis analitis, bukan behaviournya, yang berasal dari kematangan psikologisnya (ditopang oleh pengetahuan yang luas).

    Tapi kita tahu, walaupun lelaki seluruh dunia selalu punya impian untuk berhubungan seks dengan salah satu Miss (lokal atau internasional), di dunia nyata, ajang pencarian jodoh (yang juga berhitung bobot-bibit-bebet (kadang beserta bubut dan babatnya), takkan persis sama atau menjadi ajang Miss World. Di dunia ini ada banyak sekali faktor dan pengaruh yang pada akhirnya membentuk cara berpikir dan berperilaku seseorang, juga dalam mengambil keputusan. Pada akhirnya, sekuat apapun Miss World, standarnya atas perempuan (ideal) dalam membentuk cara berpikir manusia, toh tidak akan menjadi satu-satunya jalan berpikir umat manusia baik laki-laki maupun perempuan yang barangkali memang bercita-cita jadi Miss World.

    Jadi gimana?

    Miss World itu bagus apa enggak? Sebetulnya nggak bagus, secara paling buruk bisa dibilang dagangan belaka. Dagang daging juga, seperti pornografi atau pelacuran, tapi yang paling halus bentuknya.

    Perlu dilarang?

    Seperti pornografi dan pelacuran, tak perlu dilarang-larang.

    • hmm, saya rasa ada point yang saya lupakan di atas dan anda cantumkan yaitu mengenai bagus tidaknya Miss World ;)

      saya setuju dengan anda, kalau ditanya bagus atau nggak ya saya gak liat bagusnya dimana, tapi mau dilarang juga ngapain? kita juga nggak ngelarang Justin Bieber nyanyi kok ;)

  2. Saya coba tanggapi Tarjamu Saidah.

    ## Bagaimana dengan wajah? Asli, tak boleh operasi plastik, alami, artinya murni mengandalkan genetika, bukan sebuah prestasi?##

    Artinya ada perpaduan antara prestasi dan alami ya kan? Saya gak akan membandingkan kontes kecantikan ini dengan binaraga. Tapi paling tepat adalah dengan Idol-idolan. Kalau anda pernah mengikuti jalannya acara ini dari episode ke episode, sampai pada finalnya. Maka anda akan bisa melihat bahwa yang utama juga bukanlah objektifnya kemampuan bernyanyi. Tapi penampilan visual sang idol.

    Sama seperti kalkulasi anda diatas, cuma bedanya takaran awal bernyanyi sudahlah ditentukan. Misalnya, 10 kontestan memiliki kemampuan olah vokal, katakanlah nilai 9. Maka seleksi berikutnya adalah penampilan/wajah/tubuh siapa yang memiliki nilai lebih baik. Sebagai contoh, kalau dari ke 10 kontestan tsb ada yang lebih “tidak enak” dilihat (atau dalam bahasa broadcastnya tidak kamera face) maka dipastikan dia akan tersingkir. Ini jadi hukum bisnis broadcasting. Itulah kenapa bintang2 film itu semua enak dilihat wajahnya. Ada hukum simetrikal wajah yang diterapkan disitu, dan itulah kenapa banyak bintang korea yang rela rahangnya di kikir diruang operasi.

    Jadi rasanya masih terlalu naif mendasarkan argumen penolakan kalau lewat argumen NATURE vs NURTURE, karena akan terlihat inkonsistensinya. Atau istilah anak otomotif “standar ganda”

    Lalu apakah ajang ini akan menjadi standar yang membahayakan bagi persepsi perempuan? saya gagal berpikir mencari tahu apa bahayanya (meski diatas sudah disebutkan penjelasannya) Oke, perempuan terobjektifikasi, ya ini memang berbahaya. Tapi apakah ini cuma ketakutan berlebihan belaka ataukah memang kesalahan dalam mengambil kesimpulan?

    Bukankah kalau kita pelajari sejarah peradaban, justru kita berangkat dari objektifikasi perempuan yang nyata. Budaya patriark didunia sekitar 100 tahun yang lalu dan mundur seterusnya, adalah bentuk yang nyata. Bahkan budaya ini masih dilestarikan sampai sekarang oleh sebagian masyarakat di timur tengah sana. Dan seiring perkembangan teknologi, perkembangan ilmu pengetahuan, kesadaran sosial, dunia mulai mencibir pada perlakuan2 seperti itu bukan (objektifikasi perempuan) Sehingga mulailah ada gerakan2 yang mengusung hak2 dasar wanita yang ingin bebas mengekspresikan dirinya tanpa ikatan2 nilai yang ditentukan oleh kebanyak lelaki. Dan tahukah anda, kalau salah satu bentuknya adalah Ajang2 seperti ini. Selain munculnya profesi2 digawangi oleh wanita, dimana tadinya adalah profesi yang tabu bagi mereka.

    Lho..lho…amburadul dong! Penolak2 tidak ingin wanita di objektifikasi, sementara ajangnya sendiri adalah bagian dari ekspresi penolakan atas objektifikasi para patriark.

    Bagi saya, penolakan paling logis dan mendasar untuk menolak ajang miss world ini adalah melalui jalur argumen anti KAPITALISME. Karena menggunakan manusia2 untuk meraup keuntungan materi. Menggunakan wanita2 untuk mendongkrak pundi2 sebagian kecil manusia lainnya.

    Tapi tunggu..!! apakah cuma ajang ini yang menjadi eksploitasi manusia dalam kapitalisme?? Ohh pastinya tidak, hampir semua sendi kehidupan modern ini adalah eksploitasi kapitalisme. Kapitalisme adalah pemenang pertarungan dengan gong besar, saat tembok Berlin diruntuhkan. Kita bisa lihat contoh2 negara yang masih bermasturbasi dalam ideologi Sosialismenya, bisa dikatakan adalah negara2 gagal dalam pertarungan dunia. Jadi bisa dibilang kapitalisme adalah bahan bakar kehidupan modern, yang saya nikmati, anda nikmati, mereka nikmati, kita nikmati semua (bahkan wadah tempat kita berdiskusi ini juga adalah produk kapitalisme)

    Pertanyaan terakhirnya “Lalu apa bagusnya acara ini?”

    Pertanyaan ini adalah tameng terakhir dari para penolak, yang tanpa disadari terperangkap dalam subjektifitas masing masing. Saya setuju dengan Penulis artikel Rizky, apakah karena tidak bagus menurut pendapat kita, lantas harus dilarang?

    Ya kenapa kita tidak melarang dan membunuh Justin Bieber ??

    • @Rizky: Dalam wilayahnya, pemerintah punya kebijakan. Inilah yang selama ini ditanyakan: Pemerintah punya power lho untuk ngatur apa yang boleh dan tidak boleh di negaranya. Salah satunya approval utk dapat diadakannya Miss World atau tidak. Bandingin sama Justin Bieber enggak nyambung jek.

    • Beda dong.

      Kontes nyanyi idol-idolan, itu yang nilainya harus 9 dulu itu bernyanyinya. Punya kemampuan bernyanyi bagus bukan semata-mata karunia genetik, tapi juga latihan dan kerja keras. Ada unsur prestasinya di situ. Bisa bernyanyi bagus beda dengan punya wajah cantik dan bodi yahud. Tapi seperti saya bilang, bodi yahud pun bisa dihitung sebagai hasil kerja keras (diet, rajin fitness dll).

      Kalau dengan bantuan kekuatan media (yang juga mau cari untung dengan memanfaatkan dorongan birahi penonton laki-laki heteroseksual dan dorongan impian para perempuan yang ingin secantik Miss World supaya enteng jodoh) standar ‘perempuan ideal’ ini menjadi dominan, maka kita bisa kehilangan potensi perempuan: yaitu, ketika mereka bukannya mereka lebih banyak menghabiskan waktu di laboratorium, perpustakaan, museum, atau mengorganisasi buruh; para perempuan akan lebih banyak menghabiskan waktunya di salon dan fitness centre untuk menjadikan diri sebagai ‘perempuan ideal’ sebagaimana dibayangkan dan ditayangkan oleh media.

      Perempuan ideal (namanya juga ideal, tentu tergantung ‘ide’nya siapa) bisa seperti Kartini, Marie Curie, Hypatia, Rosa Parks, Virgina Woolf, dll, dan nggak mesti berbodi yahud atau berparas cantik.

      Alasan yang saya kira kuat untuk menyebut kontes kecantikan itu tak layak didukung adalah karena keutamaan nilai yang diusung dalam kontes kecantikan adalah cantik lahiriah. Barang bawaan. Didapat secara pasif. Genetis. Daging.

      (Bayangkan sebuah kontes sapi pedaging/sapi perah. Sapi hasil persilangan ini dipamerkan, ditimbang, diukur oleh Dewan Juri, lalu setelah ditentukan pemenangnya, peternak, atau laboratorium yang secara aktif meneliti dan menyilangkan sapi pedaging tersebut mendapatkan piala, dan bisa berbangga atas prestasinya itu. Si sapi pedaging/perah, walaupun dia yang dipamerkan, dinilai dan diukur juri, hanyalah semata-mata objek belaka. Ini yang dimaksud objektifikasi. Standar sapi yang bagus itu sebetulnya berdasarkan kemauan dan kepentingan siapa? Sapi pedaging seperti itu, menjadi seperti itu, bukan karena maunya dia, atau karena dia butuh menjadi seperti itu.)

      Masalahnya adalah, dengan media yang mengutamakan tampilan lahiriah, kita tak jadi lebih luhur sebagai mamalia yang punya bahasa kompleks dan telah membangun peradaban sejauh ini. Kita ditarik lagi kembali ke urusan pencarian orgasme lahiriah dalam soal kelangsungan hidup. Masalahnya adalah pendangkalan pemahaman manusia mengenai manusia.

      Ada ironi, jelas. Teknologi (media) yang dibangun dengan keluhuran pemikiran (sebagian) manusia itu akhirnya membawa (sebagian–besar) manusia lagi ke kemerosotan dan kedangkalan.

      Saya tidak bilang bahwa kita harus (atau bisa) sepenuhnya lepas dari urusan kedagingan–ini sudah bawaan evolusi biologis milyaran tahun, tapi ada baiknya, untuk kemajuan peradaban dan kelangsungan umat manusia, urusan hewaniah itu tidak jadi sebuah keutamaan, dan jangan terlalu banyak menyita perhatian, waktu, dan energi–sebagaimana yang diinginkan oleh industri kecantikan dan bantuan medianya–termasuk media kontes kencantikan.

      Mengenai apakah kontes Miss-Miss-an ini bisa menjadi ajang bagi perempuan untuk mengekspresikan diri secara independen, saya kira ini masih dalam perdebatan. Di kalangan feminis sendiri ada perdebatan, sama seperti industri pornografi dan pelacuran, apakah kontes kecantikan/pornografi/pelacuran juga adalah sebuah jalan pembebasan kaum perempuan, atau ternyata pada akhirnya adalah (juga) sebuah jebakan kapitalisme/industrialisasi yang lain.

      Dalam hal perempuan boleh pake baju apa aja, termasuk yang paling terbuka sekalipun, saya setuju. Bahwa perempuan berkuasa penuh atas tubuhnya, saya setuju. Tapi bahwa perempuan pakai baju bikini, karena sponsor Miss World–sejarahnya–adalah perusahaan bikini yang berpromosi, tentu hal ini jadi pertanyaan. Sebetulnya perempuan ini mau mengekspresikan diri atau dia sedang dijadikan manekin hidup oleh perusahaan penyelenggara kontes Miss World? Atau keduanya, mengeruk keuntungan dari sebuah gerakan pembebasan? Sebuah gerakan yang terkooptasi?

      Jadi siapa musuhnya? Kapitalisme? Kapitalisme yang mana? Anda sendiri sudah merontokkan argumen ‘yang paling kuat’ ini dengan menunjukkan peran ‘kapitalisme’ dalam membangun peradaban manusia hingga hari ini.

      Saya kira, ide dasar penolakan (bukan pelarangan) yang paling kuat dari apa yang Anda sampaikan adalah hipokrisinya. Kemunafikan itu. Bilangnya demi mengekspresikan kebebasan perempuan atas tubuhnya, tapi sebetulnya mau dagang.

      Anda tidak hanya bersetuju dengan penulis, Anda juga bersetuju dengan saya, bahwa urusan bagus tidak bagus tidak mesti berujung pada pelarangan.

      Apakah pornografi bagus? Tidak bagus. Apakah buruk? Tidak juga, dia jadi industri yang menjadi sandaran hidup banyak orang, dari sutradara, lightingman, aktor, sampai pedangang DVD porno bajakan di Glodok. Pelacuran apakah bagus? Tidak bagus juga. Apakah buruk? Tidak juga? Dia jadi tempat penyaluran birahi yang kontraktual. Apakah pelacuran bukan sebuah bentuk kapitalisme yang paling eksploitatif atas tubuh manusia? Ya. Apakah pelacuran adalah sebuah pernyataan kebebasan berekspresi bagi si pemilik tubuh? Iya juga.

      Apakah pelacuran, pornografi, dan kontes kecantikan harus dilarang. Sekali lagi, jawabannya tidak.

      Biarkan saja segala konteks dan kapitalisme daging itu berlangsung, karena toh kita belum lepas dari urusan dangkal itu.

      Dangkal? Iya. Boleh ‘kan orang berpikiran dangkal? Memangnya ada larangannya? Memangnya semua orang harus berpikir luhur? Bolehkah sebuah perusahaan mengeksploitasi bahkan memproduksi dan mendistribusikan kedangkalan untuk meraup sebesar-besarnya keuntungan? Kalau tidak ada undang-undang yang dilanggar dalam prosesnya, bagaimana kita bisa bilang tidak boleh.

      Entah akan semakin jelas atau tidak, saya ingin mengajak pembaca semua membayangkan situasi manusia jauh di masa depan. Manusia berhasil memanfaatkan seluruh potensi energi di alam semesta yang bisa dikatakan tak terbatas. Pada saat itu manusia telah sepenuhnya memahami kerja otak. Maka manusia (kepribadian, pemikiran, emosi, kreativitasnya) akan hidup abadi, berinteraksi dengan entitas manusia lain, dalam harddisk. Abadi–sampai alam semesta menghadapi kematian beku.

      Di sini kita lihat betapa sia-sianya urusan daging itu.

      Tapi sampai saat itu, biarlah kita masih berkubang dengan urusan daging dan selangkangan.

  3. Cukup membuat kening berkerut membaca statment yang ada,dari…oleh…dan untuk siapa..? Indonesia ini luas,dengan berbagai macam adat dan budaya, budaya timur mana yg diimaksudkan..?setiap kegiatan apalagi berhubugan dgn media televisi tujuannya utk mencari keuntungan, “eksploitasi”secara tidak langsung, semua acara tv terutama infotaiment pasti meng”eksploitasi”wanita cantik,body sexy dst…jadi pemahaman dan tujuan yg bagaimana yg kita inginkan,ibarat gajah dipelupuk mata tdk keliatan,semut di planet pluto keliatan jelas

  4. Kalau saya ga mikir sampe sejauh argumen2 diatas deh,

    Di dalam semua hal ada yang baik dan ada yang buruk, tetapi manusia dituntut untuk selalu mencari Ilmu, membaca Kitabnya (utk yang beragama), dan menenangkan hatinya.
    Tujuannya? ya semata-mata agar kita dapat memfilter agar yang buruk tadi tidak masuk ke kita, dan yang baik dapat kita serap.

    Miss World ada jeleknya? Ada, berarti pakai Iman kita, buang dampak2 yang mungkin negatif tadi
    Miss World ada bagusnya? Ada, pakai ilmu kita, jadikan yang baik tadi sebagai contoh
    Miss World perlu dilarang? Tidak usah, pakai hati kita, tetap ada pihak2 yang udah ngeluarkan tenaga dan keringat utk itu dan menghidupi diri dan keluarga juga darisitu.

    Mengatur luar itu sulit, kenapa tidak lihat dalam diri kita saja? mungkin disitu malah ada jawabannya untuk menghadapi segala sesuatu di dunia ini yang sudah sangat-sangat kompleks tadi?

  5. oke, anda pengikut ateis.. di negara demokrasi semua umat *termasuk anda* bebas mengemukakan pendapat.. bagi mereka yang berbeda” mengemukakan apa yang mereka rasa benar, menurut saya pribadi sah” saja. anda hanya kurang memiliki toleransi kepada kaum lain saja.

  6. Alasan 5: Miss World tidak sesuai dengan budaya timur

    Ini saya setuju sekali, karena dalam budaya timur memang seharusnya wanita itu cukup menjadi pajangan suami saja, tidak perlu ikut kontes – kontesan semacam ini.

    —->
    Budaya timur mana dulu, klo timur nya Indonesia terutama di Irianjaya/Papua, para wanitanya masih bertelanjang dada. Dan itu budaya mereka.
    Di pedalaman kalimantan, para wanita juga ada yg masih bertelanjang dada, dan itu juga budaya mereka.
    Apa wanita di pedalaman hanya sebagai pajangan suami? Tidak, mereka juga membantu para suami mereka.
    Kalau dibilang budaya yg letaknya di barat indonesia (daerah dengan komunitas agama tertentu terbanyak) mungkin benar, para wanita tidak boleh berbuat banyak, hanya sebagai pajangan.

  7. jalan pikiran yang salah….

    perempuan itu untuk apa ?
    kedudukan wanita untuk apa ?
    fungsi wanita untuk apa ?

    masa miss world disamakan dengan penyanyi idol….
    ini bukan kesukaan, kesukaan dibahas terkhir bung.

    hehehhee….
    kalau wanita berjaya yaaa…..leluasa deh

  8. Freedom…
    Tahun 60-an: “nggak ada tuh bikini” wanita-wanita termasuk di barat masih “soleh-soleh dan sopan-sopan”
    Tahun 70-an: “wanita barat mulai renang dengan ‘bikini’ seperti celana pendek pria sekarang”
    Tahun 80-an: “bikini seperti gambar di atas”
    Tahun-tahun berikutnya: Majalah Playboy, bikini yang cuma seutas tali… terekspos…
    Next?
    Disinilah fungsi ad-dien (agama) sebagai jalan “keselamatan” dari radikalisme bebas “iblis” yang telah ditakdirkan menjadi “lawan”

    http://jejak-iblis.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s